Dikhianati oleh pria yang sangat ia cintai demi sebuah tahta, membuat Ningmas Danastri Kartawidjaja benar-benar terluka.
Dibawah aturan keluarga, Raden Dwipa Soeradiningrat, tak bisa berbuat apa-apa demi tahta sebagai pewaris dari Trah Soeradiningrat. Ia bahkan harus kehilangan Ningmas Danastri yang sangat ia cintai.
Namun, takdir justru membawa Ningmas Danastri ke arah yang tak disangka-sangka. Karena keterpurukannya, ia justru tanpa sadar menghabiskan malam dengan pria yang memiliki hubungan dekat dengan mantan kekasihnya.
Selain itu, satu persatu rahasia dua Trah (Trah Soeradiningrat dan Trah Kartawidjaja) yang tak pernah akur pun terbuka. Hal yang menyebabkan dua generasi terakhir selalu bersitegang itu, ternyata karena ada masa lalu yang masih belum selesai.
Bagaimanakah kelanjutan hidup Ningmas Danastri Kartawidjaja?
Akankah ia jatuh cinta pada orang yang tepat?
Apakah rahasia masa lalu dari dua keluarga yang masih belum tuntas?
Simak terus keseruan kisahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fernanda Syafira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30. Mantap-mantap
Begitu samapi di Hotel. Mereka segera check-in dengan menunjukkan bukti pemesanan di ponsel Raden Daksa. Setelah selesai dengan urusan check-in, mereka di antar oleh seorang staff menuju ke kamar yang ada di lantai lima hotel itu.
"Terima kasih." Ucap Raden Daksa sembari memberikan tip pada staf yang mengantar dan membawakan koper mereka.
"Sama-sama, Pak." Jawab staf dengan sopan. Ia kemudian meninggalkan Raden Daksa dan Astri yang hendak masuk ke dalam kamar.
Kamar yang disewa Raden Daksa itu cukuplah luas. Ada ruang tamu dan dapur bersih disana. Selain itu, ada sebuah kolam renang pribadi di balkon kamar hotel.
"Kalau Sasa ikut, pasti dia happy sekali karena ada kolam renang seperti ini." Ujar Astri saat melihat kolam renang yang ada di balkon kamar. Ia membuka sedikit pintu balkon dan berdiri di tengahnya.
"Kita tidak jadi honeymoon kalau dia ikut." Sahut Raden Daksa yang membuat Astri terkekeh.
Raden Daksa kemudian menghampiri istrinya. Ia memeluk Astri dari belakang sambil mendaratkan kecupan-kecupan hangat di leher jenjang istrinya.
"Mas..." Lirih Astri dengan suara bergetar. Ia menikmati setiap kecupan Raden Daksa.
Pintu kaca balkon ditutup rapat, mengunci keheningan dan kehangatan di dalam kamar itu. Lampu utama telah dipadamkan, hanya menyisakan cahaya lampu dinding berwarna kuning redup yang menciptakan nuansa sangat romantis, tenang, dan begitu dalam.
"Dek Ayu..." panggil Raden Daksa dengan suara rendah, dalam, dan teramat serak.
"Dalem, Mas?" sahut Astri hampir berbisik. Raden Daksa mengulurkan kedua tangannya, menyentuh lembut kedua pipi Astri dengan telapak tangannya yang hangat.
Raden Daksa kemudian memindahkan tangannya ke bahu Astri.
Dengan jemarinya yang hangat dan telaten, pria itu
menurunkan tali satu garis dress bunga-bunga yang dikenakan Astri itu dari bahu
kiri dan kanan.
Kain itu seketika
merosot turun melewati dada, pinggul, hingga
tergeletak di atas lantai, hanya meninggalkan tubuh
polos tanpa selembar benang pun di hadapan
suaminya.
Astri mendesis pelan saat udara dingin
malam menyapa kulit telanjangnya, namun rasa
dingin itu seketika lenyap digantikan oleh kehangatan
dari tatapan mata Raden Daksa yang begitu membara.
Raden Daksa tidak membuang waktu. Pria itu menggendong istrinya, lalu
merebahkannya secara perlahan di atas kasur yang
terbentang.
Raden Daksa menyusul dan langsung merayap di atas
tubuh sang istri. Pria itu menopang sebagian berat
tubuhnya dengan kedua tangannya di sisi kepala
seraya menatap dalam-dalam ke dalam manik mata
sang istri.
"Kita nikmati malam ini, Sayang" Lirih Raden Daksa.
"Iya, Mas..." balas Astri dengan suara gemetar
oleh gairah yang mulai membuncah.
Raden Daksa membungkuk, menautkan bibirnya. Ciuman malam itu dimulai dengan irama
yang begitu dalam dan penuh gairah.
Raden Daksa melumat
bibir istrinya,
menyerap setiap embusan napas sang istri. Astri
pun langsung mengalungkan kedua tangannya di leher
suaminya. Ia membalas lumatan itu dan membiarkan lidah mereka saling melilit panas.
Sentuhan demi sentuhan kembali mengisi.
Tangan kanan Raden Daksa merayap turun, menyisir leher
mulus wanitanya, lalu menyusuri tulang selangkanya,
dan menangkup penuh salah satu bagian dadanya.
"Mmmhh... Mas Daksa..." keluh Malini saat
pertautan bibir mereka terlepas.
Raden Daksa memindahkan kecupannya turun ke
leher Astri dan memberikan isapan-isapan lembut yang
meninggalkan jejak merah di sana.
Pria itu terus
menyisir bagian dada istrinya, lalu menunduk untuk
membawa salah satu pucuknya ke dalam
mulutnya.
