Alya menjalani pernikahan perjodohan dengan Arga, pria kaya yang tidak pernah benar-benar menerimanya sebagai istri. Saat Alya berusaha mempertahankan rumah tangga mereka, Arga justru masih menjalin hubungan dengan kekasih lamanya dan mengabaikan kesetiaan istrinya.
Diam-diam, Alya menahan penyakit parah dan luka hati yang semakin dalam. Hingga suatu hari, ia memilih pergi tanpa meminta apa pun lagi.
Arga mengira Alya akan kembali. Namun ketika hari berganti dan rumah terasa semakin sunyi, ia mulai menyadari bahwa perempuan yang selalu ia abaikan adalah satu-satunya orang yang tulus mencintainya. Saat Alya akhirnya ditemukan dalam keadaan kritis, penyesalan Arga telah datang terlalu terlambat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Balik Pintu Ruang Tindakan
Pintu ruang tindakan tertutup rapat di depan Arga.
Untuk beberapa detik, lelaki itu masih berdiri di tempatnya dengan tangan kanan terkepal. Ia masih merasakan sisa genggaman Alya di telapak tangannya—hangat, lemah, dan gemetar.
“Mas tunggu aku,” bisik Alya sebelum pintu tertutup.
Arga menatap pintu itu.
*Aku tunggu.*
Kalimat itu keluar begitu mudah.
Namun begitu Alya benar-benar berada di balik pintu tersebut, Arga merasa ada sesuatu yang tertinggal di dalam dirinya. Seolah ia baru menyadari bahwa menunggu bukan sekadar berdiri di koridor. Menunggu berarti tidak tahu apa yang sedang terjadi. Tidak tahu apakah Alya kesakitan. Tidak tahu apakah perempuan itu menangis. Tidak tahu apakah ia masih teringat janji yang baru saja Arga ucapkan.
Arga berjalan ke kursi tunggu di dekat ruang tindakan.
Ia duduk.
Lalu berdiri lagi.
Duduk kembali.
Tangannya terus menggenggam ponsel yang sudah dimatikan. Ia ingin menyalakannya. Ingin melihat apakah ada pesan dari Keisya. Ingin mengetahui apakah ada panggilan dari kantor. Ingin mengetahui apakah dunia di luar sana masih menganggapnya penting.
Namun setiap kali jari Arga menyentuh tombol daya, ia teringat wajah Alya sebelum masuk ke ruang tindakan.
*Jangan tinggalin aku hari ini.*
Arga menurunkan ponselnya.
Ia tidak akan menyalakannya.
Tidak sekarang.
***
Dalam ruang tindakan, Alya berbaring di ranjang yang sempit dengan tubuh setengah tertutup kain steril berwarna biru.
Cahaya lampu ruangan membuat segalanya tampak terlalu putih. Terlalu terang. Terlalu dingin.
Perawat menyiapkan alat-alat di sekitarnya. Ada nampan berisi jarum, kain kasa, dan beberapa alat yang tidak ia kenali. Dokter hematologi berdiri di sisi tubuhnya sambil memeriksa layar monitor dan catatan medis.
“Bu Alya, saya akan memberi obat penenang ringan dulu,” kata dokter itu. “Setelah itu, kami lakukan anestesi lokal di area tulang pinggul.”
Alya mengangguk.
Tubuhnya gemetar.
“Saya takut,” bisiknya.
Dokter menatapnya dengan lembut. “Ibu tidak sendirian. Tim kami akan menemani Ibu sepanjang prosedur.”
Alya menatap langit-langit.
Ia ingin meminta Arga masuk.
Ia ingin mendengar suara suaminya di sampingnya.
Ia ingin menggenggam tangan Arga seperti saat tadi, meski tahu lelaki itu tidak diizinkan berada di dalam ruangan.
Namun yang ia bisa lakukan hanya menutup mata dan membayangkan Arga berdiri di luar pintu.
*Mas bilang Mas tunggu.*
Alya berusaha percaya.
