Maya menikah dengan Ryan yang berasal dari desa. Setelah menikah mereka tinggal di rumah Maya yang di beli sebelum dia menikah.
Awalnya adik Ryan dan istrinya datang, mereka bilang hanya menumpang sebentar sampai mendapatkan kontrakan baru di Jakarta. Namun sudah sampai sebulan mereka menginap, bukannya pergi malah ibunya Ryan yang dari kampung datang dan ikut tinggal di rumahnya.
Mereka tidak mau bekerja, mereka justru menjadikan Maya sebagai pembantu.
Puncaknya, adik Ryan menampar Maya, sementara Ryan hanya diam saja tanpa membelanya. Saat itu Maya sadar, ia bukan lagi seorang istri di rumah tangganya sendiri.
Maya yang marah akhirnya memilih menjual rumah itu, dan menggugat cerai suaminya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12
Sudah tiga hari Mia berada di rumah orang tuanya.
Tiga hari yang terasa panjang bagi Rian. Setiap malam ia menelepon, membujuk istrinya untuk pulang. Namun Mia selalu menolak, dia bilang masih pusing. Rian akhirnya mengalah. Ia tidak tega memaksa. Apalagi ia tahu, di rumah mereka sekarang ada ibunya, adiknya, dan suasana yang semakin tidak nyaman.
Hari ini kebetulan weekend. Pagi itu Rian sudah bersiap-siap. Ia mengenakan kaos polo sederhana, menyisir rambut, dan menyiapkan dompet. Niatnya jelas, ingin pergi ke rumah mertuanya, menjemput sang istri.
Tapi niat itu langsung retak ketika Rukmini muncul dari dapur dengan wajah cerah.
“Mumpung Ibu di sini, ayo kita jalan-jalan,” ajaknya semangat. “Ke mal saja, atau ke taman. Sudah lama Ibu tidak jalan-jalan sama kalian”
Rian yang sedang mengikat tali sepatu menghentikan gerakannya. Ia menoleh. “Tidak bisa, Bu. Aku mau ke rumah Mama, jemput Mia.”
Wajah Rukmini langsung berubah. Senyumnya lenyap digantikan kerutan di dahi. Ia menatap anaknya dengan tatapan kecewa yang sudah sangat ia kuasai.
“Jadi kamu lebih memilih istrimu daripada mengajak Ibu jalan-jalan?” suaranya meninggi. “Biarkan saja istrimu di sana. Tidak usah dijemput dulu. Nanti kalau kita sudah selesai jalan-jalan baru kamu jemput dia. Kebetulan cucian juga sudah banyak menumpuk.”
Rian menghela napas panjang. Ia berusaha tetap sabar. “Kenapa tidak dicuci, Bu? Di sini kan ada mesin cuci. Tinggal masukkan, tekan tombol.”
Rukmini melambaikan tangan acuh. “Ibu capek. Sonya juga sibuk urus Janu. Anak itu rewel terus. Siapa yang harus mengurus semuanya kalau bukan kalian?”
Rian menatap ibunya, lalu menatap tumpukan pakaian kotor di sudut ruang cuci yang memang sudah menggunung. Di kepalanya terlintas wajah Mia yang selalu mencuci, memasak, dan mengurus rumah meski sedang lelah. Ia tidak bisa menahan diri.
“Mia juga sibuk urus Kayla, Bu,” katanya pelan tapi tegas. “Tapi dia masih bisa mengerjakan pekerjaan rumah. Bahkan sampai demam tetap dipaksa masak.”
Kalimat itu membuat Rukmini terdiam sejenak. Lalu, seperti biasa, dramanya dimulai.
Ia duduk di sofa dengan gerakan lambat, seolah tubuhnya tiba-tiba sangat lemah. Suaranya berubah sendu.
“Kamu tidak rela Ibu ada di sini? Kalau memang begitu, Ibu pulang kampung saja. Tidak usah tinggal di rumah anak. Nanti orang bilang Ibu merepotkan. Sudah, Ibu bersiap-siap sekarang.”
Rian langsung tegang. Ia mengenal betul pola ini. Setiap kali ia mencoba bersikeras, ibunya akan mengeluarkan ancaman pulang kampung. Dan setiap kali itu terjadi, rasa bersalah langsung mencekiknya.
“Bu, bukan begitu,” katanya cepat. “Ibu jangan bilang begitu.”
Rukmini menunduk, pura-pura mengusap mata. “Ibu tahu. Istrimu lebih penting daripada kami keluargamu sendiri. Ibu hanya mertua yang merepotkan. Sudah, kamu pergi saja jemput istrimu. Ibu tidak apa-apa sendirian di rumah.”
Sonya yang sejak tadi duduk di sudut sambil menggendong Janu ikut menunduk, tidak berani ikut campur. Lukman hanya menghela napas dari kamar, seolah sudah terbiasa dengan adegan ini.
