Dua puluh lima tahun Ryu Jin mengurung jiwanya di dasar jurang terlarang demi menahan kebangkitan Pedang Tulang Hitam. Namun, Aliansi Tiga Sekte membantai seluruh warga desanya demi menguras darah jiwa murni. Tetesan darah warga merobek segelnya. Sang Iblis Purba terbangun dengan mata membara. Mereka tidak tahu bahwa desa itu bukanlah pemukiman biasa, melainkan penjara tempat dikurungnya bencana abadi. Kini, pintunya telah terbuka, dan Ryu Jin siap menagih jiwa para penguasa benua!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LanzT0k3, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DARAH DI DASAR JURANG
Desa Sunyi tidak pernah benar-benar tenang bagi siapa pun yang memiliki kepekaan rasa. Di balik kabut tipis yang selalu menyelimuti pemukiman kaki Pegunungan Kematian itu, tercium bau amis samar yang tak pernah sirna—aroma darah tua yang terkunci di dalam tanah selama puluhan tahun.
Para warga yang mendiami tempat tersebut—sebagian besar merupakan pensiunan pendekar cacat atau mereka yang sengaja memutuskan jalur energi demi melarikan diri dari dunia persilatan—sangat memahami satu aturan tak tertulis: Jangan pernah mendekati Jurang Gelap di ujung utara desa.
Sebab di dasar jurang yang tak terukur kedalamannya itu, bersemayam sebuah ancaman yang bahkan mampu membuat para veteran gemetar jika mendengarnya.
Ryu Jin.
Pria berusia 25 tahun itu duduk bersila di atas batu hitam yang rata. Wajahnya yang tegas dan berpahat sempurna tampak dingin, tertutup oleh sehelai kain tebal yang melilit matanya. Tubuhnya tak bergerak sedikit pun, menyerupai patung batu peninggalan zaman purba.
Namun, di dalam rongga dadanya, jantung Ryu Jin berdetak dengan ritme yang lambat dan berat. Setiap detakannya mengirimkan gelombang tenaga dalam hitam pekat yang terus menekan sebuah bilah senjata di pangkuannya.
Pedang Tulang Hitam.
Pusaka terlarang itu bergetar pelan, mengeluarkan suara desihan halus menyerupai bisikan ribuan jiwa yang menjerit kelaparan. Bintik-bintik cahaya merah menyala samar di sepanjang ukiran tulang yang menyelimuti sarungnya.
"Diam," bisik Ryu Jin dengan suara rendah dan serak. Suaranya begitu dingin, sanggup membuat air di sekitarnya membeku secara instan. "Waktunya belum tiba. Aku telah berjanji pada mendiang Guru untuk menahan dahagamu selama seperempat abad. Jangan paksa aku meremukkan jiwamu kembali."
Senjata itu seolah memahami ancaman sang tuan. Getarannya mereda, meski aura kegelapan di dalam jurang kian pekat dan menekan udara hingga terasa mencekik.
Selama 25 tahun hidupnya, Ryu Jin membiarkan jiwanya disiksa oleh Jurus Pedang Tulang Iblis. Setiap malam, ia harus merasakan sakitnya ribuan jarum es menusuk organ dalam demi menahan kebangkitan pusaka tersebut. Ia mengasingkan diri dari peradaban, membendung kehausan akan pembantaian yang menjadi sifat alami kekuatannya. Bagi Ryu Jin, kegelapan jurang ini adalah penjara sekaligus pelindung bagi dunia luar.
Namun, kedamaian semu yang dipertahankannya dengan rasa sakit itu tidak berlangsung lama.
DUAARRR!
Sebuah ledakan dahsyat mengguncang langit di atas Desa Sunyi. Suara dentuman itu begitu kuat hingga membuat gumpalan batu di dinding jurang berguguran.
Ryu Jin tidak bergeming dari posisinya, tetapi alisnya sedikit bertaut.
Di atas sana, pada permukaan tanah yang biasanya tenang, teriakan histeris dan jeritan kesakitan mulai bergema. Bau asap pembakaran bercampur dengan aroma darah segar yang mendadak menyeruak deras, menembus kabut lalu meluncur turun ke dalam gua.
