NovelToon NovelToon
Dari Skripsi Jadi Ibu Tiri

Dari Skripsi Jadi Ibu Tiri

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Tiri / Orang Disabilitas / Dosen
Popularitas:48.9k
Nilai: 5
Nama Author: dtyas

Terancam Drop Out karena masa studi yang di ujung tanduk, Ruby menyusul Bara --dosen pembimbingnya hingga ke pelosok desa tempat pria itu melakukan penelitian. Misinya hanya satu, acc skripsi demi menyelamatkan masa depannya.

Sebuah kesalahpahaman konyol membuat mereka dituduh melanggar adat setempat. Tanpa opsi untuk bernegosiasi, Ruby dan Bara dipaksa menikah. Dalam semalam, status Ruby berbalik 180 derajat: dari mahasiswa abadi, menjadi istri sah sang dosen.

Kejutannya tak berhenti di situ. Bara bukan sekadar dosen senior dan dingin, dia adalah duda beranak dua dan salah satu anak Bara penyandang disabilitas.

"Satu dosen dingin, plus bonus dua krucil. Mirip promo beli satu dapat tiga.”

Ruby mendongak, menatap Bara yang menatapnya. "Jadi, ibu tiri! Siapa takut? Lagipula, menghadapi bab empat Pak Bara aja saya bertahan, apalagi cuma ngadepin mereka berdua!"

“Mas, panggil saya mas Bara.”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtyas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Membayangkan ....

Bab 14

Lepas dari kampus, Bara mendatangi kedua orangtuanya. Membicarakan rencana pertemuan dua keluarga. Harus siap dan mengusulkan rencananya sebagai kepala keluarga. Sudah mengabari Ruby kalau ia tidak ikut makan malam di rumah.

“Papi nggak pulang?”

Adly mengedikan bahunya.

“Pulang, masa nggak pulang,” sahut Ruby ikut bergabung di meja makan. “Sudah punya anak-anak lucu seperti kalian dan istri cantik seperti aku, masa nggak mau pulang.”

Jelita terkikik sedangkan Adly hanya datar saja. Sangat mirip dengan Bara.

“Papi kalian masih ada urusan. Biarkan saja, kita makan duluan. Bik, ini sudah semua?”

“Sudah mbak,”sahut Bik Ida.

Ruby mengangguk, ia memberi masukan pada asisten rumah tangga juga Bu Siti yang bertanggung jawab terhadap Jelita dan Adly. Masukan terkait menu makan. Sebelumnya mungkin bara tidak ikut campur, kali ini Ruby terlibat. Menurutnya menu makan yang terhidang kurang seimbang untuk kesehatan. Menyeimbangkan jumlah karbo dan sayur, memperbanyak protein dan buah. Tampaknya baik Adly ataupun Jelita tidak masalah dengan perubahan menu makan mereka.

“Beres makan, biasanya kalian kerjakan apa?”

“Belajar, setelah itu tidur.”

Adly berdecak. “Yakin langsung tidur?”

“ah, kalian pasti gabut ya. Tenang saja, mulai malam ini kita isi waktu biar tidak gabut,” jelas Ruby di tengah kunyahnya.

“Caranya?” tanya Jelita antusias. Terbiasa hanya berdua dengan Adly, sesekali ada oma dan opa mereka juga bu Siti. Kadang ia bosan dan kini ada Ruby dengan janji manisnya.

“Adalah pokoknya. Habiskan dulu makan kalian.”

“Tapi … kenapa makan Bunda hanya itu?” Jelita menunjuk piring Ruby dengan dagunya.

“Aku sedang diet. Kalian akan mengerti kalau sudah dewasa nanti. Menjaga kesehatan dan tubuh tetap ideal itu sulit.”

Beres makan makan, Bara belum juga terlihat batang hidungnya. Ruang kerja pria itu masih berantakan seperti dokumentasi yang dikirimkan oleh Ruby. Setelah berganti piyama memakai sandal rumah berbulu dan rambut digulung asal, Ruby mendatangi kamar Jelita. Nyatanya bocah itu tidak ada di kamar.

“Kemana dia?”

