Mahardika yang harus menanggung penyakit kusta selama 3 tahun, setelah berobat di berbagai macam caranya, dari obat alternatif, hingga rumah sakit besar, tapi penyakitnya tak kunjung sembuh.
Hingga akhirnya, uang tabungan habis untuk berobat dan hanya tinggal sebidang tanah dan sebuah rumah yang tersisa. Dan itu tidak mungkin ia jual karena hanya itu satu-satunya peninggalan untuk anak dan istrinya.
Hingga akhirnya ia bermimpi ada seorang kakek datang dan memintanya untuk datang ke gunung Merapi jika ia mau sembuh.
Mahardika pun meminta izin dengan istrinya, dan berharap bisa sembuh jika ia berobat dengan kakek tersebut.
Hari berganti bulan, hingga akhirnya dia tahun berlalu. Kini Mahardika sudah sembuh total dan sehat kembali dan mendapatkan wasiat menjadi tabib.
Tapi saat ia pulang, alangkah terkejutnya dia. Karena rumah dan tanah itu sudah terjual, dan lebih sakitnya, anaknya ternyata di titipkan ke panti, sementara istrinya sudah menikah lagi.
Akhirnya ia membangun keh
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12
Keesokan harinya, sinar matahari pagi menerobos celah-celah jendela kayu rumah tua itu. Mahardika sudah bangun sejak fajar.
Setelah memastikan Amel masih tertidur pulas di dalam kamar yang sudah bersih dan nyaman, ia melangkah ke pekarangan samping rumah.
Ia membawa cangkul tua yang ia perbaiki, Mahardika mulai mengolah sepetak tanah yang kemarin sudah dibersihkan dari semak belukar.
Ia mencangkulnya dengan sangat mudah.
Ia menanam beberapa benih tanaman herbal yang sempat ia kumpulkan dari lereng Gunung Merapi.
"Dengan energi murni yang kualirkan ke tanah ini, tanaman obat ini akan tumbuh dalam hitungan hari," gumam Mahardika pelan.
Saat sedang merapikan bedengan tanah, dari arah jalanan desa, suara deru mesin mobil mewah terdengar mendekat.
Sebuah sedan hitam mewah berhenti tepat di depan pekarangan rumahnya.
Pintu mobil terbuka.
Seorang wanita berpakaian mewah dengan perhiasan emas yang cukup besar di leher dan tangannya keluar dari mobil.
Di belakangnya, seorang pria paruh baya dengan setelan jas mahal ikut turun.
Wanita itu adalah Siska—adik iparnya.
Siska menatap rumah kayu tua itu dengan pandangan jijik, sebelum matanya tertuju pada Mahardika yang sedang memegang cangkul dengan pakaian sederhana.
"Rupanya telepon kemarin bukan mimpi," ucap Siska dengan nada sinis.
"Kamu benar-benar masih hidup, Mahardika. Dasar manusia bermuka tebal, sudah melarat, masih saja menyusahkan keluarga!" oceh Siska.
Mahardika tidak segera menjawab. Ia menancapkan cangkulnya ke tanah, lalu mengusap tangannya dengan kain lap.
"Siska. Datang ke sini untuk meminta maaf karena sudah membuang Amel dan menjual tanah ini secara ilegal?" kata Mahardika datar.
Siska tertawa. "Meminta maaf? Kamu gila?! Kenapa aku harus minta maaf pada pengemis seperti kamu?!"
Pria di samping Siska melangkah maju. Ia merapikan jasnya lalu menatap Mahardika dengan pandangan merendahkan dari atas ke bawah.
"Kenalkan, aku Haryo. Aku pembeli sah lahan ini dari Siska, sekaligus rekan bisnis dari suami baru kakak iparmu. Dengar ya, Bocah... aku tidak peduli kamu ini hantu atau orang hidup. Sertifikat tanah ini sudah dibalik nama!" ujar pria itu dengan suara berkuasa.
"Dibalik nama dengan dokumen palsu dan tanda tangan rekayasa. Tanah ini milik almarhumah ibuku. Siska tidak punya hak sepeser pun untuk menjualnya!" potong Mahardika dingin.
"Halah! Jangan sok suci kamu, Mahardika! Waktu Mbakku butuh uang dan kamu cuma bisa terbaring sakit-sakitan seperti mayat, di mana kamu?! Suami baru Mbakku yang menyelamatkan hidupnya! Kamu itu cuma masa lalu yang memuakkan!" maki Siska dengan keras.
"Lalu kenapa kalian membuang Amel ke panti asuhan?! Anak kecil tak berdosa kalian telantarkan demi mengejar kemewahan?!" kata Mahardika dengan sura meninggi.
"Anak itu cuma beban! Suami Mbak yang baru tidak mau memelihara anak dari lelaki miskin seperti kamu! Lebih bagus dia di panti daripada bikin sempit rumah mewah Mbakku!" kata Siska dengan ketus.
"Kalian benar-benar manusia tak berhati," desis Mahardika sangat rendah.
Haryo yang merasa diabaikan merogoh saku jasnya dan mengeluarkan sebuah buku cek.
Ia menuliskan sebuah angka lalu merobek kertas cek tersebut dan melemparnya ke dada Mahardika.
Kertas cek itu melayang dan jatuh di atas tanah di dekat kaki Mahardika.
"Di situ tertulis lima puluh juta rupiah. Ambil uang itu, bawa anakmu, dan angkat kaki dari tanah ini sebelum sore nanti. Kalau kamu masih di sini nanti sore, aku akan membawa puluhan anak buahku dan ekskavator untuk meratakan tempat ini bersama kamu dan anakmu di dalamnya!" kata Haryo dengan senyum merendahkan.
Mahardika menunduk sebentar, menatap kertas cek lima puluh juta yang tergeletak di atas tanah, lalu kembali menatap Haryo dan Siska.
"Lima puluh juta?" Mahardika tersenyum dingin.
Cres!
Tanpa menyentuh kertas itu dengan tangannya, Mahardika mengalirkan energi ke jarinya dan hanya menunjuk ke arah kertas tersebut.
Kertas cek di atas tanah itu seketika terpotong-potong menjadi halus dan diterbangkan angin tepat ke wajah Haryo dan Siska.
"Apa-apaan ini?!" jerit Siska kaget seraya menepis serpihan kertas dari wajahnya.
"Uang sampahmu tidak berlaku di sini. Simpan uang itu untuk biaya pengobatan kalian berdua nanti!" ucap Mahardika tajam.