Gu Chen hanyalah pemuda biasa yang keluarganya dihancurkan oleh kekuatan misterius. Namun, sebelum kematian menjemputnya, ia menemukan sebuah rahasia mengerikan: dunia tempatnya tinggal hanyalah papan permainan bagi makhluk-makhluk di luar pemahamannya.
Perang, kehancuran sekte, bahkan nasib para jenius ternyata telah diatur oleh tangan tersembunyi. Manusia hanyalah bidak, sementara para kultivator terkuat pun tidak lebih dari pion yang bisa dikorbankan kapan saja.
Gu Chen tidak memiliki bakat luar biasa ataupun kekuatan yang mampu mengguncang langit. Ia hanya memiliki kecerdasan, kesabaran, dan keberanian untuk menentang aturan permainan.
Namun, semakin jauh ia melangkah, semakin mengerikan kebenaran yang ditemukannya.
Jika dunia ini adalah papan permainan, maka Gu Chen akan menemukan para pemainnya—dan membunuh mereka satu per satu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bagas Hirmawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31 — Orang yang Memilih untuk Tidak Dilahirkan
Gu Chen tidak langsung meninggalkan Ruang Sebelum Ada.
Ia berdiri di lorong putih, memandangi cincin kayu di telapak tangannya. Sembilan garis dan satu lingkaran kosong terukir pada permukaannya. Bentuknya sama dengan lambang pada gelang kayu yang ditemukan di Kota Wuming, tetapi ada sesuatu yang berbeda. Cincin ini terasa hangat, seolah baru saja dilepaskan dari jari seseorang.
PEMILIK: ORANG YANG MEMILIH UNTUK TIDAK DILAHIRKAN.
Kalimat itu terus terngiang di benaknya.
“Bai,” panggilnya.
Bai yang berjalan di belakang Lin Yue mengangkat kepala. “Apa?”
“Kau pernah mendengar seseorang yang memilih untuk tidak dilahirkan?”
Bai terdiam cukup lama.
“Aku pernah membaca catatan tentang orang yang menolak kelahiran. Namun, itu bukan berarti mereka tidak pernah ada. Mereka mungkin pernah memiliki identitas, tetapi menolak memasuki dunia karena mengetahui akibatnya.”
“Akibat apa?”
“Tidak ada catatan yang menjelaskannya.”
Gu Chen mengangguk. “Tentu saja.”
Lin Yue meliriknya. “Kau bisa berhenti menyindir setiap kali seseorang tidak punya jawaban?”
“Bisa. Tapi itu akan membuat perjalanan ini jauh lebih menyedihkan.”
Lin Yue memutar mata dan melanjutkan langkahnya.
Gu Chen memasukkan cincin kayu ke dalam kantong jubahnya. Ia belum tahu siapa pemiliknya, tetapi satu hal sudah jelas: benda itu bukan sekadar peninggalan. Seseorang telah memastikan cincin tersebut sampai ke tangannya, dan orang itu mungkin mengetahui lebih banyak tentang dirinya daripada siapa pun yang mereka temui sejauh ini.
Mereka berjalan menuju ujung lorong. Di sana, pintu keluar yang sebelumnya tertutup kini terbuka, memperlihatkan hamparan kegelapan yang tidak memiliki dasar maupun langit.
Gu Yuan berhenti di samping Gu Chen.
“Kita tidak seharusnya pergi ke sana.”
Gu Chen menoleh. “Ada alasan yang masuk akal, atau aku harus menebaknya sendiri?”
“Di balik pintu itu terdapat tempat yang tidak mengikuti aturan dunia.”
“Bukankah kita sudah menghabiskan beberapa hari terakhir di tempat-tempat semacam itu?”
“Tempat ini berbeda.”
Gu Chen menatap kegelapan di balik pintu.
“Semua orang mengatakan hal yang sama sebelum sesuatu yang buruk terjadi.”
Ia melangkah masuk.
Tidak ada lantai di bawah kakinya, tetapi ia tidak jatuh. Sebaliknya, setiap langkah menciptakan permukaan tipis seperti kaca yang segera menghilang setelah diinjak. Lin Yue mengikutinya dengan hati-hati. Bai dan Gu Yuan menyusul, sementara pemuda tanpa nama menjadi orang terakhir yang melewati pintu.
