NovelToon NovelToon
JERAT CINTA SANG MAFIA

JERAT CINTA SANG MAFIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia
Popularitas:941
Nilai: 5
Nama Author: Wahidah88

Satu-satunya hal yang lebih berbahaya daripada membobol brankas mafia... adalah jatuh cinta pada pemiliknya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bayang-Bayang di Balik Berkas

​Lampu meja kerja Devan memancarkan pendar kuning temaram di tengah kegelapan ruang kerja pribadinya di lantai atas. Jam dinding berdentang halus menunjukkan pukul tiga dini hari, namun sang penguasa klan Argantara belum menunjukkan tanda-tanda akan beristirahat.

​Di hadapannya, terhampar sebuah map kulit tebal tanpa segel resmi. Di dalam map itu terdapat belasan lembar kertas tipis yang dikumpulkan oleh jaringan intelijen terbaiknya selama empat puluh delapan jam terakhir. Seluruh lembaran itu hanya membahas satu nama: Aria.

​Devan menyandarkan punggungnya pada kursi kulit tebal, memutar-mutar sloki kristal berisi wiski amber di tangan kanannya. Iris matanya yang kelam menatap tajam foto Aria berukuran paspor yang tertempel di sudut kanan berkas.

​Sejak awal, Devan tahu bahwa wanita ini bukanlah pencuri biasa. Namun, semakin ia menggali jejak masa lalu Aria, semakin banyak dinding tebal dan lorong gelap yang ia temui. Latar belakang Aria ibarat sebuah teka-teki yang sengaja dirancang untuk membingungkan siapa pun yang mencoba membacanya.

​"Hanya ada sedikit catatan publik yang valid, Tuan Devan," suara Erick terdengar memecah keheningan ruangan. Kepala pengawas itu berdiri tegap di depan meja kerja Devan dengan sikap hormat.

​"Lanjutkan, Erick," perintah Devan singkat tanpa mengalihkan pandangannya dari foto Aria.

​"Nama 'Aria' sendiri kemungkinan besar adalah identitas samaran," terang Erick sembari membacakan ringkasan intelijen di tangannya. "Jejak digital resminya baru muncul secara konsisten lima tahun lalu saat dia mulai mengambil alih proyek-proyek peretasan independen di pasar gelap. Sebelum periode itu... jejaknya bersih total. Tidak ada catatan medis, tidak ada data kependudukan yang utuh, dan tidak ada catatan riwayat pendidikan formal atas namanya."

​Devan meneguk wiskinya perlahan, membiarkan rasa hangat cairan beralkohol itu membakar tenggorokannya. "Seseorang yang bisa menghapus jejak masa lalunya secara sempurna dari basis data nasional pasti dibantu oleh institusi besar... atau dia sendiri yang menghapusnya dari dalam."

​"Itu kemungkinan besarnya, Tuan," sahut Erick. "Namun, kami menemukan satu pola yang menarik. Tiga tahun lalu, saat klan Vane baru mulai menguasai bisnis Kasino Royale, ada serangkaian peretasan tak kasatmata yang membobol server data mereka. Peretasan itu tidak mencuri uang sepeser pun, tetapi menghapus seluruh arsip dokumen mengenai panti asuhan kuno di pinggiran kota yang dihancurkan klan Vane demi pembangunan kasino tersebut."

​Tangan Devan yang memegang sloki membeku sejenak. Matanya menyipit tajam. "Panti asuhan?"

​"Benar, Tuan," lanjut Erick. "Gaya peretasan yang digunakan pada peristiwa tiga tahun lalu memiliki kode genetik algoritma yang identik dengan gaya peretasan Aria saat membobol server kita semalam. Struktur kodenya sangat khas, bagaikan sidik jari digital yang unik."

​Devan meletakkan slokinya kembali ke meja dengan dentukan halus. Kepingan teka-teki itu perlahan mulai menampakkan bentuknya di dalam benak Devan. Motivasi Aria membobol brankas klan Vane di Hotel Lumina, keberaniannya yang tak masuk akal menghadapi bahaya, dan obsesinya yang begitu besar terhadap kebebasan... semuanya bukan sekadar didorong oleh ketamakan atas kalung berlian The Scarlet Tear.

​Ada dendam lama yang tersimpan rapi di balik mata gelap nan cantik milik wanita itu.

​"Dia bukan cuma mengincar The Scarlet Tear atau uang sepuluh juta dolar itu," gumam Devan pelan, suaranya jatuh begitu rendah dan sarat akan intrik. "Dia punya urusan pribadi dengan klan Vane."

