Dave merupakan CEO di perusahaan properti. ia dikenal sabagai bos yang arogan. Setiap penjualan yang tidak mencapai target, ia tidak ragu untuk memecatnya. Sudah banyak karyawan yang menjadi korbannya.
Disisi lain, ada seorang wanita pekerja keras, lembut dan baik hati. Namanya Emma. Ia seorang kurir pengantar pizza.
Emma tinggal bersama dua adiknya yang masih sekolah di SD. Ibunya sudah lama meninggal. Tepatnya saat melahirkan adiknya yang terakhir. Ayahnya adalah seorang penjudi yang selalu kalah. Hutangnya sangat banyak.
Emma memilih tinggal di sebuah apartemen dengan harga sewa yang terjangkau. Ia akan bekerja kerasa untuk memenuhi kebutuhan hidup dan ia tak peduli pada ayahnya.
Perusahaan properti, perkembangannya selalu menurun. Ayahnya Dave, langsung ambil alih pimpinan. Ia menegur keras kearoganan Dave.
Sebagai pembelajaran hidup, ayahnya membuat Dave bekerja ditempat pamannya dan disitulah ia mendapat pelajaran hidup dari Emma.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon B.E.P, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#Bab 19
Pukul sepuluh malam kurang lima belas menit, saat Emma menatap jam yang melingkar dipergelangan tangannya. Waktunya ia untuk merapikan dan membersihkan dalam ruangan. Dengan sigap ia langsung mengambil gelas serta piring kotor diatas meja. Lalu permukaan meja ia lap agar tidak ada noda yang membekas.
Saat Emma membawa piring dan gelas kotor ke dapur, seorang pria masuk. Ia memakai jaket jeans, kepalanya tertutupi topi hitam. Ia tak sempat melihat mukanya, karena saat berbalik pria itu sudah duduk di dekat pintu yang posisinya membelakangi kasir.
"Emma ?" Panggil lirih temannya yang berposisi kasir.
"Ada apa ?" jawab Emma. Ia mendekat dengan tangannya masih membawa nampan, diatasnya ada piring dan gelas kotor.
"Sebaiknya kamu bilang ke orang itu, kalau kita mau tutup. Aku malam ini ada acara dengan suamiku. Aku tidak mau melewatkannya."
"Haa...acara apa yang dimulai jam sepuluh ?" tanya Emma bingung. "Memangnya ada acara dikota yang dimulai sangat malam."
"Sudah tidak perlu dibahas. Kamu belum menikah. Yang pasti acara ini khusus orang yang sudah menikah. Mendingan kamu cepat bawa piring dan gelas kotor itu ke dapur, lalu kamu bilang ke orang itu kalau kita sebentar lagi akan tutup."
Ekspresi Emma tak bisa bohong. Ia masih penasaran dengan acara yang akan dihadiri temannya itu.
"Sudah Emma. Jangan terlalu dipikirkan. Cepat kamu bereskan pekerjaanmu."
"Baiklah," jawab Emma. Ia lalu ke dapur, meletakkan piring dan gelas ke wastafel dapur. Kemudian meminta temannya yang sedang membereskan dapur untuk mencucinya.
Sesuai permintaan temannya yang dikasir, setelah keluar dari dapur, ia berjalan menghampiri pria yang duduk di dekat pintu.
"Maaf, restoran kita mau tutup. Bisa datang besok siang atau besok malam," ucap Emma sopan. Ia berdiri di samping pria itu, tapi ia tak bisa melihat wajahnya.
"Belum ada jam sepuluh malam. Kenapa sudah tutup ?" jawab pria itu setelah melihat jam dilayar ponselnya.
Mendengar suara pria itu, sesaat Emma merasa tidak asing. Tapi, ia tak terlalu memikirkannya.
"Iya, tapi mohon maaf. Karena bagian dapur sudah selesai shift dan tidak bisa memasak makanan. Kami terpaksa harus tutup," kata Emma.
Sebenarnya dapur masih ada orang, tapi waktunya yang tinggal enam menit sebelum jam sepuluh, membuat mereka enggan memasak karena tidak mau pulang lewat jam sepuluh.
