Aku mempunyai kemampuan bisa melihat hari kematian semua orang termasuk diriku sendiri. Tapi justru aku di anggap aneh dan pembawa sial bagi keluarga ku sendiri dan juga orang lain. Tapi hanya satu yang peduli padaku yaitu kakekku sebelum dia meninggal
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my queen , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Olivia memegang tanganku dengan erat. Wajahnya ditekuk lesu, memancarkan rasa bersalah yang amat sangat karena tidak bisa menemaniku menghabiskan makanan di atas meja.
"Kak, maafkan aku, ya. Lain kali pasti Olivia akan selalu menemani Kak Bella ke mana saja," ucap Olivia dengan raut wajah sedih. "Olivia janji akan selalu menemani Kakak makan. Iya, kan? Lain kali lagi ya, Kak?"
Lain kali? Tidak akan ada kata lain kali lagi, Olivia... ucapku pilu dalam hati sambil menatap wajah adik kecilku untuk terakhir kalinya.
Aku memaksakan segaris senyuman di bibirku yang kian mendingin, lalu menepuk punggung tangannya pelan. "Tidak apa-apa, pergilah. Sopir sudah menunggumu di depan gerbang. Kasihan dia kalau harus menunggu terlalu lama," ucapku menenangkan Olivia.
Olivia menatapku ragu untuk beberapa saat, sebelum akhirnya mengangguk pelan. "Baiklah kalau begitu, Kak. Olivia pergi dulu, ya. Nanti kalau ada makanan manis yang enak di luar, Olivia pasti akan bungkuskan untuk Kakak."
Ia meraih tas sekolahnya, lalu melangkah tergesa-gesa keluar dari ruang makan. Aku tetap bertahan di posisiku, mengunci pandangan pada punggungnya sampai siluet tubuh adik kecilku itu benar-benar menghilang di balik pintu depan.
Brak.
Suara pintu utama yang tertutup rapat menjadi tanda bahwa aku benar-benar telah ditinggalkan sendirian di rumah yang luas ini.
Detik itu juga, seluruh pertahanan yang kupaksakan runtuh total. Senyuman di bibirku lenyap seketika, digantikan oleh ringisan hebat yang menyiksa. Rasa nyeri yang teramat dahsyat menghantam jantungku, seolah-olah seluruh organ di dalam dadaku sedang diremukkan dengan paksa oleh tangan tak kasat mata. Napas lambatku mendadak tercekat di tenggorokan.
"Ukh..."
Cairan kental berbau anyir mendesak naik dengan cepat. Aku terbatuk hebat, dan genangan darah segar seketika menodai telapak tanganku yang gemetar. Pandanganku berputar hebat. Warna-warni ruang makan mewah dan deretan makanan yang kusiapkan dengan seluruh sisa tenaga ini perlahan meredup, berubah menjadi kegelapan yang pekat.
Sisa dua jam umurku telah habis tepat di detik ini.
Dengan sisa kekuatan yang menguap sepenuhnya, tubuhku limbung dan ambruk dari kursi utama. Aku menghantam lantai marmer yang dingin dengan dentuman pasrah. Di tengah kesadaran yang perlahan merayap pergi, aku menatap langit-langit rumah yang megah ini untuk terakhir kalinya. Aku membiarkan kegelapan merenggut seluruh rasa sakit, kesepian, dan penolakan yang kutanggung selama bertahun-tahun, tepat di hari ulang tahunku yang sunyi.
Mobil sedan hitam mewah yang membawa Olivia perlahan berhenti tepat di depan lobi sebuah restoran bintang lima di pusat kota. Begitu mobil berhenti sempurna, sang sopir pribadi segera turun dan membukakan pintu belakang untuk Olivia dengan sikap hormat.
"Sudah sampai, Non Olivia. Tuan Aaron dan yang lainnya pasti sudah menunggu di dalam," ucap sang sopir ramah.
"Terima kasih, Pak," sahut Olivia pelan.
Ia melangkah keluar dari mobil dengan menyandang tas ransel sekolahnya. Kilau lampu kristal yang megah dan alunan musik jazz yang elegan langsung menyergap indra pendengarannya begitu ia memasuki lobi restoran tersebut. Tempat ini sangat mewah, dipenuhi oleh orang-orang dari kalangan kelas atas—sangat kontras dengan ruang makan rumah mereka yang sunyi dan dingin beberapa puluh menit lalu.
