*𝘿𝙚𝙬𝙖 𝘼𝙡𝙠𝙚𝙢𝙞𝙨 𝙎𝙚𝙢𝙗𝙞𝙡𝙖𝙣 𝘽𝙚𝙣𝙪𝙖 𝙎𝙚𝙖𝙨𝙤𝙣 𝘿𝙪𝙖*
Ini adalah kisah Lin Xuan Sang Dewa Alkemis yang tidak sengaja bertemu dengan musuh terkuatnya Mo Xie, dua orang dari alam bawah yang tanpa sengaja terjerumus ke alam semesta yang jauh lebih tinggi.
Namun, mereka segera menyadari bahwa gelar agung, bahkan kekuasaan yang dianugerahkan oleh para Dewa dan Iblis Kuno bukanlah berkah, melainkan umpan untuk memelihara tubuh mereka hingga matang sebelum akhirnya dijadikan santapan.
Alih-alih terus saling membunuh, dua anomali ini akhirnya mengesampingkan permusuhan mereka untuk sementara.
Sebab sebelum menentukan siapa yang akan mati di tangan siapa, mereka sepakat melakukan satu hal terlebih dahulu...
Membantai para dewa serta iblis munafik dan membuat seluruh Alam Tinggi berlumuran darah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31: Kubah Kehampaan Mutlak
Jauh di pusat Alam Primordial berdiri jantung kekuasaan para dewa kuno, Ibu Kota Suci Taichu. Untuk mencapainya, setiap armada harus melewati satu-satunya jalur menuju pusat kekaisaran. Jalur itu dijaga oleh sebuah benteng raksasa yang luasnya menyerupai orbit sebuah planet kecil.
Gerbang Bintang Taichu.
Saat ini, alarm perang menggema di seluruh benteng.
Ratusan ribu pasukan Faksi Pendukung telah membentuk barisan pertahanan, sementara ribuan kapal perang memenuhi langit bintang di belakang mereka. Aura pembunuh yang terpancar dari armada itu membuat kehampaan bergetar.
Namun pertahanan sebesar apa pun tetap tak mampu menghentikan kedatangan kehancuran.
Craasshh!
Kehampaan di depan Gerbang Bintang terkoyak.
Ribuan kapal perang Armada Tianyu menerobos keluar dari lorong ruang. Zirah emas-putih mereka berkilau di bawah cahaya bintang, sementara Formasi Cahaya Pemusnah menyelimuti seluruh armada seperti lapisan pelindung raksasa.
Di haluan kapal utama, Shen Ziyue berdiri dengan pedang terhunus. Zirah perangnya membungkus tubuhnya, memancarkan kewibawaan seorang penguasa yang baru saja bangkit.
Tatapannya yang dingin tertuju pada benteng Taichu.
"Tidak ada negosiasi. Tidak ada belas kasihan."
Suara Ziyue menggema ke seluruh armada.
"Musnahkan siapa pun yang menghalangi jalan kita. Hari ini, kita buka gerbang Ibu Kota Taichu dengan darah mereka!"
"Hidup Putri Mahkota!"
Raungan jutaan Ksatria Emas mengguncang langit.
Perang pun pecah.
Ribuan meriam perang memuntahkan cahaya. Pilar-pilar penghancur saling bertabrakan di antara bintang-bintang dan meledak menjadi lautan api. Kapal perang hancur satu demi satu, sementara para prajurit dari kedua pihak melompat ke medan perang dan bertarung dengan pedang serta tombak.
Namun di tengah kekacauan itu, seseorang justru berjalan dengan tenang.
Pintu kapal utama terbuka.
Lin Xuan melangkah keluar dan langsung menjejakkan kaki ke dalam kehampaan.
Ia tidak mengenakan zirah perang. Hanya jubah putih seorang alkemis yang membungkus tubuhnya, sementara rambut peraknya bergerak perlahan meski tidak ada angin.
Dengan kedua tangan di belakang punggung, Lin Xuan berjalan menuju Gerbang Bintang Taichu.
Langkahnya terlihat santai.
Namun setiap kali telapak kakinya menekan kehampaan, tubuhnya melesat puluhan li ke depan. Ia benar-benar berjalan menembus medan perang seolah seluruh serangan di sekitarnya tidak lebih dari angin yang lewat.
Dari anjungan Gerbang Bintang, para jenderal Taichu segera menyadari keberadaannya.
"Itu dia!"
"Manuasia Sampah!"
"Arahkan seluruh meriam kepadanya! Hancurkan dia!"
Perintah segera dijalankan.
Ratusan meriam perang berputar serempak dan mengunci tubuh Lin Xuan.
Wuusshh!
Ratusan pilar cahaya melesat dari benteng.
Namun Lin Xuan bahkan tidak berhenti.
Ketika serangan-serangan itu mendekati tubuhnya, seluruh cahaya tiba-tiba membelok. Sebagian melewati sisi kiri, sebagian lainnya menyimpang ke kanan.
Tak satu pun menyentuh tubuhnya.
Hukum Tolak telah menyelimuti seluruh tubuh Lin Xuan. Apa pun yang mendekatinya akan dipaksa menjauh, seolah kehampaan sendiri menolak keberadaan serangan tersebut.
Para prajurit Taichu menggenggam senjata dengan tangan gemetar.
Lin Xuan terus berjalan.
Tak lama kemudian, ia mendarat di pelataran Gerbang Bintang.
