NovelToon NovelToon
Zero Hunter

Zero Hunter

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Anak Genius / Mengubah Takdir
Popularitas:558
Nilai: 5
Nama Author: LetterFromJusticia

Ervan Noir seorang yang bermimpi menjadi Hunter akan tetapi impianya tidak sesuai kenyataan ketika peluang menjadi Hunter di Depan Mata, kejadian diluar prediksi dimana saat proses pemasanagn CORE progres instalationya 0℅ sejak itu Ervan menjadi bahan olokan sering di bully , hingga suatu Insiden menimpa Ervan dimana ketika Ervan berada di Ambang kematian Instalation yang awalnya 0℅ mulai aktif, hingga akhirnya Takdir Ervan sebagsi seorang Hunter dimulai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LetterFromJusticia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28 — Ketika Bertahan Lebih Sulit daripada Menang

Dentang pintu baja yang menutup di belakangnya membuat 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 𝗡𝗼𝗶𝗿 sedikit tersentak.

Di hadapannya terbentang kawasan perkotaan yang dibuat menyerupai reruntuhan pascaperang. Bangunan beton dengan dinding retak berdiri di antara jalanan rusak, sementara beberapa kendaraan terbengkalai menghalangi sebagian jalur.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 menarik napas panjang.

Kedua tangannya terbungkus Regalia tipe Gauntlet yang ia pilih sebelum masuk.

Berbeda dengan peserta lain yang memakai pedang atau senjata jarak jauh, 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 harus mendekati lawannya untuk menghasilkan serangan yang efektif.

Dan itulah masalah terbesarnya.

Bip!

Sebuah layar informasi menyala di atas gerbang seberang.

[ W.H.O — SURVIVAL FIELD ]

TARGET INFORMATION

BETA: Brindle Prowler

Classification: Beast

Threat Level: E

BP Reference: 66

Live Combat Assessment

𝘉𝘳𝘪𝘯𝘥𝘭𝘦 𝘗𝘳𝘰𝘸𝘭𝘦𝘳.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 memanggil kembali catatan yang pernah ia pelajari. BETA jenis Beast dengan tubuh menyerupai predator berkaki empat. Cepat ketika menerkam, dan cenderung mengincar anggota tubuh bagian bawah.

Namun, mengetahui semua itu di atas kertas jelas berbeda dengan menghadapinya langsung.

Grrrr!

Geraman rendah terdengar dari balik sebuah kendaraan.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 segera mengangkat kedua Gauntlet.

“𝘗𝘦𝘴𝘦𝘳𝘵𝘢 𝙀𝙧𝙫𝙖𝙣 𝙉𝙤𝙞𝙧, 𝘩𝘢𝘳𝘢𝘱 𝘱𝘦𝘳𝘩𝘢𝘵𝘪𝘢𝘯.” Suara pengawas menggema dari pengeras suara, memantul di antara dinding beton. “𝘛𝘢𝘳𝘨𝘦𝘵 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘨𝘦𝘳𝘢 𝘥𝘪𝘭𝘦𝘱𝘢𝘴. 𝘛𝘪𝘮 𝘱𝘦𝘯𝘨𝘢𝘸𝘢𝘴 𝘣𝘦𝘳𝘩𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘩𝘦𝘯𝘵𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘶𝘫𝘪𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘱𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘢𝘱𝘢𝘣𝘪𝘭𝘢 𝘬𝘰𝘯𝘥𝘪𝘴𝘪 𝘈𝘯𝘥𝘢 𝘥𝘪𝘯𝘪𝘭𝘢𝘪 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘩𝘢𝘺𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘴𝘦𝘭𝘢𝘮𝘢𝘵𝘢𝘯.”

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 mengangguk, meski tidak yakin ada yang bisa melihatnya dari ruang pengawas.

“𝘚𝘪𝘢𝘱, 𝘗𝘢𝘬!”

Suaranya keluar lebih keras daripada yang ia maksudkan.

Bip!

“𝘚𝘶𝘳𝘷𝘪𝘷𝘢𝘭 𝘍𝘪𝘦𝘭𝘥 𝘥𝘪𝘮𝘶𝘭𝘢𝘪.”

Pintu kandang terbuka.

Seekor makhluk berkaki empat melangkah keluar.

Tubuhnya menyerupai anjing liar berukuran besar, tetapi otot kaki belakangnya berkembang tidak proporsional. Bulu cokelat gelap berbelang kehitaman menutupi sebagian tubuhnya.

Moncongnya memanjang, memperlihatkan deretan gigi tajam yang basah oleh air liur.

Sepasang matanya langsung tertuju kepada 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻.

𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘱𝘢𝘯𝘪𝘬. 𝘓𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘥𝘶𝘭𝘶 𝘤𝘢𝘳𝘢 𝘥𝘪𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘨𝘦𝘳𝘢𝘬.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 mengambil stance.

Kaki kiri sedikit maju. Kedua tangan menjaga wajah dan dada.

Ia mencoba mengingat semua yang sudah diulang-ulang 𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 di ruang latihan.

Namun, belum sempat 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 menyusun langkah berikutnya—

GRAAAH!

BETA itu melesat.

𝘊𝘦𝘱𝘢𝘵—

Tubuh 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 bergerak lebih dulu daripada pikirannya. Kedua tangannya terangkat.

DUAGH!

