I AM The Miracle Itself
Di dunia Aethelgard, kekuatan adalah segalanya.
Sihir, iblis, pendekar, dan makhluk yang mampu melampaui hukum alam telah menjadi bagian dari kehidupan. Namun, di tengah dunia yang dipenuhi kekuatan tersebut, lahirlah seseorang yang seharusnya tidak pernah ada.
Ia bukan pahlawan.
Bukan dewa.
Bukan iblis.
Bahkan bukan bagian dari tatanan dunia.
Keberadaannya adalah sebuah anomali—sesuatu yang tidak dapat dijelaskan oleh hukum realitas, takdir, maupun batas kekuatan.
Ketika dunia mulai menghadapi kekacauan yang bahkan mengancam fondasi keberadaannya, sebuah pertanyaan perlahan muncul:
Jika segala sesuatu memiliki batas... lalu apa yang terjadi pada sesuatu yang sejak awal tidak memiliki tempat dalam perhitungan?
Dan ketika keajaiban tidak lagi cukup untuk menjelaskan keberadaannya, dunia akan menyadari satu hal—
Dia bukan orang yang memiliki keajaiban.
Dialah keajaiban itu sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad wahyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Level 2 — Hunter
BOOM!
Ledakan dari dalam Menara Energi Oakhaven tidak memancarkan kobaran api biasa, melainkan gelombang kejut hampa yang menyedot seluruh pendar sihir di kota dalam sekejap.
Lampu-lampu Rune yang menerangi jalanan batu Oakhaven padam secara serentak. Formasi pelindung setinggi dua puluh meter yang memagari perimeter kota mendadak kehilangan pasokan inti. Cahaya keemasan yang menopang tembok itu meredup, bergetar hebat, lalu pecah berkeping-keping seperti kaca raksasa yang dihantam martil.
Kegelapan abadi menelan Oakhaven.
"Pelindung runtuh!"
"Inti Menara mati! Ada sabotase!"
"Padamkan kepanikan! Semuanya bentuk barisan!"
Teriakan para Ksatria Kekaisaran bergema sengau di balik helm baja mereka. Namun, kepanikan yang sesungguhnya belum dimulai dari dalam kota, melainkan dari luar tembok.
Dari kegelapan Hutan Kabut yang berada tepat di luar Oakhaven, raungan bergelombang terdengar membumbung tinggi. Tanpa adanya aura penolak dari tembok sihir, puluhan—bahkan ratusan—monster bencana kelas menengah hingga tinggi berebut masuk melalui celah tembok yang tertebas hampa. Shadow Stalkers, Razor-tusked Bears, hingga Grave Fiends merangsek masuk, mencium aroma daging manusia yang berkumpul di dalam kota yang kini gelap gulita.
Kepanikan massal pecah di setiap sudut jalan. Warga sipil berlarian saling injak, sementara para Ksatria Kekaisaran kehilangan koordinasi.
Di atas atap sebuah bangunan kayu yang membelakangi Menara Energi, sosok berselimut jubah perak longgar berdiri bergeming.
Ren Vaelen.
Angin malam membelai kain jubah milik Komandan Zeon yang kini melekat di tubuhnya. Di tangan kanannya, taring babi hutan raksasa rakitannya tergenggam erat—ujungnya yang tajam dan kasar memantulkan sedikit sisa cahaya rembulan.
Di dalam kesadaran Ren, dunia tidak lagi berwarna gelap atau terang.
Melalui Mata Persepsi Kosmik, dunia Oakhaven terurai menjadi simulasi vektor murni. Ia melihat jalur aliran energi para ksatria yang gelisah, titik lelah otot mereka, hingga jeda waktu yang dibutuhkan otak mereka untuk merespons ancaman.
Bagi orang lain, kegelapan adalah ancaman. Bagi Ren—seorang Zero-Core yang tidak pernah bergantung pada indra sihir—kegelapan adalah habitatnya.
【Level 1: Survivor — Selesai】
【Memproses Adaptasi Lingkungan...】
【Kondisi Terpenuhi: Mangsa Berada Dalam Kekacauan. Perubahan Mode: Level 2 — Hunter】
Tulisan samar itu berkelebat di sudut penglihatannya tanpa suara. Ren tidak tersenyum. Pandangannya tetap dingin, datar, dan analitis.