Begitu mereka semua masuk, pintu itu lenyap.
Di hadapan mereka terbentang sebuah jalan panjang yang dipenuhi pintu-pintu kecil. Masing-masing pintu memiliki ukuran berbeda. Ada yang cukup besar untuk dilalui orang dewasa, ada pula yang hanya sebesar telapak tangan.
Tidak satu pun memiliki gagang.
Di atas jalan itu melayang ribuan nama, sebagian terlihat jelas, sebagian lain hanya berupa guratan kosong.
Bai menatap pemandangan tersebut dengan wajah tegang.
“Ini bukan tempat penyimpanan nama.”
“Lalu apa?” tanya Lin Yue.
Bai menelan ludah.
“Tempat penyimpanan nama yang tidak pernah diberikan.”
Gu Chen mengangkat alis. “Apa bedanya?”
“Nama yang dihapus pernah dimiliki seseorang. Nama yang ditolak belum tentu pernah menjadi milik siapa pun.”
Gu Chen memperhatikan salah satu pintu kecil di dekat kakinya. Pada permukaannya terdapat tulisan yang nyaris tidak terbaca.
NAMA YANG TIDAK JADI DIBERIKAN KEPADA ANAK KETIGA.
Ia beralih ke pintu lain.
KEHIDUPAN YANG DITOLAK PADA HARI KELAHIRAN.
Lalu pintu berikutnya.
INGATAN TENTANG SESEORANG YANG TIDAK PERNAH BERTEMU.
Semakin jauh mereka berjalan, semakin tidak masuk akal tulisan-tulisan yang muncul. Ada nama orang yang tidak pernah dilahirkan, pertemuan yang tidak pernah terjadi, bahkan kematian seseorang yang tidak pernah hidup.
Gu Chen berhenti di depan sebuah pintu berwarna hitam.
Berbeda dari pintu-pintu lain, pintu itu tidak memiliki tulisan.
Hanya terdapat satu garis melintang di tengahnya.
Lonceng hitam di tangannya bergetar.
“Jangan mendekat,” ujar Gu Yuan.
Gu Chen menoleh. “Kau tahu apa yang ada di baliknya?”
“Aku tahu apa yang mungkin ada di baliknya.”
“Dan kau tidak akan memberitahuku?”
“Aku tidak bisa.”
Gu Chen tersenyum tipis. “Kau semakin sering menggunakan kalimat itu.”
“Ada kebenaran yang bisa menghancurkan seseorang hanya dengan mengetahuinya.”
“Kalau begitu, biarkan aku memutuskan apakah aku sanggup menanggungnya.”
Gu Yuan menatapnya lama, tetapi akhirnya menyingkir dari jalan.
Gu Chen mendekati pintu hitam itu. Ia tidak mencoba membukanya. Sebaliknya, ia mengeluarkan cincin kayu dari sakunya dan menempelkannya pada garis di permukaan pintu.
Cincin itu pas.
Terdengar bunyi kecil dari dalam pintu.
Klik.
Sebuah tulisan muncul.
\[KUNCI DITERIMA.\]
\[PEMILIK: TIDAK DIKENALI.\]
\[PERINGATAN: MEMBUKA PINTU INI AKAN MENGHAPUS SATU KEMUNGKINAN YANG MASIH HIDUP.\]
Lin Yue segera menghampirinya.
“Jangan buka dulu. Kita bahkan tidak tahu kemungkinan apa yang dimaksud.”
“Aku tahu.”
Semua orang menatap Gu Chen.
Ia memandang tulisan itu dengan tenang.
“Kalau pintu ini berkaitan dengan nama yang tidak pernah diberikan, kemungkinan yang akan dihapus mungkin adalah salah satu jalan hidupku. Jalan hidup yang tidak pernah kupilih.”
“Dan kau bersedia menghapusnya begitu saja?” tanya Lin Yue.
“Tidak. Tapi aku juga tidak akan membiarkan orang lain memilihkannya untukku.”
Gu Chen memutar cincin kayu.
Pintu terbuka.
