Kay Morgan Semua orang mengenalnya sebagai sosok yang nyaris sempurna. Ketua OSIS yang tampan memikat, berwibawa, dan selalu menjadi pusat perhatian. Baginya, dikejar dan didambakan oleh banyak gadis adalah hal yang wajar, bahkan seolah sudah menjadi takdir hidupnya. Aurora Grey Seorang gadis cantik yang sangat membenci hal-hal biasa dan membosankan. Ia terlihat ceroboh, namun sebenarnya penuh taktik dan kecerdikan. Ia mampu dengan mudah mengungkap rahasia tergelap Kay dan teman-temannya — hingga akhirnya namanya menjadi sosok yang paling ditakuti di seluruh sekolah. Kisah ini bermula dari sebuah perjanjian berbahaya: antara gadis yang terbiasa dimanja, dan pemuda yang tampan bagai dewa namun berhati iblis. "Hubungan jarak jauh itu hanya berarti satu hal: 75% kemungkinan bosan, 25% kemungkinan berselingkuh." Tanpa peringatan, Kay mempererat pelukannya erat di pinggang Aurora. "Dan kau sekarang punya kesempatan itu — persis 25 persen. Rafael tak akan pernah tahu apa-apa." "Kau yakin... kau tak punya niat menjadikan aku selingkuhanmu, bukan?" tantang Aurora, namun di balik kata-katanya itu,Kay hanya tersenyum lebar — senyum yang memikat sekaligus berbahaya. Bersama mereka, kau akan diajak merasakan sensasi kebahagiaan, dan rasa berdebar... yang seharusnya tidak pernah terjadi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ruka_21, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Helm Devandra
"Pelan-pelan!"
"Lo kekencengan, fuck!"
"Ini belum kena astaga!" Kesal Rora, ketika Kay Morgan heboh sendiri di tempatnya—bahkan kapas di tangannya belum menyentuh luka di pelipis Kay Morgan.
"Gimana mau dibersihin, kalau lo aja teriak-teriak terus?" Sialan si Kay Morgan ini! Muka aja sangar, sok-sokan bilang nggak sakit pas ditanya, baru liat kapas sama alkohol aja udah teriak-teriak.
"Ya, lo pelan-pelan!"
"Pelan-pelan gimana, orang kena aja belum," balas Rora gemas sendiri.
Selanjutnya Rora menarik kaos Kay Morgan untuk mendekat. Jangan salah paham, Rora nggak lagi modus—biar gampang aja obati luka Kay Morgan. "Sini deketan!"
"Udah. Kurang deket?" Rora melotot ketika wajah Kay Morgan mendadak mendekat sampai ujung hidung keduanya bersentuhan.
Langsung saja Rora mendorong Kay Morgan agar menjauh darinya. "Modus lo?" sinis Rora mulai membersihkan luka Kay Morgan dengan alkohol.
Detik selanjutnya, berbagai umpatan lolos dari bibir cowok itu bibir tipis Kay Morgan. Rora sendiri yang mulai kesal mendengarnya, dengan sengaja menekan luka Kay Morgan. "Aw! Sakit anjing!"
"Kasar banget sih. Katanya nggak sakit," cibir Rora lantas mengambil kain kasa dan perban. Gadis itu dengan telaten dan hati-hati membalut luka di pelipis Kay Morgan.
Dengan jarak keduanya yang sangat dekat, tanpa Rora sadari jika sejak tadi, Kay Morgan tengah memandangi wajahnya lekat-lekat. Tatapannya sulit diartikan, seolah memikirkan sesuatu yang mengganjal dalam dirinya. Tersadar dengan apa yang dilakukannya, Kay Morgan mengalihkan pandang. Lantas dengan sengaja bernafas kasar di telinga Rora.
"Udah belum, lama banget! Modus lo?" tuduh Kay Morgan kepada Rora.
Langsung saja Rora berdecak sebal mendengarnya, ge-er banget sih! "Udah tuh! Mana lagi yang luka?"
"Nggak ada," jawab Kay Morgan lantas menyentuh pelipisnya yang sudah terbalut perban.
"Itu siku lo luka." Rora menunjuk beberapa luka di siku dan tangan Kay Morgan.
"Cuma luka kecil." Detik selanjutnya Kay Morgan merasa tangannya ditarik ke pangkuan Rora, gadis itu mulai membersihkan luka di tangannya.
"Lebay!" sinis Kay Morgan dengan suara pelan, seraya melirik ke arah Rora yang tengah menempelkan plester bergambar dinosaurus ke tangannya.