Ratusan prajurit elit Taichu yang berjaga di sana segera mundur. Tak seorang pun berani maju menghadapi sosok yang baru saja berjalan menembus hujan meriam tanpa terluka sedikit pun.
Namun sebelum Lin Xuan melangkah lebih jauh, tiga sosok tiba-tiba turun dari langit.
Tiga pilar cahaya emas menghantam pelataran.
Ketika cahaya itu menghilang, tiga Tetua Tertinggi Faksi Pendukung berdiri di hadapan Lin Xuan. Ketiganya adalah Dewa Leluhur yang telah mencapai puncak kultivasi. Aura kuno mereka menyelimuti seluruh benteng dan membuat ruang di sekitarnya bergetar.
Tetua Pertama menatap Lin Xuan dengan dingin.
"Langkahmu berhenti di sini, Manusia."
Tetua Kedua mengangkat tangannya.
Dalam sekejap, ribuan pedang emas muncul di langit dan mengarah kepada Lin Xuan.
"Kami akan memotong tubuhmu dan menyegel jiwamu di dalam Lentera Dosa."
Lin Xuan berhenti.
Tatapannya menyapu ketiga tetua tanpa sedikit pun gentar.
"Kalian mengira kekuatan yang kalian pinjam dari langit adalah milik kalian sendiri?"
Senyum tipis muncul di wajahnya.
"Sayangnya, kalian salah."
Ribuan pedang emas bergetar.
Ketiga tetua bersiap melancarkan serangan. Namun Lin Xuan hanya mengeluarkan satu tangan dari balik punggungnya.
"Sebagai seorang alkemis..." Ia membuka telapak tangannya. "Aku lebih suka mengatur tungkuku sendiri."
Kekuatan Hukum Tolak perlahan berputar di telapak tangannya.
Namun kali ini, Lin Xuan tidak mengarahkannya kepada ketiga tetua.
Ia menciptakan satu titik tolakan tepat di antara mereka.
Kehampaan di sekitar ketiga tetua justru tiba-tiba runtuh menjadi kesunyian mutlak.
Dalam radius lima puluh meter, segala sesuatu terdorong keluar. Udara lenyap. Qi lenyap. Bahkan debu pun tidak tersisa.
Sebuah kubah kehampaan terbentuk dan langsung mengurung ketiga tetua di dalamnya.
Ribuan pedang emas yang mereka panggil pun lenyap satu demi satu.
Tanpa aliran Qi, teknik mereka tak mampu bertahan.
"Uhk...!"
Ketiga tetua mencengkeram leher masing-masing.
Wajah mereka berubah pucat.
Tubuh mereka telah terbiasa hidup dengan aliran Qi yang memenuhi langit dan bumi. Kini, terperangkap dalam kehampaan mutlak, darah dan Qi di dalam tubuh mereka mulai mengamuk.
Paru-paru mereka mengembang dengan paksa. Pembuluh darah pecah, sementara Lautan Roh mereka bergetar hebat karena kehilangan keseimbangan.
"G-gaaah!"
Tetua Pertama memuntahkan darah.
Retakan mulai menjalar di kulit emasnya.
Tetua Kedua dan Ketiga pun jatuh berlutut. Mereka berusaha mengerahkan Qi, tetapi tak ada sedikit pun tenaga langit dan bumi yang dapat mereka serap.
Teknik mereka tak berguna.
Lin Xuan berdiri di luar kubah dengan tatapan dingin.
Kurang dari sepuluh detik kemudian, tubuh ketiga tetua mulai bergetar hebat.
Darah dan Qi meledak dari dalam tubuh mereka.
Ketiga Tetua Tertinggi jatuh tanpa nyawa.
Pilar pertahanan Gerbang Bintang Taichu telah runtuh tanpa Lin Xuan perlu menyentuh mereka.
Para prajurit Taichu kehilangan keberanian. Senjata mereka jatuh satu demi satu, sementara sebagian mulai melarikan diri tanpa berani menoleh.
Lin Xuan menutup telapak tangannya. Kubah Kehampaan Mutlak pun lenyap.
Udara kembali memenuhi pelataran.
Ia berjalan melewati mayat ketiga tetua dan berhenti di depan gerbang utama.
Sepasang pintu raksasa berdiri di hadapannya. Terbuat dari Logam Bintang, gerbang itu telah bertahan selama zaman yang tak terhitung dan dikenal hampir mustahil dihancurkan.
Lin Xuan menatapnya sejenak.
"Rintangan yang membosankan."
Ia memutar tubuh dan mengalirkan Hukum Tolak ke kaki kanannya.
Kemudian menendang.
Dooom!
Kekuatan dahsyat meledak.
Retakan menjalar ke seluruh permukaan pintu. Dalam sekejap, Logam Bintang yang selama ini dikenal tak dapat dihancurkan itu pecah menjadi jutaan keping.
Gerbang raksasa runtuh.
Jalan menuju Ibu Kota Suci Taichu akhirnya terbuka.
Dari kejauhan, sorak-sorai Armada Tianyu mengguncang langit. Kapal-kapal perang Shen Ziyue segera bergerak melewati gerbang yang telah dihancurkan Lin Xuan dan memasuki wilayah pusat Taichu.
Sementara itu, Lin Xuan tetap berdiri di depan jalan yang terbuka.
Tatapannya tertuju pada kota raksasa yang berkilauan di kejauhan.
Senyum tipis muncul di wajahnya.