NovelToon NovelToon
IBU TIRI PENYELAMATKU

IBU TIRI PENYELAMATKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Tiri / Balas Dendam / Action
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Icita

Setelah enam bulan wafatnya sang Ibu, Dea memutuskan meninggalkan rumah karena tidak tahan terhadap tekanan dan siksaan dari Paman, Bibi dan sepupunya yang sengaja ingin merebut warisan dari sang ayah yang merupakan seorang CEO sebuah perusahaan Ekspor-Impor bernilai ratusan triluin.

Takdir Pelarian Dea mempertemukannya dengan Tania, seorang gadis desa yang merantau ke kota untuk mencari keluarga dan asal usul jati dirinya.
Dea akhirnya mau kembali ke rumah setelah sang ayah menikahi Tania dan menjadi ibu tiri untuk Dea. Kembalinya Dea ke rumah menimbulkan ketidak sukaan dari paman dan bibi Dea, apalagi sekarang adanya Tania yang menjadi perisai hidup bagi Dea.

Banyak drama dan kejadian yang menguras emosi, banyak plot twist dalam setiap bab kejadiannya, baik dalam kehidupan Dea maupun kehidupan Tania dalam mencari keluarganya di ibukota.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Icita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tempe Mendoan dan Mafia Internasional

Dua belas kilometer sebelum memasuki perbatasan kawasan rumah sakit swasta di pinggiran Bogor, sebuah konvoi kendaraan melaju membelah malam yang makin larut. Di barisan tengah, terdapat sebuah truk komando berarmor tebal dengan kaca gelap kedap peluru. Dari luar, kendaraan itu tampak seperti truk ekspedisi logistik biasa. Namun di dalamnya, ruangan tersebut disulap menjadi ruang kendali taktis berteknologi tinggi bernilai ratusan miliar rupiah, lengkap dengan puluhan layar monitor holografik yang menampilkan citra satelit secara real-time.

Suasana di dalam truk komando itu merupakan perpaduan antara markas rahasia agen rahasia dan kedai kopi pinggir jalan yang sangat kacau.

Xander von Hapsburg berdiri di depan meja peta hologram utama. Wajahnya yang tampan dan tegas tampak luar biasa serius. Pria yang ditakuti oleh sindikat kejahatan lintas benua itu sedang merencanakan operasi penyelamatan ayah angkat Tania.

"Freya," suara Xander menggelegar dingin, memecah keheningan. "Hubungi pangkalan udara terdekat di Singapura. Kirim dua helikopter serang taktis, siapkan pasukan terjun payung elite, dan aktifkan pemancar gelombang elektromagnetik untuk melumpuhkan seluruh aliran listrik kota ini dalam radius lima kilometer."

Freya, pengawal pribadi keturunan Skotlandia yang bertubuh tinggi tegap, langsung menegakkan badannya. "Siap, Tuan! Peluncuran dapat dilakukan dalam waktu empat belas menit!"

"Tunggu, tunggu, tunggu!"

Tania, yang sedang duduk di sofa empuk ruang komando sambil memotong apel, merentangkan tangannya tinggi-tinggi. Ia menatap Xander dan Freya bergantian dengan pandangan tak percaya.

"Tuan Xander yang terhormat," ujar Tania dengan nada bicara yang memadukan rasa geli dan kelelahan mental. "Kita ini sedang berada di Bogor, Indonesia. Bukan di medan perang gurun pasir. Kalau kau mengirim helikopter tempur dan memadamkan listrik se-kabupaten, esok pagi wajahmu akan masuk di semua akun gosip Instagram dan warga lokal akan mengira ada piring terbang alien yang jatuh di dekat kebun raya!"

Xander mengerutkan dahinya, tampak kebingungan dengan konsep 'akun gosip' dan 'warga lokal'. "Tapi ini adalah protokol standar pembebasan sandera tingkat satu, Nyonya Tania. Kecepatan dan kekejaman adalah kunci."

"Kuncinya adalah efisiensi dan tidak bikin heboh," sela Dirga, yang baru saja melangkah masuk dari pintu penghubung kabin depan.

Eksekutor veteran Mawar Hitam itu berjalan santai sambil membawa dua kantong plastik transparan yang bagian bawahnya menempel bercak minyak berwarna keemasan. Dari dalam kantong plastik itu, menguar aroma gurih yang sangat tajam dan khas: kombinasi bawang putih, adonan tepung goreng, dan cabai rawit.

