NovelToon NovelToon
Unit Kosong

Unit Kosong

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / Rumahhantu / Iblis
Popularitas:244
Nilai: 5
Nama Author: Storyginal Finger

Cerita bergenre Horor dan Misteri yang mengungkap rahasia kelam pembantaian korban penghuni apartemen oleh penguasa. Meski terinspirasi berdasarkan kisah nyata, tapi termasuk Fiksi karena banyak tambahan yang dimasukkan ke dalam cerita.

SINOPSIS: Bagas bersama timnya pergi dari Jakarta ke Bandung untuk bertemu investor yang akan membiayai project film mereka. Tapi siapa sangka kalau mereka justru dipesankan unit apartemen yang berhantu. Bangunan terbengkalai yang mangkrak karena wabah covid-19.

Meskipun sudah diminta pindah, Jefry yang merupakan leader tim justru menolak. Ia menganggap bahwa ini kesempatan untuk mendapat ide cerita horor dari kisah nyata. Sedangkan Bagas tidak bisa menolak keputusan leadernya itu.

Mereka pun harus menghadapi teror demi teror yang semakin hari, semakin membahayakan. Tapi di balik bahaya tersebut, membuat Jefry semakin bersemangat dan penasaran akhir yang akan mereka lalui ke depan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Storyginal Finger, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 23: Kabar dari Restoran

Malam hari tiba. Pintu apartemen terbuka. Jefry dan Hendra baru pulang dari restoran.

“Gas!” suara Hendra memecah hening. “Aman?” tanyanya setelah melihat aku keluar kamar.

Tak lama, Shinta juga ikut keluar. Jefry tampak kelelahan, tapi masih sempat memainkan kunci dengan jari telunjuk.

“Gimana resto?” tanyaku.

Jefry langsung merespon, “Damar sama Sully ribet. Mereka minta konsep grand opening ditambah acara live music, terus ada sesi visit food vlogger, lomba nyanyi, sampai bazar rakyat.”

“Mending, Bang. Bukan live music itu, dia mau adain konser,” potong Hendra.

Shinta menanggapi, “Tapi untuk pasanggiri jaipong, tetap ada?”

Mereka kompak mengiyakan.

“Wah, berarti jadi banyak banget acaranya,” sahut Shinta lagi.

Tak ingin memikirkan lebih jauh, Jefry justru meluruskan tubuh ke sofa panjang. “Udah, santai aja dulu. Makan dulu tuh,” ucapnya sambil menunjuk meja dekat dapur menggunakan bibir.

Ia kemudian justru memulai pembahasan mengenai apartemen. “Eh ya, gimana tadi? Aman aja kalian? Ada cerita baru nggak?” katanya penasaran.

Aku melirik ke arah Shinta sebentar, lalu menceritakan beberapa kejadian hari ini. Terutama soal informasi dari Dayat. Mengenai petunjuk dari pelaku yang mungkin bisa kita selidiki.

“Satpam aneh itu?” celetuk Jefry, kini kembali duduk. “Terus ngomong apa lagi dia?”

Melanjutkan pembahasan, aku mengutarakan niatku untuk mengungkap kejahatan yang dilakukan oleh pelaku. Mereka penyebab banyak nyawa penghuni apartemen melayang.

Tapi Jefry malah menyandarkan tubuh, tertawa kecil, “Apaan sih lo, Gas? Mau ngapain kata lo?”

Aku menatap tajam. “Bang, gua serius. Ini bukan main-main, lho.”

“Justru karena ini bukan mainan, lo nggak usah mikir sejauh itu,” katanya santai. “Kita mendingan fokus aja ke tulisan kita, beresin. Kalo udah selesai, bye! Kita tinggalin apartemen busuk ini.”

Drettt..! Drett..!

Tiba-tiba saja listrik di apartemen tidak stabil. Mati, nyala, mati, nyala. Untungnya hanya sebentar.

“Bang! Lo jangan gitu ah!” kesal Shinta.

Hendra melihat ke langit-langit. Ia kelihatan panik. Begitu juga denganku.

“Gila lo, Bang. Jangan ngomong macam-macam dong!” Hendra juga marah.

Bukan mengindahkan, Jefry justru kembali meledek, “Ampun, ampun, haha. Gua cuma becanda kali.”

“Nggak asik candaan lo, Bang,” ucap Shinta, berdiri lalu menampar paha Jefry.

Menyebalkan, mungkin itu kata tepat untuk menggambarkan sosok Jefry di mataku sekarang. Sosok leader yang selama ini aku bela, terutama di depan Delia, hilang sudah.

Sekarang aku melihat Jefry hanya seperti orang tua dengan masa kecilnya kurang bahagia. Ia menganggap semua berada di bawah kendali, bahkan kuasanya.

