NovelToon NovelToon
Dijual Suamiku kepada Sang Don

Dijual Suamiku kepada Sang Don

Status: tamat
Genre:Romantis / Mafia / Penyesalan Suami / Dark Romance / Tamat
Popularitas:29
Nilai: 5
Nama Author: Dayane Castro

Malam itu, Lorena—seorang perawat yang lelah membanting tulang demi menghidupi rumah tangganya—menemukan seorang pria sekarat berlumuran darah di tepi jalan, dan memilih menyelamatkan nyawanya. Ia tak pernah tahu bahwa pria itu adalah Ravi Dumont: penguasa kasino, seorang Don mafia yang dingin, dan sejak malam itu, terobsesi hanya pada satu perempuan—dirinya.

Ketika suami Lorena yang kecanduan judi terjerat utang setengah juta euro, ia memberikan satu-satunya "harta" yang tersisa untuk melunasinya: istrinya sendiri. Dalam sekejap, Lorena berpindah dari pernikahan yang menghancurkan ke tangan pria yang bersumpah takkan pernah melepaskannya.

Ravi bisa mendapatkan apa pun yang ia mau. Ia membelikan Lorena rumah sakit, menaburinya dengan kemewahan, memujanya seperti ratu—tapi cinta tak bisa dibeli, dan hati Lorena penuh amarah pada pria yang menjadikannya barang dagangan. Di balik senyum tenang Ravi tersembunyi sisi tergelap seorang mafia: kejam pada dunia, namun memuja perempuannya dengan obsesi yang berbahaya.

Di antara kilau meja judi, ancaman para pengkhianat, rahasia keluarga, dan gairah yang perlahan membakar segala pertahanan, kebencian mulai berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih menakutkan: keinginan untuk tinggal.

Bisakah cinta tumbuh dari sebuah transaksi? Bisakah seorang perempuan yang pernah dijual belajar mencintai pria yang membelinya—dan bisakah sang Don yang tak kenal ampun membuktikan bahwa perempuannya bukan lagi harta yang dimiliki, melainkan satu-satunya hal yang tak sanggup ia hidupi tanpanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dayane Castro, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29

POV Ravi

Penggeledahan dimulai dari seisi rumah. Yang paling menyenangkan, kalau mereka lari, anak buahku di luar akan menangkap mereka; kalau tetap di dalam, aku yang menangkap. Mereka benar-benar terjebak di jalan buntu. Kuperintahkan anak buahku bergerak tanpa suara dan bersembunyi di beberapa tempat. Sebab kami sudah menjungkirbalikkan seisi rumah, dan tak menemukan mereka.

"Ayo kita pergi, sepertinya ini perjalanan sia-sia, mereka tidak di sini." Kataku sambil berjalan ke arah pintu, kubuka lalu kututup lagi. Setelah itu, aku bersembunyi di balik sofa, menunggu saat yang tepat untuk menyerang.

"Dapat, Don! Dua tikus kecil keluar dari persembunyian." S20 berkata, itulah kenapa dia favoritku, tak pernah mengecewakanku.

Aku keluar dari balik sofa dan melihat wajah ketakutan Cibele serta wajah penuh kebencian Jorge. Aku tersenyum, sebab bagaimana bisa dua cacing seperti mereka menimbulkan begitu banyak masalah untukku? Aku duduk di sofa mereka, dan mengulurkan tangan mempersilakan mereka duduk juga.

"Don, maafkan aku, aku tak bermaksud begitu." Cibele bicara agak tak jelas, tapi itu yang bisa kutangkap.

"Tidak bermaksud tapi tetap melakukannya, itu sama saja dengan sengaja. Yang tak mau tidak akan melakukannya, tak akan berkomplot dengan parasit lain dan mengacaukan hidup orang. Kalau kau bersekutu dengannya untuk mengacaukan hidupku, sekarang kau akan menerima hukuman yang sama, Cibele. Kalian kira tak akan pernah tertangkap? Aku yang berkuasa di Italia, terutama di sini, di Venesia. Dua polisi di luar itu, kalian datangkan untuk menahanku?"

"Pasti ada suatu lembaga yang lebih berkuasa darimu, Ravi, suatu hari nanti aku masih akan melihat kejatuhanmu."

"Aku mungkin saja jatuh, tapi kau tak akan ada di sini untuk melihatnya. Ingat waktu kubilang Lorena tak akan selalu ada di dekatmu untuk membelamu? Nah, kali ini dia tak mau ikut campur. Kau sungguh berpikir dia masih mencintaimu?" Matanya membelalak, sadar tak akan ada yang membelanya.

"Lorena tak akan pernah membiarkanku mati, apa yang kaulakukan padanya?"

"Kami bercinta habis-habisan di malam pengantin kami. Ngomong-ngomong soal itu, aku perlu membuktikan sesuatu. Kau mempermalukan orang Italia, ya? Jari kelingkingku saja lebih besar daripada kejantananmu, atau aku salah?" Kataku sambil menunjukkan jari kelingkingku padanya, dan wajahnya makin masam. "Sekarang aku mengerti kenapa dia tak pernah hamil selama lima tahun menikah denganmu. Kurasa spermamu bahkan tak sanggup mencapai rahimnya, karena barangmu terlalu pendek."

Dia bangkit hendak menyerangku, tapi S20 dan S5 menahannya. Aku tersenyum melihat caranya bertingkah ketika dipancing, terutama karena itu memberiku kepastian bahwa aku benar.

