Di antara cahaya yang tak pernah cukup dan bayangan yang tak pernah padam, namanya terucap hanya dalam hening: Orion.
Ia bukan milik dunia yang kau kenal. Pangeran dari kedalaman kegelapan, sosok yang dikabarkan tak pernah menyentuh sinar matahari, yang berjalan di tempat di mana cahaya tak mampu menjangkau. Banyak yang gemetar menyebut namanya; banyak yang menganggapnya kutukan. Namun bagi Aruna—ia adalah satu-satunya keberkahan yang menyelamatkannya dari jurang.
Aruna, gadis yang hidup di antara keraguan dan bahaya yang datang tanpa peringatan, selalu menemukan dirinya ditarik ke tepi jurang—sampai sepasang tangan yang kuat, hangat meski berasal dari kegelapan, menariknya kembali. Orion selalu hadir tepat saat dunia tampak membelakanginya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LailaHaidar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayangan yang Tak Lagi Sembunyi
Seminggu berlalu sejak malam itu, dan entah kenapa, segala sesuatu terasa berubah. Bukan lebih buruk — setidaknya belum — tapi rasanya seperti berjalan di atas lantai yang perlahan miring ke satu sisi. Sesuatu sedang bergeser, dan aku belum tahu persis ke mana arahnya.
Pertama kali aku menyadarinya hari Senin sore, saat berjalan pulang dari perpustakaan kota bersama Dinda. Langit masih terang, tapi di sudut-sudut bangunan tua, di celah-celah pohon yang rindang, ada sesuatu yang bergerak. Bukan angin. Bukan hewan. Sesuatu yang lebih gelap dari bayangannya sendiri, yang berhenti tepat saat aku menoleh ke arahnya.
"Aruna? Kau melamun lagi," suara Dinda memecah lamunanku. Dia menyikut pelan lenganku. "Ada yang mengikutimu, kan? Aku lihat dari tadi kau terus menengok ke belakang."
Aku menghela napas, mempercepat langkah sedikit. "Aku tidak yakin. Rasanya... ada yang mengawasi. Bukan sekadar perasaan, Din. Kali ini beda. Seperti mereka tidak lagi peduli kalau ketahuan."
"Mereka?" Dinda mengangkat alis, suaranya turun satu oktaf. "Siapa yang kau maksud?"
"Makhluk-makhluk dari tempat Orion. Atau mungkin yang dikirim Valdris. Aku tidak tahu pasti. Tapi Orion diam saja. Seolah tidak terjadi apa-apa. Setiap kali aku tanya, dia bilang hanya perasaanku yang terlalu peka. Padahal aku lihat sendiri matanya berubah setiap kali hal seperti ini terjadi. Dia menyembunyikannya dariku."
Dinda terdiam sejenak, menatap ke depan dengan ragu. "Mungkin dia hanya tidak ingin kau takut, Aruna. Kau tahu dia. Selalu berpikir dia harus menanggung semuanya sendirian."
"Tapi ini bukan masalah dia selesaikan sendirian, kan? Kita ada di dalamnya bersama-sama. Kalau aku tidak tahu seberapa besar bahayanya, bagaimana aku bisa waspada? Bagaimana aku bisa melindungi diriku sendiri kalau aku tidak tahu apa yang harus kuhadapi?"
Sesampainya di rumah, aku langsung berjalan ke arah jendela kamar. Sore itu mendung, langit kelabu pekat. Aku tahu dia ada di sana. Di balik pohon mangga besar di halaman sebelah yang sudah lama tak berpenghuni. Dia pikir aku tidak melihatnya, tapi aku bisa merasakannya. Hawa di sekitar tempat itu selalu sedikit lebih dingin, lebih tenang, seolah waktu berjalan pelan di sana.
Aku membuka jendela perlahan, lalu melambai pelan. "Aku tahu kau di sana. Jangan sembunyi. Aku ingin bicara."
Beberapa saat hening. Lalu bayangan di antara dahan pohon bergerak, dan Orion muncul. Dia tidak tersenyum. Wajahnya serius, dan matanya memindai sekeliling rumahku dengan cepat, seolah sedang memeriksa apakah ada sesuatu yang mengikutinya ke sini.
