Maya Kirana, perancang busana berjiwa halus, berselisih dengan Rendra, konsultan teknis yang dingin dan kaku di ajang Indonesian Fashion Week. Sentuhan tak sengaja pada relief candi kuno melempar kesadaran mereka ke masa lalu, mengungkap takdir reinkarnasi sebagai sepasang kekasih kerajaan, Raden Jayendra dan Putri Kirana.
Saat persaingan memanas, studio Maya disabotase dan lisensinya dibekukan akibat fitnah plagiarisme dari rival mereka, Victor dan Clarissa. Di tengah krisis, Maya dan Rendra bersatu memadukan kelembutan sutra dengan kriya logam presisi. Didukung Rian, kakak Maya, mereka menggelar uji materi terbuka untuk membersihkan nama baik.
Jelang panggung Grand Final, Rendra mengorbankan material karya rahasianya dan mengundurkan diri sebagai desainer misterius berinisial REN demi menyelamatkan gaun Maya sekaligus menjebak Victor ke jalur hukum. Mahakarya kolaborasi sutra dan logam tersebut akhirnya meraih Juara Utama IFW, menyatukan kembali cinta serta takdir masa lalu Maya dan Rendra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Imron Tohari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BENANG SUTRA DI JEMARI LOGAM BAB 31
BAB 31
Ujung jari Rian merapikan letak kacamata hitam berbingkai titanium di pangkal hidungnya. Dari ketinggian anjungan peninjau lantai dua, manik matanya menajam, mengawasi langsung area konstruksi Pusat Seni & Komersial—proyek mercusuar bernilai ratusan miliar rupiah milik konglomerasi keluarganya. Di belakangnya, Hendra—asisten utamanya—bersama dua staf eksekutif dan seorang pengawas lapangan bertopi keselamatan berdiri dalam diam, menjaga ritme napas di tengah ketegangan udara malam.
"Progres fondasi zona Utama sudah mencapai delapan puluh persen, Pak Rian," lapor pengawas lapangan itu berhati-hati, menyerahkan dokumen teknis di atas papan jepit. "Seluruh pengadaan baja dan pelapis material telah memenuhi standar ketahanan lingkungan."
Tanpa menoleh, tangan Rian terangkat sedikit, mengisyaratkan agar laporan verbal itu dihentikan sementara. Pandangannya tidak lepas dari deretan truk pengangkut material yang mulai bergerak mendekati gerbang keluar.
Di bahu jalan luar pagar proyek, di bawah naungan pohon peneduh yang rindang, perhatian Rian teralih pada sesosok pemuda yang mengendarai sepeda motor tua. Pria itu mengenakan jaket kain tebal kusam dan menyandang sebuah tas kamera kulit yang tampak usang oleh usia.
Pemuda itu tidak memosisikan dirinya seperti wartawan amatir yang mencolok. Ia berdiri tenang, bersandar pada bodi motornya seraya memegang sebuah kamera dengan lensa fokal panjang. Namun, bukannya memotret area konstruksi secara acak, jemarinya bergerak dengan ritme yang amat terukur—hanya menekan tombol rana saat truk-truk logistik tertentu dengan logo vendor tertentu melintas keluar gerbang.
"Hendra," panggil Rian datar, tanpa mengalihkan pandangannya. "Siapa vendor penyedia truk boks tanpa pelat nomor resmi yang baru saja keluar dari zona tiga?"
Hendra merujuk cepat pada tabletnya, keningnya berkerut. "Itu... subkontraktor logistik pihak ketiga, Pak. Mereka membawa sampel material pelapis dari vendor luar yang diajukan oleh konsorsium Victor Group."
Rian menyunggingkan senyum tipis—sebuah kurva dingin yang sarat kalkulasi bisnis. Victor Group. Nama yang belakangan ini gencar mencoba memasukkan pengaruhnya ke dalam proyek properti keluarganya, sekaligus nama yang sama yang sedang berupaya menekan bisnis adik perempuannya, Maya.
Di luar pagar, situasi mendadak menegang. Sebuah mobil minibus hitam tanpa atribut mendadak berhenti di seberang motor sang pemuda.
