Lima tahun mencintai Hansen diam-diam membuat Jihan langsung menerima saat mereka dijodohkan. Hansen pun terpaksa menikahi Jihan karena merasa bertanggung jawab atas kecelakaan yang membuat kaki Jihan cacat.
Atas permintaan Hansen, pernikahan mereka disembunyikan. Selama sepuluh tahun, Jihan menjalani perannya sebagai istri tanpa pernah menuntut cinta dari Hansen yang selalu bersikap dingin.
Namun semuanya berubah ketika putra mereka yang berusia sembilan tahun mengatakan bahwa ia malu memiliki ibu yang pincang.
Hati Jihan hancur.
Di saat yang sama, Hansen mengaku sudah lelah dengan pernikahan pura-pura mereka dan mengajak Jihan bercerai.
Jihan hanya terdiam.
Tanpa air mata, tanpa protes, dan tanpa memohon agar Hansen tetap bersamanya.
Karena kali ini, Jihan memilih berhenti mencintai pria yang tak pernah benar-benar menginginkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rini sya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Saling Memikirkan, Namun...
Sembari menunggu keputusan dari kepala Humas tempat ia bekerja, Jihan pun memutuskan untuk merapihkan semua pekerjaannya. Ia tak ingin meninggalkan kesalahan, meskipun itu hanya sedikit.
Jihan masih bekerja seperti biasa, menyiapkan obat untuk para pasien, memeriksa stok obat yang masih ada dan yang perlu suplay, atau membantu teman yang membutuhkan bantuannya.
Jihan berusaha berusaha bersikap sebiasa mungkin. Tentu saja saja agar tidak mendatangkan kecurigaan dari pihak manapun, Jihan tidak mau ada pertanyaan-pertanyaan yang mungkin akan sulit untuk menjawabnya.
Di lain pihak, tanpa Jihan tau ternyata saat ini Hansen sudah ada di Jepang. Semalam penerbangannya.
Jihan memang tidak lagi mencari tau keberadaan mantan suaminya tersebut, karena saat menjadi suami istri pun Hansen hampir tidak pernah memberi tahu padanya kerjanya padanya.
Tepat pukul dua siang, surat pengunduran diri Jihan susah di ACC oleh pihak terkait.
Karena suratnya sudah turun, Jihan pun langsung berpamitan dengan para rekannya di tempat kerjannya tersebut.
"Ida, maafin aku kalo aku ada salah," ucap Jihan seraya merentangkan tangannya pada Suster Ida, sahabat terdekatnya.
"Mbak, kenapa berhenti. Nanti kalo aku butuh sesuatu gimana?" Ida tampak menangis, karena ia tidak menyangka sahabat baiknya akan meninggalkan tempat penuh kenangan mereka ini.
"Nggak usah khawatir, teman kita kan masih banyak di sini. Suamiku nggak mau aku terus ninggalin rumah, Da. Aku mau aku di rumah urus dia sama anak anak aja." Jihan sengaja berbohong agar tidak banyak pertanyaan.
"Baiklah, Mbak. Pokoknya kalo ada apa apa, kabari kita kita ya," pinta Maya.
"Siap, In Syaa Allah ya," jawab Jihan, tak langsung mengiyakan. Karena tujuannya keluar dari kerjannya ini tak lain justru ingin melupakan apa yang pernah terjadi di sini. Pokoknya melupakan apapun yang berhubungan dengan Hansen. Termasuk rekan rekan kerjanya.
"Pokoknya hati-hati ya, Mbak. Jangan lupain kami." Lagi-lagi Ida menangis karena merasa paling kehilangan.
"Siap. Maafkan aku ya teman-teman kalo seandainya aku ada salah." Jihan tersenyum. Senyum menangan tangis. Jihan tak ingin menangis.
"Sama sama ya, Mbak. Maafkan kami yang mungkin pernah bikin Mbak kesal. Kami pasti akan selalu ingat Mbak."