"Mereka selalu bergantung pada angka," gumam Ren pelan. "Aura tingkat Master, pelindung sihir kelas tiga, kekuatan tempur kolektif... Ketika semua angka itu dicabut, kalian hanyalah daging bersenjata."
Ren melangkah keluar dari pinggiran atap, menjatuhkan dirinya ke dalam bayangan gang sempit di bawah.
Lima ratus meter dari Menara Energi, satu regu Ksatria Perbatasan kasta menengah sedang berusaha membentuk barisan pertahanan. Regu itu dipimpin oleh Kapten Vargan, seorang ksatria veteran berarmor tebal dengan aura Qi hijau yang menyala di sepanjang bilah pedangnya. Di sisinya, berdiri tiga bawahan kasta Master: Darian sang pemegang tombak, Goran dengan pedang ganda, dan Halden yang menggenggam perisai besi raksasa.
"Tetap bersama! Gunakan Qi pencahayaan!" teriak Kapten Vargan. Pedangnya memancarkan pendar tipis, memotong kepala seekor Shadow Stalker yang mencoba melompat. "Jangan biarkan monster-monster ini masuk ke distrik dalam!"
Namun, Qi pencahayaan itu justru menjadi pemandu jalan bagi kematian mereka sendiri.
Di mata Ren yang mengamati dari balik kegelapan gang, pola serangan Kapten Vargan sangat kaku.
Ayun tebasan vertikal (0,4 detik) -> Rekoil lengan kanan (0,2 detik) -> Rotasi pinggul untuk menjaga keseimbangan (0,15 detik).
Ada jeda total 0,35 detik di mana sisi kiri leher Kapten Vargan benar-benar tidak terlindungi, karena dia terlalu sibuk mengalirkan Qi ke pedangnya untuk mempertahankan pendar cahaya.
Srett.
Tanpa aura, tanpa desakan angin, Ren meluncur dari balik bayangan sebuah gerobak yang hancur. Langkah kakinya benar-benar tanpa suara—sebuah teknik berjalan murni yang mengeksploitasi titik buta pendengaran di tengah kebisingan raungan monster.
Kapten Vargan baru saja mengayunkan pedangnya menghantam monster lain ketika sebuah rasa dingin menyentuh celah pelindung leher bajanya.
CRACK!
Taring babi hutan yang dibawa Ren menembus sambungan rantai baja di leher Kapten Vargan dengan presisi anatomis yang mengerikan. Ujung tulang yang keras itu tidak menghancurkan armor, melainkan menyelinap tepat di antara celah persendian ksatria itu, memutuskan saraf motorik utama di pangkal tengkorak.
Aura Qi hijau di pedang Kapten Vargan langsung padam. Matanya membelalak lebar, namun suaranya terkunci di kerongkongan. Ia roboh seperti boneka yang dipotong talinya.
"Kapten Vargan?!" teriak Darian panik.
Darian, Goran, dan Halden terperanjat. Dalam sistem tempur Kekaisaran, seorang Kapten kasta Master tingkat atas seperti Vargan tidak mungkin dibunuh dalam satu detik tanpa adanya ledakan energi sihir yang dahsyat. Namun tidak ada ledakan. Tidak ada fluktuasi Qi.
Hanya ada sosok berjubahkan perak yang berdiri di atas jasad Kapten Vargan.
"Siapa kau?! Gunakan Aura Scan!" teriak Darian sambil mengarahkan tombaknya dengan cemas.
Darian melemparkan persepsi Qi-nya untuk mendeteksi Ren. Namun, bagi radar sihir Darian, tempat Ren berdiri adalah ruang hampa. Tidak ada aliran mana. Tidak ada denyut jantung yang terikat Qi. Ren secara harafiah tidak ada dalam peta persepsi sihir mereka.
"Tidak ada... Tidak ada sinyal energi?!" Darian gemetar hebat, matanya menatap liar ke kegelapan. "Setan apa kau?!"
"Kenapa kau masih mencari sinyal, Darian?" suara Ren terdengar datar, nyaris berbisik tepat di samping telinga Darian.
Darian mengejang, berniat memutar tubuhnya dan menyapu dengan tombak. Tapi gerakan refleks berbasis insting sihir itu sangat mudah dibaca. Ren sudah lebih dulu menekuk lututnya, menyelinap di bawah radius putaran tombak, dan menghantamkan siku kirinya tepat ke engsel siku Darian dengan sudut 45 derajat.