Tiga Sekte Besar—Sekte Pedang Suci, Sekte Teratai Emas, dan Sekte Awan Putih—yang menamakan diri mereka sebagai 'Aliansi Sekte Kebajikan', telah menemukan keberadaan tempat itu.
Puluhan penunggang binatang spiritual melayang di udara, menembakkan gelombang energi ke rumah-rumah kayu warga. Pemukiman terbakar hebat, tawa kejam para murid sekte membubung tinggi saat mereka memburu penduduk tanpa ampun.
"Bantai semuanya! Jangan sisakan satu jiwa pun!" teriak seorang pria bertubuh kekar dengan jubah bermotif emas. Dialah Tetua Luar dari Sekte Pedang Suci, Zhao Kang. "Para pengkhianat dan pelarian ini menyimpan rahasia Inti Murni Tanah Surgawi! Siapa saja yang menemukan artefak itu akan diberi ganjaran menjadi murid inti!"
"Kalian... sekte yang mengaku suci... ternyata tidak lebih dari kelompok bandit!" seru seorang tetua desa yang kehilangan lengan kirinya, berjuang menahan tebasan musuh menggunakan tombak berkarat.
"Bandit?" Zhao Kang tertawa terbahak-bahak, lalu menebas kepala tetua tersebut hingga terlepas dari tubuhnya. Darah segar menyembur ke udara. "Di dunia persilatan, yang kuat adalah aturan, dan yang lemah hanyalah sampah! Kalian yang bersembunyi di sudut busuk ini hanya pantas dijadikan batu pijakan kami!"
Pembantaian massal terjadi dalam hitungan menit. Pendekar-pendekar tua yang telah memotong jalur kultivasi tak sanggup menahan gempuran ratusan murid muda yang beringas. Jeritan wanita, tangisan anak-anak, dan erangan kematian menyatu menjadi sebuah simfoni berdarah.
Cairan merah dari puluhan warga yang tewas mengalir membentuk sungai-sungai kecil di atas tanah. Aliran itu mencari celah rendah, membendung di tepi tebing, lalu... merembes dan menetes jatuh ke dalam kegelapan Jurang Gelap.
Tes.
Tes.
Setetes darah hangat jatuh tepat di atas permukaan kain hitam yang menutupi mata Ryu Jin.
Tes.
Tetesan kedua mengenai bilah Pedang Tulang Hitam.
SSSTTT!
Seketika itu juga, Pedang Tulang Hitam menyerap tetesan darah tersebut. Ukiran tulang di sarungnya mendadak menyala merah terang bagaikan bara api yang disiram minyak. Bau darah segar warga desa yang dikenal Ryu Jin—orang-orang tua yang sesekali melemparkan roti kering ke dalam jurang saat ia masih kecil—meracuni indra penciumannya.
Dahaga yang ditahannya selama 25 tahun mendadak meledak.
"Mereka... membantai warga desa?" gumam Ryu Jin pelan.
PRAK!
Kain tebal yang menutupi kedua matanya mendadak hancur berkeping-keping, berubah menjadi debu halus di udara.
Ketika mata Ryu Jin terbuka, tidak ada bagian putih pada bola matanya. Kedua matanya sepenuhnya berwarna merah membara dengan pupil hitam berbentuk celah vertikal—mata seorang Iblis Sejati.
Aura membeku yang sangat tebal meluap dari tubuhnya. Gelombang tekanan jiwa membubung tinggi dari dasar jurang, menerobos lapisan udara dan melesat menghantam langit!
WUUUSHHH!
Di permukaan tanah, ratusan murid sekte yang sedang tertawa sambil merampas harta mendadak terhenti. Kaki mereka gemetar hebat. Binatang-binatang spiritual yang mereka tunggangi melengking ketakutan, menjatuhkan tubuh ke tanah dan berlutut seraya memuntahkan darah dari mulut.
"A-Apa yang terjadi?!" teriak salah satu murid Sekte Teratai Emas dengan wajah pucat pasi. "Kenapa... kenapa dadaku terasa sangat sesak?!"
"Udara... udaranya menjadi dingin!"
Zhao Kang, yang tadinya bersikap jemawa, mendadak melangkah mundur. Keringat dingin sebesar biji jagung mengucur deras di pelipisnya. Pedang di tangannya bergetar tanpa bisa dikendalikan. Rasa takut yang sangat murni dan primitif mencengkeram jantung, membuat badannya kaku tak berdaya.
