Menurut Tina, memiliki bos seperti Alfan itu menyebalkan. Sifat dan kepribadiannya yang aneh, sering kali membuat Tina ingin menyerah meski pada akhirnya ia tetap tidak bisa. Banyak hal yang mengharuskannya tetap bertahan, termasuk keinginannya untuk membahagiakan papanya.
Lalu apa jadinya bila Alfan menyuruh Tina untuk datang ke rumahnya di hari pertunangan adiknya, dan dengan entengnya mengatakan bila Tina adalah calon istrinya di depan seluruh undangan dan keluarganya.
Tentu saja, Tina merasa kesal dan marah, ia ingin bosnya menjelaskan kejadian yang sebenarnya. Namun bosnya itu justru mengajukan perjanjian, menyatukan mereka ke dalam kesepakatan.
Mulai hari itu, mereka semakin dekat, hingga hari itu tiba, di mana Satria datang menghancurkan segalanya. Satria adalah cinta pertama Tina, namun juga luka untuk Alfan yang belum melupakan semuanya.
Ketiganya terjalin di sebuah takdir masa lalu, sanggupkah mereka bertahan dan bahagia atau justru berakhir sebaliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikesweetdevil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 29
Part 29
Tina berjalan ke arah kantor, saat masih berada di halamannya, ia bertemu dengan teman-temannya, Ria dan Viona. Mereka melambaikan tangan sembari tersenyum ke arah Tina, mereka juga tampak tak sabar menanyakan sesuatu hal, bisa dilihat dari cara mereka kegirangan saat menatap satu sama lain.
"Ya ampun Tina kita itu kangen banget sama kamu. Gila, tiga hari kita enggak ketemu." Ria merangkul tubuh Tina diikuti Viona di sampingnya.
"Iya, aku juga kangen." Viona menyahut setuju, sedangkan Tina tersenyum melihat tingkah laku teman-temannya.
"Aku juga kangen sama kalian." Tina menarik tubuhnya, menatap bahagia ke arah kedua temannya.
"Padahal cuma tiga hari kamu pergi sama Pak Alfan, bagaimana nanti kalau kamu nikah sama dia? Yang ada kita enggak bisa ketemu lagi." Ria memanyunkan bibirnya yang diangguki setuju oleh Viona.
"Iya, Pak Alfan kan posesif. Dia pasti enggak bakal bolehin kamu kerja, apalagi cuma ketemu sama kita." Viona menimpali ucapan Ria, yang tentu saja membuat Tina tersenyum mendengar ucapan mereka.
"Kalian ini ngomong apa sih? Yang terjadi nanti kenapa harus dipikirkan sekarang?" Tina bertanya tak habis pikir, bibirnya tersenyum ke arah teman-temannya yang tampak tak setuju.
"Sebenarnya kita juga enggak mau mikir sampai situ, tapi kalau ingat calon suami kamu itu Pak Alfan, rasanya mustahil kamu boleh berteman lagi sama kita, Pak Alfan kan kaya gitu?" Viona menatap tak yakin ke arah Tina.
"Kaya gitu gimana?" tanya Tina sembari berjalan ke arah kantor diikuti Ria dan Viona yang turut berjalan di kedua sisinya.
"Ya Pak Alfan kan orang kaya, kesombongannya juga hampir melampaui batas kemampuan manusia pada umumnya, belum lagi sikap dingin dan sok sempurnanya, rasanya mustahil kalau dia tetap biarin kamu berteman sama kita."
"Pak Alfan enggak kaya gitu, dia orangnya baik kok." Tina mengelak halus karena pada kenyataannya, ia juga tidak akan menikah dengan bosnya.
"Dari sisi mananya dia baik? Mungkin baiknya cuma sama kamu aja." Viona menjawab tak terima.
"Iya, betul." Ria menimpali jawaban setuju yang lagi-lagi hanya Tina senyumi.
"Lagi-lagi kalian menggunjingi saya di belakang saya ya?" tanya seseorang dengan nada geram, membuat ketiga wanita itu terdiam tanpa mau lagi berjalan. Ekspresi ketiganya bahkan hampir sama, gelisah dan ketakutan.
"Pak Alfan ...?" Viona dan Ria menatap tak percaya saat menatap lelaki yang berdiri di belakang mereka.
"Kami minta maaf, Pak." Mereka seketika menunduk dan meminta maaf, namun sepertinya Alfan sudah siap-siap mengeluarkan kata-kata kasarnya.
"Sekali saya memaafkan kalian kemarin, tapi sekarang tidak ada kata maaf untuk kalian, kalian akan saya pecat." Alfan menatap serius ke arah dua wanita itu, di mana mereka tampak lebih ketakutan dari sebelumnya.