Di baliknya terdapat sebuah ruangan sederhana. Dindingnya terbuat dari batu abu-abu, dan di tengah ruangan berdiri sebuah kursi kayu kecil. Seorang anak perempuan duduk di atasnya, mengenakan pakaian putih dengan pita hitam di rambutnya.
Wajahnya membuat Gu Chen berhenti bernapas sesaat.
Ia pernah melihat wajah itu dalam ingatan yang muncul ketika cincin kayu ditemukan. Anak perempuan yang menyerahkan lonceng hitam kepada anak laki-laki berambut hitam.
Namun, kali ini wajahnya jauh lebih jelas.
Matanya berwarna keperakan, dan di pergelangan tangannya terdapat gelang kayu dengan sembilan garis serta lingkaran kosong.
Anak perempuan itu mengangkat kepala.
“Kau datang juga.”
Gu Chen tidak langsung menjawab.
“Siapa namamu?”
Anak perempuan itu tersenyum sedih.
“Aku tidak memilikinya.”
“Kalau begitu, siapa kau?”
“Orang yang kau janjikan akan kau ingat.”
Gu Chen mengepalkan tangan.
Kalimat itu menyentuh sesuatu di dalam dirinya. Sebuah kenangan samar muncul, tetapi segera menghilang sebelum bisa ia pahami.
Anak perempuan itu berdiri dan menghampirinya.
“Kau tidak perlu mengingat semuanya sekarang,” katanya. “Aku hanya ingin memastikan satu hal.”
“Apa?”
“Apakah kau masih membenci orang yang membunuhku?”
Gu Chen terdiam.
Di belakangnya, Gu Yuan memejamkan mata.
Bai menundukkan kepala, sedangkan pemuda tanpa nama mundur selangkah. Hanya Lin Yue yang tetap menatap anak perempuan itu, mencoba memahami hubungan antara mereka semua.
Gu Chen akhirnya menjawab, “Aku bahkan tidak tahu siapa yang membunuhmu.”
Anak perempuan itu mengangguk pelan.
“Bagus. Berarti mereka belum berhasil membuatmu membenci orang yang salah.”
Sebelum Gu Chen sempat bertanya, suara keras terdengar dari luar ruangan.
Pintu-pintu di sepanjang jalan mulai terbuka satu per satu.
Nama-nama yang melayang di udara jatuh seperti hujan. Sebagian menghilang sebelum menyentuh tanah, sementara sebagian lain berubah menjadi bayangan manusia yang berjalan tanpa arah.
Bai segera berbalik.
“Seseorang sedang membuka seluruh tempat ini!”
Anak perempuan itu tidak terlihat terkejut.
“Mereka akhirnya menemukanku.”
“Siapa?” tanya Gu Chen.
“Orang-orang yang takut aku memilih untuk dilahirkan.”
Ia meraih tangan Gu Chen dan meletakkan sesuatu di telapak tangannya. Sebuah serpihan putih kecil, menyerupai pecahan tulang, dengan satu kata terukir di permukaannya.
CHEN.
Gu Chen menatapnya.
“Kenapa namaku ada di sini?”
Anak perempuan itu menggeleng.
“Itu bukan namamu.”
“Lalu apa?”
“Itu nama yang kau berikan kepadaku.”
Dunia seakan berhenti.
Gu Chen memandang serpihan itu, kemudian wajah anak perempuan di hadapannya. Selama ini ia mengira nama Gu Chen diberikan oleh Gu Yuan ketika dirinya memulai kehidupan baru. Namun, serpihan tersebut menunjukkan sesuatu yang berbeda.
Mungkin nama itu tidak pernah diciptakan untuknya.
Mungkin ia hanya mengambilnya dari seseorang yang sudah kehilangan hak untuk memilikinya.
“Apa namamu yang sebenarnya?” tanyanya.
Anak perempuan itu membuka mulut.
Namun, sebelum satu suara pun keluar, sebuah anak panah hitam menembus dinding dan melesat ke arahnya.
Gu Chen bergerak tanpa berpikir.
Ia menarik anak perempuan itu ke samping. Anak panah menghantam kursi kayu dan membuatnya berubah menjadi debu.
