Yun Sheren seorang Putri Mahkota dari Kekaisaran Awan Emas terseret melintasi waktu. Dia terjebak di dalam raga sang ibu ketika masih muda di zaman modern.
Namun alih-alih takut--- Yun Sheren justru menikmati semua itu. Ia bersumpah akan membalaskan dendam ibu dan neneknya pada keluarga benalu yang telah merampas seluruh hak ibunya.
Namun--- perjalanan Yun Sheren tidak semudah itu, saat ia harus berhadapan dengan para kultivator iblis dari zaman modern--- kelompok kultivator tersembunyi yang ternyata bekerja sama dengan keluarga Jia.
Dalam perjalanan nya, Yun Sheren di pertemukan kembali sama kedua kakaknya yang ternyata juga terlempar ke zaman modern. Kini, sama seperti sang ibu yang menjalankan takdirnya di zaman kuno. Mereka juga harus menjalankan takdirnya di zaman modern.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anisa Ammoera(_), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari Pertama Di Perusahaan
Matahari pagi memantul keras pada dinding kaca gedung berlantai 50 yang menjulang angkuh di kota Beijing.
Di pelataran parkir, terlihat jelas; deretan mobil sport mewah terparkir rapi di area khusus VIP, sementara ratusan sepeda motor dan mobil LCGC berjejal di area pegawai rendahan.
Di lobi utama, para penjaga keamanan berjas hitam berdiri tegak layaknya patung, namun tatapan mereka tajam menyapu setiap sudut.
Langkah kaki dengan ketukan ritmis memecah keheningan lobi. Jia Li berjalan membelah ruangan dengan gerakan anggun yang memancarkan wibawanya.
Ia berhenti tepat di depan meja resepsionis berdesain minimalis modern. Dua wanita berseragam formal yang semula sibuk dengan komputer langsung menegakkan punggung mereka. Wajah Jia Li terasa sangat asing bagi mereka.
"Aku ingin melamar kerja di sini," kata Jia Li singkat, suaranya tenang namun bergema.
Ia menjeda kalimatnya sejenak, lalu menatap lurus ke manik mata kedua resepsionis itu. "Di mana bagian penerimaan karyawan baru?" lanjutnya dengan senyum manis yang justru terasa sedingin es.
Kedua resepsionis itu saling pandang dengan raut bingung sekaligus gentar. Udara di sekitar mereka mendadak drop beberapa derajat. Tanpa alasan yang jelas, bulu kuduk mereka merinding hebat akibat tekanan aura intimidasi yang keluar dari tubuh wanita di depan mereka.
Tiga puluh menit berlalu dengan cepat. Sebuah mobil sedan mewah berlogo perak melesat dan berhenti tepat di depan lobi utama. Mengetahui siapa yang datang, kepala sekuriti bergegas membukakan pintu penumpang dengan sikap hormat yang berlebihan.
Jia Ren turun dari mobil dengan napas yang memburu tak beraturan. Keringat dingin tipis membasahi pelipisnya, dan guratan kecemasan tercetak jelas di wajahnya yang biasa tenang.
Seorang pria tegap berjas abu-abu—asisten pribadinya—langsung berlari menyongsong dan membungkuk dalam.
"Tuan," ucap asisten itu dengan suara tertahan. "Ada informasi penting dan mendesak dari divisi HRD. Ini mengenai... Nona Jia Li—"
Mendengar nama itu disebut, langkah kaki Jia Ren mendadak terhenti kaku. Ia menahan napasnya, jantungnya berdegup dua kali lebih cepat.
"Katakan dengan jelas. Apa yang dia lakukan?" tuntut Jia Ren dengan nada rendah yang bergetar.
Asisten itu menelan ludah dengan susah payah sebelum melanjutkan, "Saat ini, Nona Jia Li telah lolos verifikasi kilat dan sudah duduk di salah satu kursi kubikel karyawan baru."
Rahang Jia Ren mengeras seketika. Tangannya mengepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih, menyalurkan kemarahan dan ketakutan yang bercampur menjadi satu.
Tanpa membuang waktu, ia melangkah terburu-buru masuk ke dalam gedung. Beberapa karyawan yang kebetulan berpapasan langsung menundukkan kepala dalam-dalam, bahkan mereka refleks menyingkir ke tepi dinding demi memberi jalan bagi sang CEO yang tampak seperti singa kelaparan.
Lift eksekutif melesat cepat tanpa hambatan dan berdenting terbuka tepat di lantai 49. Jia Ren keluar dengan langkah lebar yang menghentak, mengabaikan sapaan sekretarisnya, dan langsung menuju pintu ruang kerja utamanya.
BRAK!
Pintu kayu jati berukir itu terbuka kasar setelah dihantam tangan Jia Ren hingga membentur dinding dengan keras. Napas pria itu naik turun memburu. Suaranya menggelegar memenuhi ruangan luas tersebut, penuh dengan emosi yang meledak-ledak.