​"Apakah hal ini membuat Nona Aria menjadi ancaman atau risiko untuk operasi kita, Tuan?" tanya Erick penuh kewaspadaan. "Seseorang dengan dendam pribadi sering kali tidak terprediksi di lapangan."

​Devan berdiri dari kursinya. Ia berjalan mendekati dinding kaca gergasi yang memperlihatkan pemandangan taman bawah yang temaram diselimuti kabut tipis. Pria itu menyilangkan tangannya di dada, merenungkan fakta baru tersebut.

​"Seseorang yang digerakkan oleh dendam justru lebih mudah dipetakan pergerakannya, Erick," ujar Devan dengan ketenangan mutlak. "Karena dia tidak akan pernah melarikan diri sampai tujuannya tuntas. Dendam itu adalah rantai tak terlihat yang mengikatnya pada operasi ini."

​Devan berbalik, mengambil satu lembar foto terpisah yang memperlihatkan Aria sedang fokus bekerja di depan monitor ruang komando bawah tanah. Dalam foto itu, wajah Aria terlihat begitu tenang, namun sorot matanya memancarkan keteguhan yang sanggup meruntuhkan benteng terkuat sekalipun.

​"Tapi yang membuatku heran..." Devan menjeda kalimatnya, menatap foto itu dengan kilatan mata yang tidak bisa diartikan. "Seorang peretas tingkat atas dengan keahlian luar biasa seperti dirinya bisa saja menjual jasanya ke klan mafia mana pun di dunia ini untuk kaya raya dalam semalam. Tapi dia memilih hidup menyendiri, berpindah-pindah, dan tidak pernah membiarkan siapa pun berada terlalu dekat dengannya."

​"Mungkin dia tidak pernah mempercayai siapa pun, Tuan," timpal Erick.

​"Atau mungkin..." Devan menoleh kembali ke arah jendela kaca, "dia pernah dikhianati oleh seseorang yang sangat dia percayai di masa lalu."

​Devan melangkah keluar dari ruang kerjanya, menyusuri lorong marmer yang sunyi menuju lantai dua bawah tanah. Langkah kakinya yang mantap bersuara halus di atas lantai dingin. Pria itu didorong oleh rasa ingin tahu yang mendalam—sebuah dorongan yang jarang sekali ia rasakan terhadap seorang wanita.

​Setibanya di pintu kaca tebal ruang komando siber, Devan menghentikan langkahnya. Di dalam ruangan yang hanya diterangi cahaya biru monitor, Aria terlihat tertidur pulas di atas kursi kerjanya. Kepalanya tersandar di atas lipatan tangannya di meja konsol, sementara salah satu layar di depannya masih menampilkan deretan baris skrip simulasi yang terus berjalan otomatis.

​Devan melangkah masuk tanpa suara. Pintu otomatis tertutup rapat di belakangnya.

​Ia berdiri di samping meja konsol, menatap wajah Aria yang tertidur lelah. Tanpa polesan ketegangan dan sikap galak yang selalu wanita itu tunjukkan di depan orang lain, Aria terlihat jauh lebih rentan—seperti seorang wanita muda yang membawa beban begitu berat di atas bahunya. Sehelai rambut hitamnya jatuh menutupi sebagian pipinya yang halus.

​Perlahan, tanpa disadari oleh dirinya sendiri, Devan mengulurkan tangannya. Jemari kokohnya yang biasa memegang senjata api dan menandatangani perintah eksekusi kini bergerak begitu lembut, menyingkirkan sehelai rambut itu dari wajah Aria.

​Sentuhan dingin jemari Devan membuat Aria terusik dalam tidurnya. Dalam hitungan milidetik, insting bertahan hidup Aria bereaksi!

​Mata Aria terbuka lebar. Tangan wanitanya menyambar pergelangan tangan Devan dengan cepat, sementara tangan satunya menarik pisau lipat taktis kecil dari balik lengan kemejanya, mengarahkannya tepat ke urat leher Devan!

​CLICK.

​Ujung pisau tajam itu menekan lembut kulit leher Devan. Namun, Devan sama sekali tidak terkejut atau mencoba menangkisnya. Pria itu tetap berdiri bergeming, menatap lurus ke dalam mata Aria dengan ketenangan yang menghanyutkan.

​Napas Aria terengah-engah, matanya berkilat waspada sebelum akhirnya menyadari siapa yang berdiri di hadapannya.