"Apa yang kau bawa itu, Dirga? Apakah itu perangkat peretas sinyal frekuensi baru?" tanya Xander sambil menunjuk kantong plastik berminyak di tangan Dirga dengan isyarat dagu yang penuh selidik.

Dirga mendengus pelan, lalu meletakkan dua kantong plastik itu tepat di atas meja kontrol holografik bernilai jutaan dolar. "Ini tempe mendoan, tahu isi, dan pisang goreng panas dari warung tenda di depan pos polisi tadi. Kita butuh gizi sebelum menyusup."

Freya langsung melangkah maju, menarik sarung tangan kulitnya, dan mengeluarkan alat pemindai radiasi serta bahan kimia dari sakunya. Dengan sangat profesional, wanita Skotlandia itu mengarahkan sinar laser biru dari pemindai ke arah sepotong tahu isi.

BZZZT... BZZZT...

"Tuan Xander! Hati-hati!" seru Freya dengan nada panik, memosisikan tubuhnya untuk menutupi Xander. "Benda berbentuk kubus bertepung ini mengandung minyak jenuh tingkat tinggi dan racun kapsaisin berkonsentrasi sedang! Ini bisa menjadi senjata biologis yang disamarkan!"

Dea, yang sejak tadi duduk meringkuk di sudut sofa dengan selimut tebal, tak sanggup lagi menahan tawanya. Untuk pertama kalinya setelah pertengkaran hebat di vila tadi, tawa renyah seorang gadis remaja meledak dari mulut Dea. Gadis itu menutupi wajahnya dengan kedua tangan, bahunya naik-turun karena geli melihat pengawal elite internasional yang ketakutan setengah mati melihat sebuah tahu isi.

"Mbak Freya..." panggil Dea di sela tawanya, suaranya terdengar begitu manis dan polos. "Racun kapsaisin itu namanya cabai rawit. Kalau digigit bersama tahunya, rasanya enak sekali, tahu!"

Tania tersenyum lega melihat Dea bisa tertawa kembali. Ia meraih sepotong tempe mendoan dari kantong plastik, menggigitnya santai, lalu mengunyahnya dengan nikmat. "Enak kok. Mendoannya masih hangat. Ayo makan, Dea. Jangan biarkan perutmu kosong."

Xander membeku di tempatnya. Pria penguasa bayangan itu menatap Tania yang makan dengan santai, lalu beralih menatap putri tunggalnya yang kini sedang mengambil sepotong pisang goreng. Ada kepedihan sekaligus kehangatan yang aneh di dalam dadanya. Selama bertahun-tahun hidup di dunia kelam yang dipenuhi pengkhianatan dan kemewahan dingin, Xander belum pernah melihat suasana sekeluarga yang begitu rileks dan bersahaja.

Dengan canggung, Xander melangkah mendekati sofa. Pria ber jas mahal itu perlahan duduk di sebelah Dea, namun tetap menjaga jarak sekitar satu jengkal, takut jika keberadaannya akan membuat putrinya merasa tidak nyaman kembali.

"Dea..." panggil Xander pelan, suaranya mendadak kehilangan ketegasan seorang Dominus Umbrae, berganti menjadi suara seorang pria paruh baya yang gugup di depan anaknya sendiri.

Dea menghentikan kunyahan pisang gorengnya, menoleh perlahan menatap sang ayah kandung. "Ya?"

Xander merogoh saku dalam jasnya, mengeluarkan sebuah dompet kulit berwarna hitam buatan tangan penjahit kerajaan Inggris. Dari dalamnya, ia menarik selembar kartu plastik berwarna hitam pekat tanpa nomor tertera, hanya ada ukiran logo naga emas kecil di sudutnya.

"Ini... Black Card tanpa batas limit transaksi digital," kata Xander sambil menyodorkan kartu itu kepada Dea dengan kedua tangannya, persis seperti seorang bawahan yang memberikan laporan keuangan kepada atasannya. "Jika kau butuh pakaian baru, atau... atau ingin membeli gedung sekolahmu, atau mungkin sebuah pulau kecil di Samudra Pasifik untuk liburan... kau bisa menggunakannya kapan saja."