Dia melompat turun dengan lembut, mendarat di teras kamarku yang rendah. "Kau seharusnya tidak memanggilku begitu saja di jendela yang terbuka," katanya pelan, tapi ada nada cemas di sana. "Bisa saja mereka mendengar."
"Mereka sudah tahu aku memanggilmu, Orion. Mereka sudah mengikutiku sepanjang jalan pulang tadi. Jadi tidak ada gunanya pura-pura tidak ada apa-apa."
Dia terdiam, tangannya mengepal pelan di sisi tubuhnya. "Siapa yang mengikutimu? Apa kau melihat wajahnya?"
"Tidak ada wajah. Hanya bayangan yang bergerak saat aku tidak melihatnya. Dan suhu di sekitar mereka turun sampai aku menggigil padahal hari ini cukup hangat. Kau tahu apa itu, kan? Katakan padaku. Jangan rahasiakan lagi."
Orion menghela napas panjang, lalu menyandarkan punggungnya ke dinding luar kamarku, menatap ke langit yang mulai gelap. "Mereka adalah bayangan perbatasan. Makhluk-makhluk yang hidup di celah antara duniamu dan duniku. Biasanya mereka tidak berani mendekat terlalu jauh ke wilayah cahaya. Tapi sekarang... mereka berani. Itu tandanya ada yang memberi mereka perlindungan. Ada yang membuka jalan bagi mereka."
"Valdris," ucapku, lebih seperti pernyataan daripada pertanyaan.
Dia mengangguk pelan. "Dia mengirim pesan tanpa kata-kata. Dia tidak perlu datang sendiri. Cukup dia memberi perintah, dan mereka akan mengerumunimu perlahan. Dia tahu aku tidak bisa ada di mana-mana sekaligus. Dia sedang mengujiku. Melihat seberapa cepat aku bisa sampai saat kau membutuhkanku. Dan saat aku terlambat..."
Dia berhenti, menekan bibirnya menjadi garis lurus.
"Saat kau terlambat, apa yang akan terjadi?" tanyaku lembut, meski aku takut mendengar jawabannya.
Orion menatapku, dan untuk pertama kalinya aku melihat ketakutan yang nyata di matanya. "Mereka tidak akan menyakitimu secara langsung, setidaknya belum. Mereka akan mencoba menarikmu perlahan ke sisi mereka. Menyerap sedikit demi sedikit cahayamu. Semakin lama kau berada di dekat mereka, semakin lemah kau jadinya. Dan semakin kuat mereka jadinya."
Darahku terasa sedikit dingin, tapi aku mencoba tetap tenang. "Jadi... aku ini seperti sumber tenaga bagi mereka?"
"Kau jauh lebih berharga dari itu, Aruna. Cahayamu bukan sekadar energi. Bagi dunia gelap, cahayamu adalah sesuatu yang tidak bisa mereka ciptakan sendiri — kehangatan yang tulus, ketulusan yang tak bersyarat. Itulah yang paling mereka inginkan. Bukan untuk dihancurkan, tapi untuk dimanfaatkan. Dan itu jauh lebih menakutkan."
Aku melangkah keluar ke teras, berdiri tepat di hadapannya. "Lalu kenapa kau menyembunyikan ini dariku sejak awal? Kau pikir aku tidak akan sanggup menghadapinya?"
"Bukan begitu," suaranya melembut, tangannya terulur menyentuh ujung jariku lalu menariknya kembali seolah ragu. "Aku hanya... takut kalau kau tahu betapa berbahayanya berada di dekatku, kau akan pergi. Aku tahu ini egois. Tapi rasanya kesepian ribuan tahun itu jauh lebih ringan dibandingkan kehilanganmu setelah akhirnya aku menemukanmu."
Aku meraih tangannya yang tergenggam erat, membukanya perlahan hingga jari-jari kami saling bertaut. "Dengar aku baik-baik. Aku tidak akan pergi. Tapi aku juga tidak mau menjadi alasan kau terluka sendirian. Kalau ada bahaya, kita ketahui bersama. Kalau ada cara menghadapinya, kita cari bersama. Jangan pernah berpikir kau harus menanggung ini sendirian. Kau tidak sendirian lagi, Orion. Itu yang kau lupa."
