Dua hari menjelang pernikahan megahnya, Cinderella Huntington harus menelan kenyataan pahit: sang tunangan mengkhianatinya bersama adik kandungnya sendiri.
Dijatuhi tuduhan tak adil dan selalu dituntut mengalah oleh keluarganya, Cinderella memilih pergi melintasi dinginnya malam untuk meluapkan amarah dan rasa sakitnya hingga mengakhiri hidup.
Namun takdir berkehendak lain. Ia terbangun dalam raga Marcella Ember Vitiello—gadis 18 tahun yang tewas mengakhiri hidup akibat pengabaian orang tuanya.
Di tengah keputusasaan, takdir mempertemukannya kembali dengan Draxler Lutolf Ashford—pemuda 19 tahun berparas tampan yang ia kira hanyalah mahasiswa biasa.
Cinderella bertekad membalas setiap ketidakadilan.
Bisakah ia benar-benar menghapus jejak Draxler dari hidupnya ketika takdir pria muda itu ternyata jauh lebih rumit dari yang pernah ia bayangkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#16
Gedung Asrama Putra Universitas California pagi itu mendadak heboh sejak pukul enam kurang.
Jika biasanya koridor asrama diisi oleh mahasiswa yang masih berwajah bantal dan berjalan seperti zombi menuju kamar mandi, pagi ini pemandangan berubah total.
Draxler Lutolf Ashford berdiri tegak di lorong lantai satu—tepat di depan pintu kamar nomor 104, tempat Cinderella dan Prilly menginap.
Pria yang biasanya tampil dengan mantel mahal berbalut keangkuhan dingin itu kini berdiri mengenakan kaus polos abu-abu, celana jeans, dan memegang sebuah nampan kayu besar berisi sarapan komplit kelas restoran bintang lima.
Di samping kiri dan kanannya, berdiri Brave dan Kal El. Kedua sahabatnya itu tampak tertekan hebat, masing-masing memegang buket bunga mawar merah raksasa dan sebuah pengeras suara (megaphone) kecil.
"Drax, demi Tuhan dan reputasi keluarga Ashford..." bisik Brave seraya melirik kanan-kiri dengan raut wajah ingin menghilang dari muka bumi.
"Kau yakin harus memakai cara purba seperti ini? Kita terlihat seperti rombongan sirkus antar kampus."
"Tutup mulutmu, Brave," balas Draxler datar tanpa mengubah posisi tegapnya. "Mommy-ku selalu bilang, jika seorang pria ingin meluluhkan hati wanita, dia harus berani menurunkan gengsinya sampai ke dasar bumi. Dan aku sedang menjalankan nasihat itu."
"Tapi Mommy-mu tidak pernah bilang kau harus menyeret kami jam enam pagi untuk memegang pengerat suara dan bunga pasar kaget ini!" gerutu Kal El frustrasi.
"Kalau anak-anak geng fraternity melihat ini, habis martabat kita sebagai 'Trio Route'!"
"Trio Route sudah mati sejak dua bulan lalu saat dadaku rasanya mau meledak karena diabaikan," potong Draxler dingin, lalu menoleh tajam pada Kal El.
"Hitungan ketiga, bunyikan pengeras suaranya."
"Draxler, kau gila—"
"Satu... dua... tiga."
BZZZZZZT!
Suara dengung pengeras suara menggema keras di sepanjang koridor asrama, membuat beberapa penghuni kamar lain menyibak gorden dan membuka pintu dengan wajah syok.
"Marcella Ember Vitiello!" teriak Kal El pasrah melalui pengeras suara, membaca teks di secarik kertas yang ditulis Draxler tadi malam.
"Pangeran es yang dulu kau kejar... hari ini resmi membuka pendaftaran kencan! Sarapan spesial buatan chef pribadi Ashford sudah mendarat di depan pintumu!"
Klek.
Pintu kamar 104 terbuka secara mendadak.
Cinderella berdiri di ambang pintu dengan piyama katun longgar dan rambut hitamnya yang terurai sedikit berantakan.
Di belakangnya, Prilly mengintip dengan mulut menganga lebar, memegang cangkir kopi yang hampir terlepas dari jemarinya.
Cinderella menatap tiga pria tinggi di hadapannya dengan pandangan yang teramat sangat datar. Tatapannya begitu dingin hingga bisa membekukan air hangat dalam hitungan detik.
"Apa yang kalian lakukan di depan kamarku pagi-pagi begini?" tanya Cinderella dengan intonasi lambat dan menekan.