Kay Morgan mendengus kesal, namun juga tidak menolak.
"Mana lagi yang luka?" tanya Rora lagi berbaik hati.
Kay Morgan tidak langsung menjawab, cowok itu menatap Rora intens. "Perut gue, tadi kena pukul. Lo mau kompresin?"
Rora tercekat melihat Kay Morgan hendak melepas kaosnya. "Lo mau ngapain?!"
"Gue? Katanya lo tanya mana lagi yang luka." Kay Morgan tersenyum miring dengan menggoda.
"Ng-nggak!"
"Apanya yang nggak?"
"Ish! Maksudnya nggak jadi. Nanti lo kompres sendiri di rumah," jelas Rora setengah emosi.
Kay Morgan berdecak. "Ah! Gimana sih lo, plin-plan."
Cowok itu lantas beranjak, melirik ke arah Rora yang tengah membereskan kotak P3K dari tempatnya.
Kay Morgan berdehem lantas mengalihkan pandang ke arah lain.
"Balikin HP gue!" Rora langsung mengangkat wajahnya, kedua matanya menyipit tidak suka. Tanpa menjawab gadis itu merogoh sakunya, mengembalikan ponsel milik Kay Morgan.
"Pulang lo!" perintah Kay Morgan dengan nada ketus seraya memasukkan ponselnya ke dalam saku celana.
"Iya-iya, ini gue juga mau pulang kali!" sanggah Rora lantas beranjak dari tempatnya, berjalan melewati Kay Morgan untuk keluar dari ruang UKS—membuat Kay Morgan mengekor langkah di belakang gadis itu.
Keduanya berjalan keluar sampai lapangan sekolah.
Sungguh! Rora dibuat terkejut dengan pemandangan di hadapannya. Bagaimana tidak? Terdapat banyak senjata dan batuan berserakan di sana, membuat lapangan sekolah terlihat seperti baru saja terkena tsunami. Jangan lupakan darah yang juga berceceran yang sukses membuat tubuh Rora menegang detik itu juga.
Di sisi lain, Kay Morgan yang menyadari perubahan ekspresi wajah Rora mendengus kesal. Cowok itu berjalan mendahului Rora yang tiba-tiba berhenti di jalan, oh! Dengan sengaja juga Kay Morgan menyenggol lengan Rora agar gadis itu berhenti melamun.
"Pulang lo! Nunggu gue anterin?"
Mendengar cemoh itu, Rora mengepalkan tangannya kesal. Nyesel gue obatin luka dia! batin Rora merasa dongkol, mana itu cowok nggak bilang makasih.
Nyebelin banget, sumpah!
"Sorry, nggak butuh!" Lantas Rora berjalan ke arah pintu gerbang sekolah, sementara Kay Morgan berjalan menghampiri teman-temannya yang terlihat tengah membereskan properti yang masih tertinggal di lapangan.
🐼🐼🐼
Untuk pertama kalinya, Rora merasa hidupnya sangat sialan dan bodoh secara bersamaan.
Mau tau alasannya?
Okay! Rora sudah 30 menit berdiam diri di sisi trotoar, sendirian—tanpa uang dan ponsel, seolah berharap orang asing datang dan mengantarnya pulang dengan senang hati.
Stupid lo, Ra! Mau sampe Dora ulang tahun juga nggak bakal bisa pulang kalau gini.
Sekali lagi Rora melirik ke arah gerombolan Kay Morgan yang masih berada di lapangan SMA Garuda Indonesia. Jika tidak salah mereka membersihkan lapangan sesekali berteriak ricuh. Detik selanjutnya Rora menggeleng, menepis pikiran yang terlintas di otak cantiknya.
Inget harga diri lo! tekan Rora pada dirinya sendiri.
Detik selanjutnya Rora menghela nafasnya, langit sudah gelap—ibunya pasti panik kalau dirinya tidak kunjung pulang. Gadis itu menutup wajahnya dengan kedua tangan, berdiam diri beberapa saat untuk mengumpulkan nyali.
Persetan sama harga diri, yang penting bisa pulang!
Dan pada akhirnya, dengan sangat amat terpaksa Rora melangkahkan kakinya masuk ke area sekolah. Berjalan menghampiri gerombolan Kay Morgan dengan penuh percaya diri.
"Anjir! Rora dateng ke sini!" Devandra menjadi orang yang paling heboh ketika melihat Rora mendekat ke arah mereka.
Sialan! Bikin tambah deg-degan aja!
