Zemima dan Arsyad sudah menikah selama dua tahun. Selama itu pula pernikahan mereka baik-baik saja. Apalagi Arsyad juga selalu bersikap baik dan lembut sebagai suami.
Selama itu pula mereka belum di karuniai anak, dan Arsyad tak mempermasalahkan hal itu. Tapi berbeda dengan sang ibu yang menginginkan cucu dengan alasan Arsyad sudah mapan dan memiliki pekerjaan bagus. dia sudah harus punya keturunan.
Namun beberapa bulan terakhir, suaminya sering sekali ke rumah ibunya tanpa mengajak Zemima. Namun suatu hari, saat Arsyad tengah malam pergi diam-diam, Zemima mengikutinya. ternyata Arsyad pulang ke rumah ibunya dan di sambut wanita hamil.
Apa Zemima akan menghancurkan keluarga Arsyad yang sudah membohonginya? padahal pekerjaan bagus yang di dapat Arsyad tak lepas dari bantuan Zemima. Mereka tidak tahu kalau Zemima adalah pewaris tunggal perusahaan besar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Zemima 23
Zemima menarik selimut tebal hingga sebatas dada, membalikkan tubuhnya membelakangi Arsyad tanpa berniat melanjutkan perdebatan sedikit pun. Ketenangan yang ia tunjukkan bagaikan tembok tebal tak tertembus, sebuah penolakan mutlak yang dibungkus rapat oleh keheningan.
"Aku lelah. Aku juga sama selama itu menunggu kamu yang sibuk. Tapi sekarang aku masih kesal sama kamu yang belum mau bicara jujur. Aku tidur duluan," ujar Zemima singkat, mematikan lampu nakas di sisinya hingga kamar seketika terendam remang-remang cahaya malam.
Arsyad terpaku kaku di tepi ranjang. Suara napas halus Zemima yang mulai teratur menandakan istrinya benar-benar telah memutus komunikasi untuk malam ini. Tidak ada ruang untuk gertakan, tidak ada celah untuk bujukan, dan sama sekali tidak ada kesempatan untuk menuntut haknya.
Pria itu mengusap wajahnya kasar dengan kedua telapak tangan. Rasa frustrasi, gairah yang mendadak mati suri, serta kekecewaan yang tertahan menumpuk di dadanya hingga terasa sesak. Tatapannya tertuju pada punggung Zemima yang membeku di bawah selimut, sosok istri yang kini terasa begitu jauh dan penuh misteri, meski jarak mereka hanya berukuran hitungan inci.
Dengan helaan napas berat yang ia tahan agar tak menimbulkan suara, Arsyad bangkit berdiri. Langkah kakinya terasa gontai dan seberat timah saat ia berjalan perlahan menuju kamar mandi di sudut kamar.
Klek.
Arsyad menutup pintu kamar mandi rapat-rapt dan menguncinya dari dalam. Ia menyandarkan punggungnya di pintu kayu yang dingin, membiarkan tubuhnya merosot sejenak sebelum melangkah mendekati wastafel.
Pria itu memutar keran, menyiramkan air dingin berkali-kali ke wajahnya yang sembap dan dibasahi pelipisnya yang terasa hangat oleh stres. Ia menengadah, menatap pantulan dirinya sendiri di cermin besar. Lingkar hitam di bawah matanya, rahangnya yang kaku, dan tatapan matanya yang diliputi ketakutan membayang jelas di sana.
"Kenapa jadi seperti ini..." bisik Arsyad lirih pada bayangannya sendiri, suaranya nyaris tenggelam oleh gemericik air wastafel.
Pria itu mematikan keran, lalu melangkah masuk ke dalam shower box. Ia menyalakan pancuran air dingin dan membiarkan bulir-bulir air membasahi kepalanya, mengguyur seluruh kemeja kerja yang belum sempat ia lepas. Arsyad berdiri membisu di bawah pancuran yang dingin, memejamkan mata rapat-rapt seraya mencoba menenangkan degup jantungnya yang masih berpacu liar.
Di bawah guyuran air dingin itu, Arsyad hanya bisa berdiri merenung sendirian, meratapi egonya yang hancur dan membayangkan betapa mengerikannya hari esok jika kebohongannya benar-benar terbongkar total.
Pagi harinya, Arsyad terbangun dengan leher kaku dan seluruh tubuh yang pegal. Setelah semalaman berbasah-basah di kamar mandi dan akhirnya tertidur di sofa kamar dengan perasaan merana, ia menyapu matanya yang sembap. Di atas ranjang, selimut sudah tertata rapi. Zemima sudah bangun lebih dulu.
