NovelToon NovelToon
CEO Tengil VS Sekertaris Bar-bar

CEO Tengil VS Sekertaris Bar-bar

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / CEO / Mafia / Tamat
Popularitas:1.5M
Nilai: 5
Nama Author: Eli Priwanti

Memasuki bangku kuliah dengan penampilan cupunya, membuat Ananda Ayunindia menjadi target empuk perundungan oleh Tristan Bratadikara dan komplotannya. Tak sekadar dibully, Ananda bahkan dijadikan bahan taruhan hingga berujung kehamilan. Hancur dan trauma, ia terpaksa melepas beasiswanya dan pergi menghilang.

Enam tahun berlalu. Ananda yang kini telah lulus kuliah dan menetap di Bandung, berhasil diterima bekerja sebagai sekretaris di sebuah perusahaan raksasa di Jakarta. Demi masa depan putra kecilnya dan sang ibu yang sudah renta, Ananda terpaksa kembali ke kota penuh memori kelam tersebut.

Siapa sangka, pimpinan tertinggi di perusahaan baru tempatnya bekerja adalah Tristan Bratadikara, pria yang dahulu menghancurkan hidupnya. Namun, Ananda yang sekarang bukan lagi gadis cupu yang bisa ditindas, ia telah bermetamorfosis menjadi wanita yang cantik, energik, dan pemberani. Akankah Tristan mengenali korbannya di masa lalu, atau justru bertekuk lutut pada sosok Ananda yang baru?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 19

Mobil Indra membelah jalanan Jakarta yang mulai diterangi lampu-lampu kota, menuju ke salah satu mall terbesar di pusat kota. Setelah memarkirkan kendaraannya, Indra dan Feby segera melangkah masuk dan langsung menuju ke pusat toko mainan anak-anak yang berada di lantai atas.

Suasana toko yang penuh warna dan dipadati berbagai jenis mainan membuat Feby bersemangat. Langkah kakinya terhenti di depan sebuah rak besar yang memajang berbagai macam robot otomatis. Ia mengambil salah satu kotak mainan tersebut lalu menunjukkannya kepada Indra.

"Mas, mainan robot yang ini bagus tidak?" tanya Feby sambil memutar-mutar kotak mainan di tangannya.

Indra memperhatikan mainan itu sejenak sebelum menjawab, "Bagus kok. Memangnya anak sahabatmu itu usianya berapa tahun, Sayang?"

"Baru mau lima tahun besok... Anaknya pintar, tampan, dan juga lucu sekali!" ucap Feby riang dengan mata berbinar-binar, membayangkan wajah menggemaskan Elvano yang selalu berhasil membuat hatinya meleleh.

Indra tersenyum lalu mengedarkan pandangannya ke rak sebelah yang berisi mainan rakitan dan balok susun.

"Kalau usianya baru lima tahun, sebaiknya beli mainan yang ada edukasi belajarnya, Sayang. Jadi dia bisa mengasah kreativitas, belajar sambil bermain."

Feby langsung menepuk tangannya pelan, menyetujui ide kekasihnya. "Wah, usul yang bagus, Mas! El pasti suka sekali mainan seperti itu!"

"Siapa tadi nama anaknya, Sayang?" tanya Indra kasual sembari membantu Feby mencari mainan edukasi yang cocok.

"Elvano, Mas. Aku itu kadang suka kasihan kalau ingat nasib sahabatku, ibunya El. Dulu waktu masih zamannya kuliah, dia itu menderita sekali. Selalu di bully habis-habisan sama anak-anak orang kaya di kampusnya gara-gara penampilannya yang dinilai cupu!" cerita Feby dengan nada menggebu-gebu, menyiratkan rasa kesal yang mendalam setiap kali mengingat masa lalu sahabatnya itu.

Deg!

Mendengar kata "bully" dan "kuliah", langkah kaki Indra seketika terhenti. Tubuhnya mendadak kaku, dan senyum di wajahnya langsung pudar. Dadanya berdesir perih, ingatan masa lalunya enam tahun yang lalu kembali berputar di dalam kepala, mengingatkannya pada dosa besar yang pernah ia lakukan.