"Sepertinya satu makanan masih bisa. Aku mau pesan—"
"Maaf, order makanan sudah kami tutup," potong Emma.
"Kamu tidak menghormati saya, ya ? Saya sudah jauh-jauh jalan kaki dari Pinecrest Flats sampai sini. Kenapa kamu tidak mau membuatkan satu makanan saja ?"
Pinecrest Flat ? Batin Emma menyadari pria ini datang dari apartemen yang sama dengannya.
Emma lalu sedikit meredahkan tubuhnya ingin melihat seperti apa tampang pria ini. Hidung mancung dan ada bulu-bulu tipis didekat telinga kanan yang turun ke pipi. Memang tak salah lagi ia tahu siapa pria ini.
"Sepertinya aku tahu ?" gumam Emma. Tanpa aba-aba ia membuka topi pria itu. "Nah benar, kan. Ketahuan kamu, Dave," lanjutnya.
Dengan cukup terkejut, Dave langsung menatap Emma. Padahal beberapa detik lalu, ia sudah yakin kalau perempuan itu tidak akan mengenalinya. "Bagaimana kamu bisa tahu ?" ucapnya.
"Siapa lagi orang yang sombong dan angkuh, yang tinggal di Pinecrest Flats jika buka kamu, Dave." Emma meletakkan topi pria itu ke atas meja.
"Yahh...ternyata aku blunder," ungkap penyesalan Dave.
"Restoran sudah tutup Dave. Besok saja kamu datang kesini lagi."
"Satu menu saja, Emma. Aku belum makan malam. Setelah pulang tadi, aku ketiduran. Bagun-bangun sudah semalam ini."
"Tidak bisa," sahut Emma menggeleng. "Besok saja kamu datang kesini."
Karena tak mau menanggapi Dave terlalu lama, Emma pun memilih meninggalkannya. Namun, dengan sigap tangan kanannya di raih dan di genggam pria itu. Sontak ia pun terkejut serta bingung dengan reaksi Dave.
"Aku mohon, Emma. Satu saja. Aku kelaparan," ucap Dave dengan tatapan melasnya.
Hati Emma yang selalu lembut dan hangat, tak kuat melihat wajah kasihan pria itu. "Baiklah, Dave." ucapnya. "Lepaskan dulu tanganmu. Aku akan membawakanmu makanan, setelah menutup restoran ini. Sekarang kamu tunggu aku diluar."
"Terima kasih ya, Emma. Aku akan tunggu kamu diluar." Dave melepas genggaman tangannya. Lalu berdiri dan berjalan keluar pintu. Tak lupa topi hitamnya ia pakai kembali. Sementara Emma, berjalan ke dapur.
...----------------...
Pukul sepuluh malam lebih lima belas menit, Emma keluar dari restoran. Ia menggendong tas ranselnya dan ditangan kanannya membawa kotak bekal makanan. Entah apa isi didalam kotak itu.
Dave sudah lima belas menit lamanya, berdiri di depan restoran dengan ditemani hawa dingin yang merayap tubuh. Malam ini rasanya lebih dingin dibandingkan dengan malam kemarin.
"Aku duluan ya, Emma," ucap salah satu teman Emma setelah mengunci pintu, lalu berjalan meninggalkannya.
"Kenapa lama sekali, Emma ?," tanya Dave yang sudah terlalu lama diluar dan tak kuat dengan dingin yang menusuk tubuh. "Mana pesananku ?"
"Ini." Emma menyerahkan kotak bekal makanan ke Dave. "Aku sudah bilang, tunggu aku diluar. Didalam aku harus beres-beres sebentar."
"Terima kasih ya," ucap Dave bahagia. Akhirnya ia punya harapan untuk makan malam. "Ayo pulang," lanjutnya sambil berjalan ke arah barat.
"Kamu jalan kaki ?" tanya Emma bingung. "Kamu tidak mau menunggu bus ?"
Dave terhenti. Ia berbalik dan menatap Emma. "Kamu mau menunggu sampai jam berapa pun tidak akan datang. Bus terakhir sudah lewat beberapa menit yang lalu," ucap Dave. Ia kembali berjalan. "Tapi kalau kamu mau menunggu dihalte, aku tidak memaksa. Tapi kalau kamu mau pulang sekarang, ikut jalan kaki bersamaku," lanjutnya.
