Aura Clarissa adalah seorang penulis yang hidup dalam ketenangan. Namun, tanpa sadar dia juga menyukai kemewahan dan dunia malam yang gelap. Bahkan lebih parahnya menjadi wanita simpanan Daffa Gorge yang sudah beristri.
Konflik makin memanas ketika Darrel Gorge, adik kandung Daffa, hadir menuntut pertanggungjawaban atas malam yang tak pernah Aura ingat.
Di tengah intrik perselingkuhan, ancaman sang istri sah, dan daya tarik Darrel yang kian sulit ditolak, sanggupkah Aura bertahan saat kebenaran tentang dirinya membakar seluruh kehidupannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senjani jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
02. Kekacauan Dimalam Hari
Mentari menyusup lebih cepat pagi ini. Cahayanya menerobos celah gorden apartemen yang tak tertutup rapat.
Gadis yang tergeletak di atas ranjang king-size itu meregangkan tubuh, lalu membuang penutup matanya. Ia duduk di tepi ranjang, melamun menatap lantai marmer yang dingin.
Hanya beberapa menit, sebelum akhirnya ia meraih kacamata di atas nakas dan melangkah menuju kamar mandi.
Gadis itu berdiri membisu di depan cermin lebar. Diperhatikannya setiap inci wajahnya sendiri. Kantung mata yang mulai menghitam akibat pola tidur yang berantakan tercermin jelas di sana. Selama lima menit ia terpaku, hingga akhirnya ia melepas kacamata dan membasuh wajahnya dengan air dingin.
Setengah jam kemudian, ia keluar dari gedung apartemen. Melangkah santai di atas trotoar, menikmati hembusan angin pagi yang menyejukkan.
"Selamat pagi, Mbak Aura. Mau ke mana?" sapa seorang tetangga apartemen yang sedang menyiram tanaman.
Gadis itu menoleh, menyunggingkan senyum ramah yang sangat tulus. "Cari angin segar, Bu. Sekalian mau cari sarapan."
Ia kembali melangkah hingga ke persimpangan jalan utama. Di seberang sana, tampak sebuah taman kota. Gadis itu menyeberang, lalu duduk di salah satu bangku taman yang kosong sembari menikmati roti tawar yang baru dibelinya.
Kehidupannya adalah sebuah paradoks. Sosok yang semalam tampak begitu liar dan manipulatif di bawah remang lampu kelab, kini berubah total menjadi pribadi yang sangat tenang dan bersahaja.
Ia menjadi wanita yang tak banyak bicara, selalu tersenyum sopan kepada orang-orang di sekitar apartemennya, dan menikmati kesendirian tanpa celah. Di dunia yang terang ini, semua orang mengenalnya sebagai Aura.
Setelah beberapa jam menghabiskan waktu di taman, Aura kembali ke apartemen. Ia mandi, merawat diri, lalu mengenakan pakaian kausal yang rapi. Ia menyemprotkan parfum beraroma lembut koleksinya yang tersusun rapi di balik lemari kaca.
Ia merias wajahnya tipis-tipis, lalu tersenyum pada bayangannya sendiri di cermin.
Aura membuka rak sepatu. Di antara berderet sepatu high heels mahal milik 'Clara', mata Aura tertuju pada sebuah flat shoes sederhana. Ia sempat melirik sepatu hak tinggi itu dengan tatapan asing dan getir, sebelum akhirnya jemarinya meraih flat shoes dengan gerakan pasti.
Tujuannya pagi ini adalah perpustakaan kota sebuah ketenangan yang menjadi hobinya sejak sepuluh tahun terakhir.
Di dalam perpustakaan yang hening, Aura meletakkan tas di samping kursi, membenarkan letak kacamatanya, lalu membuka laptopnya, menulis beberapa kata yang terbesit didalam pikirannya dan menuangkannya kedalam novel yang baru-baru ini ia garap.
Aura bukanlah Clara. Namun, di dalam satu tubuh yang sama, mereka berbagi napas.
Dialah Aura Clarissa, seorang gadis kecil yang jiwanya pernah patah dan terluka delapan belas tahun yang lalu.
Mentari perlahan menyusut di ufuk barat, berganti dengan lelehan warna jingga yang menghiasi langit malam.
Di dalam apartemennya, Aura tampil begitu sederhana. Rambut panjangnya terikat cepol asal, dan sebuah apron merah muda melingkar di tubuhnya. Semerbak aroma tumisan sayur memenuhi sudut dapur. Sebagai pelengkap, ia menggoreng telur mata sapi cukup untuk porsi makan malamnya.
Selesai memasak, ia melepas apron dan menggantungnya kembali. Dua piring makanan telah tertata di atas meja, siap untuk disantap.
Namun, baru saja jemarinya meraih sendok, ponselnya di atas meja bergetar hebat. Nama Daffa tertera jelas di layarnya.
Aura menghentikan gerakannya. Ia meletakkan kembali sendoknya perlahan, lalu menatap layar yang berkedip-kedip. Ia membiarkannya terus berdering hingga getaran itu berhenti dengan sendirinya.
Aura bangkit dari kursi. Makanan hangat di atas meja sama sekali tak disentuhnya. Suasana apartemen mendadak sunyi mencekam, hanya diselingi getaran ponselnya yang kembali meraung untuk kesekian kali.
Aura memilih abai. Ia melangkah menuju kamar tidur, menutup pintu rapat-rapat, lalu menghempaskan tubuhnya ke atas kasur.
Dengan gerakan pelan, dijangkaunya sakelar lampu hingga kamar itu tenggelam dalam kegelapan. Hanya ada samar cahaya kota dari luar jendela yang menyusup tipis. Ia memejamkan mata, memburu ketenangan sejenak.
Kriingggg!
Pukul 22.00 WIB. Alarm di atas nakas menjerit nyaring.
Mata gadis itu terbuka seketika. Tanpa jeda, jemarinya meraba nakas dan mematikan suara bising itu. Ia langsung bangkit, melangkah lebar menuju kamar mandi.
Kran dinyalakan. Ia membiarkan air dingin menusuk kulit telanjangnya. Air sedingin es yang sanggup membuat siapa pun menggigil di tengah malam, tetapi Ia tak bergeming sedikit pun. Bagi jiwa yang tumpul seperti dirinya, rasa dingin adalah satu-satunya hal yang membuatnya merasa tetap hidup.
Beberapa menit kemudian, ia keluar dengan handuk melilit tubuh. Ia membuka lemari pakaian dan menarik sebuah gaun mini berwarna merah maroon dengan belahan tinggi hingga pangkal paha. Gaun yang seketika mengubah Aura yang polos menjadi sosok 'Clara' yang glamor dan sensual.
Namun, saat hendak mengambil tasnya, Clara menyadari ada sesuatu yang hilang. Ia mengobrak-abrik meja riasnya dengan panik.
"Sialan!" pekiknya geram sembari mengusap rambutnya kasar.
Dengan langkah terburu-buru, ia berlari ke ruang makan. Matanya menangkap benda pipih yang tergeletak pasrah di dekat piring makanan yang sudah dingin. Ponselnya tertinggal di sana!
Ia meraih benda itu. Layarnya menampilkan belasan panggilan tak terjawab dari Daffa. Dengan napas memburu, Clara mondar-mandir menempelkan ponsel ke telinga. Namun panggilannya terus ditolak dari seberang sana.
"Sial, sial, sial!" umpatnya.