Di sekolah, Rendra Adijaya adalah pangeran sempurna yang dingin dan tak tersentuh. Namun di balik pintu kamar, dia hanyalah cowok anxious kronis yang menyembah seorang admin Discord anonim sebagai "pawang mental"-nya. Siapa sangka, admin gaming tempatnya mengemis semangat setiap malam itu ternyata Naya, cewek cuek bermulut tajam yang duduk di pojok kelasnya dan paling anti dengan cowok nyata.
Begitu rahasia terbongkar, saklar obsesi Rendra langsung menyala. Topeng pangeran dinginnya pecah total saat dia nekat menyudutkan Naya di kelas kosong sambil memelas gila, "Tolong jangan block gue... gue rela beliin angkot jalur sekolah ini asal lu tetep mau jadi pawang gue!" Mampukah Naya bertahan menghadapi tingkah bucin akut sang idola sekolah yang aslinya serapuh kerupuk kesiram kuah soto?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon TCN_Luna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6: Nanya Nomor WA
Bagi seorang Rendra Adijaya, memegang pulpen yang baru saja bersentuhan dengan kulit Kanaya Putri rasanya seperti memegang piala oscar. Sepanjang sisa jam pelajaran Bahasa Indonesia, Rendra menulis pembagian tugas kelompok dengan tingkat kefokusan yang luar biasa tinggi. Wajahnya boleh saja sedatar kulkas dua pintu, tetapi isi kepalanya sedang menyusun rencana besar berikutnya.
Dia butuh akses langsung ke kehidupan Naya di dunia nyata. Dan gerbang utama itu bernama nomor WhatsApp.
"Oke, pembagian tugasnya udah selesai gue tulis," ucap Rendra membuka suara setelah beberapa menit hening. Suaranya sengaja dibuat berat, dingin, dan penuh wibawa.
Sita langsung mengangguk patuh sambil melihat catatan. "Berarti aku bagian struktur teks ya, Rendra? Terus Aldi bagian kaidah kebahasaan?"
"Yoi, santai. Nanti lu tinggal kirim filenya ke gue, Sita," sahut Aldi dengan wajah tanpa beban, masih sibuk memutar-mutar penggaris plastik di atas meja.
Naya yang sejak tadi sibuk menopang dagu sambil menatap jendela luar, akhirnya menoleh pelan. "Terus bagian gue apa? Teks eksplanasi tentang fenomena alam kan?"
Rendra mengalihkan pandangannya lurus ke arah Naya. Dia menekan dadanya yang mulai berdegup kencang demi mempertahankan topeng pangeran sekolahnya. "Iya. Lo cari contoh teks eksplanasi tentang proses terjadinya gempa bumi. Cari yang strukturnya lengkap."
"Oke, gampang. Nanti malam gue cari di internet," jawab Naya santai seraya mengunyah permen karet stroberinya lagi.
Rendra tidak langsung mengalihkan pandangan. Ini dia. Momen krusial yang sudah dia rancang sejak lima menit lalu di dalam otaknya. Rendra berdehem pendek, lalu mengetuk-ngetuk ujung pulpen keramatnya ke atas meja tulis.
"Biar koordinasi kelompoknya gampang, gue butuh nomor WhatsApp lo semua. Biar gue bisa bikin grup tugas," ujar Rendra dengan nada flat, seolah-olah ini murni urusan bisnis profesional yang tidak bisa diganggu gugat.
"Oh, iya bener juga! Nomor gue kan lo udah punya, Ren," sahut Aldi cepat.
"Nomor aku catat di sini ya, Rendra," ucap Sita sambil dengan sopan menuliskan deretan angka di pojok kertas binder Rendra.
Tinggal satu orang lagi. Rendra memutar bola matanya perlahan, menatap Naya yang tampak tidak acuh. "Kanaya. Nomor lo?" tanya Rendra pendek, irit kata, sok tidak peduli. Padahal, di dalam saku celananya, tangan kirinya sudah meremas kain seragamnya sendiri sampai lecek karena menahan social anxiety-nya yang mendadak kambuh.
Naya mengernyitkan alisnya tipis. Cewek itu menatap Rendra dengan pandangan penuh selidik yang membuat Rendra hampir saja lupa cara bernapas. “Ini anak tumben bener formal banget nanya nomor WA segala. Biasanya kan bisa lewat Aldi,” batin Naya curiga. Tapi, karena melihat Sita dan Aldi juga memberikan nomor mereka, Naya akhirnya mendengus pasrah.
"Sini HP lo. Gue ketik langsung aja, males nyebutinnya," cetus Naya ceplas-ceplos sambil mengulurkan tangannya yang kurus.
DEG!
Jiwa wibu obsesif Rendra langsung berteriak histeris di dalam batin. “DIA MAU MEGANG HP GUE?! HP GUE YANG SUCI INI BAKAL DISENTUH OLEH JEMARI MALAIKAT SANG PAWANG MENTAL?! YA TUHAN, TERIMA KASIH ATAS NIKMAT-MU YANG TIADA TARA INI!”
