Gemerlap pulau dewata ternyata menyimpan sisi kelam yang jarang tersorot di balik kemeriahan panggung pop culture dan berbagai event kreatif. Komunitas hobi yang tampak penuh warna ini sering kali diwarnai oleh berbagai kekacauan mendadak, mulai dari drama penyelenggara acara yang bermasalah, oknum penguntit yang meresahkan, hingga gesekan pelik antar-kelompok.
Di tengah hiruk-pikuk tersebut, sekelompok orang biasa yang tidak memiliki pengaruh besar harus menjalani hari-hari penuh tantangan. Mereka bukan siapa-siapa di mata publik, melainkan sekadar individu yang berusaha menikmati hobi di tengah himpitan masalah pribadi masing-masing yang silih berganti.
Setiap babak kehidupan mereka berjalan tanpa terikat pada satu tempat atau konflik tunggal, membawa mereka menghadapi berbagai kekacauan on the spot yang tak terduga. Perjalanan ini dipenuhi oleh campuran aksi, drama emosional, dan komedi segar yang menguji cara mereka bertahan di kerasnya dunia komunitas kreatif.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INDKaeda00, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Event Cosplay
"Disclaimer: Seluruh karakter, organisasi, dan peristiwa dalam cerita ini adalah fiktif. Jika ada kemiripan dengan situasi nyata, kisah asmara, atau kasus di dunia cosplay, itu adalah unsur ketidaksengajaan."
Perjalanan selama kurang lebih satu jam akhirnya membawa mereka tiba di mal tempat acara diselenggarakan. Suasana di dalam area gedung sudah tampak hidup dan dipadati oleh lautan pengunjung serta para cosplayer dengan berbagai ragam kostum unik.
Otsuki melangkah masuk dengan gaya kasualnya, sementara matanya melirik sekilas ke arah panggung utama di tengah atrium yang didekorasi menyerupai arena pertunjukan kolosal. Melihat dekorasi panggung tersebut, semangat Evelia langsung melonjak naik dan matanya berbinar antusias.
"Wah, lihat itu, Otsuki! Dekorasi panggungnya benar-benar niat banget, kan? Suasananya jadi berasa lagi di tengah turnamen abad pertengahan beneran!" seru Evelia penuh semangat sambil menepuk-nepuk lengan Otsuki. "Duh, nggak sabar pengen cepet-cepet keliling."
Otsuki hanya menoleh sekilas dengan ekspresi datar di balik kacamatanya, lalu menghela napas pelan. "Iya, iya, terserah kamu. Mau panggungnya mirip apa juga yang penting jangan bikin repot dari awal."
Evelia terkekeh mendengar respons datar sahabatnya itu, lalu menepuk jidatnya sendiri seperti teringat sesuatu yang penting. "Ah, hampir lupa! Kostum lengkapku masih harus dipasang dan dirapiin dulu di changing room. Otsuki, kamu tunggu sebentar di sini ya, atau kalau bosan boleh jalan-jalan dulu di sekitar sini."
"Hm, ya sudah, sana pergi. Jangan lama-lama, keburu pegel aku nungguin kamu di sini," balas Otsuki melambaikan tangan kecil tanpa minat.
"Iya, sebentar doang kok! Jangan ke mana-mana ya, awas kalau kabur!" sahut Evelia sebelum berlari kecil membelah kerumunan menuju ruang ganti.
Selepas kepergian Evelia, Otsuki berdiri sendirian di dekat pilar mal, melipat kedua tangannya di dada sambil mendengus pelan. Ia menggelengkan kepala pelan seraya bergumam dengan suara rendah, "Hadeh... ada-ada saja. Repot banget punya teman hobi cosplay yang rempongnya minta ampun begini. Padahal tinggal datang dan duduk santai saja susah..."
Belum sempat Otsuki selesai merutuki kebiasaan rempong sahabatnya itu dalam hati, sebuah suara yang tidak asing mendadak menyahut dari sampingnya.
"Tapi justru hal-hal repot kayak begitu kan yang bikin seru, Kak," ujar seseorang sambil tersenyum ramah.
Otsuki menoleh, dan mendapati Dewi sudah berdiri di dekatnya dengan mengenakan pakaian kasual yang rapi. Otsuki langsung mengenali siswi kursus bahasa Jepang tersebut, lalu mengangguk kecil seraya menyapa balik, "Ah, Dewi. Ternyata kamu juga datang ke event ini."
