Hari ini adalah ulang tahun Prastyo Bharata Utama. Mikhaila ingin membuat malam ulang tahun Pras berbeda dari biasanya. Ia telah menyiapkan kejutan yang selama ini mereka nantikan: sebuah test pack dengan dua garis merah. Di bungkus hadiah itu dengan rapi, lalu ia mengantarkannya ke kantor karena tak sabar menunggu Pras pulang.
Namun, kenyataan justru menghancurkan kebahagiaannya. Sore itu, Mikha mendapati seorang wanita tengah bermanja-manja di ruang kerja bersama suaminya. Hatinya remuk, bahkan ia tak sanggup mendorong pintu untuk meminta penjelasan. Mikha memilih pergi dan mengubah rencananya. Kali ini, ia ingin membuat Pras jatuh miskin dan hidup dalam penyesalan.
Ayo kita dukung rencana Mikhaila, biar lelaki tukang selingkuh itu jera.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isti arisandi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Mikha tiba di rumah ketika langit mulai gelap.
Begitu pintu tertutup di belakangnya, ia menjatuhkan tas ke sofa, lalu berjalan menuju kamar tanpa menyalakan lampu ruang tengah.
Rumahnya kini terasa begitu sunyi.
Biasanya, kesunyian seperti ini terasa nyaman baginya. Ia bisa beristirahat sambil menunggu Pras pulang, menyiapkan makan malam, atau sekadar duduk di sofa untuk menonton acara kesukaannya dan suami.
Namun, malam ini, rumah yang sama terasa begitu asing.
Mikha duduk di tepi ranjang.
Tatapannya terpaku pada sisi tempat tidur milik Pras.
Ia masih bisa membayangkan lelaki itu berbaring di sana, memeluknya dari belakang, lalu berbisik bahwa ia adalah satu-satunya perempuan yang dicintainya.
Berapa kali Pras mengatakan kata manis itu,
Berapa kali dirinya mempercayai.
Mikhaila menutup wajahnya.
Tangis yang tadi berusaha ia tahan kembali pecah.
Ia menangis sampai kepalanya terasa berat. Sesekali, ia berusaha menenangkan diri, tetapi bayangan Pras bersama perempuan lain terus muncul di pikirannya.
Perempuan itu mungkin pernah berada di ruang yang sama dengan dirinya, pernah tersenyum kepadanya, atau bahkan mengetahui bahwa dirinya adalah istri sah Pras tetapi tetap memilih menjadi bagian dari pengkhianatan.
Dan suaminya bukan sekadar berselingkuh.
Ia sedang merencanakan perceraian.
Ia sedang menunggu waktu yang dianggap tepat untuk mengusir dirinya.
Sementara Mikha justru sedang menyiapkan hadiah yang akan membuat mereka menjadi keluarga bertiga.
Betapa menyedihkannya keadaan itu.
Mikha bangkit, berjalan menuju kamar mandi, lalu menyalakan keran. Ia membasuh wajahnya berkali-kali, berharap air dingin dapat mengurangi bengkak di sekitar matanya.
Namun, ketika mengangkat wajah dan menatap cermin, ia kembali terisak.
Wajah perempuan di hadapannya terlihat begitu menyedihkan.
Matanya merah. Bibirnya bergetar. Ada luka yang tidak terlihat, tetapi terasa seolah telah merobek seluruh bagian dirinya.
Ia menyentuh perutnya.
"Kalau Papa nggak mau, kamu tetap punya Mama, Nak." Suaranya begitu lirih menyayat hati.
"Mama nggak tahu apa yang akan terjadi nanti. Mama nggak sanggup jika harus berbagi suami dengan wanita lain. Maafkan Mama yang egois sayang. Sakit sekali, rasanya sungguh sakit,Nak." Mikha menelan tangis.
"Tapi Mama nggak akan menyalahkan kehadiran kamu nggak salah apa-apa. Yang salah yang berselingkuh."Mikha memejamkan mata, membiarkan air mata kembali mengalir.