Draxler maju satu langkah, mendorong nampan kayunya sedikit ke depan. "Selamat pagi, Ember. Aku membawakan sarapan. Ada pancake maple, sosis panggang, dan jus jeruk segar tanpa gula—persis seperti yang biasa kau celotehkan dulu."
Cinderella melirik nampan itu, lalu beralih menatap wajah Draxler. "Aku tidak lapar. Dan suaramu mengganggu waktu istirahatku."
"Lapar atau tidak, kau harus makan," balas Draxler pantang menyerah.
Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum kaku yang kentara sekali dipaksakan demi terlihat 'ramah dan manis'. "Kalau kau tidak mau makan di kamar, aku bisa menyuapimu di sini. Di depan seluruh penghuni asrama."
Brave dan Kal El kompak menepuk jidat mereka masing-masing.
"Draxler... akting ramahmu sungguh mengerikan," bisik Brave prihatin.
"Kau terlihat seperti penjahat yang sedang mengancam korbannya untuk makan."
Cinderella menatap Draxler selama beberapa detik, mencoba mencerna kegilaan baru dari putra keluarga Ashford ini. "Kau benar-benar kehilangan akal sehatmu, Draxler."
"Aku memang sudah gila sejak kau melewatiku di parkiran tanpa melirik sedikit pun," sahut Draxler tanpa ragu, suaranya lantang hingga terdengar oleh mahasiswa yang mengintip dari lantai dua.
"Jadi, kau mau menerima sarapan ini, atau aku akan berdiri di depan pintu ini sampai jam kuliah dimulai?"
Cinderella menarik napas panjang, menahan denyutan di pelipisnya. Menghadapi konspirasi politik korporasi jauh lebih mudah daripada meladeni tingkah konyol pemuda 19 tahun yang sedang mabuk gengsi dan penyesalan ini.
Cinderella meraih nampan dari tangan Draxler dengan gerakan kasar, lalu menyerahkannya pada Prilly di belakangnya.
"Sudah kuterima. Sekarang pergi," ucap Cinderella dingin seraya hendak menutup pintu.
Namun, sebelum pintu kayu itu rapat, sepatu sneakers mahal milik Draxler sudah mengganjal di celah pintu.
"Tunggu," potong Draxler cepat.
"Hari ini jadwal kuliahmu jam sembilan pagi. Aku yang akan mengantarmu ke gedung fakultas."
"Aku punya kaki untuk berjalan sendiri."
"Tapi kakimu terlalu indah untuk dipakai berjalan di atas trotoar berdebu kampus," potong Draxler asal jiplak, mengutip kalimat rayuan konyol yang dipelajarinya dari internet tadi malam.
Brave di belakangnya seketika tersedak air liurnya sendiri, sementara Kal El hampir menjatuhkan buket bunga mawarnya karena menahan tawa histeris.
Cinderella membelalakkan matanya tipis, menatap Draxler dengan raut heran yang tak tertutupi. "Kalimat sampah dari mana yang baru saja kau ucapkan itu?"
Draxler berdehem keras, wajah tampannya sedikit memerah akibat rasa malu yang mulai merayap, namun ia tetap menegakkan dada.
"Bukan sampah. Itu ungkapan apresiasi estetika. Pokoknya, jam delapan lima puluh aku tunggu di depan tangga asrama. Kalau kau tidak turun... aku akan menggunakan pengeras suara ini untuk menyanyikan lagu kebangsaan sampai kau keluar."
"Draxler!" desis Cinderella tajam.
"Aku tidak main-main, Marcella," balas Draxler dengan kerlingan mata konyol yang dipaksakan.
Brak!
Cinderella membanting pintu kamar tepat di depan wajah Draxler.
Di luar pintu, keheningan melingkupi ketiga pria itu selama beberapa detik.
Kal El menepuk bahu Draxler seraya menahan tawa yang membakar dadanya.
"Luar biasa, Mr. Ashford," puji Kal El sarkastik. "Aksi hari pertamamu benar-benar sukses besar... sukses membuatmu terlihat seperti pengganggu kelas berat."
Draxler merapikan kerah kausnya, menyunggingkan senyum tipis yang penuh kemenangan meski pintu di depannya baru saja dibanting keras.
"Kalian tidak mengerti. Dia mengambil sarapannya. Itu artinya kemajuan lima puluh persen."
"Dia mengambilnya karena kasihan dan malu dilihat kamar tetangga, Bodoh!" seru Brave frustrasi seraya melempar buket bunga mawar itu ke pelukan Draxler.