Mendengar itu, Kay Morgan yang tengah menyingkirkan sound system menoleh acuh. "Ada apa cantik?" goda Digo kesenangan nggak jelas.
Sementara Mahendra yang tengah merokok di sebelah Digo dengan sengaja menghembuskan asap rokoknya ke arah Rora. Cowok itu menjadi satu-satunya orang yang tidak suka melihat kehadiran Rora.
"Ngapain lo masih di sini?" sinis Mahendra yang membuat Kael William menendang lutut cowok itu.
"Biarin aja, dia lagi kekurangan darah suci," jelas Devandra yang membuat Digo ngakak sambil memukul-mukul lengan Tristan.
Rora tidak berminat membalas ucapan teman-teman Kay Morgan, dengan nekat berjalan menghampiri Kay Morgan yang sejak tadi tidak meliriknya. "Kenapa?" tanya Kay Morgan bingung melihat Rora menghampirinya.
"Pinjem HP!" jawab Rora singkat, membuat Kay Morgan tersenyum miring ke arahnya.
Gadis itu tahu, Kay Morgan tengah mengejeknya.
Sabar Rora! Lo lagi minta tolong.
"Buat apaan?" balas Kay Morgan seolah menganggap remeh keberadaan gadis itu.
"Ta-tas gue dibawa temen gue, HP sama dompet gue ada di sana," jelas Rora yang membuat Mahendra mendesis ke arahnya.
"Alasan tuh!" Diam-diam tangan Rora terkepal kuat di sisi roknya, menahan gejolak amarahnya.
"Mau gue anterin balik?" Itu suara Digo, yang langsung dihadiahi pukulan oleh Devandra yang merasa tidak terima.
"Sama gue aja Rora, dijamin sampe rumah masih komplit." Sekali lagi, Rora tidak menghiraukan godaan yang dilontarkan teman-teman Kay Morgan.
Gadis itu masih menatap lekat wajah Kay Morgan yang hanya diam sejak tadi. "Nih!" Detik selanjutnya, cowok itu menyodorkan benda pipih ke arahnya. Membuat mata kedua gadis itu berbinar detik itu juga.
"Makasih." Langsung saja Rora mengambil alih ponsel milik Kay Morgan, mengetikkan sandi yang sudah dirinya ketahui sebelumnya.
Tak lama gadis itu mengernyit, bibirnya mendadak kering ketika tidak kunjung menemukan aplikasi yang dirinya butuhkan, belum lagi tatapan Kay Morgan yang terasa mengawasinya. "Gu-gue boleh download aplikasi GOJEK?"
Mati aja lo, Rora! Harga diri lo udah terhempas ke Antartika.
Ya gimana dong? Ini cowok nggak ada aplikasi buat pesan ojek online, mau mengirim pesan ke Ayah atau ibunya nggak hafal nomor mereka. Orang nomor sendiri aja dia nggak hafal.
Melihat sorot mata yang dilemparkan Kay Morgan kepadanya, membuat tubuh gadis itu semakin lemas. Lo salah minta tolong sama orang kaya Kay Morgan!
Langsung saja Rora mengembalikan ponsel itu kepada pemiliknya. "Nggak jadi, makasih."
Rora lantas beralih menatap satu-persatu wajah teman-teman Kay Morgan. "Ada yang punya aplikasi GOJEK?" Jangan tanya seberapa malunya Rora saat itu!
Langsung saja Devandra mengangkat tangannya. "Gue ada dong!" seru Devandra siap menyerahkan ponselnya kepada Rora.
"Iya lah! Orang kerjaan sampingan lo jadi tukang ojek online," cibir Digo yang tidak diladeni oleh Devandra.
Ngapain ngeladenin omongan binatang?
Rora berniat mendekat ke arah Devandra, namun tiba-tiba Kay Morgan menarik kerah belakang seragam Rora. Tentu saja hal itu membuat Rora mau tak mau berjalan mundur mengekor langkah Kay Morgan yang terus menariknya sampai ke parkiran, jika tidak mau tercekik.
Sumpah ini cowok maunya apa sih? Nggak punya peri kemanusiaan.
"Eh! Eh! Eh! Lepasin!" teriak Rora panik dan bingung.
Devandra sendiri langsung mendelik tidak terima, seolah baru saja kehilangan sesuatu yang bahkan belum dimiliki. "Anjir sih Kay Morgan sukanya ngembat punya orang!"
"Ish! Lepasin dong gue kecekik ini!" Mendengar itu, Kay Morgan langsung melepaskan cekalannya pada kerah Rora.
