Sahabat ku bernama Fitriani Septian adalah seorang yang asik kita bersahabat dari kecil bermain bersama bersekolah bersama.
sampai setelah aku kelas 6 SD dan sahabat ku kelas 5 ada siswa baru di kelas 5
sahabatku mereka saling berkenalan dengan siswa baru bernama megiani satu hari itu mereka sudah sangat akrab.
dan hari demi hari sahabat ku yang pernah bersamaku kini dengan murid baru itu. kita jarang bertemu walau rumah kita saling dekat bahkan jika bertemu kita sudah asing tidak seperti dahulu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Priska Heriska, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sebuah impian besar
Setelah suapan terakhir habis, aku membantu Ibu merapikan piring-piring kotor ke tempat cucian. Ibu menatapku lalu berkata "diamnya Della mungkin karena dia belum terbiasa, dan usikan Dian justru tanda kalau dia tidak punya ketenangan seperti yang kamu miliki sekarang."
Aku tersenyum dan mengangguk mantap. Rasa lelah dari hari pertama sekolah benar-benar sirna. Selesai membereskan meja makan dan menyapu, aku ke kamar untuk beristirahat sejenak sambil membaca ulang catatan target nilai yang tadi sempat ku buat bersama Dwi di kelas. Di kamar yang sederhana ini, ditemani angin sore yang masuk lewat celah jendela, aku merasa sangat bersyukur.
Waktu berputar cepat hingga menjelang pukul empat sore. Suara langkah masuk ke rumah mengejutkanku dari lamunan.
"Aku pulang!" suara lantang itu sudah pasti milik Kakak.
Aku langsung keluar dari kamar dan mendapati Kakak berjalan masuk sambil menyeka keringat di dahinya. Seragam putih-abu-abunya tampak sedikit kusut, dan tas ranselnya yang berat sebelah menandakan hari pertamanya sebagai anak kelas 2 SMA sangat padat. Namun, matanya berbinar penuh semangat.
"Wah, wangi oseng tahu nih! Masih ada sisa tidak, Bu?" seru Kakak sambil meletakkan tasnya di kursi ruang tamu.
Ibu muncul dari dapur sambil tersenyum. "Masih ada di lemari makan. Ganti baju dulu sana, Bagaimana hari pertama?
"Tadi ada rapat pleno buat persiapan menyambut siswa baru. Seru sekali, meskipun menguras tenaga," jawab Kakak sambil melangkah ke kamarnya setelah sempat mengacak rambutku dengan gemas saat melewati ku. "Bagaimana kelas 8-mu, Ris? Aman?"
"Aman, aku masuk kelas 8-B," sahutku setengah berteriak agar terdengar sampai ke kamarnya.
Tidak lama setelah Kakak selesai berganti baju dan sedang melahap makan siangnya yang terlambat di meja makan, terdengar suara langkah kaki yang sangat familier dari arah depan rumah. Suara gesekan sandal jepit dan langkah yang berat namun pasti.
Itu Bapak.
Suara sandal jepit itu berhenti di depan pintu. Pintu kayu berderit pelan, lalu muncullah sosok Bapak dengan baju biasa yang sudah dipenuhi keringat. Di wajahnya tergambar jelas sisa peluh dan garis lelah, tetapi begitu matanya menyapu ruang tamu dan melihat Kakak yang masih mengunyah oseng tahu serta aku yang muncul dari pintu kamar, senyum tipis yang hangat langsung merekah di bibirnya.
"Bapak pulang," ucapnya dengan suara parau namun menenangkan.
Ibu dengan sigap melangkah dari arah dapur, menyambut Bapak sambil mengambil alih menyodorkan segelas air putih hangat yang sepertinya sudah disiapkan lebih dulu.
Bapak meneguk air pemberian Ibu sampai habis, lalu meletakkan gelas itu pelan-pelan ke atas meja. Dari kantong celana kerjanya yang agak pudar, Bapak merogoh dompet kain yang sudah mulai lusuh.
Bapak mengeluarkan beberapa lembar uang kertas yang tidak seberapa banyak hasil peluh seharian mengais upah sebagai buruh harian lepas lalu menyerahkannya kepada Ibu dengan tangan yang kasar dan berdebu.
Ibu menerima uang itu tanpa menghitungnya di depan Bapak. Ia hanya tersenyum tipis, mengangguk paham, lalu menyelipkannya lembut ke dalam saku daster.
"Tadi kerjanya berat?" tanya Ibu pelan sambil membantu merapikan handuk kecil di pundak Bapak.
"Lumayan, ngangkut semen" jawab Bapak dengan suara parau yang hangat. Ia lalu menatap Kakak dan aku bergantian.
Bapak menarik kursi kayu di dekat meja makan, lalu duduk dengan helaan napas panjang yang sarat akan rasa lelah namun sekaligus lega. Ibu dengan telaten duduk di sampingnya, memberikan ruang bagi Bapak untuk meluruskan kakinya yang pasti pegal setelah seharian berdiri dan mengangkut beban.
