NovelToon NovelToon
Behind Her Bad Behavior: The Hidden Heiress Of Ravenswood

Behind Her Bad Behavior: The Hidden Heiress Of Ravenswood

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Diam-Diam Cinta / Bad girl
Popularitas:116
Nilai: 5
Nama Author: Xyfvxnyy

Clyrine Elamora Rexander adalah putri manja pemilik Raxenswood Academy yang memilih menyembunyikan identitasnya dan menjalani kehidupan sebagai murid pemberontak yang gemar berkelahi demi melindungi mereka yang tertindas.

Namun, kehidupan palsunya mulai runtuh ketika ia berhadapan dengan Claire, saudari tirinya yang ternyata menyimpan sisi gelap, serta Jonathan Wright, pria yang ingin memanfaatkan perjodohan mereka untuk merebut Raxenswood.

Di tengah rahasia keluarga, pengkhianatan, dan ancaman yang semakin dekat, Clyrine harus berhenti bersembunyi dan menghadapi kenyataan bahwa menjadi pewaris Raxenswood berarti mempertaruhkan segalanya.

Sebab di balik semua kekacauan itu, ada seseorang yang diam-diam telah merencanakan semuanya dari balik bayangan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xyfvxnyy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bayang-Bayang di Balik Kemudi

Sedan hitam milik Damien terparkir rapi di salah satu sudut strategis area parkir Rexanswood Academy. Posisi itu memberinya jarak pandang yang leluasa ke arah selasar utama dan pintu keluar gedung kelas dua belas. Jarum jam pada speedometer digital mobilnya menunjukkan pukul 11.47 siang. Masih ada sekitar tiga belas menit sebelum bel kepulangan berdentang.

Damien duduk diam di balik kemudi. Mesin mobil sengaja dimatikan, hanya menyisakan celah kaca jendela yang sedikit terbuka untuk membiarkan angin sejuk berhembus masuk. Jas abu-abu gelapnya tersampir rapi di jok belakang, menyisakan kemeja hitam yang kini tergulung rapi hingga siku.

Netra pekat pria itu tak pernah beralih dari deretan jendela kaca di lantai dua sayap timur—ruang kelas Clyrine.

Penolakan singkat melalui pesan teks tadi siang masih membekas di benak Damien. "Nggak usah jemput. Aku bareng teman aku." Kalimat bernada dingin dan menjaga jarak itu sama sekali bukan tabiat Clyrine yang biasanya selalu berisik, gemar menguji kesabarannya, atau melontarkan celotehan konyol. Damien tahu betul dirinya bersalah karena terlambat mengabari dan membiarkan gadis itu menunggu tanpa kepastian tadi pagi. Namun, ada dorongan kuat dalam dirinya yang menuntut penjelasan langsung, bukan sekadar kalimat singkat di layar ponsel.

Ia meraba saku celananya, menarik keluar ponsel pintar miliknya. Ruang obrolan dengan kontak bertuliskan Clyrine masih terpampang di layar. Pesan terakhir yang ia kirim sama sekali tidak dibalas. Damien menghela napas pendek, lalu mengetuk-ngetukkan jemarinya pada roda kemudi dengan irama kaku yang mencerminkan gejolak dalam pikirannya.

Teng... teng... teng...

Dentang bel kepulangan tepat pukul 12.00 siang memecah kesunyian area sekolah.

Dalam hitungan menit, gelombang siswa-siswi berseragam elit mulai tumpah ruah keluar dari gedung utama. Suara obrolan riuh, tawa lepas, dan derap langkah ratusan sepatu beradu di lantai marmer menggema hingga ke area parkir.

Damien membuka pintu mobil, melangkah turun dengan postur tubuh tinggi tegap yang seketika menarik perhatian beberapa murid dan orang tua yang melintas. Ia berdiri bersandar pada kap depan mobilnya, melipat kedua tangannya di depan dada dengan ekspresi sedingin es. Sorot matanya yang tajam menyapu kerumunan siswa yang bergerak menuju gerbang dan halte penjemputan, mencari satu sosok yang menjadi alasannya berada di sini.

Tak butuh waktu lama bagi Damien untuk menemukannya.

Di ujung selasar lobi utama, Clyrine melangkah keluar. Namun, gadis itu tidak sendirian, dan ia sama sekali tidak berjalan ke arah gerbang penjemputan mobil.

Di sampingnya, berjalan seorang pemuda bertubuh jangkung dengan seragam yang dikenakan santai. Lengan jas pemuda itu dibiarkan terbuka, dan rambutnya yang sedikit ikal tertata rapi khas blasteran. Pemuda itu tengah berbicara dengan gestur tangan yang begitu ekspresif, sesekali tertawa lepas hingga memperlihatkan deretan giginya yang rapi.

Dan yang membuat mata Damien menyipit tajam adalah ekspresi Clyrine.

Gadis yang tadi pagi mengirimkan pesan dingin sedingin kutub utara itu kini tengah tertawa lebar. Matanya menyipit riang, rona merah muda merekah alami di kedua pipinya saat ia membalas lelucon pemuda di sampingnya sambil meninju pelan bahu cowok itu dengan ranselnya. Keakraban mereka begitu mengalir, alami, dan tanpa sekat—seperti dua orang yang sudah saling mengenal luar dalam selama bertahun-tahun.

