"Aku milih kamu."
"Tapi kita berbeda, Tuan."
"Berbeda?" Arnold mengernyitkan dahinya heran, pasalnya gadis di depannya ini dari kasta yang setara dengannya. "Apanya yang berbeda?"
"Agama." lirih Arini dengan menggelengkan kepalanya, "agama kita berbeda, Tuan."
"Gampang! Aku bisa mengikuti agamamu kalau kamu mempersoalkan itu."
Ikuti perjalanan kisah beda agama antara Arini dan Arnold ya readers, apakah mereka akhirnya bisa menikah? atau itu hanya angan-angan seorang Arnold saja? Dan apa sebenarnya motif Arnold memilih Arini untuk menjadi istrinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inisial EY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kejanggalan
"Kamu mau kemana, Arini?" tanya Bunda Jennifer saat melihat putrinya memakai baju pembawa berita.
"Mau meliput, Bun. Tadi Eve nelpon, kalau Arini harus meliput." jujur Arini, karena sudah beberapa hari dia tidak aktif di kantor redaksinya, dan sudah jadwalnya ia berangkat meliput kembali.
"Sebaiknya kamu telpon Eve lagi."
Arini mengerutkan keningnya, "Kenapa, Bun? Apa Arini juga tidak boleh meliput?"
"Iya. Kamu sebaiknya di rumah saja. Bunda tidak yakin kamu tidak akan bertemu dengan Raka." jelas Bunda Jennifer yang membuat Arini mengembuskan napas kasar.
Huft!
"Bun! Arini udah besar, Arini udah bisa menghindar kalau Pak Raka mau dekati Arini."
"Kamu tidak tau seorang Raka itu seperti apa, Rin." kekeh Bunda Jennifer tidak mau dibantah.
kring!
Satu pesan masuk di ponsel Arini dan ternyata Arnold yang mengirim pesan. "Siang ini kita ketemu di cafe History."
Arini membaca pesan dari Arnold seraya menghela napasnya lalu pandangannya ia alihkan ke Bundanya.
Untuk meliput saja dirinya tidak dibolehkan, apalagi bertemu dengan Arnold, laki-laki yang dengan jelas dilarang oleh Bundanya dekat dengannya, walaupun Arnold adalah suaminya yang sah.
"Bun!" Arini menghampiri Bundanya yang tengah duduk di sofa, lalu memeluk lengannya manja setelah memasukkan ponselnya ke dalam tas kerjanya, "ayolah, Bun. Ijinin Arini kerja. Bagaimana nasib kantor redaksi Arini kalau Arini cuman diam di rumah kayak gini? Arini itu jurnalis, Bun. Arini harus turun ke lapangan untuk mendapatkan berita akuratnya."
"Kamu tidak hanya jurnalis, Rin. Tapi kamu juga CEO-nya. Bunda minta jangan bantah omongan Bunda karena ini juga untuk kebaikan kamu."
"Bun--"
"Rin! Ikut gue yuk!" Devano tiba-tiba menghampiri Arini setelah sarapan.
"Arini tidak bisa keluar rumah, Devano!" ulang Bunda Jennifer, padahal wanita itu yakin jika Devano mendengar kalau Arini dilarang olehnya keluar rumah, karena jarak dari sofa yang ia duduki dengan kursi ruang makan itu sangatlah dekat.
"Tante enggak percaya sama aku?" Devano kini bertanya yang membuat Bunda Jennifer serba salah di tempatnya.
"Kamu masih kecil, Dev. Gampang dialihkan. Dan Tante tidak mau menanggung resiko." kekeh Bunda Jennifer begitu keras kepala.
Devano beralih menatap Arini yang sangat terlihat memohon, apalagi Arnold juga meminta tolong padanya agar ia bisa bertemu dengan istrinya.
"Kalau sama Daddy, Tante percaya enggak?" Devano masih memberi penawaran, karena ia sepakat dengan Daddy-nya jika Tante Jennifer sangat berlebihan hanya karena Raka datang di pernikahan Arini dan Arnold.
"Daddy!" panggil Devano saat Bunda Jennifer terlihat diam saja.
"Daddy tidak bisa pergi-pergi. Asam lambung Daddy kambuh, Nak." jelas Chandra yang membuat Arini kembali mengembuskan napas kasar dan Devano memijit pangkal hidungnya.
"Daddy hanya duduk di mobil menemani kami."
"Devano!" Mommy Luna pun akhirnya mengambil alih, yang membuat Devano menganggukkan kepalanya seraya mengangkat tangannya ke atas tanda ia menyerah akan mengajak Daddy-nya pergi.
***
Jam merujuk pukul satu siang, Bunda Jennifer pun akhirnya bisa dialihkan oleh Ayah Darius untuk jalan-jalan berdua ke mall dengan syarat Arini berjanji tidak akan keluar rumah.
