Naik jabatan menjadi sekretaris CEO Adrian Dewangga (33) harus dibayar mahal oleh Nayla Safira (27). Ayahnya tewas usai menyelamatkan orang tua Adrian dalam kecelakaan maut. Demi melunasi utang nyawa dan menjalankan wasiat terakhir sang ayah, Adrian dan Nayla terpaksa menikah secara rahasia.
Awalnya, Adrian menyetujui pernikahan rahasia ini karena baginya pernikahan tersebut murni sebuah bentuk tanggung jawab, bukan karena cinta. Di sisi lain, Nayla yang bertubuh gemuk memilih bersembunyi karena minder dan tak ingin dituduh memanfaatkan keadaan. Namun, setahun hidup berdampingan membuat rasa tanggung jawab Adrian perlahan menjelma menjadi cinta yang dalam. Ia muak terus berpura-pura asing.
Saat mereka akhirnya sepakat untuk membuka hati, status pernikahan itu justru terbongkar ke publik. Kejamnya dunia menghantam Nayla dengan tuduhan paling menyakitkan, ia dianggap tega menukar nyawa ayahnya demi posisi mewah di samping sang CEO.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27 - Kehangatan di rumah
Langkah kaki Nayla melangkah pelan memasuki pintu utama rumahnya. Rasa lelah secara emosional usai pertengkaran di parkiran supermarket tadi masih menyisakan sedikit letih di matanya.
Namun, rasa lelah itu seketika sirna tatkala pandangannya menangkap sosok Adrian yang ternyata sudah lebih dulu sampai di rumah. Pria jangkung itu sudah menanggalkan jas resminya, hanya mengenakan kemeja putih dengan lengan yang digulung rapi hingga ke siku.
"Sayang... kamu sudah pulang?" sapa Adrian hangat, langsung mendekati istrinya dan menyambar tas-tas plastik belanjaan dari tangan Nayla.
"Iya, Mas..." sahut Nayla tersenyum tipis.
Mereka berdua melangkah bersama menuju area dapur. Namun, saat Nayla hendak bergerak menuju meja kompor, Adrian yang peka menyadari raut wajah istrinya yang tampak kehabisan energi. Pria itu menahan lengan Nayla lembut, memimpinnya duduk di salah satu kursi bar dapur.
"Duduk dulu sebentar, Sayang," tutur Adrian penuh perhatian.
Adrian mengambil sebuah gelas bersih, menuangkan air putih hangat, lalu menyodorkannya ke hadapan Nayla. Tangan tegapnya terulur membelai lembut helai rambut sang istri dengan pendar mata yang amat cemas.
"Apa terjadi sesuatu saat kamu berbelanja tadi, Sayang?" tanya Adrian penuh selidik namun terdengar begitu lembut.
Nayla menerima gelas itu, meminumnya perlahan sebelum menatap suaminya. "Mas... kamu ini pintar banget ya membaca ekspresi wajahku?"
"Tentu saja. Wajah istriku adalah hal yang paling sering aku perhatikan," sahut Adrian tersenyum tipis. "Jadi, ada apa?"
"Ya... ada sedikit drama tadi, Mas," aku Nayla akhirnya. "Aku bertemu Ibu lagi... bersama putri manjanya itu."
Alis Adrian seketika berkerut tajam, auranya memikirkan hal buruk. "Apa mereka membuat masalah denganmu, Sayang? Katakan padaku, biar aku memberi mereka pelajaran sekarang juga!"
Nayla tertawa kecil seraya menggelengkan kepala, menepuk pelan tangan suaminya. "Tidak perlu, Mas. Mereka itu sebenarnya sudah berada di titik terendah kok. Bahkan tadi di kasir... mereka sampai tidak bisa membayar barang belanjaannya sendiri karena saldonya kurang."
Nayla terkekeh renyah mengingat kembali kejadian di supermarket dan area parkiran. "Sumpah ya Mas, tadi ekspresi si Anita itu lucu dan kasihan banget! Pakaiannya sok glamour dan bergaya banget, eh ternyata isi dompet dan saldonya kosong melompong! Terus waktu di parkiran, dia mencoba mendorongku... eh, dia sendiri yang malah kehilangan keseimbangan sampai jatuh terhempas ke lantai!"
Raut wajah Adrian yang tadinya melunak seketika kembali menegang tajam. "Apa?! Dia berani mencoba menyakitimu?! Itu benar-benar tidak bisa dibiarkan, Sayang!"
"Ah, sudah Mas... Aku kan baik-baik saja, tidak terluka sedikit pun," bisik Nayla menenangkan suaminya seraya bangkit dari kursi. "Lupakan saja soal mereka. Ayo, lebih baik kita masak untuk makan malam."