“Tarik napas perlahan,” kata perawat.
Alya mengikuti.
Satu napas.
Dua napas.
Ketika jarum masuk, tubuhnya menegang. Rasa tekan yang dalam menjalar dari pinggulnya, membuatnya menahan napas. Ia menggigit bibir agar tidak bersuara.
“Maaf, Bu,” kata dokter. “Sedikit lagi.”
Alya mengangguk, meski air mata mulai mengalir dari sudut matanya.
Ia tidak tahu apakah air mata itu karena nyeri.
Atau karena ia menyadari bahwa selama ini ia terlalu sibuk menyembunyikan sakitnya sendiri.
Sakit tubuh.
Sakit hati.
Sakit karena mencintai seseorang yang tidak pernah benar-benar melihat keberadaannya.
***
Di koridor, Arga terus menatap pintu ruang tindakan.
Sudah empat puluh menit berlalu.
Bagi orang lain, empat puluh menit mungkin bukan waktu yang lama. Namun bagi Arga, setiap menit terasa seperti jam. Setiap kali pintu terbuka dan seorang perawat keluar, jantungnya berhenti sejenak.
“Pak Arga?” suara seorang perawat membuatnya menoleh.
“Ada apa?”
“Bu Alya sedang menjalani prosedur. Dokter bilang kondisinya masih stabil.”
Arga menghela napas. “Terima kasih.”
Perawat itu mengangguk, lalu melanjutkan langkahnya.
Arga kembali duduk.
Ia menatap lantai yang terlalu bersih. Bayangan dirinya terpantul samar di lantai berwarna putih itu. Untuk pertama kalinya, ia merasa seperti orang yang tidak memiliki kendali atas apa pun.
Ia bisa membeli rumah besar.
Ia bisa membangun perusahaan.
Ia bisa meminta orang lain bekerja untuknya.
Ia bisa membuat banyak hal berjalan sesuai keinginannya.
Namun di ruang tindakan itu, Alya sedang menghadapi sesuatu yang tidak bisa ia beli, tidak bisa ia perintahkan, dan tidak bisa ia atasi dengan uang.
Alya sedang sendirian.
Dan Arga tidak bisa melakukan apa-apa selain menunggu.
Ponselnya bergetar di sakunya.
Arga menatapnya.
Ia lupa bahwa ponselnya sudah ia matikan.
Ternyata tidak.
Layar menyala.
Panggilan masuk.
Nama yang muncul membuat rahang Arga menegang.
**Keisya.**
Ia menatap nama itu cukup lama.
Dulu, nama itu selalu membuatnya ingin segera menjawab. Seolah Keisya adalah bagian dari napasnya, bagian dari dunia yang harus ia pertahankan.
Sekarang, nama itu terasa seperti pengingat akan semua kesalahan yang telah ia buat.
Panggilan itu berhenti.
Lalu pesan masuk.
**Keisya:** *Kamu masih di rumah sakit?*
Arga tidak menjawab.
Pesan kedua masuk beberapa detik kemudian.
**Keisya:** *Arga, aku minta tolong jangan menghilang. Aku butuh bicara.*
Arga mengetik balasan.
**Arga:** *Aku sedang menunggu Alya selesai prosedur.*
Pesan itu terkirim.
Ia menatap layar, menunggu balasan.
Tidak lama, Keisya membalas.
**Keisya:** *Berapa lama lagi?*
Arga menatap kalimat itu.
Pertanyaan yang sederhana.
Namun terdengar seperti Keisya sedang menghitung waktu yang harus ia korbankan untuk Alya.
Arga mengetik:
**Arga:** *Sampai Alya aman.*
Pesan itu terkirim.
Kali ini, tidak ada balasan selama beberapa menit.
Arga menaruh ponselnya di paha.
Ia menatap pintu ruang tindakan lagi.
Tiba-tiba pintu itu terbuka.
Seorang perawat keluar sambil membawa nampan berisi alat medis bekas. Arga langsung berdiri.
