NovelToon NovelToon
Bangkitnya Putri Terbuang

Bangkitnya Putri Terbuang

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Transmigrasi / Cinta Istana/Kuno / Ruang Ajaib
Popularitas:11.3k
Nilai: 5
Nama Author: Nona Abu

Seorang wanita ahli pengobatan dan racun tiba-tiba memasuki tubuh seorang gadis lemah bernama Feng Wu. Terbangun di tempat asing, ia sempat mengira semua itu hanyalah mimpi. Namun, tempat dan kehidupan baru yang dihadapinya ternyata benar-benar nyata.

Jika Feng Wu sebelumnya dikenal sebagai gadis bodoh dan lemah yang selalu diremehkan, maka kedatangan jiwa baru akan mengubah segalanya.

Mulai sekarang, Feng Wu bukan lagi gadis yang mudah ditindas.

Karena sudah masuk ke tubuh Feng Wu, maka wanita itu akan menuntut balas atas perlakuan buruk pada pemilik tubuh asli.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Abu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 12

Kediaman Feng di malam hari tampak begitu megah dan sunyi. Lentera-lentera merah menyala redup di sepanjang lorong, namun sebagian besar ruangan sudah gelap. Para pelayan pun telah beristirahat. Feng Wu bergerak bagai bayangan di antara pilar dan pepohonan, langkah kakinya tak bersuara sama sekali, berkat latihan bela diri yang ia tekuni di perbatasan.

Ia tahu persis ke mana ia harus pergi, ingatan masa lalu, yang penuh kepahitan itu, menuntunnya tanpa ragu. Di ujung sayap utama kediaman, berdiri sebuah paviliun yang paling luas dan paling mewah tempat di mana Menteri Feng dan Selir Yu tinggal bersama, menikmati kemewahan yang seharusnya milik ibunya.

Perlahan, Feng Wu mendekati jendela yang sedikit terbuka. Dari celah tirai sutra itu, ia bisa melihat dengan jelas ke dalam ruangan.

Di atas tempat tidur yang besar dan empuk, berbaring dua orang yang menjadi sumber segala penderitaannya, mereka adalah Menteri Feng, ayah kandungnya sendiri, dan Selir Yu, wanita yang telah meracuni hidupnya sejak lahir. Keduanya tidur dengan begitu tenang, begitu damai, seakan tak pernah ada dosa yang menempel di hati mereka.

Saat melihat wajah itu, tubuh Feng Wu tiba-tiba gemetar hebat. Emosi yang tertahan selama bertahun-tahun meledak seketika dan kemarahan, rasa sakit, kebencian, kekecewaan yang begitu dalam. Jantungnya berpacu kencang hingga ia harus mencengkeram ambang jendela erat-erat agar tidak mengeluarkan suara.

"Bagaimana bisa mereka tidur begitu tenang?" batinnya bergetar.

"Bagaimana bisa mereka berbaring di tempat yang seharusnya milik Ibu, tanpa pernah merasa bersalah sedikit pun?"

Ia menarik napas panjang, berusaha meredam amarah yang hampir meluap. Tidak, Feng Wu, jangan biarkan emosi menguasaimu. Kau bukan lagi gadis lemah yang mereka kenal. Kau harus tenang dan memberi mereka pelajaran yang pantas mereka terima.

Perlahan namun pasti, ia menenangkan dirinya. Tatapannya berubah menjadi dingin dan tajam, seakan es yang membeku. Ia tidak akan membunuh mereka karena itu terlalu mudah bagi mereka. Ia ingin mereka merasakan sedikit saja rasa menderita yang pernah ia rasakan.

Feng Wu merogoh saku kecil di pinggangnya dari sana ia mengeluarkan dua bungkusan kecil berisi bubuk halus, yang ia ambil dari persediaan di Ruangan Ajaib miliknya.

Pertama, ia mengambil bubuk berwarna merah pucat , ramuan yang terbuat dari campuran tanaman berduri dan akar gatal yang diproses khusus.

"Ini untukmu, Selir Yu sialan," bisiknya pelan tanpa suara. Bubuk ini tidak berbahaya bagi nyawa, namun begitu menempel di kulit dan diserap pori-pori, akan muncul bintik-bintik merah yang gatal luar biasa dan tak kunjung hilang dalam beberapa hari, dan tak bisa diobati dengan obat biasa. Wajah cantik yang selalu ia banggakan akan berubah menjadi sesuatu yang ia benci sendiri.