Namun, Adrian menahan pundak Nayla. "Biar aku saja yang masak malam ini, Sayang. Kamu duduk manis saja di sini."
Nayla menatap suaminya dengan pandangan ragu dan geli. "Mas... yakin bisa masak?"
Adrian menepuk dadanya bangga. "Sayang... jangan pernah meremehkan suamimu ini, ya!"
"Aku tidak meremehkan kok, Mas..." kekeh Nayla menggoda. "...aku cuma takut Mas bakal membakar dapur kita saja!"
Tawa renyah seketika pecah di antara mereka berdua.
"Tidak akan, Sayang!" ujar Adrian tertawa. "Kalau begitu, kamu jadi asistenku ya. Coba tunjukkan, kamu beli apa saja tadi?"
Nayla mulai mengeluarkan bahan-bahan dari kantong belanjaan ke atas meja pualam. "Ini ada udang segar, daging ayam, sama ikan... Mas mau masak yang mana?"
"Masak udangnya saja ya, Sayang," putus Adrian mantap.
"Oke! Kalau begitu aku siapin bahan-bahan dan bumbunya, nanti Mas yang eksekusi di atas wajan ya!"
Adrian mengacungkan jarinya membentuk tanda 'OK' dengan percaya diri.
Sesi memasak pasangan suami-istri muda itu pun berlangsung begitu hangat dan penuh canda tawa. Lucunya, setiap kali Adrian berhasil melakukan satu tahap sederhana, seperti berhasil mengiris bawang tanpa meneteskan air mata, berhasil menumis bumbu hingga beraroma harum, atau berhasil menggoreng udang hingga warnanya berubah merah keemasan dengan sempurna, pria itu selalu menagih imbalan.
"Sayang, lihat! Warnanya sudah sempurna, kan? Mana imbalanku?" pinta Adrian memajukan pipinya.
Nayla yang gemas hanya bisa menyerah, mendaratkan kecupan manis di pipi suaminya setiap kali Adrian menagihnya.
Beberapa saat kemudian, masakan akhirnya selesai disiapkan. Nayla sedang mengaduk tumisan brokoli sebagai hidangan penutup di atas kompor. Tiba-tiba, dari arah belakang, dua lengan tegap Adrian melingkar mesra di pinggangnya, mendekap tubuh berisi Nayla dengan sangat erat dan hangat.
"Gimana, Sayang? Enak kan rasanya masakan suamimu ini?" bisik Adrian tepat di telinga Nayla.
Nayla menyendok sedikit kuah tumisan, mencicipinya, lalu tersenyum jahil. "Hmm... lumayan juga sih, Mas. Aku beri nilai 8 dari 10 deh!"
"Lho? Kenapa cuma delapan?" protes Adrian cemberut tipis.
"Soalnya irisan brokolinya kurang estetik, Mas... Terlalu besar-besar," goda Nayla tertawa.
Nayla mematikan kompor gas, lalu mencoba merenggangkan pelukan Adrian. "Sudah ah, Mas... Lepaskan dulu. Aku mau ke kamar untuk bersiap mandi lalu kita makan malam bersama. Bukankah Mas tadi bilang sudah sangat lapar?"
Namun, bukannya melepaskan, Adrian justru semakin mempererat pelukannya. Pria itu menundukkan kepala, mendaratkan ciuman-ciuman hangat dan kecupan lembut di leher Nayla, membuat istrinya merinding geli.
"Iya, Sayang... aku memang sangat lapar," bisik Adrian dengan suara rendah yang begitu dalam dan berat. "Tapi... daripada makanan ini, aku jauh lebih ingin memakanmu lebih dulu..."
Sret!
Tanpa aba-aba sedikit pun, Adrian langsung menyelipkan tangannya di bawah lipatan lutut dan punggung Nayla, menggendong istrinya bergaya bridal style ke dalam dekapan tegapnya.
"Mas?!" pekik Nayla kaget setengah mati, refleks mengalungkan kedua tangannya di leher Adrian. "Mas, turunkan aku!"
"Diamlah, Sayang..." goda Adrian dengan binar mata penuh gairah nan hangat seraya melangkah keluar dari dapur. "...atau kamu mau kita melakukannya di atas meja dapur ini sekarang?"
Pipi Nayla seketika membara merah padam bagaikan udang rebus. Ia mencubit lengan tegap Adrian dengan gemas, lalu menggelengkan kepalanya malu-malu seraya menyembunyikan wajahnya di dada bidang suaminya.
Adrian tersenyum puas. Ia membawa istrinya masuk ke dalam kamar mereka, menutup pintu rapat-rapat, dan memulai malam mereka yang indah dan penuh kehangatan cinta.
***
Sangat bertolak belakang dengan ketenangan dan kebahagiaan yang melingkupi kediaman Adrian dan Nayla...
