Empat kehidupan, satu takdir terlarang. Di balik aura Antartika sang putri tersembunyi, ada pengawal Yakuza yang rela menantang maut demi melindunginya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KimiHaruka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Es Arktik...
Keesokan harinya, area kampus sudah sibuk bukan main sejak pagi. Panggung megah untuk Festival Universitas berdiri kokoh di lapangan utama. Banner raksasa sponsor bertuliskan logo emas Uchiha Group membentang megah di atas gerbang masuk, menegaskan siapa penguasa ekonomi di balik acara megah bernilai miliaran yen ini.
Namun, di dalam kamar mewahnya sebelum berangkat, Yoona masih sibuk merajok di pelukan Kakashi.
"Kakashi... abang es Arktik itu beneran mau datang meninjau hari ini?" keluh Yoona pelan, wajahnya menyusup nyaman di dada tegap Kakashi yang terbalut kemeja hitam. Tangannya melingkar erat di pinggang pria berusia 30 tahun itu. "Kemarin si Sasuke, sekarang Kak Itachi. Lama-lama kampusku berubah jadi markas keluarga Uchiha."
Kakashi terkekeh rendah. Tangan besarnya yang tertutup ukiran tato Yakuza mengusap rambut panjang Yoona dengan sangat lembut, sebelum mendaratkan kecupan hangat di dahi sang putri.
"Tuan Itachi cuma memastikan investasi Uchiha Group aman, Nuna," bisik Kakashi dengan nada suaranya yang berat dan menenangkan. "Lagipula, kamu selalu bisa mengabaikannya seperti biasa. Ayo bersiap, saya sudah siapkan Range Rover di depan."
Gadis berusia 20 tahun itu akhirnya luluh. Begitu selesai bersiap, Yoona keluar dengan tampilan boss-babe yang amat sangat mahal—dipadukan gaya effortless-chic.
Yoona mengenakan slim detail vest tanpa lengan berwarna navy pekat dari Ma Journée yang membungkus lekuk tubuhnya dengan sangat pas. Atasan itu dipadu dengan rounding wide-leg pants longgar berwarna senada dari TheOpen Product yang menjuntai anggun menyapu sneakers Adidas Stan Smith Bold putih bersih di kakinya. Di tangannya, tersangkut tas Chanel White Vanity Case yang dihiasi gantungan slim bandeau scarf bermotif elegan.
Aura yang dipancarkannya hari ini benar-benar gila: perpaduan antara Nona Muda Yakuza yang dingin, modis, dan tidak bisa disentuh oleh siapa pun.
REFERENSI OUTFIT by JENNIE BLACKPINK
Begitu Range Rover hitam ber-kaca gelap itu menepi di kampus, Yoona melangkah keluar. Lisa yang sudah menunggu di dekat selasar langsung melompat heboh sambil memegangi dadanya.
"ANJIR, YOONA!" seru Lisa histeris tapi setengah berbisik. "Gue sumpah ya, outfit lu hari ini bener-bener kayak CEO muda yang mau nyerobot saham orang! Cakep banget, Babe!"
Yoona cuma menyunggingkan senyum tipis di balik topeng dinginnya. "Biasa saja, Lis. Ayo lihat panggung."
Di area lapangan, suasana panggung utama sedang ramai luar biasa. Pasalnya, tim sound check baru saja selesai disiapkan untuk latihan penampilan anak-anak band universitas. Dan di tengah panggung, berdiri Sasuke Uchiha.
Sasuke—si playboy tengil yang juga merupakan gitaris sekaligus vokalis utama band kampus—sedang memegang gitar listrik hitamnya. Dia mengenakan kaus hitam v-neck longgar dengan celana jins robek. Saat jemari lentiknya memetik senar gitar dan suaranya yang serak-serak basah keluar menyanyikan satu bait lagu rock, teriakan mahasiswi di pinggir panggung mendadak pecah!
"KYAAA! SASUKE-KUN!"
"SASUKE, LIHAT KE SINI!"
"GILA, RAHIM GUE SERASA GEMETAR NGELIHAT DIA MEGANG GITAR!"