Arini tidak berjanji, namun ia hanya mengatakan "ya" pada Bundanya, dan kali ini ditemani Devano, ia keluar dari rumah untuk menemui Arnold.
Memang tidak menutup kemungkinan kalau dirinya dan Bundanya tidak akan bertemu, namun Arini tetep kekeh menemui Arnold mengingat besok ia akan bertolak ke Jerman mengikuti keinginan Bundanya.
Dari pembicaraan terakhir dengan Uncle Chandra dan Arnold beberapa hari lalu di taman samping mansion, Arnold sama sekali tidak diberi kesempatan untuk bertemu.
Mereka hanya bertukar kabar lewat telpon, itupun yang dibahas hanya udah makan apa belum serta menanyakan kabar.
Tidak ada pembahasan lain, karena Arini selalu menghindar jika Arnold membahas tentang status mereka yang menjadi suami istri sah.
"Kak!" panggil Arini pada Devano yang terlihat fokus menyetir.
"Apa?" Devano sesekali menoleh, tanda menyimak perkataan Arini.
"Menurut Lo gue harus gimana?" Arini bertanya dengan menaruh genggaman tangannya di dagu, "Gue bingung, Kak. Di satu sisi gue memang istrinya Arnold. Tapi di sisi lain gue itu anaknya Bunda."
"Ikut Bunda Lo aja." saran Devano yang membuat Arini menegakkan punggungnya.
"Maksud Lo?"
"Ya ikut Bunda Lo aja. Sekalian Lo juga bisa ngetes keseriusan Arnold sama Lo."
"Keseriusan?" Arini mengerutkan keningnya, "maksud Lo, Lo meragukan Arnold yang memilih gue Kak?"
"Yap! Enggak bisa dipungkiri kan Rin kalau gue juga enggak bisa langsung percaya gitu aja sama Arnold kalau dia serius sama Lo." Devano menarik tuas rem tangannya saat traffic light berwarna merah, "secara Lo sendiri kan seharusnya bisa mikir, kayak janggal banget enggak sih, kebetulan banget Arnold sediain susu almond di pestanya, dan kata Lo minuman favorit kalian sama, padahal jelas-jelas Arnold sukanya minuman berbau alkohol."
Devano menekan kembali tuas rem tangannya saat traffic light sudah berubah warna hijau, "Arnold dan Bagas itu satu kesatuan, mereka atasan dan bawahan, dan Bagas juga nerima aja Arnold yang tiba-tiba milih Lo tanpa berontak apapun sampai-sampai dia yang menghandle bahkan jadi saksi pernikahan Lo sama Arnold."
"Kak!" Arini hanya bisa memanggil Devano saat tiba-tiba ia pun memikirkan hal yang sama.
Kenapa Bagas yang semula tunangannya, bahkan dekat dengannya hingga membuatnya jatuh cinta selama berbulan-bulan lamanya tidak ada pemberontakan apapun padahal Arnold sudah merebut dirinya.
Apalagi tadi? Minuman berbau alkohol? Arnold memang salah satu pengusaha sukses tanah air dan mungkin alkohol memang sudah biasa ia minum apalagi saat ada pertemuan dengan kolega-koleganya.
Dan mengenai susu almond? Arini sangat tau jika hanya Bagas dan keluarga Chandra yang mengetahui minuman favoritnya.
Bahkan ijab kabul berbahasa Arab pun Arnold sendiri yang menawarkan saat laki-laki itu fitting baju bersamanya padahal yang ia minta memang kala itu adalah Bagas.
Arini pun mengingat-ingat lagi apa saja yang ia ceritakan pada Bagas hingga kini mereka sampai di parkiran cafe History.
"Gue nunggu di mobil aja." putus Devano saat Arini membuka seatbelt-nya. "Lo dan Arnold pasangan suami istri yang sah. Enggak enak aja gue jadinya sama Arnold kalau gue ikut masuk dan duduk bareng kalian."
"Tapi kak, Lo kan bisa duduk di kursi berbeda kayak biasanya?"
"Gue bisa pesen dan makan di mobil aja." kekeh Devano yang membuat Arini menganggukkan kepalanya, lalu membuka pintu mobil dan masuk ke dalam cafe mencari Arnold.
Arini menarik napasnya begitu dalam saat melihat Arnold tidak hanya melambaikan tangannya, namun juga berdiri lalu melangkah menghampirinya yang masih termangu di depan pintu cafe.
Tanpa aba-aba, Arnold tiba-tiba mengecup hijabnya lalu mengusapnya perlahan yang membuat Arini tersentak kaget namun juga berusaha menormalkan raut wajahnya.
Bersambung...