Rian memperhatikan interaksi itu dari ketinggian anjungan. Tidak ada aksi teriak-teriak konyol atau kekerasan fisik yang amatiran. Salah satu pria tegap itu hanya berdiri sangat dekat, membisikkan sesuatu dengan nada menekan, seraya tangannya mencoba menutupi posisi lensa kamera sang pemuda secara terselubung.
Namun, rekayasa intimidasi halus itu patah seketika. Pemuda berjaket kusam itu tidak memundurkan langkahnya satu senti pun. Tanpa mengubah ekspresi wajahnya yang dingin, ia menggeser sudut kameranya hanya sejauh beberapa milimeter, menekan tombol rana satu kali—cklik—menangkap posisi wajah kedua pria tegap itu beserta nomor seri stiker akses VIP yang menempel di kaca depan minibus hitam mereka.
Lalu, dengan gerakan yang sangat tenang dan terlatih, pemuda itu menarik kartu memori kecil dari slot kameranya, menyelipkannya ke dalam selipan tersembunyi di balik kerah jaketnya, dan menggantinya dengan kartu memori cadangan dalam hitungan dua detik. Ia lalu menyodorkan kameranya yang kini berisi kartu kosong ke arah kedua pria tersebut dengan gestur menantang yang sangat halus.
Dari jarak jauh, Rian bisa membaca ketegangan psikologis yang terjadi di bawah sana. Pria tegap itu tersentak—menyadari bahwa mereka sedang berhadapan dengan seorang jurnalis visual profesional yang menguasai teknik pengamanan bukti di lapangan. Mengetahui lokasi tersebut berada tepat di depan gerbang proyek Rian yang dijaga ketat sekuriti, kedua pria itu akhirnya memilih mundur dan masuk kembali ke dalam minibus mereka.
Pemuda berjaket kusam itu mengikat kembali tas kameranya. Sebelum menghidupkan mesin motornya, ia mendongak perlahan—menatap lurus ke arah anjungan lantai dua tempat Rian berdiri mengamati.
Pandangan mata kedua pria dari dunia yang berbeda itu bertaut selama beberapa detik melalui jarak lima puluh meter. Ada pemahaman tersirat di antara mereka: sebuah pengakuan atas kecerdasan dan kontrol diri di tengah ancaman. Tanpa mengumbar gestur berlebih, pemuda itu memutar kunci kontak motor tuanya, menderukan mesinnya, lalu melaju pergi membelah kepadatan lalu lintas kota.
Rian baru saja hendak memutar tubuhnya menuju ruang rapat ketika Hendra berjalan cepat memotong jalurnya. Wajah Hendra yang biasanya tenang kini memancarkan ketegangan yang ditahan rapat-rapat.
"Pak Rian, ada berkas mendesak yang baru saja dikirimkan langsung dari lantai eksekutif Victor Group," bisik Hendra seraya menyodorkan sebuah map kulit tebal bermotif emboss emas.
Rian menerima map tersebut, membukanya tanpa mengubah irama langkahnya. Matanya menyapu lembar-lembar dokumen legal berkertas tebal dengan pencetakan watermark resmi.
"Seratus tujuh puluh tujuh miliar..." gumam Rian pendek, membaca angka nominal proyek pendampingan yang tertera di halaman utama.
"Benar, Pak. Mereka mengajukan draf kerja sama investasi dan konsorsium senilai 177 miliar rupiah untuk pengembangan tahap tiga zona retail Utama," terang Hendra dengan suara makin merendah saat mereka melewati pintu kaca kedap suara. "Mereka bahkan menawarkan margin keuntungan bersih sebesar dua puluh dua persen untuk perusahaan kita—lima persen lebih tinggi dari standar pasar."
Rian menghentikan langkahnya tepat di ujung meja rapat marmer yang dingin. Matanya menyipit, membaui kejanggalan di balik angka-angka manis yang menggiurkan itu.
"Apa klausul penguncinya?" tanya Rian dingin.
Hendra membalik halaman tiga dokumen tersebut, menunjuk satu paragraf yang dicetak tebal dengan baris klausul hukum yang ketat.
"Catatan utamanya ada di pasal tujuh ayat dua, Pak," jelas Hendra. "Pihak Victor Group menuntut hak eksklusif penuh atas penunjukan seluruh rantai pasok material, struktur tempa, dan pelapis logam. Semua pasokan material wajib dialihkan seratus persen ke vendor-vendor di bawah naungan anak perusahaan mereka."