Untuk beberapa saat, ia hanya sendiri sambil memeluk kesedihan seorang diri.Kemudian ia mengeringkan wajah, mengganti pakaian, dan kembali ke kamar. Ia tidak sanggup makan malam.Hidangan yang tadi disiapkannya dengan penuh semangat masih tertata di meja makan. Kue tart kecil untuk Pras pun masih berada di dalam lemari pendingin.
Tidak ada yang menyentuhnya.
Mikha hanya duduk di sofa dengan kedua tangan saling menggenggam, menunggu waktu berlalu.
Sesekali, ia melihat ponselnya.
Tidak ada pesan baru dari Pras.
Lelaki itu masih lembur, begitu katanya.
Entah sedang benar-benar bekerja atau sedang menghabiskan waktu bersama perempuan yang ingin dijadikannya istri itu.
Mikha tidak ingin memikirkannya.
Namun, semakin ia berusaha mengusir bayangan itu, semakin jelas pula suara yang didengarnya sore tadi.
Aku akan segera menceraikan dia.
Kalimat itu terus berputar di kepalanya.
Dan setiap kali mengingatnya, ada sesuatu dalam dirinya yang terasa mati sedikit demi sedikit.
Pukul sembilan malam, ponsel Mikha akhirnya berbunyi lagi.
Ia segera meraihnya, meskipun tidak tahu mengapa sebagian kecil hatinya masih berharap pesan itu akan membawa penjelasan yang bisa menyelamatkan perasaannya.
Namun, nama yang muncul di layar justru membuat dadanya kembali sesak.
Pras menelepon.
Sayang, aku masih di kantor. Sepertinya pulang agak malam. Kamu tidur duluan saja, ya. Jangan menunggu aku.
Mikha menatap pesan itu cukup lama.
Jari-jarinya bergerak di atas layar, mengetik sebuah balasan.
namun dia hapus lagi, dia tidak sanggup berkata, atau bahkan mengerik sebuah kata.
Air matanya kembali menggenang.
Ia ingin menambahkan bahwa dirinya mendengar semuanya. Bahwa ia tahu tentang perempuan itu. Bahwa ia mengetahui rencana perceraian yang selama ini disembunyikan suaminya.
Ia ingin bertanya sejak kapan.
Sejak kapan Pras berhenti mencintainya?
Sejak kapan lelaki itu mulai menginginkan perempuan lain? Sedangkan perlakuannya sehari hari begitu mesra dan romantis.
Dan apakah selama ini semua pelukan serta ciuman yang diberikan hanya kebohongan yang sengaja dipelihara agar dirinya tidak curiga?
Mikha akhirnya mengetik balasan singkat.
Iya, Mas. Jangan lupa makan.
Ia menekan tombol kirim.
Setelah itu, ia meletakkan ponselnya di meja dan tertawa kecil.
Tawa yang terdengar begitu getir hingga berubah menjadi isak.
Bahkan setelah mengetahui suaminya mengkhianatinya, ia masih mengingatkan lelaki itu untuk makan.
Begitulah dirinya.
Selalu mengkhawatirkan Pras, bahkan ketika tidak ada seorang pun yang mengkhawatirkan hatinya.
Mikha mengusap pipinya.
"Kenapa aku masih seperti ini?" bisiknya.
Tidak ada jawaban.
Ia hanya bisa menatap layar ponsel yang perlahan meredup, lalu memeluk bantal di sofa.
Malam itu, ia membiarkan dirinya menangis.
Tidak ada lagi yang perlu ia sembunyikan dari rumah yang kosong.
Tidak ada lagi yang perlu ia tutupi dari dinding-dinding yang menjadi saksi kesedihannya.
Ia menangis untuk pernikahannya.
Untuk cinta yang ternyata tidak cukup.
Untuk masa depan yang telah dibayangkannya bersama Pras.
Dan untuk seorang anak kecil yang bahkan belum sempat ia perkenalkan kepada ayahnya.