Meskipun langkah kakinya bergerak maju ke dalam ruangan yang hangat, pikiran Olivia justru tertinggal jauh di rumah. Tepatnya di meja makan, pada sosok Kak Bella yang tadi tersenyum sendirian melepas kepergiannya.
Tiba-tiba, sebuah desiran aneh yang begitu dingin menjalar di sepanjang punggung Olivia. Jantungnya mendadak berdegup dua kali lebih cepat, memompa rasa cemas yang datang tanpa alasan yang jelas. Dadanya terasa sesak, seolah-olah pasokan udara di tempat mewah ini mendadak menipis. Perasaan tidak enak itu begitu kuat hingga membuat telapak tangannya mendadak dingin dan basah oleh keringat.
Kenapa perasaanku mendadak tidak enak begini, ya? batin Olivia cemas.
Ia teringat kembali tatapan mata Kak Bella sebelum ia pergi. Tatapan itu terasa begitu dalam, begitu pasrah, dan sarat akan kata perpisahan. Ditambah lagi, ingatan tentang sisa satu jam yang sempat digumamkan kakaknya secara samar membuat dadanya kian bergemuruh.
Olivia meraba saku rok seragamnya, menggenggam ponselnya dengan batin yang berkecamuk. Ia tiba-tiba merasa sangat menyesal karena telah menuruti perintah Kak Aaron untuk pergi dengan sopir dan membiarkan kakak perempuannya itu merayakan ulang tahun seorang diri di rumah.
Dari kejauhan, di sudut ruangan yang agak privat, Olivia melihat Kak Aaron melambaikan tangan ke arahnya. Di meja bundar yang besar itu, Kak Charles ternyata juga sudah duduk menunggu. Berbagai hidangan mewah yang berkali-kali lipat dari apa yang dimasak Bella sudah tersaji dengan indah di depan mereka. Namun, entah mengapa, melihat semua kemewahan itu justru membuat rasa bersalah di dalam dada Olivia kian menghimpit, menyisakan firasat buruk yang teramat sangat.
Olivia menarik kursi dengan gerakan kaku, mendudukkan dirinya di antara Kak Aaron dan Kak Charles. Di hadapannya, aroma steik premium dan berbagai hidangan laut kelas atas menguar menggugah selera. Namun, bagi Olivia, semua makanan mahal itu mendadak terlihat hambar.
"Kamu kok lemas begitu, Olivia? Capek karena kelas tambahan?" tanya Charles sambil memotong daging di piringnya.
"Iya, Kak Charles. Sedikit capek," jawab Olivia berbohong. Ia memaksakan tersenyum tipis agar tidak merusak suasana.
Rasa tidak enak di dada Olivia justru semakin menjadi-jadi. Detak jantungnya bertalu-talu tidak keruan. Bayangan wajah pucat Kak Bella dan gumaman misterius tentang 'sisa waktu' terus berputar di kepalanya bagai alarm bahaya. Karena rasa cemasnya sudah tidak bendung lagi, Olivia menurunkan kedua tangannya ke bawah meja.
Dengan sangat hati-hati agar tidak memancing perhatian Aaron yang jeli, Olivia merogoh saku roknya dan mengeluarkan ponsel. Ia membuka aplikasi pesan, lalu dengan jemari yang mendadak gemetar, ia mengetikkan sesuatu untuk Kak Bella.
Kak Bella, Olivia sudah sampai di restoran. Kakak sudah istirahat? Jangan lupa dimakan ya puding karamelnya. Maaf ya, Kak...
Setelah menekan tombol kirim, Olivia menatap layar ponselnya lekat-lekat di bawah kolong meja. Detik berlalu menjadi menit, tetapi status pesan itu tidak kunjung berubah menjadi terbaca (read). Biasanya, Kak Bella selalu membalas pesannya dengan cepat karena ponsel adalah satu-satunya hiburan kakaknya di gudang lantai tiga.
Rasa takut mulai merayap di benak Olivia. Ia menggigit bibir bawahnya, lalu nekat beralih menekan tombol panggil. Ponsel itu tetap ia sembunyikan di bawah meja makan, sementara telinganya berusaha menangkap suara dari pengeras suara ponsel yang volumenya sudah ia kecilkan seminimal mungkin.