"Lorena bahagia sekarang, bahagia dan terpuaskan. Dia tahu siapa yang benar-benar memberinya kenikmatan, itulah kenapa dia memutuskan tinggal bersamaku."

"Dia menikahimu hanya supaya aku tak mati. Bukti apa lagi yang lebih besar dari itu? Kau boleh punya tubuhnya, tapi kau tak akan pernah memiliki hatinya."

"Ini kedua kalinya kau mengatakan itu padaku, dan dua-duanya membuatku kesal. Aku ingin bisa berdialog dengan kalian, tapi kurasa itu tak akan terjadi. Baiklah, aku punya hadiah untuk kalian. Ini, aku punya dua butir pil afrodisiak yang sangat kuat. Kalau meminumnya dan tak menuruti gairah yang timbul, jantung kalian akan berhenti, dan tentu saja aku ingin melihat itu. Kalian mati dalam siksaan."

"Don, jangan lakukan itu, aku mohon padamu." Cibele terjatuh berlutut di lantai, menangis seperti anak kecil. Tapi kalau ada satu hal yang tak pernah kurasakan, itu adalah rasa kasihan pada siapa pun. "Aku lakukan apa pun yang kaumau, tapi jangan bunuh aku, aku tak mau mati."

"Aku dengar kau melakukan aborsi. Apa kau memberi kesempatan pada anakmu untuk memilih hidup atau tidak?" Dia mengangkat kepalanya yang pucat pasi. "Aku ini mafia, aku dingin dan tak berperasaan. Tapi membunuh seorang bayi adalah hal terburuk yang bisa dilakukan siapa pun dalam hidup. S20, bawa keduanya ke kamar dan ikat mereka di ranjang, percakapan sudah selesai."

Para prajuritku melakukan perintahku, dan keduanya diseret ke kamar sambil menjerit putus asa. Bagiku, itu bagai alunan melodi, seakan-akan embusan napas terakhir. Mereka dibaringkan di ranjang dan diikat dengan seprai. Kusuruh buka mulut Jorge lebih dulu, dan kujejalkan tiga butir pil afrodisiak ke mulutnya. Lalu, kutinju perutnya, memaksanya menelan meski dia tak mau.

Setelah dia, kulakukan hal yang sama pada Cibele, yang terus menangis putus asa. Satu butir pil saja sudah membuat siapa pun mengigau, sudah membuat orang begitu bergairah sampai menggosok-gosokkan diri ke apa saja. Kalau tiga butir, tentu akan menimbulkan kerusakan besar pada keduanya. Aku bisa saja mencincang mereka berkeping-keping, tapi melihat penderitaan mereka akan membuatku lebih puas.

Sepuluh menit, itulah waktu yang dibutuhkan keduanya untuk mulai terengah-engah dan menggeliat-geliat. Mereka tak bisa saling menyentuh, karena meski berada di ranjang yang sama, masing-masing diikat di ujung yang berbeda. Setiap detik yang berlalu, keputusasaan mereka makin menjadi, dan hiburanku pun begitu.

Aku bangkit dari kursi dan mengamati mereka dari lebih dekat, sungguh menakjubkan bagaimana Jorge, bahkan dalam keadaan terangsang, tak terlihat perubahan apa pun di balik celananya. Aku membungkuk, kuturunkan celana joger beserta celana dalamnya, dan mulai tertawa melihat ukurannya. Pantas Lorena kesakitan waktu aku memasukinya.

"Cazzo, jari kelingkingku masih lebih besar dari itu. Dan ini sudah tegang, kalau lemas pasti hilang sama sekali." Para prajuritku ikut tertawa bersamaku. "Berapa sih ini? 8 sentimeter?"

"Milik anakku yang tujuh tahun saja lebih besar, Don." Aku menggeleng sambil tersenyum.

"Ini yang kaubilang dicintai Lorena? Tak perlu berbohong sejauh itu, Jorge kecil."

"Persetan denganmu..." Dia mencoba bicara, menggeliat karena tersiksa merasakan tubuhnya membakar tanpa bisa berbuat apa-apa.

"Don, tolong aku..." kata Cibele di sampingnya, merapatkan kedua kakinya dan mencoba menggosok-gosok. "Aku sudah tak tahan lagi."

"Cukup berhenti bernapas maka semua akan berakhir. Aku bisa saja mengakhiri penderitaan kalian sekarang juga, dengan menghunjamkan peluru ke kepala kalian masing-masing, tapi mana serunya?"

"Dasar... psikopat..."

"Lihat saja, baru sekarang menyadarinya, Jorge kecil? Bagaimana kalau kau cepat mati saja supaya aku bisa segera kembali ke pelukan wanitaku?"

"Ter... kutuk kau." Aku tersenyum melihat keputusasaan keduanya.

Aku kembali duduk di kursi, menunggu keruntuhan terakhir mereka. Cibele yang pertama ambruk, tubuhnya bergetar hebat sebelum akhirnya berhenti sama sekali. Aku bangkit untuk memeriksa denyut nadinya, yang sudah tak ada lagi. Dia mati dengan mata dan mulut menganga, pemandangan mengerikan untuk dilihat. Sementara Jorge, butuh hampir dua jam sampai mampus, yang satu ini berjuang keras agar tak mati.

"Sekarang kita apakan mereka, Don?"

"Kita bakar keduanya, lalu aku akan kembali pada mia bella, sebab ada macan betina galak yang harus kutenangkan sekarang."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!