Hidup Kayna memang sudah hancur, ayahnya sangat membencinya karna sudah membuat ibunya meninggal saat melahirkannya.
Oleh sebab itu, di usianya yang genap 20 tahun.. ia memutuskan mengakhiri hidupnya agar bisa merasakan reinkarnasi ke keluarga yang ia harapkan akan mencintainya, namun..
"Astaga.. kenapa aku harus menjadi tokoh antagonis yang akan mati di tangan tunanganku sendiri?"
Kayna yang kesal karna terlempar ke novel memutuskan untuk bunuh diri sebelum tunangannya yang membunuhnya.
Lalu, apakah rencananya akan berjalan mulus?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Malam itu, kamar batu pualam terasa lebih hangat dari biasanya. Bukan karena suhu ruangan, melainkan karena kehadiran Adrian yang pulang lebih cepat dari rapat dewan militer.
Kayna duduk di tepi dipannya, menatap pintu dengan tatapan bosan. Ia sudah menghabiskan sorenya dengan mencoba menghitung berapa kali ia bisa berkedip dalam satu menit dan hasilnya 42 kali per menit, sangat tidak produktif untuk rencana kematian.
Ketika pintu terbuka, Adrian masuk. Tapi kali ini, ia tidak membawa laporan perang atau wajah tegang seorang jenderal. Di tangannya, ia memegang sebuah kotak kue kecil yang dibungkus pita biru, warna favorit Kayna, meskipun Kayna sendiri baru menyadari hal itu setelah Adrian membelikannya tiga kali berturut-turut.
"Kau pulang cepat," ucap Kayna datar, meski jantungnya berdegup sedikit lebih kencang dari normal.
"Aku menyelesaikan urusan lebih cepat," jawab Adrian, meletakkan kotak kue di atas meja kecil. Ia melepaskan sarung tangan kulitnya, lalu menatap Kayna dengan tatapan yang intens. "Roderick melaporkan apa yang terjadi di rumah kaca."
Kayna mengedip. "Oh. Jadi kau tahu bahwa aku hampir mati? Atau lebih tepatnya, hampir *berhasil* mati?"
Adrian tidak tersenyum. Ia melangkah maju, duduk di samping Kayna di dipan kecil itu. Jarak mereka sangat dekat, hingga Kayna bisa mencium aroma kayu cedar dan sabun mandi yang bersih dari tubuh pria itu.
"Kau memintanya untuk membunuhmu," ucap Adrian pelan, suaranya terdengar sakit. "Kau mengkritik tekniknya."
"Itu efisien," balas Kayna defensif. "Kalau dia menusuk jantungku langsung, aku akan mati dalam hitungan detik. Tidak ada rasa sakit berkepanjangan. Itu pertimbangan manusiawi."
"Manusiawi?!" suara Adrian naik sedikit, matanya menyala dengan emosi yang tertahan. "Kayna, itu bukan efisiensi. Itu adalah keputusasaan. Kau begitu lelah dengan hidup ini sampai-sampai kau menyambut kematian seperti teman lama."
Kayna terdiam. Ia menatap Adrian, melihat kerutan di antara alis pria itu, melihat ketegangan di rahangnya. Untuk pertama kalinya, Kayna menyadari bahwa tindakannya tidak hanya mempengaruhi dirinya sendiri. Tindakannya menyakiti orang lain. Menyakitinya Adrian.
"Aku..." Kayna menelan ludah, suaranya tiba-tiba terdengar kecil. "Aku tidak bermaksud menyakitimu, Adrian."
Penggunaan nama depan tanpa gelar membuat Adrian tersentak. Ia menatap Kayna, matanya melembut seketika.
"Aku tahu," bisik Adrian. "Tapi setiap kali kau mencoba pergi... rasanya seperti ada bagian dari diriku yang ikut mati bersamamu."
Kayna merasa dadanya sesak. Kata-kata itu... kata-kata itu terlalu berat, terlalu jujur, dan terlalu menakutkan. Karena jika Adrian merasa seperti itu, maka Kayna juga mulai merasakan hal yang sama. Setiap kali Adrian terluka, setiap kali Adrian marah, setiap kali Adrian tersenyum... Kayna merasa sesuatu yang asing namun hangat tumbuh di dadanya.
"Buka kotaknya," perintah Adrian lembut, mengalihkan topik sebelum suasana menjadi terlalu emosional.