"Ayo pergi sebelum pengawas asrama menendang kita bertiga!"
Pukul 08.50 tepat.
Cinderella melangkah turun dari tangga kayu gedung asrama putri. Ia mengenakan pakaian kasual yang rapi—celana jins berpotongan lurus dan kemeja biru muda yang simpel.
Tas kuliahnya tersampir di bahu kanan. Ia berharap bisa menyelinap pergi sebelum pemuda Ashford itu menjalankan ancaman konyolnya.
Namun, harapan itu sirna seketika.
Di dasar tangga, Draxler sudah berdiri tegak. Bukan dengan mobil sports mewahnya, melainkan berdiri di samping sebuah sepeda ganda tandem bike berwarna merah menyala yang disewanya dari fasilitas olahraga kampus.
Di belakang sepeda, Brave dan Kal El duduk pasrah di atas bangku taman dengan wajah ditutupi koran.
Cinderella menghentikan langkahnya di anak tangga terakhir, memandangi sepeda ganda itu dengan dahi berkerut dalam.
"Apa lagi ini, Draxler?" tanya Cinderella lelah.
"Kendaraan ramah lingkungan untuk mengantarmu ke kelas," jawab Draxler bangga seraya menepuk jok belakang sepeda.
"Naiklah. Aku yang akan mengayuh di depan. Kau hanya perlu duduk manis dan menikmati pemandangan."
Beberapa mahasiswi yang melintas di sekitar tangga mulai berbisik-bisik heboh, mengabadikan momen langka itu dengan ponsel mereka.
Seorang Draxler Ashford—pewaris dinasti bisnis raksasa—berdiri memegang sepeda ganda merah murah demi mengantar seorang gadis!
Cinderella menatap Draxler dari atas ke bawah. "Kau benar-benar sudah gila."
"Aku sudah bilang tadi pagi, aku memang gila," balas Draxler santai seraya menunjuk jok belakang. "Ayo naik, Ember. Atau kau mau aku menggendongmu sampai ke lantai dua gedung fakultas?"
Cinderella memejamkan mata rapat-rapat, menghembuskan napas panjang. Mengingat reputasi dan fokusnya saat ini adalah menjaga ketenangan demi menyusun strategi bisnis rahasianya, berdebat di depan umum dengan pemuda nekat ini hanya akan membuat namanya makin menjadi sorotan.
Dengan rasa gusar yang tertahan, Cinderella melangkah mendekat dan menduduki jok belakang sepeda merah tersebut.
"Kalau kau sampai menjatuhkanku, aku pastikan kau tidak akan bisa berjalan selama seminggu," ancam Cinderella dingin dari belakang.
Draxler menyunggingkan senyum lebarnya—senyum cerah yang membuat wajah tampannya memancarkan pesona yang teramat silau.
"Tenang saja. Keselamatan calon masa depanku adalah prioritas utama."
"Tutup mulutmu dan kayuh sepedanya!" desis Cinderella menepuk punggung Draxler dengan buku catatannya.
Draxler tertawa pelan—sebuah tawa lepas yang belum pernah didengar oleh siapa pun di kampus ini. Ia mulai mengayuh pedal sepeda ganda itu melintasi jalanan setapak kampus yang dipayungi pepohonan rindang.
Di belakang mereka, Brave menutupi wajahnya dengan koran makin rapat.
"Kal... tolong beritahu aku kalau ini semua cuma mimpi buruk."
"Ini bukan mimpi, Brave," sahut Kal El seraya mengunyah permen karetnya. "Ini adalah bukti nyata bahwa ketika seorang Ashford jatuh cinta dan gengsi runtuh... mereka akan menjadi makhluk paling konyol di muka bumi."
Di atas sepeda, angin pagi berembus lembut menerpakan rambut hitam Cinderella.
Dari posisi duduknya di belakang, ia bisa melihat punggung tegap Draxler yang mengayuh sepeda dengan penuh semangat, sesekali memutar kepalanya ke belakang hanya untuk memastikan bahwa Cinderella masih duduk di sana dan tidak melompat kabur.
Cinderella menatap punggung pemuda itu dengan tatapan mata yang rumit.
Di dalam dadanya, benteng es yang dibangun oleh duka masa lalu sebagai Cinderella Huntington perlahan merasakan kehangatan aneh yang tak diundang—sebuah kehangatan dari kegilaan dan ketulusan tanpa batas dari seorang Draxler Lutolf Ashford.