Rora sendiri langsung memutar tubuhnya menghadap ke arah Kay Morgan, melayangkan tatapan kesal ke arah cowok itu. "Kok lo main tarik-tarik aja sih?!"
Bukannya menjawab, Kay Morgan justru mengambil helm dari motor Devandra yang sialnya terparkir di sebelah motor Kay Morgan. Cowok itu memakaikan helm kebesaran milik Devandra ke kepala Rora — tentu saja kepala Rora langsung tenggelam.
Itu helm gede banget kalau dibandingin kepala Rora yang kecil.
"Ih! Helmnya bau!" Ketika Rora hendak melepas helm milik Devandra dari kepalanya, Kay Morgan langsung mencegahnya dengan menahan tangan gadis itu.
"Pake, lo mau kena tilang?"
"Tapi bau!" Duh! Semoga aja si Devandra nggak denger.
Rora yang luar biasa lemot mencoba memahami situasi yang tengah dihadapinya. Gadis itu berdiri mengamati Kay Morgan yang tengah menaiki motor ninjanya, lantas memakai helm full face.
"Lo mau nganterin gue?"
"Menurut lo?" balas Kay Morgan sedikit acuh seraya menghidupkan mesin motornya.
Kay Morgan membuka kaca helmnya. "Cepat! Sebelum gue berubah pikiran nih!" kata Kay Morgan meniru ucapan Rora.
Sejenak Rora terpaku. Apa emang semua cowok kelihatan keren kalau lagi naik motor? Karena selain pacarnya Shayen, Kay Morgan terlihat keren dengan motor besar dan kaos hitam.
Rora langsung menggeleng — lo mikir apa sih?
"Terpesonanya nanti lagi, sekarang naik!" Melihat senyum miring di balik helm itu, Rora mendengus kesal.
Dih! Sok iye banget ini cowok! Cakepan juga pacar gue.
Dengan terpaksa, Rora menaiki motor Kay Morgan. Karena kesusahan juga, dengan amat sangat terpaksa gadis itu memegangi pundak Kay Morgan. Detik selanjutnya, deru motor milik Kay Morgan terdengar — cowok itu mulai melajukan motornya keluar ke arah gerbang sekolah.
Rora sendiri berusaha menjaga jarak agar tubuhnya tidak menempel dengan Kay Morgan, gadis itu hanya berpegangan pada pundak dan jok belakang motor Kay Morgan. Namun tiba-tiba Kay Morgan melakukan rem mendadak, membuat tubuh Rora terdorong ke depan — menekan punggung kokoh milik Kay Morgan. Tidak hanya itu, tangannya reflek melingkar di perut cowok itu.
Tak lama setelahnya suara ricuh dari teman-teman Kay Morgan terdengar, begitu menyebalkan dan mengganggu.
"GAS KAY!!!"
"GAS TERUS WOYYY!!!"
"JANGAN KASIH KENDOR!"
"ANJIR KAY MORGAN! PUNYA KAKAK SENDIRI DI MODUSIN!"
"Bacot anjing!" kata Tristan merasa kesal dengan Digo yang berteriak heboh di sebelahnya.
Sementara itu Rora langsung kembali memberikan jarak di antara dirinya dan Kay Morgan. Dalam hati gadis itu merutuk, ini gue nggak bakal nyesel kan dianter balik sama Kay Morgan?
Tapi tunggu! Maksud temen Kay Morgan apa? Emang Kay Morgan punya kakak? Hubungannya apa coba? Nggak jelas banget!
Selepas kepergian Kay Morgan dan Rora — di tempatnya Devandra mengernyit, merasa ada yang aneh dan tidak beres.
"Itu helmnya kok mirip punya gue ya?" tanya Devandra kepada dirinya sendiri.
Mencoba memastikan, Devandra menoleh ke arah parkiran di mana motornya berada. Dan benar saja, helmnya sudah raib tanpa jejak.
"BANGSAT SI KAY MORGAN, GANTENG DOANG! HELM SAMA PACAR ORANG DI EMBAYAT!"
Digo tiba-tiba ikut mengernyit, menyadari hal yang lebih janggal dari hilangnya helm Devandra. "Eh anjing! Harusnya kan dia balik koloran doang!" Heboh Digo yang membuat Devandra mengangguk keras.
"Hooh kucing!"
Kael William mendadak berdiri. "Bentar! Ini yang beresin properti siapa kalau si Kay Morgan aja udah balik?"