Di kediaman keluarga Baskoro, suasana ruang keluarga terasa begitu tegang dan panas. Anita duduk bersungut-sungut di sofa dengan wajah cemberut dan napas memburu, mengadu habis-habisan pada papanya, Tuan Baskoro.
"Pa! Papa tahu tidak?! Ternyata Mama itu punya anak dari pernikahannya yang dulu!" cerceh Anita dengan nada tinggi. "Dan anak Mama itu... adalah si Nayla! Sekretarisnya Pak Adrian Dewangga!"
Tuan Baskoro yang sedang membaca berkas keuangan perusahaan seketika mendongak, alisnya berkerut kaget. "Apa?!"
"Iya, Pa!" lanjut Anita berapi-api, matanya membelalak penuh iri dengki. "Dan Papa harus tahu... si Nayla yang bentuk tubuhnya tidak menarik itu ternyata punya suami yang kaya raya! Mobil yang dia pakai tadi saja jauh lebih bagus dan jauh lebih mahal daripada mobilku yang sudah Papa jual bulan lalu buat menutupi kerugian perusahaan!"
Tuan Baskoro membelalakkan matanya lebar-lebar. "Benarkah itu, Ma?!"
Bu Dewi yang duduk di samping istrinya tertunduk lesu dengan wajah pucat. Ia mengangguk pelan seraya meremas jemarinya. "P-Pa... Mama bisa jelaskan... Maafkan Mama jika selama ini Mama tidak jujur soal masa lalu Mama..."
Namun, di luar dugaan Bu Dewi dan Anita, Tuan Baskoro justru tidak marah sedikit pun. Pria paruh baya yang matanya sedang gelap akibat krisis keuangan itu justru tersenyum lega.
"Tidak apa-apa, Ma... Itu sama sekali bukan masalah!" sahut Tuan Baskoro cepat. "Kata Anita tadi, anakmu itu bekerja sebagai Sekretaris CEO di Dewangga Group, kan? Kalau begitu... kita bisa minta tolong padanya!"
"Minta tolong?" tanya Bu Dewi bingung. "Maksud Papa... minta tolong membujuk Pak Adrian agar mau membeli kembali lahan kita?"
"Iya, Ma! Tepat sekali!" ujar Tuan Baskoro bersemangat. "Kondisi perusahaan kita sedang terdesak. Mencari pembeli lain dengan penawaran setinggi Dewangga Group itu sangat sulit! Kalau anakmu itu sekretaris pribadinya, dia pasti punya pengaruh!"
Anita menyela cepat dengan raut wajah tidak setuju. "Mana bisa begitu, Pa?! Alasan Pak Adrian membatalkan transaksi kemarin kan karena istrinya tidak suka! Lagipula... mana mungkin seorang Adrian Dewangga mau menuruti bujukan wanita seperti Nayla?!"
"Iya, Pa... Anita benar," timpal Bu Dewi ragu. "Nayla itu kan cuma sekretaris biasa. Meminta tolong padanya untuk membujuk Pak Adrian itu sangat sulit."
Tuan Baskoro mengibaskan tangannya, tersenyum licik. "Kalau membujuk Pak Adrian sulit... kenapa kita tidak memanfaatkan suaminya saja?!"
"Suaminya?" ulang Bu Dewi dan Anita kompak.
"Iya!" tegas Tuan Baskoro dengan mata berbinar licik. "Kata Anita tadi, suami anakmu itu sangat kaya raya, kan? Coba kamu dekati Nayla baik-baik, Ma... Manfaatkan hubungan darahmu sebagai ibu kandung! Siapa tahu suaminya yang kaya itu mau memberikan kita suntikan modal atau investasi tanpa kita harus kehilangan lahan!"
Bu Dewi yang mendengar ide itu seketika mengangguk-angguk setuju, senyum kelegaannya mulai terulas. "Ah... benar juga ya, Pa! Ya sudah kalau begitu, Mama akan coba mendekati Nayla. Meminta bantuan pada Pak Adrian memang sulit... jadi kita fokus minta bantuan ke suami kaya milik Nayla saja!"
Anita mendengus kesal. Merasa muak karena pembicaraan justru berfokus pada keberuntungan Nayla, gadis itu bangkit dari sofa dan melangkah masuk ke kamarnya seraya menghentakkan kaki.
Sementara itu, Tuan Baskoro dan Bu Dewi tersenyum puas, merasa telah menemukan jalan keluar emas untuk menyelamatkan keuangan mereka...
Sama sekali tidak menyadari bahwa sosok 'Pak Adrian' yang ditakuti dan 'suami kaya Nayla' yang ingin mereka manfaatkan... adalah satu orang pria yang sama.
best suka ama ceritanya
❤❤