Tanpa menyadari perubahan drastis pada raut wajah kekasihnya, Feby terus meluapkan emosinya sembari memilih sebuah papan magnet edukasi. "Dan kamu tahu, Mas? Yang paling biadab, temanku itu bahkan sampai dijadikan objek bahan taruhan cowok-cowok brengsek di sana. Sampai-sampai dia dibuat..."

Feby mendadak menghentikan kalimatnya. Ia tidak sanggup melanjutkan kata-kata yang teramat menyakitkan itu. Sebagai gantinya, Feby meletakkan mainan di tangannya lalu menggerakkan kedua tangannya, membuat isyarat melingkar di depan perutnya sendiri.

"Mas... Mas pasti tahu kan maksud isyaratku ini?" tanya Feby lirih dengan mata yang mulai berkaca-kaca karena larut dalam kesedihan sahabatnya.

Indra menelan ludahnya dengan susah payah. Tenggorokannya terasa begitu tercekat. "Maksudnya... dia hamil?"

"Iya, Mas! Dia hamil akibat perbuatan bajingan-bajingan itu!" sahut Feby, setetes air mata lolos di pipinya. "Tapi untungnya, Tuhan masih sayang sama dia. Masih ada pria baik hati di tempat rantaunya yang mau menikahi dia apa adanya. Berkat pernikahan itu, dia dan putranya terbebas dari gunjingan kejam masyarakat, dan yang paling penting, Elvano bisa lahir memiliki status dan identitas hukum yang jelas."

Indra terdiam seribu bahasa, meremas pelan jemarinya yang mendadak dingin. Rasa bersalah yang teramat besar menghantam relung hatinya. Namun, ia mencoba sekuat tenaga menata emosinya agar Feby tidak menaruh curiga.

"Aku... aku sangat salut dengan sahabatmu itu," ujar Indra dengan suara yang sedikit serak. "Dia begitu kuat dan tegar menghadapi semua cobaan hidup yang begitu berat. Kapan-kapan... bolehkah kau mengenalkan dia padaku?"

"Tentu saja boleh, Sayang! Dia itu sudah jadi sahabat dekatku sejak zaman sekolah dasar. Aku bangga sekali sama dia. Dan kamu harus tahu, berkat bantuan tangan dewa ku ini sebagai seorang fashion stylist, sekarang si itik buruk rupa itu telah bermetamorfosa menjadi angsa yang teramat cantik dan mengagumkan!" ucap Feby bangga, tersenyum lebar menghapus sisa air matanya.

‘Si... si itik buruk rupa?’

Mendengar sebutan legendaris itu keluar langsung dari bibir kekasihnya, jantung Indra berdentum begitu keras hingga telinganya berdenging. Seluruh badannya mendadak lemas.

Pikiran Indra langsung melesat kembali pada memori kampus enam tahun lalu. Julukan itu... julukan spesifik yang hanya digunakan oleh kelompoknya untuk merundung satu wanita cupu yang sama. Wanita yang malam panasnya di Hotel Permata telah mereka hancurkan bersama Tristan, dan Andre.

Indra memandangi Feby dengan tatapan syok yang teramat dalam, menyadari sebuah kenyataan pahit bahwa takdir baru saja menyeretnya masuk ke dalam pusaran masa lalu yang sedang berjalan menuju puncaknya.

*

*

Setibanya di rumah kontrakannya sore itu, Ananda tidak bisa menyembunyikan binar bahagia di wajahnya. Rasa lelah setelah seharian menghadapi sikap menyebalkan Tristan di Hotel Permata seolah menguap begitu saja. Ia sudah tidak sabar menunggu hari esok. Ananda bahkan langsung menghubungi Feby malam itu juga untuk mematangkan rencana mereka bertemu di salah satu mall besar di kota Jakarta demi merayakan ulang tahun Elvano.

