NovelToon NovelToon
BISIKAN HEWAN: PUTRI KECIL PEMBAWA KEBERUNTUNGAN

BISIKAN HEWAN: PUTRI KECIL PEMBAWA KEBERUNTUNGAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Epik Petualangan / Fantasi
Popularitas:8.3k
Nilai: 5
Nama Author: Nissa Safira

Di tengah masa kelaparan parah yang melanda desa, seorang bayi perempuan dibuang begitu saja ke dalam hutan terlarang oleh orang tua kandungnya.

Takdir membawanya ke pelukan keluarga pemburu sederhana bernama Arga dan Mira yang kemudian menamainya Natasya.

Tujuh tahun berlalu, Natasya tumbuh menjadi anak ceria yang menyimpan rahasia ajaib karena ia mampu memahami dan berbicara dengan hewan.

Ketika Mira jatuh sakit parah dan membutuhkan tanaman obat langka, Natasya menggunakan kemampuannya untuk menjelajahi hutan terlarang demi menyelamatkan ibunya dan membawa kemakmuran bagi desa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26

Srasak.

Gaga melompat keluar dari semak belukar dengan pandangan mata kuning yang terlihat malas.

"Aku sudah mencium bau kebingunganmu dari jarak ratusan meter, Natasya."

Serigala raksasa itu langsung duduk bersila di depan gadis kecil yang sedang cemberut tersebut.

"Pasti ada hubungannya dengan gerombolan manusia berisik yang mendatangi rumahmu tadi pagi kan?"

"Ternyata kamu bisa mendengar suara mereka sampai ke sini ya, Gaga."

Natasya memeluk leher serigala itu dan menyandarkan kepalanya di bulu tebal Gaga.

"Orang-orang desa tiba-tiba menganggapku punya sihir pembawa keberuntungan."

"Itulah sifat asli kaum manusia yang sangat rakus dan selalu bergantung pada hal-hal yang tidak mereka mengerti."

Gaga mendengus keras mengeluarkan udara panas dari hidungnya sebagai bentuk rasa muaknya.

"Begitu mereka tahu ada yang bisa memberikan kemudahan, mereka akan terus memerasnya sampai habis."

"Padahal aku cuma menyuruh burung pipit mencarikan kambing dan menyuruh burung hantu memakan tikus."

Natasya mengerucutkan bibirnya merasa rencananya yang sempurna ternyata punya celah yang besar.

"Aku sama sekali tidak menggunakan sihir aneh seperti yang dituduhkan oleh Bu Rini yang cerewet itu."

"Masalahnya, rentetan kebetulan yang kau buat itu terlalu sering terjadi dalam waktu singkat."

Seekor tupai kecil tiba-tiba melompat turun dari dahan pohon mangga dan ikut menimpali.

"Manusia tidak punya otak untuk memikirkan penjelasan logis, jadi mereka menyimpulkannya sebagai sihir."

"Tuan Tupai benar sekali, Natasya."

Gaga menyetujui ucapan hewan kecil pengerat tersebut.

"Mulai sekarang kau harus menghentikan aksi tolong-menolong diam-diammu itu sebelum situasinya semakin memburuk."

"Lalu kalau ada yang hilang atau butuh bantuan, aku harus diam saja pura-pura tidak tahu?"

Natasya menatap Gaga dengan pandangan mata yang sangat sedih dan tidak rela.

"Tapi aku kasihan pada orang-orang miskin di desaku, Gaga."

"Kadang rasa kasihanmu itu justru akan menjadi pisau yang menusuk balik keluargamu sendiri, anak manusia."

Gaga memberikan nasihat tajam namun sangat realistis dari sudut pandang hukum rimba.

"Ayah dan ibumu sedang berada dalam masalah sosial yang besar karena melindungi identitas aslimu."

Natasya menghela napas panjang dan melepaskan pelukannya dari leher Gaga.

"Baiklah, aku janji tidak akan memanggil teman-teman hewan untuk menolong urusan desa lagi."

"Aku akan menjadi anak kecil biasa yang bodoh dan tidak tahu apa-apa seperti yang ayahku bilang."

Tiba-tiba, telinga Gaga bergerak naik dengan sangat cepat menangkap sebuah suara asing.

Serigala raksasa itu langsung merendahkan tubuhnya dan memamerkan taringnya ke arah jalan setapak desa.

"Ada dua orang manusia asing berbau tanah kering yang sedang berjalan menuju desamu, Natasya."

"Manusia asing berbau tanah kering?"

Natasya ikut melihat ke arah yang ditunjukkan oleh penciuman tajam sahabatnya itu.

"Apa mereka orang jahat yang mau merampok desa kami?"

"Mereka tidak membawa senjata tajam, tapi bau keringat mereka dipenuhi oleh keputusasaan yang sangat pekat."

Gaga mundur perlahan menyembunyikan sebagian tubuhnya di balik bayangan semak belukar.

"Sebaiknya kau segera pulang dan bersembunyi di dalam rumahmu sebelum mereka melihatmu di sini."

Natasya mengangguk cepat dan langsung berlari melesat kembali ke arah desanya.

Rasa penasarannya yang tinggi mengalahkan rasa takutnya pada perintah ayahnya tadi pagi.

Saat hampir sampai di pelataran rumahnya, Natasya bersembunyi di balik tumpukan kayu bakar tetangga.

Ia melihat dua orang pria dewasa yang terlihat sangat kurus dan berpakaian compang-camping sedang berdiri di depan rumahnya.

Mereka berdua sedang berbicara serius dengan Arga yang berdiri menghalangi pintu masuk.

"Tolong dengarkan permohonan kami dulu, Arga."

