Novel ini mengisahkan Ahmad Zaki, seorang pemuda berusia 20 tahun yang merupakan anak dari pedagang kain. Ia berniat untuk belajar dan memperdalam ilmu di pondok pesantren yang berada di pedesaan.
Baru beberapa hari di pondok pesantren, ia telah menanam benih-benih cinta. Cinta yang tulus kepada seorang santriwati berusia 18 tahun, Nafisah Zahra.
Namun, cinta keduanya terhalang oleh perjodohan dan agresi militer.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MF015, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18: Kurir Kecil
Seminggu di Karangtengah mengubah banyak hal. Rutinitas baru terbentuk: subuh diisi dengan salat berjamaah dan mengaji singkat, pagi untuk membantu penduduk di ladang atau mengurus dapur umum, siang untuk istirahat sejenak di tengah teriknya matahari pegunungan, dan sore untuk kembali bekerja sebelum magrib tiba. Malam, seperti biasa, diisi dengan doa bersama yang semakin terasa seperti jangkar bagi seluruh rombongan yang jauh dari rumah.
Di tengah rutinitas itu, muncul sosok kecil yang menjadi penghubung baru bagi Zaki dan Nafisah: seorang anak dusun bernama Timin, berusia sekitar sepuluh tahun, anak salah satu penduduk yang rumahnya ditumpangi para santriwati. Timin lincah dan pemberani, sering berkeliaran ke mana-mana tanpa dicurigai siapa pun, termasuk melintasi batas antara area putra dan putri yang di pengungsian ini jauh lebih longgar dibanding di pondok.
"Kang Zaki," panggil Timin suatu pagi, muncul tiba-tiba dari balik pohon kopi sambil menyeringai lebar, giginya ompong di bagian depan. "Ada titipan."
Zaki, yang sedang mengasah parang untuk memotong kayu, menoleh kaget. "Titipan dari siapa?"
"Dari Mbak Nafisah yang cantik itu." Timin menyerahkan sepotong daun pisang kecil yang dilipat rapi, matanya berbinar jahil seperti sudah tahu banyak hal yang tidak seharusnya ia tahu. "Katanya jangan bilang siapa-siapa."
"Kamu ini kenapa jadi kurir?" tanya Zaki, setengah geli setengah khawatir.
"Mbak Nafisah kasih saya kue singkong kalau saya mau bantu." Timin nyengir lebih lebar. "Enak, Kang. Kang Zaki mau titip balasan? Nanti saya bawa lagi."
Zaki menatap anak kecil itu dengan campuran rasa geli dan syukur. Di tengah kesulitan pengungsian, seorang anak sepuluh tahun tanpa sadar telah menjadi Rukmini versi Karangtengah, menghubungkan dua hati yang terpisah oleh keadaan.
"Boleh," jawab Zaki akhirnya, sambil tersenyum. "Tunggu sebentar."
Ia membuka bungkusan kecil itu, membaca isinya:
"Kang, semoga sehat selalu. Timin ini anak baik, meski agak usil. Saya percaya dia bisa dipercaya untuk hal-hal kecil seperti ini. Bagaimana keadaan Kang di sana? — N."
Zaki tersenyum, lalu merobek secarik kertas dari buku catatannya dan menulis balasan singkat, karena waktu dan kesempatan tidak memungkinkan untuk surat panjang seperti dulu di perpustakaan.
"Alhamdulillah sehat, Mbak. Timin memang usil, tapi jujur, sepertinya. Jaga diri baik-baik. — Z."
Ia menyerahkan kertas itu pada Timin bersama sepotong ubi rebus dari bekalnya sendiri sebagai tambahan upah. Anak itu menerimanya dengan girang dan berlari pergi, menghilang di antara pepohonan dengan kelincahan yang membuat Zaki sedikit iri.
Sistem kurir kecil itu berlangsung selama beberapa hari, membawa kabar-kabar singkat antara Zaki dan Nafisah, kadang hanya berisi kabar kesehatan, kadang berisi kekhawatiran tentang situasi di luar sana, dan sesekali berisi potongan puisi kecil yang mengingatkan mereka pada hari-hari di perpustakaan Al-Hikmah yang kini terasa seperti mimpi yang jauh.
Namun, suatu sore, ketika Zaki sedang membantu memperbaiki atap dapur umum yang bocor akibat hujan semalam, Darto mendekat dengan wajah serius, jarang sekali ia terlihat seperti itu.
"Kang, saya dengar sesuatu."
"Dengar apa?"
"Tadi pagi, Kang Ridwan cerita, katanya Timin ketahuan oleh salah satu ustazah senior waktu menyerahkan titipan ke Nafisah. Untungnya ustazah itu tidak melapor, tapi beliau menegur Nafisah cukup keras."
Zaki merasa dadanya mencelos. "Ditegur bagaimana?"
"Saya tidak tahu detailnya. Tapi Kang Ridwan bilang, Nafisah terlihat menangis setelahnya." Darto menghela napas. "Kang, saya rasa kalian harus lebih hati-hati. Keadaan sekarang sudah cukup sulit tanpa harus menambah masalah baru."
Zaki terdiam, memikirkan kata-kata Darto dengan berat hati. Ia tahu Darto benar, tapi memikirkan Nafisah menangis karena hal yang seharusnya membawa kebahagiaan membuat dadanya sakit.
Malam itu, Zaki tidak bisa tidur nyenyak. Ia berbaring di tikar pandan, menatap atap lumbung yang berlubang di beberapa tempat, membiarkan cahaya bulan masuk dan menciptakan pola-pola bayangan di langit-langit.
"Kang, kamu belum tidur?" bisik Darto dari sebelahnya.
"Belum. Saya memikirkan Nafisah."
"Wajar." Darto terdiam sejenak. "Kang, boleh saya kasih saran?"
"Silakan."
"Mungkin sekarang bukan waktu yang tepat untuk terus-menerus berkirim kabar seperti ini. Bukan karena perasaan kalian salah, tapi karena keadaan yang tidak mendukung. Kalau ketahuan lagi, bisa jadi masalah besar, bukan cuma untuk kalian berdua, tapi juga untuk Timin, dan mungkin untuk hubungan baik antara pondok dengan penduduk dusun ini."
Zaki menghela napas panjang, mengakui kebenaran dalam kata-kata sahabatnya. "Jadi saya harus berhenti?"
"Bukan berhenti selamanya. Tapi mungkin, untuk sementara, biarkan keadaan sedikit tenang. Percayalah, kalau memang sudah jodoh, waktu tidak akan jadi penghalang."
Kata-kata itu terasa pahit tapi benar, seperti obat herbal yang sering diberikan Bu Nyai untuk demam. Zaki mengangguk dalam gelap, meski hatinya berat.
"Baik," katanya akhirnya. "Saya akan bicara dengan Nafisah, sekali lagi, untuk mengatakan ini. Setelah itu, saya akan menahan diri."
"Itu keputusan yang bijaksana, Kang." Darto menepuk bahunya pelan. "Ingat, menahan diri bukan berarti melupakan. Kadang, itu justru cara paling dalam untuk menjaga sesuatu yang berharga."
Zaki menatap langit-langit yang berlubang, membiarkan cahaya bulan menemani pikirannya yang berkecamuk. Ia tahu keputusan ini perlu diambil, meski terasa seperti kembali menutup pintu yang baru saja mereka buka bersama.