"Proyek yang di sebelah itu katanya mau rampung bulan depan, Bu," ujar Bapak membuka obrolan dengan suara rendah, nyaris berbisik agar tidak mengganggu Kakak yang sedang mencuci piringnya di dapur.
Ibu menatap Bapak dengan tatapan teduh. "Lalu, setelah itu sudah ada tawaran lain lagi,?"
Bapak menggeleng pelan, lalu tersenyum tipis yang dipaksakan. "Belum ada. Mandor yang biasa ngajak juga bilang lagi sepi proyek baru. Tapi ndak apa-apa, nanti coba tanya ke teman-teman buruh yang lain di pangkalan."
Ibu mengangguk mantap. "Iya, Uang yang tadi kasih juga alhamdulillah cukup untuk beli beras dan telur buat besok sarapan.
Ibu segera beranjak ke dapur, menyiapkan piring bersih dan menyendok kan nasi serta sisa oseng tahu untuk Bapak. Di bawah lampu neon ruang tengah, Bapak duduk dengan bahu yang masih sedikit membungkuk. Namun, begitu piring itu berpindah ke hadapannya, kelelahan di wajahnya perlahan melunak diganti senyum kecil.
"Makan dulu," kata Ibu lembut sambil duduk kembali di sisi Bapak.
Bapak mulai menyuap nasi dengan tangan yang telaten meski kuku-kukunya masih menyisakan sedikit debu semen. Di sela kunyahannya, Bapak menatapku dan Kakak bergantian. Suaranya serak namun teduh,
"Gimana sekolahnya tadi? Jangan bikin ulah ya, kalian berdua harus pinter. Bapak sama Ibu cuma punya kalian buat banggain."
Kakak yang baru selesai mencuci piring langsung menimpali dengan tawa kecil yang mencairkan suasana. "Aman, Pak! Tenang aja, tahun depan aku lulus, dan akan melanjutkan kuliah.
Bapak menggeleng pelan sambil tersenyum lebar, garis-garis di sudut matanya semakin dalam.
Aku hanya bisa mengangguk mantap, menatap piring di hadapan Bapak, lalu melirik ke arah kakak.
Bapak menarik napas dalam-dalam, menghela senyum yang terasa hangat meski sorot matanya menyimpan kenyataan berat.
"Bukan Bapak tidak mau melihat kalian sukses setinggi langit," ucap Bapak lembut, merendahkan suara agar tidak terdengar seperti keluhan, "tapi kondisi kita... Kamu tahu sendiri. Kalau mau kuliah, cari jalan yang tidak membebani Bapak. Cari beasiswa, atau cari cara supaya kampus yang membiayai kamu."
Kakak mengangguk paham. Ia tidak pernah protes, tidak pernah menuntut. Sejak hari itu, Kakak mengubah kamarnya menjadi markas perjuangan. Setiap malam setelah membantu pekerjaan rumah, lemari buku Kakak dipenuhi tumpukan kertas latihan soal, modul tes masuk perguruan tinggi, dan rangkuman pelajaran sekolah.
Malam tiba setelahnya terasa berbeda di rumah itu. Meja makan yang biasanya hanya berisi suara denting sendok dan cerita ringan tentang sekolah, kini sering kali diselingi dengan suara lembaran kertas yang dibolak-balik oleh Kakak. Di atas meja kayu kecil yang sudah terkelupas catnya, Kakak membagi waktu dengan ketat membantu Ibu menyiapkan bahan dagangan atau mengerjakan PR sekolah, lalu menghabiskan sisa malam untuk melahap buku-buku persiapan UTBK dan seleksi beasiswa.
Aku disamping kakak sambil menjadwal pelajaran. Melihat Kakak yang sesekali memijat kepalanya yang pusing, lalu menarik napas panjang dan kembali menulis rumus matematika atau membaca teks bahasa Inggris yang panjang.
Aku yang selesai menjadwal pelajaran, langsung ke dapur membawa segelas teh hangat buatan Ibu.
"belum selesai kak?, ini tehnya" tanyaku pelan, sambil meletakkan gelas di sebelah tumpukan buku-buku.
Kakak mendongak, tersenyum tipis dengan mata yang sedikit merah karena kelelahan.
"Belum. Ini nanggung" ujarnya pelan, lalu menerima gelas teh itu. Kehangatan menjalar dari telapak tangannya, sementara uap tipisnya mengepul, membawa aroma melati yang menenangkan ke seluruh ruangan.
"Bapak, ibu sudah tidur?" tanya Kakak setelah menyesap teh hangat itu sedikit.
"Belum ibu sedang memasak untuk besok jualan, kalo bapak juga belum tidur"
Malam semakin larut. Bapak dan ibu sudah tertidur. Suara jangkrik di luar rumah menjadi satu-satunya latar belakang yang setia menemani. Di sudut meja kayu yang terkelupas itu, aku tahu ada sebuah impian besar yang sedang diperjuangkan dengan sisa-sisa tenaga. Dan di dalam hati, aku berjanji akan selalu ada di sana, menemani setiap langkah perjuangannya.
pokoknya harus Sampek ending