Ji Ming, murid luar Sekte Puncak Elang Hitam yang dianggap sampah karena "Meridian Kosong" — kondisi langka yang membuatnya tak bisa merasakan qi seperti kultivator normal — ditugaskan menjaga Makam Terlarang di pinggiran sekte: tempat relik-relik Perang Boneka Jiwa, bencana ratusan tahun lalu yang nyaris menghancurkan seluruh dunia kultivasi, disegel selamanya.
Saat Hari Peringatan Perang Boneka, segel melemah. Ji Ming menemukan ruang tersembunyi berisi fragmen kesadaran terakhir seorang Grandmaster Pengukir Jiwa — bukan reinkarnasi, hanya sisa tekad yang nyaris punah, cukup untuk mewariskan Manual Sang Pengukir Pertama sebelum lenyap selamanya. Meridian Kosong yang selama ini dihina ternyata justru syarat paling langka untuk jalur ini: kekuatan dari jiwa, bukan qi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bajing33, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5: Jebakan di Bawah Bulan
Han Lie tidak butuh waktu lama untuk menyadari targetnya sudah kabur.
Ia kembali ke klinik Tabib Hong pagi berikutnya, hanya untuk mendapati pintu terkunci dan papan nama diputar menghadap "Tutup Sementara". Cukup untuk memastikan dugaannya benar—tabib itu tahu lebih banyak daripada yang ia akui, dan kemungkinan besar sudah memperingatkan buruannya semalam.
Ia tidak marah. Kemarahan adalah kemewahan yang tak mampu dibeli seorang pemburu bayaran profesional. Sebaliknya, ia hanya menghitung ulang: satu malam kepala start, dua orang dan satu boneka berjalan kaki, kemungkinan besar menuju salah satu dari tiga jalan keluar kota yang belum terlalu ramai dilalui pedagang.
Gerbang utara adalah pilihan paling masuk akal—jalan menuju desa-desa kecil yang jarang dipatroli, tempat ideal untuk bersembunyi sementara.
Ia mulai berjalan, tidak berlari. Pemburu yang baik tahu kapan harus menyimpan tenaga.
Ji Ming, Yun Xia, dan Xiao Mu sudah menempuh setengah hari perjalanan saat matahari mulai meninggi, jalan setapak yang mereka lalui kini membelah hutan pinus yang lebih jarang dan lebih terbuka dibanding hutan tempat mereka lolos pertama kali.
"Berapa jauh lagi ke Desa Sungai Tenang?" Ji Ming bertanya, kakinya sudah jauh lebih baik meski masih terasa kaku.
"Satu setengah hari lagi, kalau kita tidak berhenti terlalu sering." Yun Xia melirik ke belakang untuk kesekian kalinya, kebiasaan yang tak luput dari perhatian Ji Ming sejak mereka berangkat.
"Kau merasa diikuti."
"Aku selalu merasa diikuti. Itu yang membuatku masih hidup sejauh ini." Yun Xia tersenyum tipis, tapi matanya tetap waspada. "Tapi kali ini, ya. Ada sesuatu yang tidak biasa di udara. Terlalu sunyi untuk hutan yang biasanya ramai burung."
Xiao Mu, seolah menangkap kegelisahan itu, berhenti mendadak di tengah jalan, kepala kayunya menoleh ke arah semak-semak di sisi kanan—dan cahaya hijau matanya berkedip cepat, tanda yang sudah mulai Ji Ming kenali sebagai sinyal bahaya.
Mereka bertiga membeku sejenak sebelum sesosok bayangan melompat turun dari cabang pohon tinggi, mendarat tepat di tengah jalan setapak dengan gerakan yang begitu tenang hingga terasa hampir santai.
Han Lie.
"Perjalanan yang cukup jauh untuk pemuda dengan kaki baru sembuh," katanya, nadanya nyaris ramah, seolah mereka bertemu di pasar, bukan di tengah hutan sunyi. "Aku harus akui, aku tidak menyangka akan menyusul secepat ini. Reputasiku memang tidak berlebihan, rupanya."
Yun Xia melangkah maju setengah langkah, tangannya sudah mendekati gagang pedang. "Han Lie. Aku pernah dengar namamu di kalangan pemburu bayaran. Katanya kau tidak pernah menerima target yang tidak jelas kesalahannya."
"Aku menerima bayaran, Nona. Kejelasan kesalahan bukan urusanku." Han Lie tersenyum, tapi matanya sudah menghitung jarak, sudut serang, kelemahan lawan—perhitungan seorang profesional yang tak pernah benar-benar santai meski nadanya terdengar begitu. "Tapi kalau kau penasaran, sekte itu bilang dia mencuri relik terlarang. Aku pribadi tidak peduli benar atau salah. Bayarannya sama saja."
"Aku tidak mencuri apa pun," Ji Ming berkata, suaranya lebih tegas dari yang ia kira mampu ia keluarkan di hadapan seseorang seperti Han Lie.