Menjelang pukul sebelas malam, terdengar suara mobil memasuki halaman.
Mikha yang hampir terlelap langsung membuka mata.
Ia segera duduk, lalu menyentuh wajahnya. Matanya masih terasa panas, tetapi ia tidak ingin Pras mengetahui bahwa dirinya baru saja menangis berjam-jam.
Suara langkah kaki terdengar mendekati pintu.
Beberapa detik kemudian, pintu terbuka.
Pras masuk dengan kemeja yang masih rapi dan wajah yang tampak sedikit lelah.
"Sayang?"
Mikhaila berdiri.
Untuk sesaat, ia hanya menatap lelaki itu.
Pras terlihat sama seperti biasanya. Rambutnya tertata, jam tangan mahal melingkar di pergelangan tangannya, dan senyum tipis menghiasi wajahnya ketika melihat sang istri.
Tidak ada tanda-tanda penyesalan.
Tidak ada rasa bersalah yang bisa Mikha kenali.
Lelaki itu bahkan berjalan mendekat dan mengecup keningnya.
"Kok belum tidur?"
Mikha menahan napas.
Aroma parfum yang dikenalnya menyentuh indra penciumannya. Aroma yang selama bertahun-tahun selalu membuatnya merasa nyaman setiap kali Pras memeluknya.
Sekarang, aroma itu justru membuat perutnya terasa mual.
Ia segera menunduk, menyembunyikan perubahan ekspresinya.
"Nunggu Mas pulang."
Pras tersenyum.
"Kan sudah kubilang, nggak usah ditunggu."
"Nggak apa-apa."
Mikhaila berusaha membalas senyum itu.
Hanya berusaha.
Karena di dalam dadanya, ada begitu banyak hal yang ingin ia teriakkan.
Jangan sentuh aku kalau kamu sudah menyentuh perempuan lain.
Jangan panggil aku sayang kalau kamu juga memanggilnya dengan sebutan yang sama.
Jangan bersikap seolah aku masih menjadi satu-satunya perempuan dalam hidupmu.
Namun, tidak satu pun kalimat itu keluar dari bibirnya.
Pras melepas jam tangannya, lalu melirik meja makan.
"Kamu belum makan?"
"Sudah."
Kebohongan pertama malam itu keluar dengan begitu mudah.
"Bagus." Pras mengangguk. "Oh, iya."
Ia tiba-tiba menoleh, seperti baru mengingat sesuatu.
"Mana hadiah katanya untukku?"
Jantung Mikhaila seolah berhenti berdetak.
Hadiah.
Lelaki itu masih mengingatnya.
Pagi tadi, Pras memang sempat mendengar Mikhaila mengatakan bahwa ia telah menyiapkan kejutan sesuatu yang sangat spesial.
Mikhaila menatap suaminya.
Dalam kepalanya, kembali terbayang kotak mungil yang telah ia buang ke tempat sampah di dekat kantor.
Hadiah yang seharusnya membawa kabar paling membahagiakan dalam hidup mereka.
Kini, hadiah itu telah menjadi sampah, sama seperti harapan yang sempat ia titipkan di dalamnya.
Namun, Mikhaila tidak mungkin mengatakan apa yang sebenarnya terjadi.
Ia menarik napas pelan.
"Tunggu sebentar, Mas."
Ia berjalan menuju lemari pendingin, mengambil kue tart mini yang tadi disimpannya, lalu meletakkannya di atas meja.
Kue itu hanya berukuran kecil. Di atasnya tertancap satu lilin dengan angka tiga puluh lima.
Prastio mengangkat alis.
"Hanya ini?" dalam batinnya.
Mikhaila memaksakan senyum.
"Iya. Selamat ulang tahun, Mas."
Ia menyalakan lilin tersebut.
Cahayanya kecil, tetapi cukup untuk menerangi wajah Pras.
hari ini 4 bab ya kak
penasaran
menanti pembalasan istri sah
dan penyesalan suaminya 🤭🤭