Kayna membuka kotak kue itu. Di dalamnya ada dua potong kue cokelat yang terlihat sempurna. Tidak gosong. Tidak retak. Hiasan krim putih di atasnya berbentuk hati kecil yang sangat rapi.
"Kau membuatnya?" tanya Kayna, terkejut.
"Aku meminta koki istana untuk mengajariku," jawab Adrian, sedikit malu. "Dia bilang aku punya bakat alami. Tapi menurutku, itu karena aku mengikuti instruksinya dengan sangat teliti. Seperti strategi perang."
Kayna tertawa kecil. "Strategi perang untuk membuat kue? Itu hal paling konyol yang pernah kudengar."
"Tapi hasilnya bagus, kan?" Adrian mengambil garpu kecil, memotong sepotong kue, dan menyodorkannya ke arah mulut Kayna. "Coba."
Kayna menatap garpu itu, lalu menatap Adrian. Pria itu menatapnya balik dengan harapan yang jelas terlihat di matanya. Dengan perlahan, Kayna membuka mulutnya dan memakan kue itu.
Rasanya... luar biasa. Cokelatnya kaya dan lembut, krimnya tidak terlalu manis, dan teksturnya meleleh di lidah. Ini adalah kue terbaik yang pernah Kayna rasakan dalam dua kehidupannya.
"Bagaimana?" tanya Adrian cemas.
"Enak," jawab Kayna jujur, menelan kue itu. "Sangat enak. Lebih enak daripada kue gosong kita kemarin."
Adrian menghela napas lega, senyum tipis muncul di bibirnya. "Syukurlah. Aku takut kau akan menolak makan lagi sebagai bentuk protes karena gagal mati tadi siang."
Kayna menatap Adrian. Senyum pria itu... senyum itu membuat Kayna ingin melakukan sesuatu yang gila. Sesuatu yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya.
Dengan gerakan impulsif, Kayna meraih tangan Adrian yang masih memegang garpu, dan mengecup pipi pria itu sekilas.
Adrian membeku. Matanya membelalak, wajahnya memerah instan hingga ke telinga. Garpu di tangannya hampir jatuh.
"K-Kayna..." suaranya terdengar serak, tercekat.
"Itu sebagai hadiah," ucap Kayna, berusaha terlihat santai meski wajahnya sendiri terasa panas. "Karena kuenya enak. Dan karena... kau tidak marah padaku saat aku hampir mati tadi."
Adrian menatap Kayna, napasnya tersengal. Ia mengangkat tangannya yang bebas, menyentuh pipinya sendiri tempat Kayna mengecupnya, seolah memastikan itu nyata.
"Kayna," ucapnya pelan, suaranya bergetar. "Kau tahu apa artinya itu, bukan?"
"Apa?"
"Artinya... kau mulai menerima keberadaanmu di sini. Kau mulai... peduli."
Kayna menunduk, menyembunyikan wajahnya yang memerah. "Jangan berlebihan, Tuan Duke. Itu hanya ciuman terima kasih. Bukan deklarasi cinta."
"Tapi bagiku, itu sudah cukup," bisik Adrian. Ia meletakkan garpunya, lalu dengan hati-hati, ia menarik Kayna ke dalam pelukannya. Pelukan yang lembut, yang hangat, yang membuat Kayna merasa aman untuk pertama kalinya dalam hidupnya.
Kayna memejamkan matanya, bersandar di dada Adrian. Ia bisa mendengar detak jantung pria itu yang berpacu liar, sama cepatnya dengan miliknya.
Aku tidak ingin mati, batin Kayna, menyadari kebenaran itu dengan kejutan yang menakutkan. Aku tidak ingin meninggalkan pelukan ini. Aku tidak ingin meninggalkan senyumnya. Aku tidak ingin meninggalkan Adrian.
Dan pengakuan itu... pengakuan itu lebih menakutkan daripada pisau, lebih menakutkan daripada racun, lebih menakutkan daripada lampu gantung yang jatuh.
Karena jika ia tidak ingin mati, berarti ia harus hidup. Dan hidup berarti menghadapi masa depan. Menghadapi Marquis Ardent. Menghadapi sindikat. Menghadapi dunia yang jahat.
Tapi setidaknya, kali ini, ia tidak sendirian.
..gagal terus🤣