Fans-fans fanatiknya—termasuk Sakura dan Ino—sudah melompat-lompat histeris di barisan paling depan. Sasuke yang menyadari histeria itu cuma menyeringai goda, memain-mainkan rambut hitamnya yang agak basah oleh keringat, makin membuat pemuja-pemujanya histeris tak tertolong.
"Coba lihat kembaran lu itu," celetuk Lisa sambil menggeleng-gelengkan kepala. "Tengilnya enggak tertolong, tapi diakui pesonanya sebagai anak band memang meresahkan."
Yoona melirik Sasuke dari jauh dengan pandangan mual. "Dasar kadal tebar pesona. Mengotori telingaku saja."
Tepat pukul sebelas siang, suasana kampus mendadak hening dan tegang. Tiga mobil sedan super mewah Rolls-Royce berwarna hitam mengkilap memasuki pelataran universitas dengan pengawalan ketat mobil prajurit ber-jas.
Para rektor, dekan, dan petinggi universitas langsung berbaris rapi di depan gedung rektorat dengan wajah tegang dan membungkuk hormat.
Pintu Rolls-Royce tengah dibukakan oleh pengawal pribadi. Dan dari dalam mobil, melangkah keluar sang pemandangan utama: Itachi Uchiha.
Di usianya yang baru 27 tahun, Itachi adalah Chief Executive Officer (CEO) Uchiha Group. Pria itu terbalut setelan jas haute couture abu-abu gelap buatan Italia yang membalut tubuh tinggi tegapnya dengan sempurna. Rambut hitam panjangnya terikat rapi di belakang leher, dan raut wajahnya... bener-bener bagaikan Es Arktik. Cold, jenius, perfeksionis, dan memancarkan intimidasi yang sanggup meremukkan mental siapa pun yang menatap matanya.
Seluruh mahasiswi di selasar kampus mendadak menahan napas. Suasana yang tadinya bising oleh teriakan fans Sasuke, seketika berubah hening.
"Anjir..." bisik Lisa di sebelah Yoona, matanya terbelalak takjub. "Gue tahu keluarga lu itu visualnya di luar nalar, tapi ngeliat Kak Itachi datang langsung pakai jas CEO gini... gokil sih, Nana! Aura penguasa ekonomi Jepang-nya tumpah-tumpah!"
Yoona cuma menghela napas panjang dengan ekspresi lelah (I'm done). "B aja, Lis. Dia cuma manusia es yang hobinya kerja 24 jam."
Di sisi lain koridor, Reze—yang kemarin habis dipermalukan Yoona dan dikeroyok fans Sasuke—sedang berdiri di balik pilar. Melihat sosok CEO tampan, kaya raya, dan berkuasa seperti Itachi yang dikelilingi para dekan yang membungkuk-bungkuk, otak dangkal Reze langsung berputar.
Reze yang sama sekali tidak tahu kalau Itachi adalah abang kandung Sasuke dan Yoona, berpikir ini adalah kesempatan emasnya untuk panjat sosial atau menarik perhatian pria paling berpengaruh di Jepang tersebut.
Dengan gaya anggunly yang dipaksakan, Reze membetulkan gaun femininnya, memoles lipstik, lalu memberanikan diri melangkah mendekati rombongan Itachi yang sedang berjalan meninjau area panggung.
"S-Selamat datang di kampus kami, Tuan Uchiha..." sapa Reze dengan suara mendayu-dayu sok lembut, menyibak rambutnya di depan Itachi. "Saya Reze dari divisi acara... Jika Tuan butuh pendamping untuk keliling meninjau—"
Itachi bahkan tidak menghentikan langkah kakinya sama sekali. Tatapan matanya yang tajam dan dingin lurus menatap ke depan, melewati Reze seolah-olah cewek itu cuma sebutir debu tak kasat mata.
"Minggir. Jangan menghalangi jalan," potong Itachi dengan suara berat, dalam, dan membekukan yang keluar dari bibirnya tanpa lirikan sedikit pun.