Dengan gerakan yang sangat hati-hati, Feng Wu menyelinap masuk melalui celah jendela, mendekati tempat tidur perlahan-lahan. Ia meniupkan bubuk itu pelan ke arah wajah Selir Yu begitu halus hingga wanita itu sama sekali tidak terbangun, hanya sedikit mengerutkan hidung lalu kembali tidur pulas.

Kemudian, ia mengambil bungkusan kedua, bubuk berwarna putih jernih yang hampir tak terlihat.

"Dan ini untukmu, Ayahku tercinta." Ramuan itu akan membuat napas dan bicaranya berbau sangat busuk dan menyengat seperti bau yang tak hilang meski berkali-kali menyikat gigi atau berkumur. Setiap kali ia membuka mulut untuk berbicara, orang-orang akan menjauhinya. Kebanggaan dan wibawanya sebagai Menteri akan runtuh karena hal yang paling sederhana namun paling memalukan.

Feng Wu mendekati wajah Menteri Feng, lalu sekali lagi meniupkan bubuk itu perlahan ke arah mulutnya yang sedikit terbuka saat tidur. Bubuk itu menempel di bibir dan masuk ke rongga mulut, menyatu dengan air liur tanpa disadari sama sekali.

Setelah memastikan semuanya berjalan sempurna, Feng Wu mundur perlahan, kembali ke balik jendela yang terbuka. Ia menatap kedua orang itu sekali lagi, mereka masih tidur pulas, tak tahu bahwa malam ini hidup mereka akan sedikit berubah.

"Selamat tidur, Ayah. Selamat tidur, Selir Yu," bisiknya dingin dengan senyum tipis yang menyiratkan ancaman. "Nikmati tidur terakhirmu tanpa beban. Karena saat kalian bangun besok pagi... pelajaran baru saja dimulai. Dan ini baru permulaan."

Ia tidak tinggal lebih lama. Dengan gerakan ringan, ia menghilang kembali ke dalam kegelapan malam, meninggalkan kediaman Feng yang megah itu, namun kali ini, hatinya terasa jauh lebih ringan. Ia telah memberikan tanda pertamanya. Bahwa ia masih hidup, dan ia kembali bukan untuk memohon, melainkan untuk menuntut balas.

Besok pagi, ketika matahari terbit... mereka akan tahu sesuatu yang buruk telah menimpa mereka. Dan itu hanyalah awal dari segalanya.

Feng Wu baru saja melompati tembok pembatas kediaman Feng, napasnya masih tenang setelah menyelesaikan rencananya. Langkahnya ringan, hatinya lega namun belum sempat ia melangkah jauh, sesosok bayangan hitam tiba-tiba melesat dari arah berlawanan dengan kecepatan luar biasa.

Duar!

Kedua tubuh itu bertabrakan di udara sebelum sempat saling menghindar. Feng Wu terhuyung, namun sebelum sempat jatuh ke tanah, tangan pria itu dengan sigap mencengkeram pinggangnya untuk menyeimbangkan tubuh gadis itu.

"Siapa kau?!" seru Feng Wu, langsung melepaskan diri dengan kasar. Wajahnya memerah karena marah bukan karena tabrakan itu, melainkan karena pria tak dikenal itu berani menyentuh pinggangnya tanpa izin. "Berani-beraninya kau menyentuhku! Lepaskan tanganmu yang kotor itu!"

Pria itu tidak menjawab. Ia justru menatap ke arah belakang dengan tatapan tajam, lalu tanpa pamit, tiba-tiba menarik pergelangan tangan Feng Wu dan melesat kembali ke dalam kegelapan, membawanya pergi dengan kecepatan yang hampir mustahil diikuti mata.

"Hei! Lepaskan aku! Kau dengar tidak?!" Feng Wu terus mengomel sepanjang perjalanan, kakinya berusaha mencari tumpuan namun tubuhnya justru semakin ditarik kencang. "Dasar pria mesum! Siapa kau? Penculik? Kalau kau pikir aku lemah, kau salah besar!"

Namun pria itu seakan tidak mendengar omelannya. Ia terus berlari melintasi lorong-lorong gelap, melompati atap rumah, dan menyusup ke gang-gang sempit. Di belakang mereka, terdengar suara langkah kaki banyak orang dan teriakan-teriakan kasar jelas ada orang yang sedang mengejar.

