NovelToon NovelToon
DETEKTIF INDRA KE 6

DETEKTIF INDRA KE 6

Status: sedang berlangsung
Genre:Mata Batin / Misteri / TKP
Popularitas:926
Nilai: 5
Nama Author: Jilbab putih

Bagi publik dan media, Reno Devano adalah pendiri agensi Vanguard Private Crime Investigation (VPCI) sekaligus detektif swasta paling jenius yang selalu bisa membongkar kasus pembunuhan paling mustahil. Namun, di balik deduksinya yang tajam, Reno menyimpan satu rahasia besar: ia memiliki indra ke-6. Melalui sentuhan pada barang bukti di tempat kejadian perkara, ia mampu melihat kilas balik detik-detik sebelum korban meregang nyawa.

Ketika sebuah kasus pembunuhan pengusaha besar ditutup oleh polisi dengan dugaan pelaku tunggal, Reno yang menyentuh kancing kemeja korban di TKP mendapati penglihatan mengerikan korban sebenarnya dieksekusi secara terencana oleh dua orang pelaku.

Karena paham bahwa "penglihatan gaib" tidak akan pernah diterima di meja hijau, Reno harus menyembunyikan kemampuannya dari tim forensik dan tim hukumnya sendiri yang terbiasa berpikir logis. Reno bertarung dengan waktu: menggunakan penglihatannya untuk 'memandu' dokter forensik dan ahli siber menemukan bukti fis

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jilbab putih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11: JEJAK DARAH DI MEJA TIGA

BAB 11: JEJAK DARAH DI MEJA TIGA

Pesan singkat misterius yang masuk ke ponsel Reno tadi pagi membawa langkah mereka kembali ke kamar jenazah VPCI saat fajar baru saja sempurna menembus cakrawala. Suasana di lantai bawah tanah agensi itu terasa jauh lebih dingin dan mencekam daripada biasanya.

Bau formalin dan antiseptik bercampur dengan aroma amis yang janggal sebuah aroma darah yang tercium amat segar, seolah-olah baru saja keluar dari pembuluh darah beberapa menit yang lalu.

Lampu neon di atas meja otopsi nomor tiga berkedip-kedip pelan, memancarkan cahaya putih yang janggal. Di atas meja stainless steel tersebut, terbaring sesosok mayat pria paruh baya yang ditutupi kain kantong jenazah hitam tipis.

dr. Sara melangkah mendekati meja tiga dengan tas medis di tangannya, sementara Reno berdiri sejauh satu meter, mengawasi setiap sudut ruangan dengan pandangan selidik.

Nadia, sang asisten laboratorium, tampak berdiri gemetar di sudut ruangan dengan wajah pucat pasi.

"Siapa yang membawa jasad ini ke sini, Nadia?" tanya dr. Sara tegas seraya menarik ke bawah ritsleting kantong jenazah tersebut.

"Sistem keamanan lantai bawah harusnya terkunci otomatis sejak jam empat pagi."

"Sa... saya tidak tahu, Dok," jawab Nadia dengan suara bergetar, tangannya meremas ujung jas laboratoriumnya.

"Saat saya turun untuk membersihkan peralatan otopsi kasus Hartawan tadi, jasad ini sudah terbaring di meja tiga. Tidak ada catatan penerimaan dari kepolisian atau ambulans. Pintu darurat samping ditemukan sedikit terbuka."

Ritsleting kantong jenazah terbuka sepenuhnya, menyingkap jasad seorang pria berusia lima puluhan tahun. Pria itu mengenakan kemeja linen putih yang ternoda darah pekat di bagian dada.

Namun, hal yang paling mengejutkan bukanlah noda darah tersebut, melainkan pola luka dan wajah sang korban.

dr. Sara menahan napasnya secara refleks, matanya membelalak lebar.

"Ini... tidak mungkin..."

Reno melangkah maju, memicingkan mata meneliti wajah kaku korban. Wajah itu dihiasi sepasang mata yang tertutup rapat, tetapi di bagian lehernya, tergantung sebuah kalung perak bermotif lambang matahari berantai tipis sebuah perhiasan tua yang sangat dihafal oleh Reno di luar kepala.

"Paman Aris...?" gumam Reno dengan suara bergetar, sebuah getaran emosi yang sangat jarang terdengar dari bibir sang detektif dingin itu.

"Aris Devano?" bisik dr. Sara, menoleh menatap Reno dengan tatapan horor yang murni. "Paman kandungmu? Mantan insinyur utama yang menghilang setelah kecelakaan keluarga dua belas tahun lalu?!"

