Clara hanyalah seorang gadis penderita anemia kronis yang terjebak utang almarhumah ibunya. Demi melunasi utang tersebut, ia terpaksa menjadi asisten pribadi sekaligus "penawar tidur" bagi Arsen Baskara—Tuan Muda yang dingin, kejam, dan menderita insomnia parah.
Di bawah satu atap, Arsen bertindak sangat posesif dan mendominasi Clara. Namun anehnya, setiap kali Arsen berhasrat melangkah lebih jauh, benteng penolakan ghaib di dadanya selalu bergejolak. Rasa penasaran berlanjut ketika orang-orang di sekitar mereka menyadari kemiripan garis wajah dan kebiasaan refleks yang ganjil di antara keduanya.
Saat Baskara—sang penguasa kejam klan Baskara—pulang untuk memburu dokumen masa lalu, terungkaplah rahasia terlarang yang paling mendalam: Clara bukan sekadar pelayan, melainkan adik kandung Arsen yang dulu melarikan diri bersama ibunya demi menghindari paksaan aborsi akibat fitnah perselingkuhan.
Di antara jeratan posesif sang Tuan Muda, ancaman pembunuhan dari ayah mereka sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhea Vey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13: RUMOR KEMIRIPAN WAJAH
Arsen menyeret Clara hingga ke ruang OSIS di lantai tiga yang kosong. Pintu dikunci dari dalam dengan sentakan kasar. Arsen membalikkan badan, menghimpit tubuh Clara ke pintu dengan kedua tangannya mengunci di kanan-kiri kepala gadis itu.
Napas Arsen memburu, matanya merah menahan amarah dan kecemburuan yang mendidih.
"Membelanya?" geram Arsen dengan suara rendah yang menakutkan. "Kamu berani membentakku di depan semua orang hanya demi membela Dion?!"
Clara menahan napasnya, dadanya naik-turun cepat menahan guncangan emosi. Meski fisiknya bergetar ketakutan, mata cokelatnya tetap menatap Arsen dengan sisa-sisa keberanian.
"Aku tidak membela Dion sebagai laki-laki, Arsen!" bisik Clara dengan suara gemetar. "Aku cuma tidak mau kamu bertindak makin kejam! Dia cuma berniat baik padaku, tapi kamu menghancurkan barangnya dan mengancam keluarganya! Kenapa kamu harus sesadis itu?!"
"Karena aku tidak suka milikku disentuh orang lain!" bentak Arsen, memajukan wajahnya hingga jarak di antara mereka hilang.
Garis rahang Arsen mengeras. Di mata Arsen, Clara adalah satu-satunya penawar hidupnya, milik mutlaknya yang tidak boleh dilirik oleh siapa pun. Namun, saat Arsen menatap mata Clara yang memancarkan penderitaan bercampur keteguhan, serta lekuk bibirnya yang gemetar menahan tangis... sebuah perasaan aneh kembali menghantam kesadarannya.
Setiap kali Arsen menatap wajah Clara dalam jarak sangat dekat seperti ini, ada sensasi familiar yang tak bisa ia jelaskan. Raut wajah Clara saat marah, garis alisnya saat cemberut, hingga pandangan matanya yang tajam... secara mengejutkan terasa bagai cermin bagi Arsen sendiri.
DEG!
Lagi-lagi, saat Arsen terdorong untuk mencium bibir Clara demi menghentikan debat itu, benteng penolakan batin yang tebal dan tak kasat mata mendadak bangkit kembali. Hati Arsen bergejolak hebat, meneriakkan larangan keras yang membuat dadanya sesak tak tertahankan.
Arsen menyentakkan tubuhnya mundur. Ia mengepalkan tangannya rapat-rapat, mengutuk reaksi tubuhnya sendiri yang selalu menolak melangkah lebih jauh.
"Jauhi Dion," cetus Arsen dingin, membelakangi Clara untuk menyembunyikan raut wajahnya yang kacau. "Ini peringatan terakhirku."
Saat jam istirahat kedua, suasana di koridor utama sekolah mendadak ramai oleh sekelompok murid yang berkerumun di depan papan pengumuman digital. Di sana, ditampilkan dokumentasi foto-foto kegiatan kelas 12-A saat sesi potret kartu pelajar mingguan.
Foto Clara dan Arsen terpajang bersandingan karena urusan nomor absen.
"Eh, lu coba liat deh..." bisik seorang siswi berambut gelombang pada temannya. "Beneran deh, makin dilihat-lihat muka Clara sama Arsen kok mirip banget ya?"
"Iya anjir! Garis matanya pas lagi natap datar itu cetakan banget. Terus bentuk bibirnya sama lekuk rahangnya juga mirip!" sahut siswi lainnya dengan mata terbelalak.
"Jangan-jangan mereka sebenarnya saudara kembar yang terpisah?" gurau seorang murid laki-laki di belakang mereka. "Soalnya aneh banget, Arsen yang terkenal asosial dan benci disentuh orang, mendadak posesif banget sama Clara dari hari pertama dia pindah."
Bisik-bisik itu kian riuh hingga Arsen yang melintas di koridor bersama Clara di belakangnya mendengarnya dengan jelas.
Langkah Arsen terhenti seketika. Hawa di sekitarnya mendadak merosot drastis hingga mencapai titik beku. Arsen melangkah mendekati papan pengumuman digital tersebut. Tatapannya menancap tajam pada foto dirinya dan foto Clara yang terpajang bersisian.
Mata hitam Arsen menyipit. Untuk pertama kalinya, ia benar-benar memperhatikan detail wajah Clara di foto itu. Bentuk mata, lekuk bibir, hingga simetri wajah... semuanya memang memiliki kemiripan yang ganjil dengannya.
Namun, ego dan gengsi Arsen menolak mentah-mentah ide konyol tersebut. Bagaimana mungkin seorang gadis miskin dari desa, anak dari wanita pengutang yang melarat, bisa punya hubungan darah dengan dirinya—putra tunggal dari konglomerat Baskara?
"Siapa yang memasang foto ini?!" bentak Arsen dengan suara menggelegar, membuat seluruh murid di koridor langsung bungkam ketakutan.
Arsen menyambar tongkat pemukul kasti dari sudut lorong, lalu menghantamkan tongkat kayu itu ke layar pengumuman digital hingga pecah dan bergetar hebat.
PRANG!
Pecahan kaca berhamburan di lantai. Arsen membuang tongkat itu kasar, menatap semua murid dengan pandangan membunuh.
"Kalau aku mendengar ada yang menyebarkan gosip sampah ini lagi..." ancam Arsen dingin dan tajam, "aku pastikan kalian tidak akan pernah bisa bersekolah di kota ini lagi."
Arsen berbalik, menatap Clara yang berdiri terpaku di belakangnya dengan wajah pucat.
"Ikut aku kembali ke kelas," perintah Arsen datar, mengabaikan fakta bahwa di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, benih keraguan dan pertanyakan besar mulai tertanam tentang siapa sebenarnya sosok Clara di hidupnya.