Aura dingin Itachi yang begitu pekat membuat Reze seketika mematung di tempat dengan wajah pucat pasi. Para dekan di belakang Itachi bahkan memberikan tatapan tajam pada Reze agar cepat-saja menyingkir. Reze akhirnya mundur dengan rasa malu yang makin menumpuk sampai ke ubun-ubun.
Sementara itu di atas panggung, Sasuke yang melihat kedatangan abangnya tidak panik sama sekali. Dengan santai, Sasuke menyandarkan gitar listriknya, melepas strap, lalu melambaikan tangannya tinggi-tinggi ke arah Itachi sambil menyeringai.
"Yo, Kak Itachi! Rajin amat meninjau panggung!" seru Sasuke santai dari panggung.
Sontak seluruh mahasiswa di lapangan menahan napas kaget! Mereka melotot tak percaya—berani-beraninya anak band itu memanggil CEO Uchiha Group dengan sebutan sok akrab begitu?!
Itachi cuma melirik Sasuke tipis, menghentikan langkahnya sejenak. "Jangan bikin malu, Sasuke," sahut Itachi pendek namun dingin, sebelum kembali berjalan bersama rombongan rektorat.
Saat rombongan Itachi melintasi selasar menuju gedung auditorium, mata dingin sang CEO sempat bergeser beberapa mili. Di balik pilar taman yang agak teduh, Itachi menatap lurus ke arah Yoona.
Tidak ada kata-kata yang diucapkan. Namun, tatapan mata Itachi pada Yoona berubah tipis—bukan lagi tatapan es untuk publik, melainkan kilatan perhatian penuh proteksi dari seorang abang tertua untuk memastikan adik perempuannya yang tersembunyi dalam keadaan aman dan tidak terganggu.
Di belakang pilar lain tak jauh dari sana, Kakashi yang berdiri tegap bersiaga dalam balutan jas mewahnya memberikan anggukan hormat yang sangat tipis pada Itachi.
Yoona membalas lirikan Itachi dengan helaan napas tipis, membetulkan letak tas Chanel White Vanity Case-nya, lalu merangkul lengan Lisa.
"Ayo ke kantin, Lis. Suasana di sini makin banyak manusia anehnya," gumam Yoona santai, melangkah pergi dengan gaya badass-nya yang tak tersentuh.
...****************...
Hari H Festival Universitas akhirnya tiba. Seluruh area kampus disulap menjadi tempat bazzar raksasa yang riuh—deretan booth makanan beralas tenda putih, pameran instalasi seni, serta panggung konser megah tempat penampilan band-band mahasiswa berdiri gagah di tengah lapangan utama.
Namun di kediaman Uchiha pagi itu, Yoona masih enggan beranjak dari pelukan Kakashi. Kedua tangannya melingkar manja di pinggang tegap pria itu, menyusupkan wajahnya di dada Kakashi yang terbalut kemeja hitam.
"Kakashi... malas banget ke festival. Pasti bising," gumam Yoona dengan suara serak yang super manja.
Kakashi terkekeh rendah, tangan besarnya yang dihiasi tato Yakuza mengusap lembut punggung dan kepala Yoona, sebelum mengecup dahinya lama. "Sebentar saja ya, Nuna. Lisa kan sudah menunggumu dari tadi."
Yoona akhirnya luluh. Begitu selesai bersiap, Yoona melangkah keluar kamar dan menyajikan penampilan effortless-chic kelas yang langsung memanjakan mata.
Yoona mengenakan blus putih double-breasted berdetail ruffle di kerah dan pergelangan tangan dari Chanel Cotton Canvas Blouse. Atasan anggun itu dipadukan dengan celana jeans light-wash berpotongan lurus, RE/DONE Crawford High-rise Straight-leg Jeans, yang membungkus kakinya dengan sangat pas. Langkah kakinya yang tegas makin menawan berkat sepatu hak tinggi Christian Louboutin Pigalle 100 in Nude dengan ciri khas sol merahnya yang mengintip tipis, serta tas Chanel Gabrielle Purse warna putih bersih yang menggantung santai di bahunya.