KTAK!
Tulang tangan Darian terlipat ke arah yang salah. Sebelum Darian sempat menjerit, Ren merampas belati di pinggang Darian dan memutarnya lurus menembus celah helm bagian bawah, menembus dagu hingga ke otak.
Melihat Darian tewas seketika, Goran mundur beberapa langkah secara histeris. Di sekeliling mereka, monster-monster meraung dan mencakar bangunan, namun bahaya terbesar justru datang dari manusia yang sama sekali tidak memiliki kekuatan sihir.
"Dia bukan manusia... Dia bukan ksatria!" Goran berteriak gila. Ia melempar pedang gandanya ke tanah dan berbalik berlari ketakutan ke arah kerumunan warga yang panik.
Ren tidak buang energi mengejar Goran yang melarikan diri ke tengah amukan monster. Matanya kini terkunci pada Halden, ksatria terakhir yang masih berdiri memegang perisai besar dengan tangan gemetar hebat.
"Kenapa... kenapa kau bertarung seperti ini?" bisik Halden dengan napas memburu dan peluh dingin bercucuran di balik helmnya. "Di mana kasta kekuatanmu? Di mana kehormatan beladiri Aethelgard-mu?!"
Ren berjalan perlahan mendekati Halden. Taring babi di tangan kanannya meneteskan darah pekat milik Vargan dan Darian.
"Kehormatan kalian dibangun di atas asumsi bahwa musuh akan bertarung menggunakan aturan yang sama," ucap Ren dingin. "Kalian melatih tubuh untuk meredam gelombang energi, tapi lupa bahwa tulang kalian masih terbuat dari kalsium dan daging kalian masih membutuhkan darah."
Halden mencoba menggerakkan perisainya untuk menahan, namun Ren tidak menyerang perisai itu. Ren menendang bagian dalam lutut Halden yang tidak terproteksi sempurna saat Halden menurunkan tumpuan tubuhnya.
Keseimbangan Halden hancur. Saat tubuh berarmor berat itu condong ke depan, Ren menusukkan belati rampasan milik Darian tepat ke celah ketiak Halden—satu-satunya area di bawah lengan yang hanya dilapisi kulit pelindung tipis agar lengan bisa bergerak bebas.
JSSSH!
Baja dingin menembus jantung Halden dari samping.
Halden roboh berlutut, menatap Ren dengan tatapan tak percaya sebelum akhirnya terjerembab ke atas tanah batu yang dingin.
Ren berdiri di tengah-tengah membujurnya jasad Vargan, Darian, dan Halden. Di sekelilingnya, Oakhaven sedang terbakar oleh amukan monster Hutan Kabut, tetapi di gang sempit ini, hanya ada kesunyian yang mencekam.
Ren mengusap bilah belatinya pada jubah perak Zeon, membersihkan sisa darah.
【Anomali Terdeteksi: Target Kasta Master Dieliminasi Tanpa Penggunaan Energi】
【Kalkulasi Efisiensi Tempur: 99.8%】
【Level 2 — Hunter: Diaktifkan】
Di dalam benaknya, mata kosmik itu sedikit bergeser. Jalur-jalur vektor yang berada di pikirannya kini tidak hanya memperlihatkan gerakan musuh di sekitarnya, melainkan mampu memprediksi titik kelemahan struktur kota dan rute pelarian terbaik sejauh dua kilometer ke depan.
Ren menengadah, menatap langit Oakhaven yang tertutup asap hitam dan retakan ruang yang samar di kejauhan.
Dia tahu, pembantaian ksatria di dalam kota ini barulah awal dari pengalihan isu yang dia ciptakan. Saial dan Rizel mungkin sudah hampir sampai di ibu kota untuk melaporkan eksistensinya. Kekaisaran akan mengirimkan ksatria kasta Sovereign puncak untuk memburunya.
Tapi bagi Ren Vaelen, yang dilahirkan dari kehampaan Zero-Core, semakin tinggi kasta musuhnya... semakin rigid dan makin mudah diprediksi pola pergerakan mereka.
Ren membalikkan badan, menghilang kembali ke dalam bayangan Oakhaven yang sedang runtuh.
Sang Pemburu telah memulai perburuannya.