Jihan kembali tersenyum lalu memeluk satu persatu rekan rekan kerjanya. Setelah itu, mereka pun mengantar Jihan ke mobil. Ada yang membawakan kardus berisi barang-batang pribadi Jihan ada juga yang membawakan laptop.
Mereka semua tampak sedih saat melepaskan Jihan. Namun mereka juga tak bisa melarang. Ini sudah menjadi keputusan Jihan..
***
Di lain pihak...
Jepang...
Karena kesibukannya, Hansen sampai tak punya waktu untuk memikirkan hal lain selain pekerjannya. Apa lagi pasien yang ia tangani saat ini adalah orang penting di sana. Mau tidak mau Hansen harus fokus pada pria tersebut sampai kondisi pria tersebut dinyatakan stabil.
Malam pun datang, Hansen baru bisa memegang ponsel. Ia mendapatkan pesan dari berbagai kalangan, ada rekan kerja, Juan, Raka, teman dan pasien-pasien khusus. Namun pikiran Hansen sama sekali tidak tertuju pada mereka. Melainkan pada mantan istrinya.
Hansen langsung mengeklik nomer telepon mantan istrinya tersebut.
Sayangnya tak ada satu pesan yang dikirim oleh seseorang yang ia nanti-nanti tersebut. Kolom pesan kosong. Hansen kecewa.
"Kenapa kamu nggak kirim pesan ke aku, Ji? Kamu nggak rindu sama ku?" tanya Hansen sembari mengelus foto Jihan yang sekarang jadi wallpaper di layar utama ponselnya.
"Aku rindu sama kamu, Ji, tapi aku takut. Takut kamu ilfil sama aku kalo aku hubungi kamu dulu."
Dalam hati justru Hansen mengakui kalo dia rindu sama Jihan. Namun dengan cepat ia meralat bisikan hatinya tersebut.
"Eh, ngapain aku rindu dia, aneh!" ucap Hansen seraya melempar pelan ponselnya ke ranjang.
Pernyataan rindu ubah Jihan, baginya adalah sebuah ulasan yang tidak masuk akal. Mana mungkin boleh dia berpikir demikian, harusnya permintaan pisah yang ia ajukan adalah bukti bahwa selama ini Jihan tidak berarti apapun untuknya
Lalu untuk apa kata Rindu itu harus ada. Seharusnya kan tidak boleh ada.
Geram dengan keinginan hatinya yang ingin menghubungi mantan istrinya tersebut, Hansen memutuskan untuk mandi. Setidaknya kalo badannya segar, pikirannya juga bisa jernih.
***
Tak ada bedanya dengan Jihan, ingin hatinya berpamitan dengan Hansen soal pasal ia resign dari pekerjaannya ini. Namun ia teringat dengan permintaan Hansen mengajaknya bercerai waktu itu. Dengan cepat ia pun mengurungkan niatnya untuk melakukan hal tersebut.
"Astaga, ngapain aku pamit. Bukankah kami sudah nggak ada hubungan apapun. Jihan, sadarlah... astaga!" ucap Jihan seraya menghentikan niatnya untuk berpamitan baik baik pada mantan suami sekaligus mantan bosnya tersebut.
"Sadarlah Jihan, dia sudah ngajak kamu pisah dan sekarang kalian bukan suami istri lagi, kamu tau itu artinya apa, itu artinya kamu bukan siapa siapa. Kamu nggak berarti apa apa. Bahkan untuk anakmu, kamu tu nggak berguna!" ucap Jihan pada dirinya sendiri.
Kesal, Jihan memutuskan untuk menonaktifkan ponselnya. Lalu memasukkan ponselnya ke dalam laci make upnya. Membiarkan ponsel itu mati.
Dengan begitu ia berharap tidak akan lagi tergoda untuk menghibungi Hansen atau pun orang-orang yang berhubungan dengan Hansen.
Geram dengan sikapnya sendiri, Jihan memutuskan untuk tidur.
Bersambung...