“Bagaimana Alya?” tanyanya.
“Masih dalam proses, Pak. Tidak lama lagi.”
“Dia kesakitan?”
Perawat itu menatapnya sejenak. “Prosedurnya memang menimbulkan rasa tekan dan nyeri. Tapi Bu Alya kuat.”
Arga mengangguk perlahan.
*Kuat.*
Kata itu terasa aneh.
Alya selalu kuat.
Terlalu kuat.
Kuat sampai Arga lupa bahwa di balik ketenangannya, ada perempuan yang mungkin sudah lama menangis sendirian.
***
Di dalam ruang tindakan, Alya menutup mata erat.
Tubuhnya lemas.
Keringat dingin membasahi pelipisnya. Ia mencoba bernapas sesuai arahan perawat, tetapi setiap kali dokter bergerak, rasa nyeri itu kembali menjalar.
“Hampir selesai, Bu,” kata dokter.
Alya mengangguk lemah.
“Pikirkan sesuatu yang membuat Ibu tenang,” saran perawat.
Alya mencoba.
Ia membayangkan rumah.
Namun rumah itu tidak terasa hangat.
Ia membayangkan ibunya menyapu halaman sambil bernyanyi pelan.
Ia membayangkan ayahnya duduk di teras sambil membaca koran.
Ia membayangkan Dinda tertawa lepas ketika mereka masih kuliah dan bermimpi membuka galeri kecil.
Lalu bayangan itu berubah.
Ia melihat Arga.
Bukan Arga yang dingin dan selalu pulang larut.
Melainkan Arga yang duduk di sisi ranjangnya semalam.
Arga yang menggenggam tangannya.
Arga yang berkata, *Hari ini aku tidak akan pergi.*
Alya menahan napas.
“Mas…” bisiknya, hampir tidak terdengar.
Perawat menoleh. “Bu Alya?”
Alya membuka mata sedikit.
“Suami saya di luar?” tanyanya.
“Ya, Bu. Bapak Arga menunggu di koridor.”
Alya menutup mata lagi.
“Jangan bilang dia pergi.”
“Tidak, Bu. Beliau masih di sana.”
Alya menghela napas perlahan.
Untuk beberapa detik, rasa nyeri itu masih ada. Namun pikirannya sedikit lebih tenang karena tahu ada seseorang yang menunggunya di luar.
Seseorang yang dulu selalu pergi.
Seseorang yang kini, setidaknya untuk hari ini, memilih untuk tinggal.
***
Saat prosedur akhirnya selesai, Alya terasa sangat lelah.
Dokter menutup luka kecil di area pinggulnya dengan perban steril. Alya diminta tetap berbaring selama beberapa menit sebelum dipindahkan kembali ke kamar.
“Prosedurnya berhasil,” kata dokter. “Sekarang kita tunggu hasil pemeriksaan. Biasanya butuh beberapa hari.”
“Beberapa hari?” Alya mengulang pelan.
“Iya. Kami akan memberi tahu begitu hasilnya keluar.”
Alya mengangguk.
Ia tidak tahu apakah harus merasa lega atau semakin takut.
Menunggu hasil berarti menunggu nama penyakit.
Menunggu keputusan hidup yang belum bisa ia pahami.
Ketika perawat mendorong ranjangnya keluar dari ruang tindakan, Arga langsung berdiri.
Wajah lelaki itu berubah begitu melihat Alya.
“Kamu kenapa?” tanyanya cepat.
Alya tersenyum lemah. “Aku capek.”
“Sakit?”
“Sedikit.”
Arga melangkah mendekat. Ia ingin menyentuh Alya, tetapi tangannya berhenti di udara. Seolah ia takut menyentuhnya akan membuat perempuan itu semakin sakit.
“Kamu berhasil?” tanya Arga.
Alya mengangguk. “Prosedurnya selesai.”
“Lalu?”
“Sekarang kita tunggu hasilnya.”
Arga menatap Alya cukup lama.