Lidah Raden Daksa menari-nari lembut
disana. Ia lalu menyesapnya bertubi-
tubi dan menggeseknya dengan ujung lidahnya yang panas itu.
Tubuh Astri menggelinjang saat sensasi
nikmat itu menyerang saraf-sarafnya.
"Mas... ahh! Mas Daksa..." jerit halus Astri.
Raden Daksa mengulang perlakuan manis itu di kedua
sisi dada istrinya hingga Astri benar-benar terkulai
pasrah di bawah kuasanya.
Puas memanjakan bagian
atas, Raden Daksa bergerak makin turun. Kedua tangannya
merayap ke paha dalam istrinya. Jemarinya lalu
membelai lembut yang di bawah sana.
Raden Daksa kemudian membuka kedua paha sang
istri, berlutut di antara kedua kaki istrinya yang
kini terbentang pasrah. Ia memainkan bagian paling intim istrinya dengan lidah hingga membuat Astri men desa h.
Tanpa mengulur
banyak waktu pria itu langsung menanggalkan celana
panjangnya sendiri. Astri menatap tubuh polos suaminya dengan jantung berdegub kencang.
Raden Daksa merapatkan kembali tubuhnya. Ia
meletakkan kedua telapak tangannya di sisi pinggul
Astri dan bersiap untuk mencicipi surganya.
"Rileks, Sayang." Bisik Raden Daksa.
Raden Daksa mulai menekankan pinggulnya ke depan.
Perlahan tapi pasti, Urat kokohnya melesak masuk ke
dalam rongga tubuh wanitanya.
"Aahh, Mas!" Astri mencengkram bahu suaminya.
Gesekan awal terasa
luar biasa nikmat. Rasa hangat dari dinding dalam
tubuh Astri dan jepitan lembut, membuat Raden Daksa tak sabar lagi.
Pria
itu menghembuskan napas berat melalui mulutnya,
menikmati remasan dan jepitan alami dari dalam
tubuh Astri yang terasa sangat hangat dan memagut
miliknya begitu erat.
"Ah... sayang... kamu selalu terasa sangat
hangat dan nikmat.." Erang Raden Daksa dengan mata terpejam merasakan kenikmatan tiada
tara itu.
Raden Daksa mulai menggerakkan pinggulnya. Ia
menarik dirinya keluar secara perlahan, lalu menghujamkannya kembali ke dalam
dengan dorongan yang lebih dalam lagi.
Suara ketukan pinggul Raden Daksa yang beradu
dengan paha Astri terdengar jelas di dalam kamar hotel yang remang dan sunyi.
"Sshh.. Mas... nik-mat." Desa h Astri terputus-
putus.
Hentakan kuat Raden Daksa membuat setiap saraf di dalam
tubuhnya bergetar hebat.
Raden Daksa menyunggingkan senyum puas. Pria itu
makin memperdalam hentakannya. Setiap kali ia melesak masuk penuh, ujung pusakanya menyasar tepat di titik paling dalam di dalam rahim
Astri, membuat wanita itu melengkungkan
punggungnya dan men desa hkan nama suaminya
tanpa henti.
Astri pasrah, kepalanya menggeleng ke kiri
dan kanan di atas bantal.
Mendengar bisikan dan desa han pasrah
istrinya, naluri prianya makin terbakar.
Pria itu
mengubah posisinya. Raden Daksa meraih kedua paha Astri,
mengangkatnya tinggi-tinggi dan menyandarkannya
di atas bahu kekarnya.
Tanpa buang waktu, Raden Daksa kembali memompa
dengan tempo yang makin cepat dan bertenaga.
Hentakan Raden Daksa sangat dalam dengan tempo
yang lebih cepat. Suara decakan tubuh yang beradu, ditambah keringat yang membuat kulit makin seksi,
semakin membakar gairah pasangan pengantin baru
tersebut.
"Sshhh! Mas Daksa! Ah! Ah!" Jerit Astri tertahan
Sensasi dari posisi baru ini benar-benar
merobohkan seluruh pertahanan diri Astri.
Gelombang kenikmatan yang sangat dahsyat kembali menghujam syaraf-syarafnya.
Dinding dalam
tubuhnya mulai berkedut-kedut, mencengkeram
urat kokoh Raden Daksa dengan cengkeraman nikmat yang
teramat sangat.
"Mas... aku... aku mau sampai!" Ujar Astri.
Raden Daksa melihat wajah istrinya yang memerah
dengan mata yang terpejam dan bibir menganga, menahan nikmat
meluap. Pria itu makin mempercepat temponya,
menghujamkan pinggulnya semakin cepat, kuat, dan
tanpa jeda sedikit pun.
Hentakan demi hentakan bertenaga mendarat
mulus hingga akhirnya puncak kenikmatan Astri
pecah.
"Raden Mas Daksa! Aahhhhh!" Astri menjerit pasrah
saat pelepasan hebat menghantam seluruh
kesadarannya.
Seluruh otot tubuh Astri menegang indah,
kakinya di bahu Raden Daksa gemetar hebat, dan dinding
intimnya mencengkeram keras milik suaminya.
Pria itu memberikan lima hentakan terakhir
yang sangat dalam dan bertenaga,
membenamkan dirinya hingga terasa menyentuh dasar yang
paling dalam.
"Aghhhhh... Astri, Cintaku!" Erangnya dengan suara bergetar hebat.
Raden Daksa menahan posisinya di sana saat benih
kehangatan dan cintanya tercurah deras membasahi
rahim sang istri.
🤔🤔
othor kie...🤣😄