Dea membelalakkan matanya, menatap kartu hitam itu, lalu menatap wajah ayahnya yang tampak begitu polos menyodorkan kartu berharga triliunan rupiah itu hanya untuk sekadar membelikan pakaian.

Tania yang melihat hal itu langsung menepuk jidatnya sendiri. "Tuan Xander..."

"Apa aku salah lagi?" tanya Xander dengan raut wajah panik, matanya bergerak liar menatap Tania. "Atau... atau dia lebih suka helikopter pribadi? Aku bisa menelepon pabrik Airbus sekarang untuk mengirimkan satu unit yang dicat warna merah muda?"

"Xander, dengarkan aku," panggil Tania, sengaja menghilangkan formalitas panggilannya demi menyadarkan pria kaya raya yang terbiasa menyelesaikan masalah dengan uang ini. Tania bergeser duduk di sisi lain Dea, merangkul bahu gadis itu dengan hangat. "Dea ini siswi SMA kelas sebelas. Dia tidak butuh pulau di Samudra Pasifik, dan dia pasti bingung mau menaruh helikopter merah muda di mana kalau diparkir di halaman sekolah."

Dea terkekeh pelan, mengangguk setuju pada ucapan Tania. "Iya... aku bingung nanti bayar uang parkirnya di sekolah pakai apa kalau bawa helikopter."

"Lalu... apa yang harus aku berikan padamu, Dea?" tanya Xander dengan nada frustrasi yang terdengar agak menggemaskan untuk ukuran seorang mafia kelas dunia. Matanya menatap Dea penuh kerinduan. "Aku ingin memberikan seluruh dunia padamu untuk mengganti waktu yang hilang."

Dea menatap kartu hitam di tangan ayahnya, lalu perlahan menggelengkan kepala. Ia tidak menyambar kartu itu. Sebaliknya, Dea meraih kantong plastik gorengan milik Dirga, mengambil sepotong pisang goreng hangat yang masih mengepul, lalu menyodorkannya ke arah Xander.

"Aku cuma mau Ayah makan ini bersamaku," bisik Dea pelan. Panggilan 'Ayah' itu meluncur agak kaku dari bibirnya, namun sukses membuat tubuh Xander bergetar hebat.

Mata biru Xander meredup oleh genangan air mata yang kembali mendesak keluar. Penguasa bayangan yang tidak pernah gentar menghadapi gertakan tank perang itu kini menerima sepotong pisang goreng berminyak dari tangan putrinya dengan tangan yang gemetaran hebat, seolah ia baru saja menerima harta paling berharga di seluruh jagat raya.

"T-terima kasih... Dea," bisik Xander parau. Ia menggigit pisang goreng itu tanpa memedulikan minyaknya yang menetes ke atas kemeja sutra mahalnya. "Ini... ini pisang terlezat yang pernah aku makan seumur hidupku."

Dirga yang bersandar di dinding truk menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum tipis, sementara Freya tampak mencatat sesuatu di sabak digitalnya: Catatan taktis: Pisang goreng dapat melumpuhkan mentalitas Dominus Umbrae dalam waktu tiga detik.

Tania tersenyum lembut melihat interaksi canggung namun manis antara ayah dan anak itu. Ia mengambil sisir kecil dari tasnya, lalu bergeser ke belakang Dea. Dengan gerakan jemari yang telaten dan penuh kasih sayang, Tania mulai menyisir rambut panjang Dea yang sempat berantakan akibat kerusuhan di gedung tadi.

"Ibu..." cicit Dea, menikmati sentuhan jemari Tania di kepalanya. Rasa hangat dan nyaman seketika mengalir ke seluruh tubuhnya.

"Ya, Sayang?"

"Terima kasih ya, Bu... sudah mau mengajari Ayah cara jadi manusia biasa," gumam Dea sambil melirik Xander yang masih sibuk mengunyah pisang gorengnya dengan wajah super serius.

"Ibu kan memang bertugas menjaga kalian berdua," balas Tania sambil tersenyum geli. "Ayahmu itu memang jago kalau urusan menembak orang atau meruntuhkan bursa saham, tapi kalau urusan perasaan... dia harus sekolah lagi dari kelas satu SD."