Lalu ia menggenggam tangan istrinya.
“Kita tunggu bersama.”
Alya menatap genggaman itu.
Untuk beberapa detik, ia tidak menjawab.
Kemudian ia berkata pelan, “Mas jangan berhenti di tengah jalan.”
Arga mengatupkan rahang.
“Aku tidak akan.”
“Mas pernah bilang begitu.”
“Aku tahu.”
“Kalau Mas pergi lagi, aku nggak akan marah.” Alya menatapnya lelah. “Aku cuma akan pergi lebih dulu.”
Kalimat itu membuat Arga terdiam.
Ia ingin berkata bahwa Alya tidak boleh pergi. Ingin berkata bahwa ia akan melarangnya. Namun ia tahu ia tidak memiliki hak untuk melarang Alya pergi dari hidup yang telah membuatnya menderita.
Jadi ia hanya menggenggam tangan Alya lebih erat.
“Kalau kamu pergi,” kata Arga pelan, “aku akan mencarimu.”
Alya menatap suaminya.
“Lalu kalau aku nggak mau ditemukan?”
Arga terdiam.
Pertanyaan itu terdengar seperti peringatan.
Atau mungkin, seperti pengakuan bahwa suatu hari Alya memang akan pergi dan tidak ingin kembali.
“Kalau kamu tidak mau ditemukan,” jawab Arga akhirnya, “aku tetap akan mencarimu.”
“Kenapa?”
“Karena aku tidak mau kehilangan kamu tanpa mencoba.”
Alya menatapnya lama.
Lalu ia memejamkan mata.
“Mas terlambat, Mas.”
Arga menunduk.
“Iya,” jawabnya. “Aku tahu.”
***
Malam itu, Alya kembali ke kamar rawat dengan tubuh yang terasa berat.
Arga tetap berada di sampingnya. Ia membantu Alya berpindah dari ranjang perawat ke ranjang kamar dengan hati-hati. Setelah itu, ia mengatur bantal, menarik selimut, dan memastikan air minum berada dalam jangkauan Alya.
Semua dilakukan dengan gerakan yang masih canggung.
Namun Alya tidak lagi menolak.
“Mas,” panggilnya ketika Arga hendak kembali ke kursi.
“Hm?”
“Mas nggak perlu melakukan semua itu.”
“Aku mau.”
“Kenapa?”
Arga menatap Alya.
Pertanyaan itu kembali muncul.
Kenapa?
Ia tidak tahu jawaban yang sempurna. Ia tidak tahu apakah yang ia rasakan adalah cinta, rasa bersalah, atau ketakutan kehilangan. Ia bahkan tidak tahu apakah dirinya layak disebut suami setelah semua yang telah ia lakukan.
Namun ia tahu satu hal.
Ia tidak ingin Alya merasa sendirian lagi.
“Karena kamu istriku,” jawab Arga.
Alya tersenyum tipis.
“Jawaban yang sama.”
“Tapi kali ini aku tidak mengucapkannya sebagai alasan untuk pergi.”
Alya menatapnya.
Arga duduk di kursi samping ranjang. “Aku mengucapkannya sebagai alasan untuk tinggal.”
Keheningan kembali hadir.
Namun kali ini, sunyi itu tidak terasa sekejam sebelumnya.
Alya memejamkan mata.
Sebelum tertidur, ia merasakan tangan Arga menyentuh jemarinya sekali lagi.
Lembut.
Hati-hati.
Seolah lelaki itu masih belajar bagaimana cara memegang tangan seseorang tanpa membuatnya ingin pergi.
Di luar, hujan mulai turun lagi.
Alya tertidur dengan tubuh yang lelah.
Sementara Arga tetap duduk di sampingnya, menatap wajah istrinya yang pucat, dan untuk pertama kalinya menyadari bahwa mungkin cinta tidak selalu dimulai dari perasaan yang besar.
Kadang cinta dimulai dari keputusan sederhana:
Tetap tinggal ketika seseorang membutuhkan kita.