Salah satu pria asing itu memohon dengan suara serak yang hampir habis.

"Kami datang jauh-jauh dari Desa Karang di seberang bukit hanya untuk meminta pertolongan kalian."

"Aku sudah bilang berkali-kali, kabar yang kalian dengar itu hanya gosip murahan warga sini saja."

Arga melipat kedua tangannya di depan dada dengan postur tubuh yang sangat kaku dan menolak.

"Tidak ada gadis ajaib pembawa hujan atau penemu sumber air di keluargaku."

"Tolong jangan berbohong pada kami, Arga, kami sudah melihat sendiri lembah hijaumu itu dari atas bukit."

Pria asing yang satunya lagi ikut bersuara dengan nada putus asa yang menyayat hati.

"Desa kalian yang tadinya sama keringnya dengan desa kami tiba-tiba punya surga makanan di tengah kemarau."

Pria itu langsung jatuh berlutut di atas tanah berdebu tepat di depan kaki Arga.

"Sumur di Desa Karang sudah benar-benar mengering tanpa sisa air satu tetes pun sejak minggu lalu."

"Banyak anak kecil dan orang tua di desa kami yang mulai mati kehausan setiap harinya."

Mendengar cerita tragis itu, hati Natasya yang bersembunyi di balik kayu bakar langsung mencelos.

Kematian karena kehausan adalah hal yang sangat menyiksa dan jauh lebih mengerikan dari sekadar kelaparan.

"Aku turut prihatin dengan musibah yang menimpa desa kalian, sungguh."

Arga sedikit menurunkan nada suaranya karena merasa kasihan melihat pria tua yang berlutut di depannya itu.

"Tapi aku benar-benar tidak bisa membantu apa-apa karena anakku tidak punya kekuatan sihir untuk memunculkan air."

"Kami tidak minta air dari desamu, Arga, kami hanya ingin meminjam putri kecilmu sehari saja."

Pria yang masih berdiri mencoba memberikan penawaran yang terdengar sangat gila.

"Kata orang-orang yang lewat, putrimu punya firasat kuat untuk menemukan sumber air tersembunyi."

"Kami hanya minta dia berjalan-jalan di sekitar Desa Karang."

"Siapa tahu firasatnya bisa menunjuk ke tempat di mana kami bisa menggali sumur baru yang ada airnya."

Pria itu menatap Arga dengan mata yang dipenuhi air mata permohonan.

"Kalian ini benar-benar sudah tidak waras."

Arga langsung membentak keras merasa sangat marah karena putrinya diperlakukan seperti alat pelacak air.

"Sampai kapanpun aku tidak akan pernah membiarkan putriku dibawa ke desa asing oleh orang-orang putus asa seperti kalian."

"Bahkan kalau kalian menawarkan emas sebesar gunung pun, jawabanku tetap tidak."

Arga melangkah maju seolah siap bertarung secara fisik jika kedua pria itu memaksa.

"Cepat pergi dari halamanku sekarang juga sebelum aku memanggil warga desa untuk mengusir kalian dengan paksa."

Melihat reaksi Arga yang sangat menakutkan dan keras kepala, kedua pria dari Desa Karang itu akhirnya menyerah.

Mereka berdiri dengan sisa tenaga yang ada dan menatap Arga dengan pandangan penuh rasa kecewa yang mendalam.

"Maafkan kami jika permintaan kami ini menyinggung perasaanmu sebagai seorang ayah, Arga."

"Kami hanya mencoba mencari secercah harapan terakhir sebelum desa kami benar-benar hancur menjadi kuburan kering."

Pria tua itu menundukkan kepalanya dalam-dalam sebelum akhirnya berbalik arah untuk pulang.

Mereka berdua berjalan tertatih meninggalkan pekarangan rumah Arga dengan langkah yang sangat lambat.

Arga menatap kepergian mereka dengan rahang yang mengeras dan napas yang memburu.

Pria itu lalu berbalik dan menutup pintu rumahnya dengan bantingan yang cukup keras.

Brak.

Natasya keluar dari tempat persembunyiannya di balik kayu bakar setelah ayahnya masuk ke dalam rumah.

Gadis kecil itu menatap punggung kedua pria asing yang semakin menjauh di jalanan desa.

Kata-kata tentang anak kecil yang mati kehausan terus terngiang-ngiang dan berputar di kepalanya.

"Ayah memang benar, aku tidak punya sihir ajaib untuk memunculkan air dari tanah."

Natasya bergumam pelan sambil meremas ujung bajunya dengan perasaan yang sangat dilematis.

"Tapi teman-teman hewanku pasti tahu di mana letak sungai bawah tanah atau mata air yang masih menyala di bawah tanah Desa Karang."

Natasya teringat kembali pada janji yang baru saja ia buat pada Gaga dan Tuan Tupai beberapa menit yang lalu.

Ia sudah berjanji untuk tidak ikut campur lagi dan membiarkan orang dewasa menyelesaikan masalah mereka sendiri.

Namun membiarkan nyawa anak-anak tidak berdosa melayang kehausan jelas sangat bertentangan dengan hati nuraninya.

"Maafkan aku Gaga, sepertinya aku harus melanggar janjiku sekali ini saja."

Natasya membulatkan tekadnya dan matanya kembali memancarkan semangat yang menyala-nyala.

Gadis kecil itu tidak berlari pulang ke rumah, melainkan diam-diam mengikuti jejak langkah kedua pria asing tersebut.

Ia sudah memutuskan untuk menyelidiki Desa Karang sendiri dan mencari sumber air untuk mereka tanpa sepengetahuan ayah dan ibunya.

1
Fauziah Daud
mantap Natasha 👍👍
Fauziah Daud
trusemangattt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!