Rendra dengan gerakan lambat—yang sengaja dibuat seanggun mungkin—merogoh ponsel pintarnya dari saku. Dia membuka kunci layarnya terlebih dahulu, lalu menyodorkannya ke tangan Naya. Saat telapak tangan mereka kembali bergesekan samar, Rendra bersumpah otaknya mendadak blank selama dua detik penuh.
Naya menerima ponsel mahal itu, lalu dengan cepat mengetikkan sebelas digit nomor teleponnya di menu kontak. Begitu selesai, Naya langsung menyodorkan kembali ponsel itu ke arah Rendra tanpa minat. "Nih. Udah gue ketik."
"Thanks," jawab Rendra sedingin es batu. Dia menerima ponselnya kembali, lalu meletakkannya di atas meja dengan posisi layar menghadap ke bawah, pura-pura tidak tertarik.
Kringgg!!!
Bel pulang sekolah yang dinanti-nanti akhirnya berdering juga. Rendra langsung membereskan barang-barangnya dengan kecepatan penuh. Dia mengabaikan Aldi yang mengajaknya pulang bersama dengan alasan ada urusan keluarga yang sangat mendesak. Rendra melesat keluar kelas, masuk ke dalam mobil jemputannya, dan langsung meminta sopir pribadinya untuk melaju cepat ke rumah.
Begitu sampai di kamar mewahnya yang bernuansa hitam-putih, Rendra langsung mengunci pintu. Dia melempar tasnya ke atas sofa, lalu melompat ke atas kasur king size-nya dengan gerakan dramatis. Topeng pangeran dinginnya pecah berkeping-keping berganti menjadi mode bucin akut yang memalukan.
Dia menyambar ponselnya dengan tangan yang gemetaran parah karena terlalu bersemangat. Rendra membuka menu kontak, mencari nomor yang baru saja diketik oleh Naya tadi siang di kelas. Nama kontak default yang tertulis di sana sangat simpel: Kanaya Putri.
Rendra menatap nama itu dengan mata yang berbinar-binar penuh kegilaan. Seulas senyum obsesif yang sangat lebar terukir di wajah tampannya.
"Kanaya Putri... Naya... Nightmare-ku tersayang," gumam Rendra dengan suara cempreng aslinya sambil guling-guling di atas kasur, memeluk gulingnya erat-erat sampai wajahnya memerah padam. "Gak bisa! Nama kontaknya terlalu biasa! Ini tidak mencerminkan kasta lo yang setara dengan Tuhan di hidup gue!"
Rendra langsung menekan tombol edit pada kontak tersebut. Jarinya bergerak dengan kecepatan kilat, menghapus nama asli Naya, lalu menggantinya dengan deretan teks baru yang penuh dengan kegilaan wibu bucinnya:
My Sun, My Moon, My Savior Naya
Rendra menatap hasil editannya dengan perasaan puas yang tiada tara. Jantungnya berdebar-debar kencang hanya karena melihat nama kontak baru itu di layar ponselnya. Namun, sedetik kemudian, logika Rendra yang tersisa mendadak memberikan alarm peringatan di otaknya.
“Eh, bentar, bentar... Kalau di sekolah tiba-tiba HP gue diintip sama Aldi atau cewek-cewek lain gimana? Bisa geger satu kabupaten! Reputasi cowok cool gue bakal musnah, dan Naya pasti bakal nge-block gue karena risih!” pikir Rendra panik, langsung terduduk tegak di kasurnya dengan muka pucat.
Rendra menggigit bibir bawahnya dengan frustrasi. Dia mondar-mandir di dalam kamarnya yang luas dalam mode overthinking akut. Setelah berpikir keras selama tiga menit penuh sampai otaknya panas, Rendra akhirnya menemukan solusi jenius yang aman dari mata-mata sekolah.
Dia kembali membuka kontak tersebut, lalu mengubah namanya lagi menjadi:
K. Putri (Tugas Eksplanasi)
"Nah! Kalau begini kan aman! Keliatannya murni karena urusan bisnis kelompok!" Rendra terkekeh pelan dengan senyum misteriusnya yang berkilat penuh obsesi rahasia. "Tapi di dalam hati gue... lo tetep pemilik shortcut desktop utama kehidupan gue, Naya. Gak akan ada satu pun cowok di dunia nyata yang boleh dapetin nomor lo selain anggota kelompok ini."
Rendra mendekapkan ponsel itu ke dadanya dengan erat, merasakan detak jantungnya yang masih belum stabil. Saklar obsesi sang pangeran sekolah kini sudah resmi memiliki jalur akses langsung ke ponsel sang pawang mental. Dan besok pagi, Rendra sudah menyiapkan kejutan misterius berikutnya untuk cewek yang duduk di pojok kelas itu.