Padahal, ia hanya orang yang mengandalkan sedikit kepintaran dalam berbicara untuk menutupi semua kekurangan yang dimiliki.

“Shame on you, Jefry!”

Masih pada waktu yang sama. Aku dan Shinta sedang makan di ruang tengah. Suasana mulai mereda, setelah sempat tegang beberapa saat lalu.

Jefry berada di sofa panjang, menonton televisi. Siaran bola lokal, liga Indonesia. Ia akan sulit diganggu kalau sudah menyangkut olahraga favoritnya.

Sedangkan Hendra tidak tenang karena istri dan anaknya sedang perlu uang untuk memenuhi kebutuhan harian. Ia sudah beberapa kali memberitahu terkait masalah ini.

“Pusing kepala gua, di sini nggak berkutik. Nggak bisa cari duit,” keluhnya.

Tiba-tiba Jefry dengan mudahnya, nyeletuk, “Jual aja dulu motor lo, bro. Mobil lo kan masih ada.”

Seketika itu juga, Hendra menatapku yang sedang mengunyah. Ia kemudian menggelengkan kepala.

“Ya jangan, Bang. Itu kan aset gua. Boros kalo pake mobil terus,” sahutnya masih berusaha tetap santai karena sudah memahami sifat Jefry.

Jefry kemudian menjawab lagi, “Daripada lo pusing, bro. Gua juga udah jual motor di Manado, demi supaya kita stay di sini.”

Aku sudah bosan dengan cerita itu. Sepertinya ia lupa kalau sudah mengungkitnya dari lama. Sekarang waktu berjalan, tidak hangat lagi untuk dibahas. Kami pun tidak pernah tahu benar, apakah ia benar menjual motornya, atau hanya sebatas omon-omon.

Selesai makan. Jefry juga sudah tuntas dengan tontonan bolanya. Aku kembali ke topik yang sebelumnya sempat tertunda.

“Gua rasa..” ujarku hati-hati. “Kita harus bantu mereka. Para korban. Kita harus kasih mereka keadilan.”

Jefry langsung melempar remot televisi ke meja. Tidak sampai membantingnya, tapi cukup untuk menandakan kemarahan.

“Stop! Apa-apaan sih, Gas? Masih aja lo lanjutin. Nggak habis pikir gua.”

“Gua setuju sama Mas Bagas,” pungkas Shinta dengan berani memotong ucapan Jefry.

Jujur saja aku merasa terkejut karena Shinta memberikan pembelaan untukku. Padahal tadi siang, ia memperlihatkan sikap bertolak belakang.

Aku kemudian teringat tentang perbincangan panjang kami dengan Dayat tadi sore. Sepertinya itu yang membuat Shinta berubah pikiran.

“Lo sekarang mulai kurang ajar ya, Dek. Berani ngomong kayak gitu ke gua,” jawab Jefry. “Udah ngerasa jadi hebat? Paling bener?”

Aku nyaris tidak percaya dengan apa yang kudengar.

“Hei, kalian kenapa sih. Kita diskusi aja, nggak usah sampe segitunya?” suara Hendra tidak kalah tinggi, tapi bertujuan menengahi konflik.

“Lo kasih tau nih orang berdua, bro. Otak sama logikanya dipake, nggak usah berasa jadi pahlawan,” balasnya mulai santai.

Ia bahkan mulai menceramahiku.

“Gas, come on! Lo tau sendiri kan? Tujuan kita kesini, buat film. Gimana cara film kita jadi. Orang nonton karya yang kita buat. Ngapain lo jadi kayak dinas sosial, ngurusin keadilan. Itu bukan tugas kita!” tegasnya lagi sambil mengambil remot, mengganti saluran di televisi.

Aku masih bersikeras minta Jefry bisa memahami tujuan kami ingin membantu para korban karena juga terkait dengan akhir dari sebuah cerita.

“Kita butuh conclusion di ending film juga, Bang? Nah, maksud gua, bisa upayakan happy ending. Ada goal yang nanti tercapai,” beberku.

Namun sayang karena Jefry tetap berbeda pendapat, “Conclusion tetap ada dong, tapi bukan sosial. Ngapain ngurusin keadilan. Kita nanti fokus aja ke horornya. Gua udah pikirin itu. Tinggal panggil ustadz, atau kalau perlu, gua panggilin pendeta, gua bisa kerahin orang dari gereja temen-temen gua di sini, biar jadi exorcism sekalian.”

Melihat Jefry masih keras, aku hanya bisa menghela nafas. Hendra dan Shinta pun terlihat tidak mau menanggapi lagi. Sepertinya mereka sudah angkat tangan.

Malam itu. Mungkin karena melihat kami tidak berkutik, Jefry melakukan hal paling bodoh yang pernah kulihat.

Ia berdiri di tengah ruang tamu. Mematikan televisi, berjalan menuju saklar lampu, lalu mematikannya.