Dan hari yang dinanti-nanti pun akhirnya tiba. Sejak pagi buta, Elvano sudah bangun dengan begitu antusias. Bocah kecil itu melompat-lompat kegirangan karena tahu hari ini sang ibunda akan mengajaknya jalan-jalan keliling kota metropolitan. Namun sayang, di tengah kebahagiaan itu, Bu Mila mendadak mengeluh kurang enak badan. Tubuhnya agak meriang dan lemas.

Melihat kondisi ibunya, Ananda seketika merasa bersalah. "Bu, apa kita batalkan saja ya acaranya? Nanda tidak tega meninggalkan Ibu sendirian di rumah dalam keadaan sakit begini," ucap Ananda cemas, bersiap menanggalkan tasnya.

Namun, Bu Mila langsung menggelengkan kepala dan melarangnya. Ia tersenyum lembut, tidak ingin merusak hari ulang tahun Elvano yang sudah lama didambakan oleh putri dan cucunya itu.

"Sudah, kamu pergi sana... Bukankah ada Nak Feby yang juga ikut merayakan?" ujar Bu Mila dengan suara seraknya.

"Iya sih, Bu, Feby sudah jalan ke sana. Tapi... Ibu yakin tidak apa-apa Nanda tinggal?" tanya Ananda memastikan, masih didera rasa ragu.

"Gak apa-apa, Nduk. Ibu cuma butuh istirahat dan minum obat saja. Sudah sana cepat pergi, nanti takut kejebak macet di jalan!" desak Bu Mila meyakinkan.

Setelah mencium kening ibunya dan memastikan semua kebutuhan sang ibu terpenuhi, Ananda akhirnya pergi bersama Elvano menggunakan taksi online menuju mall yang sudah direncanakan.

Sesampainya di lobi utama mall tersebut, rupanya Feby sudah berdiri menunggu di dekat pintu masuk. Penampilan Feby yang modis langsung mencuri perhatian, namun begitu melihat Ananda dan Elvano turun dari mobil, mata Feby berbinar. Wanita itu melambaikan tangannya dengan heboh, lalu berlari kecil memeluk erat Ananda, kemudian bergantian berlutut untuk memeluk gemas Elvano.

"Wah... kamu cantik sekali hari ini, Nanda! Kau lihat, para pria di sekitar sini sampai tidak berkedip memperhatikan kamu," goda Feby blak-blakan, membuat pipi Ananda merona. "Dan El juga ganteng banget pakai baju ini! Eh, tapi... Tante Mila mana? Kok tidak kelihatan?"

"Ibuku sedang tidak enak badan, By. Tadi agak meriang, jadi terpaksa istirahat di rumah," jawab Ananda agak lemas.

"Ya ampun, sakitnya gak pas banget ya sama momen penting ini. Ya sudah, tidak apa-apa, nanti setelah ini kita belikan makanan dan oleh-oleh yang enak untuk ibumu, ya!" hibur Feby dengan sifat cerianya yang menular.

Akhirnya mereka bertiga melangkah masuk ke dalam mall dan langsung menuju ke sebuah restoran bergaya keluarga yang cukup mewah. Rupanya, Feby telah memesan tempat khusus. Di atas meja bundar yang empuk, pihak restoran sudah menyiapkan kue ulang tahun kecil dengan lilin angka 5, lengkap dengan hidangan-hidangan lezat yang menggugah selera.

Saat mereka mulai duduk dan menikmati suasana, Feby tiba-tiba memajukan tubuhnya. Dengan raut wajah yang merona kemerahan dan senyum malu-malu, ia mulai menceritakan perihal kehidupan asmaranya yang baru.

Mendengar cerita sepintas dari sahabatnya, mata Ananda membelalak tidak percaya. "Hah, serius kamu pacaran sama seorang perwira polisi, By?"

"Seriuslah, Nanda! Aku dan kekasihku ini sudah mantap untuk berhubungan secara serius. Dia itu pria yang sangat baik, tampan, gagah, dan tentunya sudah mapan!" ucap Feby menggebu-gebu, memamerkan kebucinannya yang akut.