Berpindah ke kamar Adly, terdengar percakapan dari dalam.

“Ah, rupanya di sini.” Ruby memasuki kamar, mendapati Adly di meja belajar dan Jelita di ranjang sang kakak.

“Kalian sudah belajar?”

“Aku sudah. Tugasku sudah selesai dari sore.”

“Aku juga sudah.”

“Yakin?” tanya Adly pada Jelita dijawab dengan mengedikan bahu.

“Anggap saja sudah selesai. Sekarang kita ngobrol.” Ruby ikut duduk di sisi ranjang. Sudah mendapatkan informasi dari bu Siti mengenai Adly dan Jelita di sekolah, prestasi Adly di bidang akademik kecuali yang berhubungan dengan non kurikuler apalagi terkait fisik. Sudah pasti ia lemah dengan kondisi tubuhnya. Berbeda dengan Jelita, bocah itu termasuk pintar tapi tidak melejit seperti kakaknya.

“Ada yang mau kalian share tentang sekolah?” bertanya sambil bersedekap memandang Jelita dan Adly bergantian.

“Abang, bun, dia sering dibully.”

“Hah, benarkah?”

“Tidak, aku tidak pernah di bully,” sahut Adly. Ia menunduk memandang layar tablet.

“Iya, aku baca pop up pesan abang kemarin. Mereka ancam abang ‘kan?”

“Nggak. Jangan dengarkan Jelita.”

“Berikan ponselmu.” Ruby mengulurkan tangannya.

“Ck, untuk apa. Itu wilayah pribadiku.”

“Tapi kalian masih anak-anak dan hak orang tua memantau aktivitas kalian termasuk ponsel.”

Adly menarik nafasnya. “Aku tidak dibully dan tidak ada ancaman, ada pembagian kelompok untuk pentas seni dan aku tidak ingin masuk ke kelompok mereka. Itu saja.”

Ruby pernah melewati masa remaja seperti Adly, semakin dipaksa dan ditekan tidak akan ada informasi dan kejujuran.

“Ya sudah, kalau ada kendala kalian boleh sampaikan padaku. Papi kalian sibuk jadi kita berbagi tugas.” Ruby kali ini berdiri masih dengan tangan bersedekap. “Kalian ini spesial, anak-anak tersayang di keluarga ini. Jadi, kalau ada yang menindas, jangan diam saja. Lawan. Dengan cara elegan kalau perlu balas kalau memang mereka melakukan kekerasan.”

“Apa papi setuju dengan cara ini?” tanya Adly ragu-ragu.

“Papi kalian … pasti setuju,” cetus Ruby.

“Minggu depan ada bakti sosial di panti asuhan X, harus didampingi orangtua. Biasanya oma yang temani aku, apa ….”

“Bisa, nanti aku yang temani.”

“Benarkah?”

“Hm.” Ruby mengangguk yakin. “Besok, aku yang akan antar jemput kalian,” usul Ruby lagi.

“Bunda tidak sibuk?”

“Sebenarnya sibuk, tapi masih bisa diatur,” sahut Ruby. Ada dua hal yang perlu diamankan, skripsi dan Meldy. Secepatnya harus jujur dengan statusnya sekarang.

Obrolan masih berlanjut, gap usia antara Ruby dengan anak-anak tidak terlampau jauh, dibandingkan dengan Bara, membuatnya mudah memahami pola pikir dan psikologis remaja itu. Jelita sudah tergelak dan Adly tersenyum tipis mendengar arahan ibu tirinya. Mungkin versi Bara adalah ajaran sesat.

***

“Mau disiapkan makan, pak?” tanya Bik sari saat melihat Bara pulang.

“Tidak usah, saya sudah makan.”

“Kopi atau butuh yang lain?”

Bara menggeleng. “Pada kemana?”

“Mbak Ruby tadi di kamar Adly pak, kayaknya belum keluar.”

Dahi Bara mengernyit. Sedang apa di kamar anak-anak. Sempat memasuki ruang kerjanya untuk meletakan tas berisi laptop, Bara menarik nafas mendapati di atas meja berantakan dengan dokumen.