"Diam!" bisik pria itu pelan namun tegas, suaranya rendah dan berat, seakan bergetar di udara. "Kalau kau ingin hidup, ikut aku dan jangan bersuara."

Feng Wu terdiam sesaat, namun rasa kesalnya belum hilang. Namun ia mengerti pria ini sedang lari dari sesuatu yang berbahaya, dan ia ikut terseret ke dalamnya.

"Lepaskan aku! Kau tidak tahu siapa aku?! Berani kau menyentuh pinggangku begitu?! Turunkan sekarang!" Feng Wu terus mengomel tanpa henti, tangannya mengepal hendak memukul, namun ia sadar bahwa pria itu sedang berlari melompat dari atap ke atap dengan kecepatan tinggi jika ia berontak terlalu keras, keduanya bisa jatuh.

Namun pria itu tetap diam, wajahnya tertutup bayangan malam, hanya terus berlari tanpa menoleh sedikit pun. Ia membawa Feng Wu menembus kegelapan, menjauh dari kediaman Feng, menjauh dari para pengejar yang semakin lama semakin tertinggal di belakang.

"Kau itu orang gila ya?! Menculik orang seenaknya?! Dan tanganmu ini, lepaskan dari pinggangku! Itu sangat tidak sopan!" Feng Wu tak berhenti mengomel, emosinya bercampur antara marah karena disentuh pria asing dan kagum tanpa sadar pada kemampuan melompat pria itu yang begitu luar biasa.

Hingga akhirnya, pria itu mendarat di atas sebuah menara pengawas tua yang sudah lama tidak digunakan tempat yang tinggi, tersembunyi, dan sangat aman dari pengintai. Baru di sana, ia melepaskan pelukannya perlahan.

"Akhirnya kau turunkan juga!" Feng Wu langsung mundur selangkah, hendak melontarkan protes lagi namun kata-katanya tertahan di tenggorokan saat ia mendongak dan melihat wajah pria itu dengan jelas di bawah cahaya bulan purnama.

Jantungnya tiba-tiba berhenti berdetak sejenak.

Pria itu berdiri tegak di hadapannya, tubuhnya tinggi dan kekar, dibalut jubah hitam yang sederhana namun memancarkan aura kekuasaan yang tak terlukiskan. Wajahnya begitu tampan, hampir sempurna. Pria itu memiliki garis rahang yang tegas, hidung yang mancung tegak, dan bibir tipis yang tertutup rapat seolah tak pernah tersenyum. Namun yang paling membuat bulu kuduk Feng Wu merinding bukan ketampanannya melainkan matanya.

Mata yang tajam, dalam, dan sedingin es. Tatapan itu seakan mampu menembus ke kedalaman jiwa siapa pun yang berani menatapnya seakan bisa melihat segala rahasia, segala kebohongan, dan segala ketakutan seseorang hanya dengan sekali pandang. Di balik ketampanan yang luar biasa itu, tersembunyi kekuatan yang mengerikan aura yang membuat Feng Wu tanpa sadar menahan napas, tubuhnya kaku karena rasa hormat sekaligus ketakutan yang tak bisa dijelaskan.

Pria itu menatapnya diam cukup lama, matanya mengamati setiap inci wajah Feng Wu tanpa berkedip. Darah yang menetes dari luka di lengannya seakan tak ia rasakan sama sekali.

"Kau..." suaranya rendah, berat, dan begitu dalam hingga membuat udara di sekitar mereka terasa lebih dingin. "Apa yang kau lakukan di dekat kediaman Menteri Feng di tengah malam begini, gadis kecil?"

Feng Wu tertegun, tak bisa berkata-kata. Ia bukan takut pada pria itu tapi ia tak bisa menyangkal bahwa pria di hadapannya ini... bukan orang biasa. Dan entah mengapa, di dalam hatinya, ia merasa seakan takdirnya baru saja berbelok ke jalan yang tak pernah ia duga.

1
jenny
semoga wen qi tersadar dan gak perlu marah² ke su meng
Nonik Anda Swl
Thank you Thor, next please 🙏🌹
Nonik Anda Swl
next please🙏Thor, thank you 🌹
jenny
permainan segera dimulai
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!