Di luar pintu, sesosok pria berjubah putih berdiri di antara bayangan. Wajahnya tertutup topeng tanpa ekspresi.
Pria itu mengangkat tangan.
Seluruh ruangan mulai terhapus.
Dinding menghilang, lantai memudar, dan cahaya di sekitar mereka berubah menjadi putih kosong.
Anak perempuan itu mencengkeram lengan Gu Chen.
“Jangan biarkan dia mengambil namaku!”
Gu Chen menariknya ke belakang, sementara Lin Yue mengangkat busur dan melepaskan anak panah. Proyektil itu menembus tubuh pria bertopeng tanpa menimbulkan luka, tetapi cukup untuk membuatnya menoleh.
Bai mencoba menggunakan kekuatannya, namun tulisan merah muncul di udara.
\[OTORITAS NAMA DITOLAK.\]
Gu Yuan maju, tetapi pria bertopeng itu hanya menggerakkan jarinya. Pedang Gu Yuan retak menjadi dua.
Gu Chen menatap sosok tersebut.
“Kau lagi.”
Pria bertopeng itu tidak menjawab.
Sebaliknya, ia mengulurkan tangan kepada anak perempuan itu.
“Sudah waktunya kau berhenti bersembunyi.”
Anak perempuan itu gemetar.
Gu Chen berdiri di hadapannya.
“Kalau ingin mengambilnya, kau harus melewatiku.”
Pria bertopeng itu akhirnya berbicara.
“Kau bahkan tidak mengetahui siapa dirimu.”
“Benar.”
“Kau tidak mengetahui siapa dia.”
“Benar.”
“Kau tidak mengetahui apa yang akan terjadi jika kau menyelamatkannya.”
Gu Chen tersenyum dingin.
“Dan kau masih berdiri di sana menjelaskan semua itu kepadaku. Jadi, kurasa kau juga tidak yakin akan berhasil.”
Untuk sesaat, pria bertopeng itu terdiam.
Lalu ia mengangkat tangan, dan sebuah nama muncul di udara.
Nama yang sama dengan yang terukir pada serpihan putih di tangan Gu Chen.
CHEN.
Anak perempuan itu menjerit.
Gu Chen merasakan dadanya seperti diremas oleh sesuatu yang tidak terlihat. Lonceng hitam di tangannya berbunyi pelan, tetapi tidak memancarkan cahaya.
Pria bertopeng itu berkata, “Nama itu milikku untuk diambil kembali.”
Gu Chen menatapnya, lalu memahami sesuatu.
Pria itu tidak datang untuk membunuh anak perempuan tersebut.
Ia datang untuk memastikan anak perempuan itu tidak pernah memiliki nama.
Dan jika nama tersebut memang pernah diberikan oleh Gu Chen, maka menghapusnya mungkin akan mengubah hubungan antara mereka—bahkan mungkin menghapus alasan mengapa Gu Chen pernah memilih untuk menghancurkan sebuah kota demi menyelamatkannya.
Gu Chen menggenggam serpihan putih itu erat-erat.
“Kalau begitu,” katanya pelan, “kau harus membuktikan bahwa nama itu memang milikmu.”
Pria bertopeng itu berhenti bergerak.
Gu Chen melanjutkan, “Karena kalau kau tidak bisa membuktikannya, kau hanya orang asing yang mencoba mencuri sesuatu dari seseorang yang tidak bisa membela dirinya sendiri.”
Untuk pertama kalinya, pria bertopeng itu tampak ragu.
Dan pada saat itulah, anak perempuan di belakang Gu Chen berbisik.
“Sekarang aku ingat.”
Gu Chen menoleh.
Air mata mengalir di pipi anak perempuan itu.
“Namaku bukan Chen.”
Ia memandang pria bertopeng tersebut dengan mata keperakan yang perlahan berubah hitam.
“Namaku adalah orang yang membunuhmu.”
Seketika, seluruh tempat itu runtuh.
Dan di tengah kehancuran tersebut, Gu Chen mendengar suara yang sangat dikenalnya—suara dirinya sendiri dari kehidupan yang telah lama dihapus.
“Akhirnya kau mengingatnya juga.”