Emma melirik jam tangannya, ternyata jam sepuluh lewat. Sudah pasti tidak ada bus lagi. Mau tidak mau ia harus berjalan kaki bersama Dave. Ia menyusul dibelakang pria itu. Tidak lama kemudian ia mampu sejajar dengannya.
...----------------...
Jalanan kota lewat jam sepuluh malam selalu sepi. Suasana yang hening dan lampu jalan yang temaram menjadi teman setia selama berjalan. Dave dan Emma sudah melangkah cukup jauh dari restoran.
"Aku ingin tahu makanan apa yang kamu berikan kepadaku ?" Dave membuka bekal makanan yang diberikan Emma. Ada tiga potong paha ayam goreng didalamnya. "Wah...tidak terlalu buruk untuk makan malam," ucapnya lagi.
"Mau atau tidak ?" tanya Emma dengan ketus. "Lebih baik aku berikan kepadamu gratis, daripada aku memintamu membayarnya,"
"Yakin ini gratis ?"
"Iya. Kenapa aku harus memintamu untuk membayar makanan sisa ?"
"Maksudmu ini makanan sisa orang lain yang tidak habis ?"
"Bukan. Memangnya aku orangnya setega itu ? Aku bercanda. Itu makanan baru yang aku goreng sendiri."
"Aku kira kamu serius memberikan makanan sisa." Dave menutup kembali bekal makanan. "Ngomong-ngomong, gimana kondisi kakimu, apa masih sakit ?"
"Lebih mendingan sekarang."
"Ya syukurlah kalau begitu. Aku takut rasa sakitnya mengganggumu bekerja."
"Kenapa kamu begitu mencemaskanku ?"
"Haa..?" Dave tiba-tiba jadi canggung. "Ya aku khawatir kakimu masih sakit."
"Uoooh...tadi siang pengantaran pizzanya gimana ? Pasti tidak sulitkan, mengantar sendiri ?"
"Kata siapa ? Aku tadi sangat lelah dan bingung. Kamu tahu, aku empat kali salah rute dan harus menghabiskan banyak waktu untuk berbalik. Sepertinya aku tidak bisa melakukannya tanpamu, aku merasa sangat kesulitan."
"Aku tidak mau," sahut Emma dengan memalingkan wajah.
"Kenapa ?" Dave bingung melihat reaksi perempuan disampingnya.
"Ketika kita mengantar bersama, kamu selalu santai dan tidak fokus pada pekerjaan."
"Itukan di hari pertama. Sekarang dan seterusnya, aku akan fokus ke pekerjaan. Dengan catatan kamu harus selalu disampingku."
"Aku tidak percaya ?"
"Memangnya kenapa ?"
"Ya aku merasa sulit untuk percaya pada dirimu."
Tiba-tiba Dave berhenti. "Kalau begitu berhenti dulu," ucapnya. Emma pun ikut terhenti.
"Sekarang lihat aku." Dave dan Emma pun saling berhadapan. Pria itu menutup matanya dan mengangkat tangan kanannya setinggi bahu dengan telapak tangan menghadap keluar. "Aku berjanji, mulai hari ini akan fokus bekerja dan tidak akan terlalu santai dalam melakukan pekerjaan," ucapnya lagi dengan lantang.
Emma tak habis pikir dengan tindakan Dave. Kenapa pria itu bisa kepikiran melakukan hal itu.
Lebih baik aku tinggalkan saja, Dave Batin Emma. Ia dengan iseng berjalan perlahan meninggalkan Dave yang masih berdiri dengan menutup mata
"Sekarang apakah kamu percaya ?" tanya Dave.
Beberapa menit berlalu, Dave merasa curiga kenapa Emma tidak memberikan tanggapan. Akhirnya ia membuka matanya. Ternyata Emma tidak ada di hadapannya. Saat ia menoleh ke kiri, Emma sudah berjalan jauh meninggalkannya.
"Hei, Emma tunggu!!" teriak Dave dikeheningan malam. Ia berlari menyusul Emma. Sementara, perempuan itu tak tahan untuk segera tertawa, melihat pria yang ia isengin tertinggal dibelakang.