Ananda tersenyum tulus, ikut merasa lega. "Aku turut berbahagia mendengarnya, By. Akhirnya sahabatku ini menemukan pelabuhan hatinya."

"Eh, Nan..." Feby mencolek pelan tangan Ananda, wajahnya memelas manja. "Boleh tidak kalau kekasihku ikut bergabung merayakan ulang tahunnya El di sini? Dia sudah ada di jalan sambil bawa kado yang besar untuk El. Kebetulan hari ini dia lagi libur dinas."

Elvano yang sedang asyik memandangi kue ulang tahunnya langsung mendongak begitu mendengar kata 'kado besar'. Bocah itu tersenyum kegirangan. "Boleh, Tante Feby! El mau kado!"

Ananda tertawa kecil melihat tingkah putranya, lalu mengangguk ke arah Feby. "Boleh dong, By. Bawa saja ke sini. Sekalian aku juga ingin kenal dan menilai langsung calon suamimu itu!"

"Aih... apa sih, Nanda, aku jadi malu!" seru Feby sambil menutup wajahnya yang makin memerah, sukses membuat Ananda terpingkal.

Tak lama setelah Feby mengirimkan pesan singkat berisi nomor meja mereka, seorang pria bertubuh tegap dan atletis tampak melangkah masuk ke dalam area restoran. Pria itu tampil kasual namun berkarisma, mengenakan kaos polo berwarna putih bersih, celana jeans, topi putih, serta kacamata hitam yang bertengger di hidungnya. Di tangan kanannya, ia menjinjing sebuah kotak kado berukuran cukup besar yang mereka beli kemarin sore.

Pria itu mengedarkan pandangan sejenak sebelum akhirnya melambungkan lambaian tangan hangat ke arah meja mereka setelah melepas kacamata hitamnya.

"Akhirnya, sayangnya aku datang!" seru Feby riang seraya membalas lambaian tangan sang kekasih.

Mendengar seruan Feby, Ananda secara refleks menolehkan kepalanya ke arah kedatangan pria tersebut. Ia bermaksud memberikan senyuman ramah pertamanya sebagai tuan rumah acara. Namun, begitu bola mata Ananda menatap lekat garis wajah pria berkaos polo putih itu dari dekat, senyumnya langsung lenyap seketika. Tubuh Ananda membeku total, tangannya yang memegang tisu mendadak gemetar hebat.

Di sisi lain, langkah kaki Indra mendadak terkunci di atas lantai restoran. Pria tegap itu diam terpaku, matanya membelalak sempurna memandangi wajah wanita yang duduk di samping Feby.

Atmosfer di sekitar meja itu mendadak mendingin dan mencekam bagi mereka berdua.

‘Wanita ini... kenapa wajahnya mirip sekali dengan si itik?’ batin Indra menjerit di dalam hatinya, jantungnya berdegup kencang seperti dikejar setan.

Indra menatap tak berkedip pada struktur wajah, bentuk bibir, dan tatapan mata teduh yang kini menatapnya dengan pandangan syok sekaligus ketakutan. Ingatan Indra langsung melesat pada cerita Feby kemarin sore di toko mainan tentang sahabatnya yang bertransformasi dari 'itik buruk rupa' menjadi 'angsa cantik'.

‘Oh my God... Apakah wanita di hadapanku ini benar-benar si itik buruk rupa yang dicari-cari oleh Tristan sampai setengah gila? Kalau memang benar dia... berarti aku tidak perlu bersusah payah mencarinya sampai ke ujung dunia untuk menyelamatkan nyawaku dari Tristan!’ batin Indra berkecamuk hebat, menyadari bahwa kunci dari seluruh lingkaran setan masa lalu mereka kini duduk tepat di hadapan kekasihnya sendiri.

Bersambung...