Rian berdiri di tengah ruang tamu, terjebak. Di satu sisi, ia ingin menjemput Mia. Ia kangen dan juga khawatir dengan kondisi istrinya. Ia juga merasa bersalah karena membiarkan istrinya pergi dalam keadaan sakit. Tapi di sisi lain, ibunya sudah memasang wajah seolah baru saja diusir.
Ia mengusap wajahnya kasar.
“Baiklah, Bu,” katanya akhirnya, suaranya berat. “Kita jalan-jalan dulu. Nanti sore aku jemput Mia.”
Rukmini langsung tersenyum lega, seolah tidak pernah marah. “Nah, begitu dong. Ibu kan cuma minta ditemani sebentar. Nanti sore boleh jemput istrimu.”
"Aku dan Sonya ikut juga" seru Lukman tidak mau ketinggalan.
Rian hanya mengangguk pasrah. Ia mengambil kunci mobil dengan gerakan lelah. Di dalam hati, ia tahu betul, ia kembali kalah.
*
*
Sore itu udara di rumah orang tua Mia terasa tenang.
Mia menemani Kayla yang sedang bermain dengan mainan barunya. Tubuhnya sudah agak membaik, meski masih mudah lelah. Sesekali ia membuka ponselnya, berharap ada kabar dari Rian. Pesan terakhir suaminya masih tersimpan.
Mia menghela napas pelan. Ia sudah terbiasa menunggu. Tapi ketika jari-jarinya tidak sengaja membuka sosial media, dunia seolah berhenti sejenak. Postingan terbaru Sonya muncul di beranda.
Foto itu terlihat bahagia dan penuh tawa. Rukmini tersenyum lebar di tengah sambil memegang es krim. Di sampingnya, Rian berdiri dengan senyum yang agak kaku, sementara Lukman dan Sonya berpose mesra sambil menggendong Janu. Latar belakangnya jelas, sebuah mal besar yang ramai, dengan dekorasi warna-warni di belakang mereka.
Caption-nya sederhana, tapi menusuk:
“Family time. Mumpung Ibu di sini, jalan-jalan bareng. Bahagia itu sederhana.”
Mia membeku.
Ia memperbesar foto itu. Melihat satu per satu wajah. Rian ada di situ. Laki-laki yang tadi pagi bilang ingin menjemputnya. Laki-laki yang bilang kangen. Sekarang tersenyum di tengah keluarganya tanpa dirinya, tanpa Kayla.
Jantung Mia berdetak lebih kencang. Rasa kecewa yang sejak tadi ia tahan akhirnya pecah begitu saja. Air mata mengalir pelan di pipinya, jatuh ke pangkuannya.
“Mama nangis?” tanya Kayla yang melihat wajah ibunya.
Mia cepat mengusap air matanya. Ia memaksakan senyum. “Tidak apa-apa, sayang. Mata Mama kena debu.”
Tapi di dalam hati, rasa sakit itu menggulung. Bukan hanya soal tidak diajak. Tapi soal bagaimana mudahnya mereka bahagia tanpa kehadirannya. Soal bagaimana Rian bisa tersenyum di sana, sementara ia masih menunggu di rumah orang tuanya dalam keadaan sakit.
Maya yang keluar dari dapur melihat wajah putrinya yang sembab. “Mia? Ada apa?”
Mia tidak menjawab. Ia hanya menyerahkan ponselnya. Maya melihat postingan itu, lalu menghela napas panjang.
“Mereka bersenang-senang tanpa mengajak kalian"
Mia menunduk, memeluk lututnya. “Aku tahu Rian sulit melawan ibunya. Tapi aku tetap kecewa, Ma. Sangat kecewa. Aku di sini lagi sakit, tapi mereka seolah tidak peduli. Jalan-jalan, foto-foto, seolah aku dan Kayla bukan keluarganya. Padahal rumah yang mereka tempati itu rumahku, dan mobil yang mereka pakai juga mobilku"
Maya duduk di sampingnya. “Kamu berhak kecewa. Jangan dipendam lagi.”
Mia menatap layar ponsel sekali lagi. Senyum Rian di foto itu terasa jauh. Seolah ada dinding tipis yang semakin tebal di antara mereka.
Ia mengunci ponselnya, lalu menggendong Kayla ke dalam pangkuannya. Anak itu memeluk lehernya erat.
“Papa mana?” tanya Kayla polos.
Mia menelan ludah. Suaranya serak ketika menjawab,“Papa… sedang jalan-jalan sama nenek dan om, sayang. Nanti sore mungkin datang.”
Tapi di dalam hati, Mia sudah tidak yakin. Kecewa itu diam-diam berubah menjadi pertanyaan yang lebih dalam. Kalau keluarga Rian bisa bahagia tanpa dirinya, apakah Rian masih benar-benar membutuhkannya?
THOR BUAT YG HAJAR MIA DI JEBLOSKAN PENJARA TANPA ADA NEGOSIASI BIAR IPAR DAN MANTAN MERTUA TAU ARTINYA K.A.R.M.A😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈
kl masih bertahan ya goblok saja jd wanita. dah di pukul juga kn, foto trus lapor kan polisi lo.