REFERENSI OUTFIT by JENNIE BLACKPINK
Di kampus, ketukan high heels Louboutin milik Yoona langsung mencuri perhatian sepanjang koridor bazzar. Lisa yang sibuk mengunyah takoyaki hampir tersedak begitu melihat sahabatnya tiba.
"Gokil, Na! Jeans santai sama blus Chanel?! Vibes lu bener-bener cewek paling mahal se-Tokyo!" seru Lisa heboh.
Yoona cuma menyunggingkan senyum tipis. Dalam acara festival besar ini, Yoona sama sekali tidak ikut ambil bagian atau repot-repot jadi panitia. Pasalnya, semua urusan perwakilan fakultas mereka sudah diserobot habis oleh Sasuke. Si kadal playboy itu sengaja mencalonkan diri jadi penanggung jawab acara demi bisa tebar pesona dan tampil gila-gilaan di panggung utama bersama band-nya.
Dari tempat mereka berdiri, suara petikan gitar listrik dan jeritan histeris mahasiswi terdengar menggema. Di atas panggung, Sasuke sedang beraksi mempermainkan gitar sambil melontarkan kerlingan mata, membuat fans-fans fanatiknya makin histeris.
"Tuh kan, lihat kembaran lu. Berasa bintang pop dunia," celetuk Lisa sambil menggelengkan kepala.
Yoona melirik panggung dengan pandangan mual. "Bikin sakit mata. Aku mau beli matcha saja, Lis."
Matahari mulai sedikit terbenam ketika Yoona merasa muak dengan kebisingan festival. Suara ketukan heels-nya bergema halus di trotoar saat dia berjalan menuju area jalan sepi di luar gerbang utama kampus, tempat mobil Range Rover-nya terparkir.
Kakashi berjalan melangkah dua langkah di belakangnya dengan jas hitam yang terkancing rapi.
Namun, tepat saat Yoona hendak melangkah mendekati mobil, langkah Kakashi mendadak berhenti.
Aura hangat di sekitar Kakashi mendadak menguap tanpa sisa. Naluri membunuh seorang eksekutor Yakuza top-tier di tubuh Kakashi langsung terpelantik tajam. Di balik kacamata hitamnya, mata Kakashi melirik dingin ke arah lantai atas gedung tua yang berjarak seratus meter di seberang jalan.
Ada kilatan pantulan lensa kamera dan energi mencurigakan dari balik bayangan jendela gedung itu. Seseorang sedang mematai-matai dan mengintai pergerakan Yoona dari kejauhan.
"Nuna," panggil Kakashi dengan suara berat yang mendadak berubah sangat dingin dan penuh intimidasi.
Yoona menghentikan langkahnya, menoleh menatap Kakashi. Peka akan perubahan atmosfer pria di depannya, Yoona tahu ada sesuatu yang tidak beres. "Ada apa, Kakashi?"
Kakashi melangkah cepat, membukakan pintu Range Rover dan menutupi tubuh Yoona dengan tubuh tegapnya secara protektif.
"Masuklah ke dalam mobil sekarang," bisik Kakashi pelan tapi sarat akan nada perintah yang tak bisa dibantah. Tangan kirinya dengan sigap menarik pintu, sementara tangan kanannya sudah siap menyentuh senjata di balik jasnya. "Ada tikus yang lupa caranya bersembunyi."
Yoona menatap mata Kakashi sejenak sebelum mengangguk dan masuk ke kabin mobil yang aman. Pintu Range Rover tertutup rapat, menyisakan Kakashi yang kini berdiri sendirian di trotoar sepi, menatap lurus ke arah bayangan gedung tua dengan tatapan iblis pencabut nyawa yang siap berburu.
...----------------...
FYI : Cerita ini mengandung sedikit unsur kekerasan, adegan dewasa dan Age Gap (Cinta beda usia), bagi yang tidak suka boleh skip aja.
Cerita ini hanya fiksi belaka, tidak ada hubungan dengan tokoh atau organisasi manapun. Mohon bijak dalam membaca dan berikan komentar, saran, atau kritik yang sopan dan membangun. Arigatou Gozaimasu.