Raka melewati gapura misterius di Laweyan dan terbangun di hutan zaman Majapahit. Tiba-tiba ia bertemu Sekar dan mengetahui bahwa ia terlempar ke tahun 1350 M saat Hayam Wuruk baru dinobatkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MF015, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6: Tiga Purnama
Raka tidak tidur malam itu.
Ia berbaring di atas tikar di bilik kecil di belakang pondok, menatap langit-langit bambu yang diterangi cahaya redup pelita, dan memutar ulang satu kalimat dalam kepalanya: Seseorang lain telah melewati gerbang.
Siapa? Seorang turis nyasar? Seorang peneliti? Atau seseorang yang memang mencari jalan masuk ke dunia ini?
Ketika fajar akhirnya menyingsing dan kabut tipis menyusup lewat celah dinding, ia bangun dengan mata perih dan punggung pegal. Di dalam ranselnya masih ada bungkusan daun pisang dari Sekar, nasi jagung yang kini dingin dan agak keras. Ia memakannya pelan-pelan, duduk di tangga pondok sambil memandang matahari terbit dari balik gunung, dan entah kenapa rasa nasi itu jauh lebih nikmat daripada sarapan di hotel bintang lima mana pun.
"Sudah bangun," kata sebuah suara di belakangnya.
Mpu Kalandara berdiri di ambang pintu, membawa dua cangkir teh jati. Ia menyerahkan satu pada Raka lalu duduk di sampingnya, memandang lembah yang perlahan terang.
"Kau tak tidur."
"Tidak sempat."
"Wajar. Aku sendiri tak tidur seminggu penuh waktu pertama kali sampai di sini." Ia meniup tehnya. "Tetapi kau harus memulihkan tenaga. Karena hari ini akan sulit."
"Kenapa?"
"Karena Wirabhaya akan datang membawa pertanyaan, dan kita harus memutuskan apa yang akan kita ceritakan padanya."
Wirabhaya tiba menjelang tengah hari, ditemani Bekel Tarub dan dua prajurit lain yang ditinggalkan di kaki bukit. Wajahnya letih, jelas ia juga kurang tidur, dan sorot matanya tak sabar.
"Mpu," katanya, membungkuk singkat. "Semalam saya menunggu di bawah. Tak ada kabar. Saya mulai berpikir Mpu telah menyihir orang asing ini menjadi batu."
"Kalau aku bisa melakukan itu, aku sudah memakainya pada beberapa menteri yang terlalu banyak bicara," jawab Mpu Kalandara kalem. "Duduklah. Dan minum dulu. Kau tampak seperti orang yang belum sarapan sejak kemarin."
Wirabhaya tidak duduk. "Mpu, saya punya tugas. Saya diperintahkan melapor ke Trowulan tentang cahaya di hutan Kalimati. Patih Mangkubumi sudah menunggu kabar."
"Dan apa yang akan kau laporkan?"
"Bahwa ada orang asing yang ditemukan, dan Mpu ingin menahannya." Wirabhaya menatap Raka dengan alis berkerut. "Dan bahwa Mpu tampaknya tahu lebih banyak tentang hal ini daripada yang Mpu akui."
Ruangan itu hening. Raka menahan napas. Mpu Kalandara, anehnya, tersenyum.
"Kau pintar, Wira. Persis seperti ayahmu."
"Mpu tidak menjawab."
"Baiklah." Pertapa itu meletakkan cangkirnya dan menatap lelaki muda itu dengan serius. "Aku akan jujur sebanyak yang kubisa. Tapi kau harus berjanji satu hal. Apa pun yang kau dengar hari ini, jangan bicarakan pada siapa pun, termasuk pada Patih, sampai aku mengizinkannya."
"Itu permintaan berat."
"Memang."
"Mpu meminta saya mengkhianati tugas."
"Aku meminta kau menunda tugas," koreksi Mpu Kalandara. "Selama tiga purnama. Kau tahu aku bukan orang yang suka main-main dengan istana. Kalau ini tak penting, aku tak akan memintamu."
Wirabhaya terdiam lama. Di luar, seekor burung kutilang berkicau, tak peduli pada ketegangan di dalam pondok.
"Apa yang Mpu sembunyikan?" tanyanya akhirnya.
"Bukan aku yang menyembunyikan, melainkan orang ini." Mpu Kalandara menoleh pada Raka. "Ceritakan pada Wirabhaya siapa kau sebenarnya. Tidak seluruhnya, tapi cukup."