“Ck, memang harus dihukum. Gimana bisa selesai kalau ditinggal begini.”

Semakin dekat dengan kamar Adly, terdengar obrolan dan canda di sana. Bara mengintip dari balik pintu yang tidak tertutup rapat. Entah kapan ia medengar anak-anak seceria itu. Hatinya menghangat mendapati Ruby bisa cepat akrab dengan buah hatinya. Hampir jam 9 malam, harus dihentikan. Anak-anak masih harus mematuhi jam malam.

“Papi,” pekik Jelita melihat Bara melebarkan pintu kamar.

“Sudah malam, lanjutkan besok!”

Jelita menoleh ke arah Ruby yang mengangguk. Bocah itu patuh.

“Malam abang, Bunda, papi,” ujarnya sebelum keluar dari kamar Adly.

“Jangan lupa sikat gigi dan cuci muka,” sahut Ruby dan Adly sudah berdiri di sisi ranjang.

“Kamu tidak ingin pindah kamar?”

“Ah, iya.” Ruby turun dari ranjang Adly. “Selamat tidur gantengnya Barata.”

Tanpa budi dan berdosa, Ruby meninggalkan kamar Adly melewati Bara. Bahkan dengan sengaja menyenggol lengan Bara.

“Ruby, tunggu!” Bara mengejar langkah Ruby menaiki anak tangga. “Apa yang kamu bicarakan dengan anak-anak.”

“Hm, obrolan biasa. Membangun bonding antara ibu dan anak sambung.”

Membangun bonding sebagai ibu, kenapa tidak membangun bonding denganku sebagai pasangan, ucap Bara dalam hati.

“Mas suami, ancaman masih berlaku ya!”

“Berani kabur, saya kurung kamu di gudang!”

"Kok di gudang, kenapa nggak di kamar aja. Pasti lebih enak." 

"Ruby, jangan menggoda saya." 

Ruby berbalik menatap Bara dengan tatapan sinis. Posisi mereka berbeda dua anak tangga, hingga posisi Ruby lebih tinggi. 

"Kayaknya kelamaan menduda bikin otak mas Bara beku. Bagian mana saya menggoda. Kalau saya gak pakai baju dan polosan baru itu menggoda." 

Bara menelan saliva apalagi Ruby sengaja mencondongkan tubuh. Wajah Bara tepat di bagian dada sang istri, jaraknya begitu dekat. 

"Sama saja! saya bisa membayangkan isinya."

"Hah!" 

 

 

 

1
Koesbandiana
ma mau mau..😅😅😅😘
Nur Wakidah
adik bayi segera otewe 🤭🤭🤭
sikepang
sabar y jelita bahan y masih baru di cek out dikerangjang kuning, ntar di adon adek baby y sama daddy dan bunda 🤣
tiara
hayo Ruby Jelita minta adik tuh
mery harwati
Meldy aq padamu 😛❤️
Terus jadi kompor mleduk bwt Bara Meldy 💪
'Nchie
semoga ada ke ajaiban untuk adly😭😭
Melania Kiaa
ehh gak sooan🙄
'Nchie
awas aja kamu ruby kalo adly udah sembuh boleh pulang🤣🤣yg ada kamu yg di makan bara🤣🤣
'Nchie
spesial pake telor ya by🤣🤣🤣
'Nchie
🤣😀jaelangkung
Melania Kiaa
yang ada malah papamu yang ketuaan dek🤭
Anonim
Ruby .....emang sok berani
Anonim
Iih ada jaelsngkung keluyuran 🤭
Anonim
Jangan sampai kenapa "Adly
Anonim
Tuhkan Ruby....kamu sih ....sok"an tantang Mas Bara .....
Dozky 2 Crazy
mas duda bisa gak cara penyampaian jgn lempeng banget🥲🥲
Dozky 2 Crazy
jangan kan adly kita ajj yg baca selalu dibikin ketawa sama ruby😁😁😁
Anonim
Ruby ngapain kamu tantangin Bara
Awas ya kamu .....🤭
Dozky 2 Crazy
makasih bunda udh ada buat adly 🥲🩷🩷
Anonim
Benar .....Ipar adalah iblis
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!