Dengan sisa-sisa tenaga dan pikiran yang kalut, Arsyad membasuh muka, mengenakan kemeja kerjanya yang agak kusut, lalu melangkah gontai menuju lantai bawah. Bau aroma kopi mahal tercium tipis dari arah dapur, namun Arsyad tak berminat untuk sarapan.
Saat ia melangkah melewati ruang tamu menuju pintu depan untuk bersiap ke kantor, tiba-tiba terdengar suara derum mesin kendaraan dari arah pekarangan.
VROOOMMM...
Suara itu bukan dentuman mesin SUV miliknya, melainkan raungan halus, berat, dan bertenaga khas mesin supercar berkapasitas ribuan cc yang memancarkan aura kemewahan mutlak. Saking beratnya getaran mesin itu, kaca jendela rumah mereka sampai bergetar pelan.
Arsyad mengernyit kaku. Rasa penasaran mengalahkan rasa pegal di tubuhnya. Ia bergegas membuka pintu utama dan melangkah ke teras.
Matanya seketika membelalak lebar. Mulutnya menganga, keningnya berkerut hebat.
Di atas pelataran rumah mereka, terparkir sebuah mobil sport metallic obsidian black yang sangat futuristik dan berkilau tajam disengat matahari pagi. Garis desainnya yang aerodinamis, sistem pembuangan ganda, dan velg kustomnya memancarkan harga fantastis, mencapai puluhan miliar rupiah. Mobil itu berdiri gagah, membuat SUV hitam milik Arsyad di garasi mendadak terlihat seperti mobil mainan murah.
Seorang pria berseragam pengemudi pribadi yang sangat rapi berdiri tegap di samping pintu penumpang yang terbuka, mengenakan sarung tangan putih dan memberikan hormat pelan.
"Siapa... Ini mobil siapa?!" gumam Arsyad panik. Napasnya mulai memburu.
Pintu rumah kembali terbuka. Zemima melangkah keluar dengan keanggunan yang sukar dipercaya. Ia mengenakan blazer kustom berwarna krem yang terpotong sempurna, dipadu dengan celana bahan berpotongan high waist, kacamata hitam dari rumah mode ternama, serta tas Chanel edisi terbatas yang tergantung anggun di lengannya.
"Selamat pagi, Mas Arsyad," sapa Zemima merdu, melangkah anggun melewati Arsyad yang masih membeku.
Melihat penampilan istrinya yang begitu berkelas dan mobil sport di depannya, kepanikan di otak Arsyad mendadak berubah menjadi prasangka liar. Pikiran dangkalnya langsung terhubung pada satu hal,. Kartu kredit!
Arsyad buru-buru berlari kecil mengejar Zemima, menyambar lengan istrinya dengan wajah memerah panik.
"Zemima! Kamu gila ya?!" cecar Arsyad dengan nada melengking, menunjuk mobil sport itu dengan jari gemetar.
"Kamu sewa mobil sport ini pakai kartu kredit, kan?! Kamu mau merusak keuangan kita?! Kamu sadar nggak sih apa yang kamu lakukan?!"
Zemima menghentikan langkahnya. Ia tidak menyentak tangannya, hanya menurunkan sedikit kacamata hitamnya seraya menatap Arsyad dengan tatapan heran yang bercampur kasihan.
"Sewa? Pakai kartu kredit?" ulang Zemima tenang, suaranya sangat halus namun menohok.
"Iya! Apalagi kalau bukan sewa!" bentak Arsyad frustrasi, matanya melotot tajam.
"Kamu itu pamer berlebihan! Kamu pikir aku nggak tahu berapa harga sewa mobil mewah kaya gini per hari?! Puluhan juta, Zemima! Bunga kartu kredit kamu itu udah menumpuk, mau kamu tambah lagi dengan kelakuan konyol kaya begini?!"
Zemima menatap suaminya beberapa detik, lalu terkekeh pelan, sebuah tawa merdu yang terdengar bagai cemoohan paling telak di telinga Arsyad.
"Mas Arsyad... Mas Arsyad..." gumam Zemima seraya menggeleng-gelengkan kepalanya anggun.
"Pikiran kamu itu kok dangkal sekali, ya? Tolong dihitung pakai logika kamu yang katanya pintar itu."
Zemima melangkah mendekat, memiringkan kepalanya menatap Arsyad dari balik kacamata hitamnya.
"Limit kartu kredit yang aku pegang itu berapa, Mas? Cuma lima puluh juta, kan? Sementara untuk jaminan sewa mobil supercar sekelas ini saja, depositnya bisa ratusan juta rupiah. Limit kartu kreditku bahkan tidak sampai seujung kuku dari harga sewa mobil ini, Mas. Bagaimana bisa otakmu menyimpulkan kalau aku menyewanya pakai kartu kredit?"
Degh!