"Siapa? Siapa yang sudah mengizinkannya bekerja di perusahaan ku?!" bentak Jia Ren murka, matanya memerah menatap ruang kosong di depannya.
Ia menoleh kasar pada asistennya yang baru saja masuk dengan wajah pucat. "Panggil kepala HRD ke ruanganku sekarang juga! Jangan buat aku menunggu satu menit pun!"
Pria yang menjadi asisten pribadinya bernama Hong Min itu langsung membungkuk hormat, menyembunyikan keterkejutannya. Tanpa membuang waktu satu detik pun, ia segera keluar untuk menjalankan titah sang atasan.
Sementara itu, Jia Ren yang ditinggal sendiri merasa dadanya kian sesak. Dengan kasar, ia merenggut dasinya hingga longgar, lalu melemparkannya begitu saja ke arah sofa kulit di sudut ruangan. Napasnya memburu, naik turun dengan cepat mengiringi detak jantungnya yang dipenuhi murka.
Beberapa menit kemudian, pintu ruangan kembali terbuka perlahan. Sosok seorang wanita paruh baya bertubuh gemuk melangkah masuk dengan tubuh yang sudah gemetar hebat dan keringat dingin bercucuran di pelipisnya.
Dialah kepala HRD yang bertangung jawab menerima Jia Li bekerja di perusahaan itu.
"Tu--Tuan... Anda memanggil saya?" katanya dengan suara bergetar karena didera rasa takut yang sangat besar.
Tatapan mata Jia Ren langsung menghunus tajam, merah padam oleh amarah yang membakar. "Siapa yang mengizinkanmu untuk menerima Jia Li bekerja di sini, hah?!" bentaknya lagi, melangkah maju mendekati meja kerjanya.
"Ampun, Tuan... Tolong ampuni saya," wanita bernama Su Tan itu akhirnya pecah dalam tangis, meremas jemarinya yang dingin. "Dia... dia bilang bahwa dia adalah anak Tuan. Dia juga menunjukkan bukti dokumen resmi serta foto keluarga kepada kami. Katanya... Katanya Tuan sendiri yang sudah mengizinkannya untuk bekerja disini," akunya jujur dengan nada memelas.
Mendengar penuturan itu, Jia Ren seketika memejamkan matanya rapat-rapat. Rahangnya mengeras. Ia benar-benar tidak menyangka jika Jia Li akan senekat itu menggunakan namanya sebagai senjata agar bisa diterima bekerja di perusahaannya sendiri.
"Keluar!" titah Jia Ren dengan suara rendah yang terdengar jauh lebih mengerikan daripada bentakan sebelumnya.
Tanpa perlu diperintah dua kali, Su Tan langsung membungkuk cepat dan berlari ke luar ruangan seolah-olah baru saja lolos dari cengkeraman singa.
Jia Ren kembali membuka matanya. Kilat amarah yang tadi membara perlahan meredup, namun tiba-tiba, sebuah senyum licik yang dingin tersungging di sudut bibirnya. Rencana baru langsung terbentuk di kepalanya yang cerdas namun kejam.
"Sekretaris Hong... kemari," panggil Jia Ren dengan suara pelan namun berbahaya. "Berikan pekerjaan yang paling banyak, paling rumit untuk Jia Li.
Jia Ren menjeda kalimatnya, lalu tersenyum menyeringai dengan tatapan mata yang begitu dingin. "Dia sangat ingin bekerja di sini, bukan? Maka aku sendiri yang akan memastikan bahwa dia akan menyerah dan memohon untuk keluar dari tempat ini."
Hong Min membungkuk tanda mengerti. "Baik, Tuan. Saya akan segera mengatur semuanya," jawabnya tenang, lalu berbalik untuk menjalankan perintah atasannya.
Meskipun tangannya bergerak patuh, di dalam benak Hong Min berkecamuk pertanyaan besar yang tak terjawab. Ia benar-benar tidak mengerti, mengapa atasannya ini bisa terlihat begitu membenci dan tidak memiliki rasa sayang sedikit pun terhadap anak perempuannya sendiri.
Sementara itu, di sudut luar ruangan, Jia Li telah duduk tegak di kursi karyawan paling pojok yang terpencil. Area itu terasa asing dan dingin. Beberapa karyawan lama yang berada di kubikel sekitarnya mulai saling pandang dengan tatapan heran dan berbisik satu sama lain.
"Hei, lihat anak baru itu. Kenapa dia cuma diam saja sejak tadi?" bisik salah satu karyawan wanita dengan nada penasaran.
Sejak pertama kali menempati kursi tersebut, Jia Li sama sekali tidak menyentuh komputer atau melakukan pekerjaan apapun.
Dia hanya memejamkan mata rapat-rapat sambil melipat kedua tangan di dada, bersandar dengan gestur yang tampak begitu tenang namun misterius.
Suasana di sekitarnya mendadak terasa tegang, namun tidak ada satu orang pun yang tahu, apa yang sebenarnya ada di dalam pikirannya.