Gelap!

“Wahai kalian penghuni apartemen. Gua tantang kalian semua, kasih teror terbaik kalian,” katanya lantang, “Jangan cuma nakut-nakutin doang bisanya!”

Shinta reflek berdiri. “Bang! Apaan sih lo, Bang!”

Ia bergegas menyalakan lampu kembali. Seketika itu juga ruangan berubah menjadi terang.

“Kalian lihat! Nggak ada apa-apa kan?” tegasnya. “Mereka cuma arwah penasaran, nggak bisa ngapa-ngapain kita. Ngapain pada takut!”

Shinta benar-benar marah besar.

“Udah gila lo, Bang!”

Dengan setengah berlari, ia masuk ke kamar utama.

Aku pun mengikuti, masuk ke dalam kamar. Tidak mau melanjutkan kegilaan Jefry.

***

Jam tiga dini hari datang.

Aku terbangun, sudah mulai terbiasa. Tapi merasa heran karena tidak ada lagi ketukan pintu yang biasa terdengar. Begitu juga dengan suara langkah kaki.

Kenapa sunyi sekali?

Sekarang aku bahkan tak mendengar suara kendaraan yang biasanya masih muncul, meski tidak sering.

Namun tiba-tiba saja, muncul suara ketukan pintu.

“Tok, tok”

Hanya dua kali. Tidak seperti sebelumnya yang selalu tiga kali.

“Gas?”

Ternyata itu suara Jefry.

Aku langsung bangkit dari ranjang, mendekat ke pintu. Tapi aku sempat berpikir, apakah ini benar Jefry atau bukan.

Mata tertuju pada gagang pintu. “Buka atau nggak ya?” gumamku dalam hati.

“Tok, Tok” suara ketukan pintu lagi. “Gas!” kali ini lebih tegas dari sebelumnya.

Merasa yakin, aku langsung membuka pintu. Untung saja ternyata memang Jefry berdiri di depan pintu.

“Bawa laptop lo, Gas. Kita lanjutkan nulis,” ujarnya.

Meski aku tak terlalu setuju, tapi penolakan hanya bergumul di pikiranku saja.

Aku tetap mengikuti ucapan Jefry, mengambil laptop, lalu menyusul ke ruang tengah.

“Kemarin sampai mana ya?” tanyanya setelah kami duduk bersama di sofa.

“Tunggu, Bang,” sahutku singkat sambil menunggu laptop menyala.

Dalam hatiku masih ragu.

Kini suasana ruangan terasa lebih pekat. Tapi aku melihat Jefry terlihat santai, seakan tidak ada beban sama sekali.

Sejenak aku berpikir, apakah memang aku yang selama ini terlalu overthinking.

Beberapa saat kemudian, aku membuka file dokumen “Unit Kosong”, memberitahu Jefry tentang isi tulisan sebelumnya.

Untuk beberapa saat, entah kenapa aku justru merasa ingin adanya kehadiran Ratna atau makhluk astral lain. Aku berharap Jefry bisa menyadari kekuatan yang seharusnya ia takutkan, sama sepertiku.

Bukan apa-apa, aku hanya ingin ia sadar, bahwa masalah di apartemen ini tidak bisa disepelekan begitu saja.

Dan kemudian.

“Jeglek”

Suara pintu kamar utama terbuka.

“Bang?” suara terdengar lirih dari arah belakangku.

Ternyata Shinta keluar, dengan lunglai, berjalan ke arah kami. “Kenapa, Dek?”

“Kita lagi mau..” kata Jefry, tidak dilanjutkan karena tiba-tiba saja Shinta tersungkur.

“Dek!” teriak Jefry panik, berdiri lalu mendekati Shinta, cepat.

Ia membalikkan tubuh Shinta yang sebelumnya telungkup. Aku menyusul langsung bisa melihat darah segar keluar dari hidung Shinta.

Seketika itu juga aku langsung berpikir, apakah ini jawaban atas harapanku tadi.

“Dek? Astaga! Lo kenapa, Dek?” Jefry mulai histeris, panik. “Bangunin Hendra, Gas. Cepat!”

Tanpa mengetuk pintu, aku berusaha membuka kamar Hendra, tapi rupanya terkunci. Terpaksa aku mengetuk, “Bang, Bang. Bang Hendra? Bangun, Bang.”

Tidak ada jawaban. Aku semakin menggedor, tapi masih tidak ada tanda-tanda pergerakan suara ranjang atau apapun dari dalam kamar.

“Gas, cepet!” teriak Jefry lagi. Ia terlihat masih berusaha membangunkan Shinta.

“Dikunci, Bang,” kataku sambil mengetuk, menggerakan gagang pintu ke atas dan ke bawah.

Merasa tak berhasil membuatnya sadar, Jefry menggendong tubuh Shinta, membawanya ke dalam kamar utama.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!