"Pak, tolong jangan pecat mereka!" Tina menatap serius ke arah Alfan, sebagai teman Ria dan Viona, tentu saja ia tahu bagaimana kehidupan mereka, hanya pekerjaan itu yang mereka harapkan untuk mencukupi biaya hidup dan kebutuhan mereka.
"Jangan bela mereka lagi kali ini!" Alfan menjawab tegas, yang tentu saja tak akan membuat Tina gentar.
"Kalau Bapak pecat mereka, saya akan mengundurkan diri dari sini." Tina menjawab tak kalah tegasnya, membuat Alfan terdiam dengan mata tajamnya.
"Ikut saya sekarang!" Alfan menarik lengan Tina ke arah ruangannya, ia berniat membicarakan semuanya termasuk ucapannya, meninggalkan Ria dan Viona yang tampak merasa bersalah.
"Bagaimana ini? Kita sudah buat Tina sama Pak Alfan bertengkar." Ria tampak gelisah begitupun dengan Viona.
"Iya. Tina pasti akan mendapatkan masalah gara-gara kita." Viona tak kalah gelisanya.
Sedangkan di sisi lainnya, Alfan masih menarik lengan Tina sampai di ruangan mereka biasa bekerja. Alfan melepaskan rengkuhannya dan menatap Tina dengan tatapan tegas, namun Tina justru terdiam seolah tidak ada yang salah.
"Kenapa kamu selalu membela mereka?" tanya Alfan dingin, sedangkan Tina menghela nafas lalu menatap mata bosnya dengan mata yang sama.
"Karena mereka teman saya, Pak."
"Iya, saya tahu. Tapi apa kamu harus terus membela mereka? Mereka itu sudah menghina saya dan seharusnya mereka mendapatkan hukuman."
"Mereka tidak benar-benar menghina Anda, Pak. Mereka hanya khawatir."
"Khawatir macam apa sampai berani menghina saya? Saya ini bos mereka ya, tapi sikap mereka seperti tidak menghargai saya, apa mereka pikir saya tidak bisa mendapatkan karyawan yang lebih baik dari mereka apa?" sulut Alfan emosi.
"Mereka hanya khawatir Anda tidak memberi saya izin untuk tetap berteman dengan mereka."
"Kenapa bisa begitu?" Alfan bertanya tak habis pikir, namun Tina justru menghela nafas.
"Karena yang mereka tahu kita pasangan yang akan menikah, sedangkan Anda terlihat sangat posesif terhadap saya, jadi mereka berpikir seperti itu. Tapi sebenarnya tidak ada yang harus mereka khawatirkan, karena kita cuma bohongan kan, Pak? Jadi saya mohon, jangan berlebihan kepada mereka, Pak. Saya minta maaf bila ucapan saya menyinggung perasaan Anda, tapi ini hanya masalah kekhawatiran mereka saja, mohon dimaklumi." Tina menundukkan wajahnya sedangkan Alfan hanya terdiam, hatinya merasa sakit saat Tina mengatakan bila hubungan mereka hanya sebatas kebohongan.
"Tapi saya sudah memberi mereka kesempatan terakhir kan, tapi mereka mengulanginya lagi."
"Lalu Anda mau apa? Memecat mereka? Kalau begitu, pecat saya juga." Tina menjawab tenang seolah sudah lelah dengan semuanya.
"Kenapa kamu malah minta dipecat?" tanya Alfan tak habis pikir, merasa tak mengerti saja dengan jalan pikiran Tina.
"Karena mereka teman saya, mereka yang sudah membawa saya ke kantor ini, bagaimana mungkin saya tetap di sini sedangkan mereka dipecat karena saya?" Mendengar jawaban Tina, Alfan seketika terdiam dan berpikir, mungkin kalau bukan karena dua karyawannya itu, ia tidak akan bisa bertemu dengan Tina. Seharusnya ia bisa bersikap lebih baik dengan mereka, supaya mereka juga tidak terlalu mengkhawatirkan Tina dan tidak menghinanya tentunya.
"Baiklah, saya mengerti. Kalian tidak akan dipecat, puas kamu?" jawab Alfan kesal membuat Tina tersenyum mendengarnya.
"Terima kasih, Pak."
"Iya. Kerja sana!" Alfan melangkahkan kakinya ke arah kursinya, membiarkan Tina dengan pekerjaannya tanpa tahu bagaimana sektretarisnya itu tersenyum tulus melihat kebaikannya. Entah kenapa, hatinya mulai merasa nyaman pada bosnya yang seperti itu, yang diam-diam berbuat baik dan perhatian.