Raka menelan ludah. Ia menatap lelaki berwajah keras itu, yang tadi malam mengusap debu gabah dari tangannya dan tidak menyakitinya, yang mengancam namun tidak pernah menyentuh. Ada sesuatu pada Wirabhaya yang membuatnya ingin percaya.
"Saya tidak berasal dari seberang lautan, Gusti," katanya pelan. "Saya berasal dari tempat yang sangat jauh. Bukan jauh dalam jarak. Jauh dalam waktu."
"Dalam waktu?" Wirabhaya mengerutkan dahi.
"Dalam tahun. Saya berasal dari masa yang belum terjadi. Dari enam ratus tahun yang akan datang."
Hening.
Bekel Tarub, yang berdiri di pintu, terbatuk keras. Wirabhaya tak bergerak sedikit pun. Lalu, perlahan, ia mengalihkan tatapan ke Mpu Kalandara.
"Mpu, ini lelucon?"
"Aku tak pernah bergurau tentang hal seperti ini."
"Orang ini mengaku datang dari masa depan."
"Dan dia tidak berbohong. Aku tahu, karena aku sendiri berasal dari tempat yang sama."
Kali ini Wirabhaya benar-benar terdiam. Wajahnya yang biasanya tenang berubah sulit dibaca, antara tak percaya, marah, dan sesuatu yang lebih gelap, mungkin takut.
"Selama dua puluh satu tahun," katanya akhirnya, perlahan, "Mpu mengajariku membaca naskah, menasihati ayahku, merawatku sewaktu aku sakit demam. Dan selama itu Mpu tak pernah..."
"Aku tak pernah bisa bercerita," potong Mpu Kalandara. "Karena siapa yang akan percaya padaku? Kau sendiri hampir tak percaya sekarang."
"Saya memang tak percaya."
"Maka biar kubuktikan." Pertapa itu menoleh pada Raka. "Raka, katakan pada Wirabhaya sesuatu yang hanya bisa diketahui orang yang belum lahir."
Raka berpikir cepat. Ia ingin sesuatu yang aman, tidak mengubah apa pun, tapi cukup meyakinkan. Lalu sebuah ide muncul.
"Gusti Wirabhaya," katanya hati-hati. "Ayah Gusti pernah memimpin pasukan menjaga perbatasan Daha. Pada masa Ratu Tribhuwana, ia kehilangan tiga jari tangan kiri dalam pertempuran. Gusti sering diejek anak-anak lain karena dianggap anak seorang pria cacat, dan sejak itu berlatih keras supaya tidak dihina siapa pun."
Wirabhaya membeku.
"Dari mana kau tahu itu?" suaranya nyaris berbisik.
"Dari catatan sejarah yang saya pelajari. Nama Gusti tertulis dalam salah satu kidung tentang pasukan Bhayangkara," bohong Raka. Sebenarnya ia hanya membaca tentang tokoh bernama Wirabhaya dalam sebuah buku tentang pasukan elit Majapahit, dan Mpu Kalandara sempat membisikkan detail itu padanya tadi pagi. Ia tidak bangga pada tipuan kecil ini, tapi ia sadar bahwa dalam situasi seperti ini, kejujuran penuh bisa lebih berbahaya daripada kebohongan kecil.
Wirabhaya menatapnya lama, lalu mengembuskan napas panjang dan duduk di atas tikar, kali ini tanpa diminta.
"Aku butuh minum," katanya parau.
"Teh jati atau sesuatu yang lebih keras?" tanya Mpu Kalandara.
"Yang lebih keras."
Mpu Kalandara tertawa pelan dan bangkit mengambil sebuah guci kecil dari rak.
Percakapan berlangsung hampir sepanjang siang. Mpu Kalandara menjelaskan sebisanya tentang gerbang, tentang bata merah, tentang dua titik cahaya yang berdenyut di atas peta bubuk. Wirabhaya mendengarkan, sesekali menyela dengan pertanyaan tajam, sesekali hanya menatap kosong ke lantai. Tarub, yang disuruh duduk di luar, diam-diam menguping dari balik pintu dan beberapa kali terdengar menggumamkan doa.
Ketika matahari mulai condong ke barat, Wirabhaya akhirnya bersandar pada dinding pondok dan mengusap wajahnya dengan kedua tangan.