​"Refleks yang sangat bagus untuk seseorang yang baru bangun tidur," bisik Devan pelan, suara beratnya bergema halus di dalam ruangan yang sunyi.

​Aria menarik pisaunya perlahan, menurunkan tangannya dari pergelangan tangan Devan sembari merapikan posisi duduknya. Wajahnya kembali tertutup oleh topeng dingin yang rapat.

​"Jangan pernah mendekat saat aku sedang tidur, Devan," tegur Aria tajam, suaranya sedikit serak akibat bangun mendadak. "Refleksku bisa membunuhmu sebelum otakkku menyadari itu kamu."

​"Atau mungkin pisau itu tidak akan pernah menggores kulitku karena kamu tahu betul siapa aku," balas Devan dengan senyum tipis yang sarat makna.

​Aria menyandarkan punggungnya ke kursi, mematikan layar simulasi yang telah selesai berjalan. "Ada apa kamu ke sini jam tiga pagi? Mau memeriksa apakah aku menyelipkan skrip pelarian di servermu?"

​Devan tidak langsung menjawab. Ia justru mengambil sebuah kursi putar di dekatnya, duduk tepat di samping meja konsol Aria, memangkas jarak di antara mereka. Tatapan mata Devan yang dalam memindai garis wajah Aria, seolah mencoba menembus dinding pertahanan yang sengaja dibangun wanita itu.

​"Aku cuma sedang berpikir..." ujar Devan pelan, menumpukan tangannya di sandaran tangan kursi. "Siapa sebenarnya wanita yang ada di depanku ini. Seorang pencuri independen yang haus akan kebebasan, atau seorang penyusup dengan rencana dendam pribadi terhadap klan Vane?"

​Mata Aria menyipit tajam. Ada kilatan terkejut yang berkelebat sangat cepat di manik matanya sebelum akhirnya kembali tenang. Aria mengepalkan jemarinya di balik meja.

​"Kamu sedang menyelidiki masa laluku?" tanya Aria dengan nada menantang.

​"Itu tugasku sebagai pemimpin klan," jawab Devan datar namun tegas. "Aku harus tahu siapa orang yang kuberi akses ke dalam rumahku dan operasiku. Tapi semakin banyak data yang kumpul, semakin banyak hal yang tidak cocok tentangmu, Aria."

​Aria menyunggingkan senyum sinis yang dingin. "Masa laluku bukan bagian dari kesepakatan kita, Devan. Syaratku jelas: bantu kamu ambil Black Ledger, dan kamu beri aku kebebasan mutlak serta kalungku kembali. Apa yang terjadi di masa lalu atau apa alasanku membenci klan Vane... bukan urusanmu."

​Devan mencondongkan tubuhnya ke depan, mendekatkan wajahnya hingga Aria bisa mencium aroma woody dan sentuhan halus wiski dari napas pria itu.

​"Segala hal tentangmu menjadi urusanku sejak kamu menginjakkan kaki di tempat ini, Little Bird," bisik Devan dengan kepastian yang mengikat. "Dan ingat satu hal... aku selalu mendapatkan apa yang ingin kuketahui."

​Aria membalas tatapan tajam Devan tanpa rasa gentar sedikit pun, meski jantungnya berdebat keras akibat keintiman jarak mereka. "Kalau begitu, bersiaplah untuk kecewa, Devan Argantara. Karena di balik pintu masa laluku... cuma ada hal-hal yang bakal membakarmu kalau kamu terlalu nekat melangkah masuk."

​Devan terkekeh pelan—sebuah tawa rendah yang menawan namun sarat ancaman bahaya. Ia berdiri dari kursinya, merapikan kemeja hitamnya, lalu menatap Aria rapat-rapt dari ketinggian tubuhnya.

​"Aku menyukai api, Aria," pungkasi Devan pelan. "Istirahatlah. Simulasi taktis pertamamu bersama tim lapangan dimulai empat jam lagi."

​Devan berbalik dan melangkah keluar dari ruangan, meninggalkan Aria seorang diri di tengah pendar lampu monitor.

​Aria menyentuh lehernya sendiri, bernapas lega begitu pintu kaca tertutup rapat. Pria itu semakin dekat untuk membongkar rahasia terbesarnya, dan Aria tahu, ia harus bergerak lebih cepat sebelum Devan menemukan alasan sebenarnya mengapa ia begitu bernafsu menghancurkan klan Vane dari dalam.

1
Ariany Sudjana
wah mantap ini Aria dan Devan bisa jadi pasangan mafia tangguh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!