Keduanya berjalan berdampingan melintasi selasar samping, langsung mengarahkan langkah menuju deretan parkiran motor khusus siswa. Saking larutnya dalam tawa dan obrolan seru, Clyrine bahkan sama sekali tidak menyadari kehadiran sedan hitam besar milik keluarga Vance yang terparkir hanya berjarak beberapa meter dari jalur mereka, apalagi menyadari sosok Damien yang berdiri mematung menatapnya lurus-lurus.

Damien merasakan ada sesuatu yang mengeras di rongga dadanya.

Sebuah getaran asing yang menusuk ulu hatinya tanpa aba-aba. Bukan amarah biasa seperti saat menghadapi kelicikan Claire atau ketidakbecusan staf yayasan. Rasa kesal ini terasa jauh lebih pekat, panas, dan membakar di bawah kendali dirinya yang selama ini selalu dingin dan terukur.

Teman? batin Damien dengan rahang yang mengeras rapat hingga otot di pipinya berkedut tajam. Jadi ini sosok yang dia maksud teman?

Pikiran Damien melayang pada kejadian semalam di ruang perpustakaan Rexander. Gadis yang sama sempat tersipu malu saat ia sentil dahinya, gadis yang menatapnya dengan penuh kekaguman saat ia melindunginya di ruang BK, kini tampak begitu mudah melupakan semuanya dan tertawa lepas bersama laki-laki lain yang sebaya dengannya.

Damien mengepalkan kedua tangannya di dalam lipatan dada. Buku-buku jarinya memutih. Logika dewasanya yang berusia 21 tahun mengingatkan bahwa Clyrine hanyalah gadis remaja enam belas tahun yang sedang menikmati masa mudanya, seorang anak bimbingan yang baru saja ia sepakati jadwal belajarnya dengan Charles Rexander. Tidak ada ikatan lebih di antara mereka selain mentor dan murid.

Namun, bagian lain dalam diri Damien—bagian yang tadi pagi memacu mobilnya kalap melintasi jalanan demi membatalkan sanksi gadis itu—menolak mentah-mentah pemandangan di hadapannya. Ia tidak suka melihat binar tawa itu ditujukan untuk orang lain. Ia tidak suka diabaikan seolah keberadaannya sama sekali tidak berarti.

Di dekat deretan motor sport, langkah Adrian dan Clyrine terhenti tepat di samping sebuah motor berkapasitas mesin besar berwarna merah-hitam. Adrian meraih helm cadangan dari spion, lalu dengan santai mengulurkannya pada Clyrine.

"Nih, pakai yang bener. Jangan sampai lepas di jalan kayak tadi pagi," celetuk Adrian sambil tersenyum jahil, tangannya bahkan terulur membantu menepis anak rambut yang menempel di dahi Clyrine saat gadis itu memasang pengait helm.

Clyrine mendengus geli, memukul pelan pergelangan tangan Adrian. "Bawel lo. Cepetan, gue udah laper banget ini."

"Iya, Tuan Putri. Tenang aja, restoran iga bakar favorit lo dari jaman SD masih buka kok di dekat pusat kota," balas Adrian seraya menaiki motornya dan menyalakan mesin.

Raungan knalpot motor sport itu meraung nyaring di pelataran parkir.

Dari jarak sepuluh meter, Damien berdiri tak bergeming. Manik mata gelapnya menghujam tepat pada jemari Clyrine yang kini memegang pundak pemuda asing itu untuk menyeimbangkan tubuhnya saat naik ke jok belakang. Tatapan Damien sedingin pisau belati, mengunci punggung Clyrine yang mulai bersiap meninggalkan area sekolah.

Clyrine yang sudah duduk di jok belakang mendadak merasakan hawa dingin yang aneh meremang di tengkuknya. Seolah ada sepasang mata tak kasat mata yang tengah membidiknya dengan intensitas luar biasa. Gadis itu menolehkan kepalanya secara refleks ke arah area parkir mobil di seberang sana.

Dan saat tatapan matanya menembus celah pepohonan taman parkir, napas Clyrine seketika tercekat di tenggorokan.

Di sana, di samping kap sedan hitam yang sangat ia kenali, Damien Vance berdiri menatapnya lurus-lurus.

Tidak ada senyuman di wajah tampan pria itu. Rahang Damien mengetat kaku, matanya gelap gulita memancarkan amarah dingin yang teramat nyata. Tatapan itu begitu mendominasi, menuntut penjelasan, dan mengunci Clyrine dalam keterkejutan total.

Jantung Clyrine berdegup kencang bukan main. Ia tidak menyangka Damien benar-benar datang ke sekolahnya meskipun ia sudah menolaknya secara tegas lewat pesan teks tadi siang. Namun tepat saat rasa bersalah sempat berkelebat di hatinya, bayangan Kayvara di dalam mobil pria itu tadi pagi kembali menampar egonya.

Clyrine menegakkan dagunya dari balik kaca helm. Alih-alih menyapa atau turun dari motor, ia membuang muka kembali ke depan, melingkarkan kedua tangannya di sisi jaket Adrian, dan membiarkan motor sport itu melesat cepat melewati gerbang sekolah—meninggalkan Damien yang masih mematung sendirian di bawah terik matahari siang dengan kepalan tangan yang semakin erat membeku.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!