Sebuah senyum tipis yang sarat cemoohan terbit di sudut bibir Rian. Map kulit tebal itu ia hempaskan pelan ke atas meja marmer—suaranya bergema singkat namun memotong keheningan ruangan.
"Angka 177 miliar ini bukan angka investasi, Hendra," tutur Rian pelan, suaranya dipenuhi otoritas seorang pemimpin konglomerasi yang kenyang dengan intimidasi korporasi. "Ini adalah strategi monoline. Victor sedang mencoba mengunci seluruh pintu pasokan material di kota ini."
Hendra menatap Rian seraya mengerutkan kening ragu. "Pak Rian... apa Victor tahu kalau Maya itu adik kandung Pak Rian?"
Rian tertawa pendek—sebuah dengusan dingin yang mengisyaratkan betapa dangkalnya kubu lawan memetakan medan persaingan.
"Kalau tahu, enggak mungkin dia mengajukan tawaran ini ke kita," jawab Rian tenang, matanya menatap dokumen di atas meja. "Maya menyembunyikan nama besar keluarga terlalu rapat. Bagi Victor, aku hanyalah pengusaha properti yang ingin mereka jadikan mitra strategis. Mereka tidak sadar sedang menyodorkan peta serangan mereka sendiri ke meja kakak kandung orang yang sedang mereka tekan."
Rian mengetukkan jemarinya di atas map 177 miliar itu. "Coba kau pikirkan, Hendra. Mengapa Victor Group rela membayar margin dua puluh dua persen hanya demi klausul monopoli pasokan material di proyek kita, tepat di minggu yang sama saat kompetisi mode utama memasuki babak final?"
Rian menatap Hendra lurus. "Jika Victor berhasil menguasai rantai pasok material di proyek properti terbesar ini, secara otomatis mereka memegang kendali atas distribusi bahan baku premium, logam tempa, dan pelapis di seluruh wilayah ini."
Hendra menghentikan kata-katanya, lalu menyambung, "Artinya... siapa pun desainer independen yang tidak berada di bawah ketiak Victor—termasuk Studio Nilakandi milik Maya—akan kehabisan akses material berkualitas atau dipatok harga sepihak di pasaran!"
Mata Hendra perlahan membelalak saat menyadari benang merah tersebut.
"Tepat," tegas Rian dingin. "Victor tidak sedang berniat memajukan proyek kita. Mereka menggunakan uang 177 miliar ini untuk membangun benteng monopoli hulu ke hilir. Jika monopoli ini terwujud, mereka bisa mematikan desainer-desainer kecil seperti Maya tanpa perlu mengotori tangan mereka di panggung runway."
Rian memiringkan kepalanya, menatap ke luar jendela kaca besar yang memperlihatkan jalanan luar tempat truk logistik tanpa pelat nomor yang tadi dipotret oleh fotografer berjaket kusam.
"Lalu, apa respons yang harus kita kirimkan ke sekretaris Victor Group, Pak?" tanya Hendra sigap, kini memahami betapa berbahayanya draf tersebut.
"Gantung penawaran itu," potong Rian tegas. Matanya menyala oleh kalkulasi bisnis yang matang. "Katakan pada mereka bahwa tim hukum kita sedang melakukan verifikasi kelayakan material vendor mereka. Biarkan Victor mengira kita tergiur oleh angka 177 miliar itu dan tetap tidak tahu siapa aku sebenarnya bagi Maya."
Rian melepas kacamata hitamnya, menatap lurus ke arah jalanan luar proyek.
"Sementara mereka menunggu jawaban kita," sambung Rian dengan nada rendah yang sarat ancaman, "panggil fotografer independen yang memotret truk logistik mereka tadi. Periksa identitasnya, cari tahu dokumen apa yang sedang ia lacak dari pergerakan logistik Victor Group. Aku ingin tahu material busuk apa yang sedang dicoba diselundupkan oleh Victor ke dalam draf 177 miliar ini."
Namun, belum sempat Hendra membalikkan badan untuk keluar, ponsel di saku jas Hendra bergetar hebat memperlihatkan sinyal darurat dari tim keamanan lapangan.