"Mungkin begitu. Bukan urusanku." Han Lie melangkah maju perlahan, tangannya bergerak santai ke arah pisau kecil di pinggangnya. "Tapi boneka kayu itu—itu urusanku. Bayaran ganda kalau ia masih utuh saat aku serahkan. Jadi, aku akan berterima kasih kalau kalian tidak membuatku merusaknya."
Yun Xia mencabut pedang tumpulnya, berdiri di antara Ji Ming dan pemburu itu. "Kau harus melewatiku dulu."
"Aku sudah menduga itu." Han Lie tidak terlihat gentar sedikit pun. "Kabarnya kau kultivator lepas yang cukup dikenal juga. Yun Xia, benar? Mungkin ini akan lebih menarik dari yang kubayangkan."
Pertarungan dimulai tanpa aba-aba lebih lanjut—Han Lie melesat maju dengan kecepatan yang jauh melampaui penampilannya yang santai, pisau kecilnya berkelebat mengincar titik-titik vital dengan presisi seorang pembunuh berpengalaman. Yun Xia menangkis, pedang tumpulnya beradu dengan pisau lawan dalam rentetan cepat yang membuat percikan cahaya qi berpendar di udara hutan.
Ji Ming mundur, jantungnya berdegup kencang, tapi kali ini ia tidak hanya diam ketakutan seperti di jurang dulu. Ia merogoh kantung kecil di pinggangnya—tempat ia menyimpan beberapa keping kayu kecil yang ia kumpulkan sepanjang perjalanan, iseng-iseng dilatih mengukir sesuai instruksi dasar dalam manual, meski belum pernah benar-benar berhasil.
Boneka tidak harus besar untuk berguna, ingatan dari manual berkelebat di benaknya. Kadang, yang kecil dan tak terlihat justru paling berharga.
Dengan tangan gemetar, ia menyalurkan sisa kekuatan jiwa yang baru mulai ia kuasai ke dalam sekeping kayu kecil berbentuk kasar seperti burung—tidak sesempurna Xiao Mu, jauh dari itu, tapi cukup untuk membuka sepasang sayap kecil dan terbang mengitari kepala Han Lie, mengganggu penglihatannya di saat kritis.
"Apa—" Han Lie sedikit terdistraksi, cukup bagi Yun Xia untuk mendaratkan tendangan telak ke rusuknya, membuatnya terhuyung mundur beberapa langkah.
Xiao Mu, melihat celah itu, melesat maju dan menusukkan dahan tajamnya ke titik meridian di lengan Han Lie—bukan mematikan, tapi cukup untuk membuat pisau kecilnya terjatuh dari genggaman.
Han Lie berdiri diam sejenak, menatap pisau yang tergeletak di tanah, lalu tersenyum kecil—bukan senyum kekalahan, melainkan senyum seseorang yang baru saja menemukan sesuatu yang jauh lebih menarik daripada sekadar bayaran.
"Boneka burung kecil," gumamnya, matanya berpindah dari Xiao Mu ke burung kayu buatan Ji Ming yang masih terbang gugup di udara. "Kau bukan sekadar mewarisi satu boneka. Kau benar-benar bisa mengukir sendiri."
"Menyerahlah," Yun Xia berkata, pedangnya masih terarah pada Han Lie. "Kau sudah kalah jumlah."
"Untuk hari ini, mungkin." Han Lie mundur perlahan ke arah bayang-bayang pepohonan, tangannya yang terluka ia tekan dengan santai seolah rasa sakit bukan masalah besar. "Tapi aku tidak pernah benar-benar kalah, Nona. Aku hanya menunda." Matanya kembali tertuju pada Ji Ming, tajam dan penuh perhitungan. "Sampai jumpa lagi, Meridian Kosong. Lain kali, aku tidak akan datang sendirian."
Ia menghilang ke dalam hutan secepat kedatangannya, meninggalkan Ji Ming yang masih terengah, tangannya gemetar bukan hanya karena lelah, tapi karena baru saja menyadari sesuatu: untuk pertama kalinya, ia bukan hanya bertahan hidup karena diselamatkan orang lain. Ia baru saja menciptakan sesuatu dengan tangannya sendiri, dan itu cukup untuk mengubah jalannya pertarungan.
Burung kayu kecil itu mendarat perlahan di bahunya, sayapnya masih bergetar kaku, tapi cahaya kehijauan lembut di matanya yang sederhana membuat Ji Ming tersenyum kecil untuk pertama kalinya sejak meninggalkan Puncak Elang Hitam.
"Kau berhasil," Yun Xia berkata, menyarungkan pedangnya sambil menatapnya dengan sesuatu yang mirip kekaguman. "Itu ukiran pertamamu sendiri."
"Dia butuh nama," Ji Ming berkata pelan, menatap burung kecil di bahunya. "Xiao Yu. Seperti hujan yang datang di saat yang tepat."
Xiao Mu, di sampingnya, mengangguk kecil—seolah menyambut anggota baru dalam keluarga kecil yang baru saja mulai terbentuk.