Reno mengepalkan kedua tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Dada Reno naik turun tidak teratur.

Paman Aris adalah satu-satunya anggota keluarga kandung Reno yang tersisa setelah tragedi kecelakaan mobil yang merenggut nyawa orang tuanya dua belas tahun lalu kecelakaan gila yang menjadi pemicu utama bangkitnya kemampuan psychometry di dalam tubuh Reno.

Selama belasan tahun, Paman Aris menghilang tanpa jejak, dianggap sudah tewas dalam ledakan laboratorium tempatnya bekerja. Namun pagi ini, jasadnya mendadak tergeletak kaku di atas Meja Otopsi 03 milik VPCI.

"Siapa pun yang mengirim pesan singkat itu... dia sengaja menaruh jasad Paman Aris di sini," kata Reno dengan suara serak yang memendam amarah luar biasa.

dr. Sara dengan cepat memasang sarung tangan latex-nya, mengambil senter medis kecil dan mulai memeriksa tubuh Aris Devano secara mendalam.

"Luka tusuk di dada kiri... langsung menembus ventrikel jantung," analisis dr. Sara dengan kepresisian medismu yang memukau, berusaha menjaga profesionalisme nya meski situasi ini berdampak emosional sangat berat bagi mitranya.

"Perkiraan waktu kematian kurang dari dua jam yang lalu. Tapi perhatikan pola lukanya, Reno... ini bukan luka tusuk biasa."

dr. Sara menggunakan pinset anatomi untuk merenggangkan tepi luka di dada korban. Di bawah sorotan lampu otopsi yang terang, terlihat batas luka yang sangat rata dengan guratan mikro seperti gigi gergaji halus.

"Senjata yang digunakan adalah pisau bedah medis spesifik jenis scalpel micro-serrated nomor sebelas," ujar dr. Sara, matanya membelalak heran. "Itu adalah pisau bedah khusus yang hanya digunakan oleh dokter bedah saraf senior... atau spesialis forensik tingkat tinggi."

Reno menatap luka di dada pamannya. Di samping luka tusuk itu, terdapat tiga goresan garis sejajar yang diukir menggunakan ujung pisau sebuah simbol angka romawi tiga (III).

"Angka tiga..." gumam Reno. "Sama seperti nomor meja otopsi ini."

"Reno, jangan!" tegap dr. Sara cepat saat melihat tangan kanan Reno perlahan meluncur keluar dari dalam saku mantelnya, mengarahkan jemari bertelanjangnya menuju kalung perak bermotif matahari di leher Paman Aris.

dr. Sara memegang pergelangan tangan Reno, menatap mata sang detektif dengan rasa cemas yang mendalam.

"Penglihatan dari trauma kematian keluargamu sendiri... itu terlalu berbahaya untuk mentalmu, Reno! Terakhir kali kamu menyentuh barang bukti yang berhubungan dengan kecelakaan dua belas tahun lalu, kamu pingsan dan mengalami pendarahan di hidung!"

"Aku harus melihatnya, Sara," bisik Reno dengan tatapan mata membaja yang tidak bisa dibantah.

"Paman Aris memegang jawaban atas siapa yang membunuh orang tuaku dua belas tahun lalu, dan siapa yang menaruh jasad ini di meja kita pagi ini. Aku tidak punya pilihan lain."

dr. Sara perlahan melonggarkan cengkeramannya pada lengan Reno, sadar bahwa ia tidak akan bisa menghentikan tekad mitranya. Sang dokter forensik mendekat, siap menopang tubuh Reno jika efek psychometry itu merusak saraf sang detektif kembali.

"Aku ada di sini, Reno. Lakukan," bisik dr. Sara lembut.

Reno menarik napas panjang, memejamkan mata sejenak, lalu menyentuhkan ujung jemarinya langsung ke permukaan kalung perak bermotif matahari yang dingin di leher Paman Aris.

DEG!

Hantaman psychometry kali ini meledak begitu dahsyat, jauh lebih kuat dan merusak daripada sentuhan pada kancing kemeja Hartawan maupun kemudi mobil Hakim Rustam! Gelombang memori yang tertimbun belasan tahun meledak seketika, melempar kesadaran Reno ke dalam lorong waktu yang gelap dan dipenuhi gema jeritan.

Visualisasi masa lalu memutar kejadian satu jam yang lalu di sebuah gang sempit berkerikil di balik pelabuhan.

Suara gerimis hujan rintik-rintik beradu dengan napas terengah-engah dari Paman Aris yang berlari dalam kegelapan. Pria tua itu memegang sebuah buku catatan kecil bersampul kulit hitam yang kumal.