Dia menatapku lama sekali, lalu menghela napas yang terdengar seperti beban berat yang sedikit terangkat. Dia mendekat, memeluk pinggangku dan menempelkan dahinya ke bahuku. "Kau terlalu baik untuk seseorang sepertiku. Kadang aku takut suatu hari nanti aku akan membangunkan dan menyadari bahwa kau hanyalah mimpi yang akan lenyap begitu aku menyentuhnya."
"Kau bisa memegang tanganku sekarang, kan? Rasanya nyata? Aku nyata, Orion. Dan aku tidak akan ke mana-mana."
Tiba-tiba, angin bertiup kencang dan dingin menerpa wajahku. Pintu jendela di belakangku terbanting tertutup. Aku menoleh kaget, dan saat kembali menatap ke depan, napasku tertahan. Di ujung jalan, di bawah lampu jalan yang berkedip redup, ada sosok-sosok tinggi berwarna kelabu yang berdiri diam. Mereka tidak bergerak. Hanya berdiri, menatap ke arah kami.
Orion langsung berdiri di depanku, tubuhnya menegang kaku. Tangannya terulur ke samping, seolah menciptakan perisai tak terlihat di antara kami dan mereka.
"Masuk ke dalam rumah, Aruna. Kunci pintu dan jendela. Jangan keluar sampai fajar menyingsing," perintahnya rendah, tegas, tapi suaranya sedikit bergetar.
"Mereka tidak bergerak, Orion. Kenapa mereka hanya berdiri di sana?"
"Itulah yang paling menakutkan. Mereka tidak datang untuk mengambilmu malam ini. Mereka datang hanya untuk memastikan kita tahu bahwa mereka selalu ada. Bahwa kita tidak pernah benar-benar sendirian, bahkan di rumahmu sendiri." Dia menoleh sedikit, menatapku dengan mata yang berkilau cemas. "Cepatlah, Aruna. Tolong. Demi aku."
Aku melangkah mundur perlahan, tidak berani memalingkan wajah dari sosok-sosok itu. Saat aku sampai di ambang jendela, aku berhenti.
"Orion... kau akan pulang ke tempatmu, kan? Jangan tinggal di sini sendirian menghadapi mereka."
Dia tersenyum tipis, senyum yang tidak sampai ke matanya. "Aku akan pergi sebentar. Mengikuti mereka. Mengetahui ke mana mereka kembali. Kau kunci pintunya, ya. Dan kalau ada apa-apa — suara apa pun, bayangan apa pun yang terasa aneh — panggil namaku. Sekeras apa pun, aku akan mendengarmu. Percayalah."
Aku mengangguk berat, lalu masuk ke dalam, mengunci jendela dan menarik tirai hingga rapat. Tapi aku tidak langsung pergi tidur. Aku duduk di lantai dekat jendela, mendengarkan detak jam dinding yang berdetak terlalu lambat. Di luar sana, angin menderu pelan, dan sesekali aku mendengar suara langkah yang berat — tapi bukan langkah manusia — berjalan menjauh perlahan.
Saat aku akhirnya berbaring di tempat tidur, mataku tak kunjung terpejam. Aku teringat kata-kata Valdris, perjanjian kakekku, dan bayangan-bayangan kelabu itu yang kini tahu di mana aku tinggal. Semua potongan teka-teki itu seolah saling mendekat, tapi belum menyatu menjadi gambar yang utuh. Dan di tengah semua itu, ada satu hal yang paling membuatku cemas — Orion tidak memberitahuku semuanya. Aku yakin itu. Dia menyembunyikan bagian yang paling berbahaya. Dan entah kenapa, perasaan itu semakin kuat: harga yang harus dibayar untuk cinta kami... jauh lebih mahal dari yang kubayangkan selama ini.
Di meja belajarku, kelopak bunga hitam yang Orion berikan tiba-tiba terasa sedikit lebih hangat dari biasanya. Aku meraihnya, menggenggamnya erat di dada. Di luar sana, di antara kegelapan yang semakin pekat, aku tahu dia sedang berjalan sendirian — mencari jawaban di tempat yang mungkin tidak akan bisa ia tinggalkan dengan mudah lagi. Dan pertanyaan itu kembali berputar di kepalaku: apa yang sebenarnya sedang kusiapkan untukku, Kek? Dan apa yang harus dikorbankan Orion untuk menepati janjinya?
Bersambung...
Lanjut ke Bab 35? 😊🖤