1
Teh Yen
indra Lo Intel.napa.pula.smape.lupa.ngisi bengsin.hadeeuh
untung ketemu Kevin d bawah jd bisa ketemu Tristan
Teh Yen
aduh Feby hampir aj.ketauan tuh sama nenek sihir hadeuh 🙈
Teh Yen
beruntung ketemu indra d restoran yah JD niat buruk mmh d Bella bisa tercium jd bukti kasih ke Tristan
JR Rhna
yakin?
JR Rhna
bukannya 3 bulan ya
Teh Yen
yah c mmh blom tau aj KL yg ngehamilin itu.ank mmh sendiri loh 🤭
Teh Yen
gila lu orang sekantor pada tegang semua tau
haha dasar cowok.posesif.hihio
Teh Yen
tenang Tristan Jangan.marah" ananda cum.makam siang bersama rekan kerja ya Tidka lebih
Teh Yen
salah Lo Vin masuk ruangan bos engg ketuk.pintu dulu hihii 😁
Atik Kiswati
mksh buat ceritanya🙏
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: sama-sama kak 😊
total 1 replies
JR Rhna
kenapa aib kawan dicerita
JR Rhna
kalau aku punya bos begitu,sudah lama angkat kaki
Inooy
iih Tristan bikin aq meleleh aj niih,,dulu waktu masih jaman nya kuliah..kamu terkenal dengan kejam nya mem-bully,,skarang malah perlakuan romantis pake bangeeet..bikin siapa pun langsung menghalu dapet cowo modelan kamuuu 😊
Inooy: dn haluan ka El tuh Masya Allah bagus2, sering2 lah menghalu kaa biar para pembaca terhibur dengan kehaluan ka El 🤭
total 4 replies
Inooy
akhiir nyaaaa,,emosi ku bisa mereda hanya dengan meliat nyonya Mutia yg menyayangi Elvano...
emg sih yaaaa,,segarang garang nya nenek dn kakek ketika mempunyai cucu yg menggemaskan..akan luruh jg keangkuhan dn keegoisan nya,,dn ini fakta!!!
Inooy: liat nya adem ka El...
total 2 replies
Inooy
👏👏👏👏 hebat kamu Tris, kamu benar2 seorang pria gentleman..kamu berani mengesampingkan ego mu demi restu orangtua utk menikahi Ananda...👍👍
Inooy
ka Eeell, maafin aq klo aq bisa typo jg..itu Bianca siapa ituuu 🤣🤣🤣
aq malu ihh ma ka El, bisa2 nya aq nyebutin Bianca bukan nya Bella..ini niih gara2 nyonya Mutia yg bikin aq emosi, jd aj tangan ku kepeleset,,mana jauh lg kepeleset nya 🙈🙏🙏😂
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: /Good//Good//Good//Kiss//Kiss/
total 3 replies
Inooy
duuuhh,,ka El bikin situasi tegang makin tegang ini mah..d saat Tristan dn Ananda lg membahas masalah yg cukup pelik, tiba2 s nyonya besar muncul d waktu yg g tepat..apalagi s nyonya Mutia masih memandang sinis k Ananda, bikin aq pengen nyeleding nih nyonya sok berkuasa dn sok kaya ini...
padahal klo bukan Ananda siapa lg coba yg mo melahirkan keturunan Bratadikara?? Bianca yg suka gonta ganti laki?
ckckck..klo iya, makin tercoreng nama baik Bratadikara karena kelakuan Bianca..nyonya Mutia aj yg belum tau kebenaran nya, coba klo tau..aq yakin bakalan d depak jg tuh Bianca...

sabaaaarr,,sabaar..gara2 nyonya Mutia aq bawaan nya pengen ngomel mulu jd nyaaa /Facepalm/
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: kadang aku juga suka salah menuliskan nama pemeran karyaku sendiri, karena aku nulis lebih dari satu buku🤭
total 3 replies
Teh Yen
cie yg lagi jatuh cinta udh ganti aj panggilannya jd sayang cie cie engg berbunga bunga gmn tuh c ananda hihii
Teh Yen
smoga kamu berhasil meyakinkan kedua orang tua mu d bisa menerima ananda d elvano sebagai menantu d cucu mereka yah
Teh Yen
apakah orang tua Tristan dapat menerima ananda d elvano?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!