"Aura ini... tidak mungkin!" pekik Zhao Kang dengan suara melengking. "Ini bukan tenaga dalam dari seorang manusia! Siapa yang ada di bawah sana?!"
TAP.
TAP.
Dari dalam kabut hitam yang membumbung dari mulut jurang, terdengar langkah kaki pelan. Suara alas sepatu kayu yang menapak tanah itu begitu jelas, seolah-olah terdengar tepat di samping telinga setiap orang yang ada di sana.
Sesosok pemuda melangkah keluar dari kegelapan.
Ryu Jin berjalan santai. Rambut hitam panjangnya berkibar ditiup angin malam yang dingin. Jubah hitamnya yang kusam melambai pelan, sementara di tangan kanan, ia menyeret Pedang Tulang Hitam tanpa sarung. Ujung senjata itu menggores tanah, meninggalkan jejak api merah dan asap hitam yang membakar rumput.
Matanya yang merah darah menatap dingin ke arah ratusan mayat warga desa yang bergelimpangan, lalu perlahan terangkat menatap Zhao Kang dan pasukan aliansinya.
"Kalian..." Suara Ryu Jin bernada datar, tanpa emosi, tetapi mampu membuat beberapa murid sekte berilmu rendah langsung pingsan dengan mulut berbusa akibat tekanan jiwanya. "...telah mengotori ketenangan tempat ini."
"K-Kau! Siapa kau?!" teriak Zhao Kang mencoba memberanikan diri, meski lututnya gemetar. "Kami adalah Aliansi Sekte Kebajikan! Jangan bertindak gila, anak muda! Jika kau berani menghalangi kami, kau akan dihancurkan bersama sampah-sampah desa ini!"
Ryu Jin tidak menjawab. Ia hanya menghentikan langkahnya, berdiri sejauh sepuluh langkah dari Zhao Kang.
Satu detik.
Dua detik.
"Sekte Kebajikan?" tanya Ryu Jin pelan. Bibirnya menarik senyuman tipis yang sangat mengerikan—senyuman tanpa rasa kemanusiaan. "Kalau begitu, biarkan aku memperlihatkan pada kalian... apa yang disebut sebagai Neraka."
SIUUTT!
Sebelum ada yang sempat menyadari apa yang terjadi, Ryu Jin telah menghilang dari tempatnya berdiri.
"Cepat bertahan!" jerit Zhao Kang histeris.
Namun, peringatan itu sudah terlambat.
Ryu Jin telah muncul di tengah-tengah barisan depan murid Sekte Pedang Suci. Ia bahkan tidak mengayunkan pedangnya dengan jurus yang rumit. Ia hanya menebaskan Pedang Tulang Hitam dalam satu gerakan melingkar yang sederhana.
CRAAAK!
Tebasan cahaya berwarna merah kehitaman meloncat keluar bagaikan rahang monster kelaparan.
JEBLAG! CRES! CRES!
Dalam sekejap, tubuh puluhan murid sekte terbelah menjadi dua! Darah, organ dalam, dan potongan tulang menyembur ke udara bagaikan hujan merah. Jeritan histeris pecah serentak saat puluhan jiwa musuh ditarik secara paksa masuk ke dalam bilah Pedang Tulang Hitam.
Senjata itu menyerap darah dan jiwa mereka dengan kesenangan yang gila, mengeluarkan suara dengungan kejam yang menggetarkan jiwa siapa pun yang mendengarnya.
"Aaaargh! Tanganku! Tanganku terputus!"
"Iblis! Dia bukan manusia! Dia monster!"
"Lari! Cepat lari!"
Kepanikan luar biasa melanda pasukan yang tadinya begitu arogan. Murid-murid sekte yang beberapa menit lalu membantai warga tanpa belas kasihan, kini berhamburan seperti rayap yang sarangnya diinjak. Mereka melempar senjata, saling pijak demi bisa kabur dari pemuda bertangan dingin itu.
Namun, bagi Ryu Jin, tidak ada kata melarikan diri.