"Iya, Kak! Rame banget ya hari ini," balas Dewi antusias, lalu melirik ke sekitar sebelum kembali menatap Otsuki. "Omong-omong, Kak Otsuki ke sini bareng siapa? Sendirian aja?"
Otsuki memasukkan sebelah tangannya ke dalam kantong celana kargo hitamnya, lalu menjawab santai, "Nggak, aku ke sini bareng temanku. Dia lagi ke ruang ganti buat pakai kostum."
Dewi mengangguk-angguk paham mendengar jawaban itu. "Oh, begitu... Wah, kalau gitu pas banget dong." Gadis itu kemudian menunjuk ke arah kerumunan di dekat stan makanan dengan ibu jarinya. "Oh iya, Kak, aku permisi duluan ya. Temanku sudah menunggu di sana, takutnya dia kebingungan kalau ditinggal terlalu lama."
Otsuki mengangguk pelan mengizinkan, lalu mengangkat tangannya sekilas memberikan gestur perpisahan. "Ya sudah, silakan. Hati-hati, jangan sampai nyasar atau ketemu orang aneh lagi."
"Hehe, iya, Kak! Terima kasih ya, aku duluan!" pamit Dewi sambil melambaikan tangan, lalu berbalik dan berlari kecil menyusul temannya di tengah kerumunan mal.
Setelah kepergian Dewi, suasana kembali terasa lengang bagi Otsuki. Ia melangkah perlahan menuju deretan kursi tunggu yang ada di dekat area lobi mal, lalu mendudukkan dirinya dengan santai.
Begitu duduk, ia langsung mengeluarkan ponsel dari saku dan mulai membuka serta menutup aplikasi media sosial secara bergantian—bukan karena ada sesuatu yang menarik untuk dilihat, melainkan semata-mata agar ia terlihat sibuk demi mengusir rasa bosan yang mulai melanda akibat menunggu Evelia terlalu lama.
Waktu terus berjalan, namun batang hidung sahabatnya itu tak kunjung kelihatan. Otsuki menghela napas panjang dengan berat, lalu bergumam pelan di tengah kesendiriannya, "Duh... lama banget. Pasti urusan makeup sama pasang set kostumnya ribet setengah mati lagi."
Karena rasa jenuh yang kian menumpuk, Otsuki akhirnya menyandarkan kepala bagian belakangnya ke dinding di belakang kursi. Ia menutup matanya rapat-rapat, mencoba menikmati keheningan sejenak di tengah bisingnya suara pengunjung mal yang lalu-lalang di sekitarnya.
Meskipun rasa kantuk mulai menyerang, pikiran Otsuki seketika kembali waspada. Ia mendadak teringat pada insiden-insiden sebelumnya di berbagai event, di mana orang-orang asing yang mencurigakan kerap kali memanfaatkan kelengahan untuk mendekati para cosplayer secara diam-diam.
Kalau aku sampai ketiduran beneran di sini, bisa-bisa ada fotografer aneh atau orang nggak dikenal yang macam-macam, batin Otsuki memperingatkan dirinya sendiri.
Seketika itu juga, mata Otsuki langsung terbuka lebar. Ia menegakkan kembali posisi duduknya, lalu mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru area mal dengan tatapan malas namun tajam, memastikan situasi di sekitarnya tetap aman terkendali.
Tidak lama setelah ia selesai memindai keadaan sekitar, sosok yang ditunggu-tunggu akhirnya muncul. Evelia berjalan anggun menghampirinya dengan mengenakan gaun bertema medieval yang megah dan rinci, membuat penampilannya tampak sangat menonjol di tengah keramaian.
Melihat transformasi sahabatnya itu, Otsuki menatapnya sejenak dengan ekspresi datar, lalu berkata dengan nada datar tanpa beban, "Hm... lumayan. Kamu kelihatan cantik, setidaknya sepadan dengan waktu tunggu berjam-jam yang bikin kakiku pegal."
Mendengar pujian langka dari Otsuki—meskipun disampaikan dengan gaya khasnya yang setengah niat—Evelia langsung tersenyum lebar penuh kemenangan.
"Hehe, tentu saja dong! Usaha dandan dan pasang kostum ribet gini nggak bakal berkhianat kalau hasilnya sekeren ini," ujar Evelia bangga sambil merapikan rok gaunnya. Ia lalu menarik pelan lengan Otsuki. "Yuk, ksatria-ku! Waktunya kita jalan-jalan keliling event dan lihat-lihat stan yang ada!"