Tut... Tut... Tut...
Nada sambung berbunyi lambat di seberang sana, terasa seasing es yang mencair di tengah keheningan yang menyiksa batin Olivia. Panggilan pertama terputus tanpa jawaban. Olivia mencoba lagi untuk kedua kalinya. Tetap sama. Hanya nada sambung kosong yang menyambutnya.
"Olivia, taruh ponselmu. Tidak sopan bermain HP di meja makan saat kita sedang bersama," teguran suara bariton Kak Aaron yang tiba-tiba menggelegar di ruangan itu membuat Olivia tersentak kaget.
Olivia mendongak dengan wajah yang agak memucat. Ia buru-buru memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku, meskipun hatinya kini benar-benar diselimuti kepanikan yang luar biasa. Di rumah yang sepi itu, Kak Bella sedang tidak baik-baik saja, dan tidak ada satu orang pun di meja makan ini yang menyadarinya.
Charles ikut menoleh, menatap adiknya dengan kening berkerut.
Biasanya, Olivia akan langsung patuh, menunduk takut, dan meminta maaf. Namun malam ini, rasa cemas yang mencengkeram dadanya terasa jauh lebih besar daripada ketakutannya pada amarah para kakaknya. Genggaman kosong dari panggilan telepon Kak Bella yang tidak terjawab tadi membuat seluruh tubuhnya gemetar.
Olivia tidak memasukkan ponselnya ke dalam saku. Ia justru mengepalkan tangan di atas meja, mendongak, dan menatap langsung ke arah Kak Aaron dengan mata yang berkaca-kaca..
"Aku tidak sedang bermain-main, Kak!" ucap Olivia, suaranya sedikit meninggi dan bergetar hebat, memecah keheningan meja makan yang formal.
Aaron tampak terkejut mendengar adiknya berani menjawab. "Olivia, jaga sopan santunmu—"
"Aku mengkhawatirkan Kak Bella!" potong Olivia nekat. Air mata yang sejak tadi ditahannya kini luruh melewati pipinya. "Sebelum aku pergi tadi, Kak Bella bersikap sangat aneh. Genggaman tangannya sedingin es, wajahnya pucat sekali, dan dia... dia bicara seolah-olah akan pergi jauh!"
Mendengar nama Bella disebut, suasana di meja makan itu mendadak turun beberapa derajat. Gerakan tangan Charles yang sedang memotong steik terhenti seketika. Sorot matanya yang tadi santai langsung berubah menjadi dingin dan menusuk.
"Olivia, jangan merusak suasana makan malam ini dengan menyebut nama pembawa sial itu," sahut Charles dengan nada sinis yang tak disembunyikan. "Dia pasti sengaja berakting seperti itu hanya untuk mencari perhatianmu agar kamu mengasihaninya."
"Tidak, Kak Charles! Kali ini berbeda!" seru Olivia terisak, beralih menatap Aaron, berharap kakak keduanya itu mau mendengarkan. "Kak Bella bahkan memasak sangat banyak malam ini karena hari ini dia ulang tahun! Aku mencoba meneleponnya berkali-kali dari tadi, tapi tidak diangkat. Perasaanku benar-benar tidak enak, Kak. Bisakah kita pulang sekarang? Kumohon...
"Aaron perlahan menurunkan sendoknya. Pria itu menatap Olivia dengan mata elangnya yang datar tanpa emosi sedikit pun. Bukannya tersentuh oleh tangisan adiknya, Aaron justru mendengus pelan, menepis segala kekhawatiran Olivia seolah itu hanyalah angin lalu.
"Dia sudah terbiasa mengurung diri di rumah selama belasan tahun, Olivia. Tidak akan terjadi apa-apa padanya," ucap Aaron dengan suara baritonnya yang dingin dan mutlak. "Habiskan makananmu. Jangan biarkan imajinasimu mengganggu makan malam keluarga kita.
"Olivia menatap kedua kakak laki-lakinya dengan rasa tidak percaya yang amat sangat. Di balik kemewahan restoran ini dan hidangan mahal yang tersaji di depan mereka, hati para kakaknya ternyata sekaku batu. Sementara dirumah bella sudah sangat sekarat tidak ada satupun orang yang menemaninya
eh ia nanti mampir di Novel aku yaaa~