Xander pura-pura batuk mendengar sindiran halus Tania, meski bibirnya tak mampu menyembunyikan senyuman tipis. Di dalam hatinya, ada rasa hormat dan kekaguman yang teramat sangat pada sosok Tania. Wanita muda di depannya ini tidak memiliki pasukan atau senapan mesin canggih, namun kehangatan jiwanya sanggup menjadi perekat bagi keluarga mereka yang hancur berkeping-keping.

Tiba-tiba, monitor utama di dinding truk komando berkedip merah. Suara pemicu sinyal taktis berbunyi tiga kali.

BEEP... BEEP... BEEP...

Aura humor dan suasana santai di dalam ruangan itu menguap dalam sekejap. Dirga langsung menegakkan badannya, mematikan pemutar musik dan menatap layar monitor.

Gambar citra satelit membesar, memperlihatkan denah gedung Rumah Sakit Medika Mulia Bogor. Lokasi tersebut merupakan kompleks rumah sakit tua berlantai empat yang terletak di pinggir area hutan kota yang sepi.

"Laporan penyusupan dari tim depan sudah masuk," ujar Dirga, suaranya kembali berubah menjadi serak dan dingin. "Hendra dan Rika menempatkan ayah angkatmu di ruang ICU lantai tiga. Ada delapan belas serdadu bayaran Teratai Merah yang berjaga di setiap sudut koridor. Mereka menggunakan sistem pemindai detak jantung portable."

Xander meletakkan sisa pisang gorengnya ke piring kertas, menyeka tangannya dengan tisu basah taktis, dan berdiri tegak. Dalam hitungan detik, raut wajah "ayah canggung" itu lenyap, berganti menjadi Dominus Umbrae yang siap mencabut nyawa musuh-musuhnya.

"Freya," perintah Xander, suaranya kembali sedingin es abadi. "Siapkan pakaian tempur kedap inframerah. Kita bergerak secara senyap. Tidak boleh ada satu pun peluru nyasar yang mengganggu pasien lain di rumah sakit itu."

"Siap, Tuan!" jawab Freya tegas.

Tania bangkit berdiri dari sofa, mengikat rambut panjangnya menjadi sanggul rapi di belakang kepala. Ia menoleh ke arah Dea, memegang kedua bahu gadis remaja itu dengan tatapan mata yang memancarkan kekuatan tak terbatas.

"Dea, kau tetap di dalam truk komando ini bersama Dirga dan tim pengaman utama, paham?" tegas Tania.

Dea memegang tangan Tania erat-erat, matanya menatap cemas. "Ibu... berhati-hatilah. Paman Hendra dan Bibi Rika sudah seperti orang gila. Mereka tidak punya perikemanusiaan lagi."

Tania tersenyum manis, mengusap pipi Dea dengan lembut. "Jangan khawatirkan Ibu, Dea. Orang jahat yang panik adalah orang jahat yang paling mudah dikalahkan. Ibu janji akan membawa kakek angkatmu kembali dengan selamat."

Xander melangkah mendekati Dea, menepuk pelan puncak kepala putrinya itu dengan kehangatan seorang ayah. "Ayah akan memastikan ibumu kembali tanpa ada satu pun goresan di tubuhnya, Dea. Percayalah pada kami."

Truk komando berarmor tebal itu perlahan memperlambat lajunya, berhenti sempurna di bawah rindangnya pepohonan besar berjarak lima ratus meter dari gerbang belakang Rumah Sakit Medika Mulia. Pintu belakang truk terbuka pelan, memperlihatkan kegelapan malam Bogor yang dingin dan berkabut.

Tania dan Xander melangkah keluar menembus kabut malam, berdampingan bagaikan dua sosok pelindung utama yang siap menerjang kegelapan demi menyelamatkan keluarga mereka.

1
sunaryati jarum
Mantaaap technologynya
sunaryati jarum
Bermimpilah setinggi langit Baskoro,bilang jatuh nanti langsung remek
sunaryati jarum
Makin penasaran
sunaryati jarum
Perang antara klan
sunaryati jarum
Wonder woman kamu Tania
sunaryati jarum
baru mampir
Icita: Tks KK, semoga betah y.. sehat selalu
total 1 replies
ceuceu
ga kebaca alur ceritanya,ternyata beda dari prediksi pembaca,keren sih
ceuceu
Baru mulai baca.
sejauh ini sy suka ceritanya,sy kasi like thor
Icita: mkasih kk, sehat selalu..💪💪
total 1 replies
Nica
sangat suka dan luar biasa...lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!