"Aku sudah menemukan buktinya! Aku tahu siapa orang di dalam agensi itu!" teriak Paman Aris ketakutan menuju bayangan seseorang yang berdiri di depannya.

Dari balik kegelapan lorong gang, melangkah sesosok tubuh bertubuh tinggi semampai yang mengenakan jas laboratorium putih berstempel khusus. Wajah orang itu tertutup sepenuhnya oleh bayangan topi dan masker medis, tetapi cara berdirinya begitu anggun dan dingin.

Sosok berjas putih itu mengayunkan pisau bedah scalpel micro-serrated dengan kecepatan yang sangat presisi. Satu tusukan telak merobek dada Paman Aris, disusul oleh gerakan mengukir angka tiga di kulit dadanya secara perlahan.

Paman Aris tersungkur di tanah basah, darah menyembur dari mulutnya. Sebelum napas terakhirnya merenggut, sosok berjas putih itu membungkuk, merampas buku catatan hitam dari tangan Paman Aris, lalu berbisik dengan suara wanita yang dingin dan teredam masker:

"Reno Devano tidak boleh tahu bahwa tragedi dua belas tahun lalu... dimulai dari dalam laboratorium VPCI sendiri."

BRAK!

Sensasi kilas balik itu pecah berantakan! Reno tersentak hebat, menarik tangannya dari kalung perak tersebut seraya terbatuk darah dari mulutnya.

Tubuhnya lemas seketika, hampir roboh jika dr. Sara tidak dengan sigap memeluk bahunya dan menahan tubuh Reno agar tidak menghantam lantai stainless steel.

"Reno! Reno!" jerit dr. Sara panik, menyapu bercak darah dari bibir Reno menggunakan kain kasa.

"Dengarkan suaraku! Bernapas perlahan!"

Napas Reno memburu hebat, dadanya naik turun dengan liar. Pupil matanya bergetar menahan gelombang pusing yang luar biasa hebat.

Namun, informasi yang baru saja diserap oleh indra ke-6 nya menghantam kesadarannya jauh lebih mengerikan daripada rasa sakit fisik apa pun.

Pelaku yang membunuh Paman Aris satu jam lalu... adalah seorang wanita yang mengenakan jas laboratorium resmi, dan pembunuhan itu berhubungan langsung dengan pendirian VPCI serta kecelakaan orang tuanya dua belas tahun lalu!

Pintu geser kamar jenazah mendadak terbuka lebar dari luar.

Widya Kusuma melangkah masuk dengan cepat, memegang tablet digitalnya dengan raut wajah yang luar biasa panik.

"Reno! Dokter Sara! Dion baru saja menemukan hal gila di server arsip tua pendirian agensi kita!"

dr. Sara membantu Reno duduk di kursi pemeriksaan, sementara matanya menatap Widya tajam.

"Ada apa, Widya?!"

"Berkas pendiri awal VPCI dua belas tahun lalu... ada satu nama pendiri ketiga yang catatannya sengaja dihapus dari database resmi!" ujar Widya setengah berteriak menembus keheningan kamar jenazah.

"Dan nama pendiri ketiga yang membiayai pembuatan laboratorium medis VPCI pertama kali adalah... Aris Devano!"

dr. Sara dan Reno terhenyak membeku.

Reno perlahan menegakkan tubuhnya, mengepalkan tangannya yang gemetar. Teka-teki gila ini tidak pernah berhenti.

Kasus Eksekutor di Pabrik Sentosa hanyalah puncak dari gunung es yang jauh lebih besar dan gelap.

Seseorang di dalam struktur teratas agensi mereka sendiri sedang berusaha menghapus semua saksi sejarah tragedi dua belas tahun lalu dan Meja Otopsi 03 hanyalah panggung awal dari pembantaian rahasia di dalam tubuh VPCI sendiri.

Reno menatap dr. Sara lurus-lurus, matanya yang memerah memancarkan tekad yang semakin membara.

"Panggil Dion dan Bara sekarang juga, Widya. Pintu agensi ini resmi kita kunci dari dalam... karena pembunuh Paman Aris mungkin sedang berdiri di antara kita saat ini."

1
Sativa Kyu
👍👍👍
Windi Triana
Ceritanya bagus, aku pikir karena judulnya ada tulisan 'indera keenam' pasti ada makhluk astral nya, tapi ternyata tidak ada. Gak tahu nanti bab selanjutnya, apakah ada atau tidak, belum sampai kesana bacanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!