"Sudah kubilang..." Ryu Jin mengayunkan pedangnya pelan, membersihkan cipratan darah pada bilah. "...kalian telah mengotori tempat ini. Tidak ada satu pun dari kalian yang boleh pergi dalam keadaan bernapas."
Jurus Pedang Tulang Iblis: Bayangan Sembilan Neraka!
Ryu Jin melangkah maju. Tubuhnya terpecah menjadi sembilan bayangan hitam yang melesat ke segala arah dengan kecepatan yang melampaui batas penglihatan manusia.
CRES! CRAAK! DUAARR!
Suara tebasan, daging yang teroyak, dan remukan tulang bersahut-sahutan di seluruh penjuru Desa Sunyi. Setiap kali satu bayangan Ryu Jin melewati seorang musuh, tubuh musuh tersebut akan hancur menjadi serpihan daging sebelum sempat berteriak.
Darah merembes ke mana-mana, membasahi tanah pemukiman yang hancur. Malam yang tadinya sunyi kini berubah menjadi panggung pembantaian massal yang paling mengerikan dalam sejarah dunia persilatan.
Zhao Kang berdiri mematung di tengah ladang pembantaian itu. Seluruh prajurit dan murid elit yang dibawanya—lebih dari dua ratus orang—telah tewas hanya dalam hitungan puluhan detik. Tidak ada satu pun mayat yang utuh. Semuanya tergenang dalam lautan darah mereka sendiri.
Kini, hanya Zhao Kang yang tersisa.
Ryu Jin berjalan mendekati Zhao Kang dengan langkah perlahan. Jubah hitamnya sama sekali tidak terkena cipratan darah, tetap bersih dan pekat. Namun, Pedang Tulang Hitam di tangannya kini membara merah terang, memancarkan bau amis yang menyengat.
"T-Tolong... ampun..." Zhao Kang jatuh terduduk di atas genangan darah anak buahnya. Wajahnya yang tadinya garang kini pucat pasi bagaikan mayat. Ia berlutut, menyatukan kedua tangan seraya menangis histeris. "A-Aku hanya menjalankan perintah! Tetua Agung kami yang menyuruh kami! Tolong ampuni nyawaku... aku akan memberikan semua harta dan ilmu kultivasiku!"
Ryu Jin berhenti di depan Zhao Kang. Ia menatap pria yang memohon di bawah kakinya dengan mata merah yang tak bergeming.
"Pernahkah kau mendengarkan permohonan ampun warga desa ini sebelum kau memotong kepala mereka?" tanya Ryu Jin dingin.
Zhao Kang membeku. Matanya melotot lebar karena ketakutan.
"Kau tidak mendengarkan mereka," lanjut Ryu Jin. "Jadi, pedangku juga tidak akan mendengarkanmu."
CRES!
Tanpa ragu sedikit pun, Ryu Jin mengayunkan pedangnya ke bawah. Kepala Zhao Kang melayang ke udara sebelum akhirnya terjatuh dan berguling di tanah yang basah oleh darah.
Desa Sunyi kembali menjadi sunyi.
Namun, ini bukan lagi sunyi yang damai. Ini adalah kesunyian kuburan massal.
Ryu Jin menyarungkan kembali Pedang Tulang Hitamnya yang masih mendengung puas setelah meminum darah ratusan pendekar. Ia berdiri sendirian di tengah tumpukan mayat, menatap langit malam yang tertutup asap hitam.
Seperempat abad ia mengurung diri untuk menahan monster di dalam tubuhnya. Namun dunia luar dengan kejam telah merobek penjaranya.
"Sekte Pedang Suci... Sekte Teratai Emas... Sekte Awan Putih..." Ryu Jin menyebutkan nama-nama penguasa benua itu satu per satu dengan nada suara yang membekukan jiwa.
Ia membalikkan badan, mengambil sebuah jubah tebal berwarna kelabu dari reruntuhan rumah tempat tinggalnya dulu, lalu mengikatkan Pedang Tulang Hitam di punggung.
"Kalian meretas kedamaianku. Sekarang, aku akan mendatangi pintu sekte kalian satu per satu untuk mencabut jiwa kalian."
Dengan langkah mantap, sang Iblis Desa Sunyi melangkahkan kakinya keluar dari garis batas desa, memulai perjalanan berdarahnya menuju dunia persilatan yang akan gempar oleh namanya.