"Aku tak yakin aku percaya semuanya," katanya jujur. "Tapi aku percaya Mpu. Dan aku mulai percaya pada orang ini, meski aku tak tahu mengapa."
"Itu sudah cukup," kata Mpu Kalandara.
"Tiga purnama," lanjut Wirabhaya. "Itu waktu yang kau minta. Aku akan menunda laporan, tapi aku harus tetap memberi sesuatu pada Patih agar tak curiga. Aku akan bilang cahaya itu hanya pertanda alam, dan orang asing itu seorang saudagar yang kini dirawat oleh seorang pertapa."
"Cukup baik."
"Tapi aku juga membawa kabar, Mpu." Wirabhaya menegakkan tubuh dan menatap keduanya bergantian. "Kabar dari Trowulan yang baru kuterima semalam, sebelum aku tahu apa pun tentang semua ini. Mungkin Mpu ingin mendengarnya."
"Katakan."
"Tiga hari yang lalu, di pasar Trowulan, seorang lelaki asing muncul. Pakaiannya aneh. Dia berbicara dalam bahasa kita dengan sangat fasih, tapi dengan aksen yang tak dikenal. Dia mengaku sebagai tabib dari negeri jauh."
Raka merasakan perutnya menegang.
"Dua hari kemudian," lanjut Wirabhaya, "dia meramalkan bahwa sebuah gudang rempah di dekat pasar akan terbakar. Dan malam itu juga, gudang itu terbakar. Dia sudah memperingatkan orang-orang untuk mengungsi sebelum api menjalar, sehingga tak ada korban."
"Dia menyelamatkan nyawa," kata Raka pelan.
"Memang. Dan sekarang seluruh Trowulan membicarakannya. Mereka menyebutnya Sang Tabib dari Langit. Beberapa pejabat istana sudah mengundangnya untuk menghadap."
Mpu Kalandara dan Raka saling berpandangan.
Titik kedua itu. Tidak diragukan lagi.
Dan dari nada Wirabhaya, Raka mulai memahami bahwa apa pun yang dilakukan orang itu bukan kebetulan. Seseorang yang tahu masa depan tidak perlu mencari kekuasaan. Kekuasaan akan datang sendiri padanya.
"Mpu," katanya akhirnya, suaranya lebih serius dari sebelumnya. "Kita harus ke Trowulan."
"Belum," kata Mpu Kalandara. "Kau belum siap. Tiga purnama, Raka. Kau akan tinggal di sini dan belajar. Bahasa, adat, tata krama istana, cara bertahan hidup. Kalau kau masuk ke Trowulan sekarang, kau akan hancur dalam sepekan."
"Tapi orang itu..."
"Orang itu sudah lebih dulu masuk, dan setiap hari yang kita buang adalah keuntungan baginya. Aku tahu." Pertapa itu menatapnya tajam. "Tapi kalau kau gegabah, kau tak hanya kehilangan nyawa. Kau mungkin kehilangan satu-satunya kesempatan untuk pulang."
Raka mengepalkan tangan, lalu perlahan mengendurkannya.
Di luar, matahari tenggelam dan lembah itu berubah ungu. Dan untuk pertama kalinya sejak terbangun di hutan Kalimati, Raka merasa bahwa perjalanannya di dunia ini bukan lagi sekadar tentang bertahan hidup.
Ini tentang sesuatu yang jauh lebih besar.
jadi emang mesti buru" kembali. apakabar sama gurunya ya.. berarti dia juga udah hilang lebih dari 20 th juga🥹
perempuan mah gitu kalau merajuk 🤣🤣
pinter bet dia🫣
dia tetap anak remaja yg belum banyak pengalaman 🥹
wahhhhhh
eh pas Hayam Wuruk naik tahta,ratu nya masih hidup ga si Thor?
wkwkwkwkwkwk
kyk nya aku pas ini kena remedial ni🤣🤣
dia ga akan bereaksi deh
coba aja
yah...Raka ga jadi pulang 🥹
apakah ada yg kebawa juga🥹
itu sebabnya namanya juga ga tercatat di sejarah?
apakah keruntuhan Majapahit ttp terjadi...
dan menghilangkan nya langsung,itu sebabnya Sekar ga pernah tercatat dalam sejarah?🥹
gajah Mada kekuasaan nya bener bener menyamai raja si ya
di satu pihak karen Hayam Wuruk terlalu muda buat mangku jadi seorang raja.
tapi.... harusnya 🥹🥹🥹