Tubuh Brindle Prowler menghantam guard-nya.

Benturan itu melemparkan 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 ke belakang. Punggungnya menghantam badan sebuah kendaraan latihan.

Brak!

“𝘜𝘨𝘩—!”

Rasa sakit menjalar dari kedua lengan hingga ke bahu.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 menggertakkan gigi.

𝘐𝘯𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘴𝘦𝘣𝘶𝘵 𝘛𝘩𝘳𝘦𝘢𝘵 𝘓𝘦𝘷𝘦𝘭 𝘌?

Ia baru saja mencoba berdiri ketika makhluk itu kembali bergerak.

Cakar depannya menyapu dari samping.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 menunduk.

Srett!

Ujung cakar menggores pelindung bahunya. 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 kehilangan keseimbangan dan jatuh dengan satu lutut menyentuh tanah.

𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘢𝘮 𝘥𝘪 𝘵𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵. 𝘎𝘦𝘳𝘢𝘬!

Ia memaksa tubuhnya bergeser ke samping.

Sesaat kemudian, rahang Brindle Prowler menghantam tempat kepalanya berada tadi.

KRAK!

Permukaan beton retak kecil akibat benturan itu.

Tengkuk 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 terasa dingin. Terlambat sedikit saja, mungkin kepalanya yang kini berada di antara rahang itu.

Ia berusaha menciptakan jarak.

Namun Brindle Prowler terus mengejar. Setiap kali 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 mundur, makhluk itu langsung memangkas jarak dengan keempat kakinya.

𝘌𝘮𝘱𝘢𝘵 𝘬𝘢𝘬𝘪 𝘭𝘢𝘸𝘢𝘯 𝘥𝘶𝘢 𝘬𝘢𝘬𝘪. 𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘮𝘶𝘯𝘥𝘶𝘳 𝘭𝘶𝘳𝘶𝘴 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘯𝘪 𝘵𝘦𝘳𝘶𝘴, 𝘢𝘬𝘶 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘤𝘦𝘱𝘢𝘵.

Dalam latihan bersama 𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻, 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 terbiasa membaca gerak bahu, pinggul, dan posisi kaki manusia sebelum serangan datang.

Tetapi makhluk di hadapannya tidak bertarung dengan pola yang sama.

Ia tidak memakai jab. Tidak melakukan cross. Tidak menunggu kesempatan untuk menyusun kombinasi pukulan.

Brindle Prowler hanya menyerang ketika melihat celah.

GRAAH!

Makhluk itu kembali menerkam.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 bergeser ke kiri, lalu melayangkan pukulan kanan.

Duk!

Gauntlet menghantam sisi tubuh BETA itu.

Namun, posisi pukulannya buruk. Tenaga yang tersalur tidak penuh. Brindle Prowler hanya terdorong sedikit.

Kemudian kepalanya berputar.

Grrraah!

“𝘊𝘪𝘩—!”

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 buru-buru menarik tangannya.

Terlambat.

Salah satu kaki depan BETA itu menghantam sisi tubuhnya.

BUK!

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 terlempar dan berguling di atas aspal.

Nyeri menusuk tulang rusuknya. Ia mencoba menarik napas, tetapi dadanya seperti tertahan.

𝘗𝘶𝘬𝘶𝘭𝘢𝘯𝘬𝘶 𝘬𝘦𝘯𝘢. 𝘛𝘢𝘱𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘴𝘢𝘬𝘪𝘵 𝘫𝘶𝘴𝘵𝘳𝘶 𝘢𝘬𝘶.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 menahan tubuh dengan kedua tangan. Keringat dingin mulai mengalir di pelipisnya.

Untuk pertama kalinya, ia benar-benar merasakan kelemahan Gauntlet.

Jangkauannya terlalu pendek. Kalau ia salah membaca gerak lawan, setiap pukulan sama dengan mempertaruhkan tubuhnya sendiri.

Waktu terus berjalan.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 sudah beberapa kali mencoba menyerang, tetapi tak satu pun menghasilkan kerusakan berarti. Sebaliknya, tubuhnya mulai dipenuhi memar.

Pada salah satu benturan, bibir bawahnya pecah ketika wajahnya terbentur bagian dalam pelindung.

Rasa asin darah memenuhi lidahnya.

“𝘏𝘢𝘩... 𝘩𝘢𝘩...”

Napasnya semakin berat.

Brindle Prowler masih bergerak mengelilinginya.

𝘛𝘦𝘯𝘢𝘯𝘨. 𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘦𝘳𝘶𝘴 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘦𝘫𝘢𝘳 𝘬𝘦𝘤𝘦𝘱𝘢𝘵𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢, 𝘢𝘬𝘶 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘩. 𝘊𝘢𝘳𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘬𝘶𝘣𝘢𝘤𝘢.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 mengamati gerakan makhluk itu.

BETA itu merendahkan tubuh. Otot kaki belakangnya menegang.

Kemudian—

WUS!

Ia menerkam.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 bergeser ke samping.

Kali ini serangan itu meleset. Makhluk itu mendarat beberapa meter di belakangnya sebelum berbalik.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 menyipitkan mata.

𝘛𝘶𝘯𝘨𝘨𝘶.

Ia mulai menyadari sesuatu.

Setiap kali akan menerkam, Brindle Prowler selalu merendahkan salah satu sisi bahunya lebih dulu. Gerakan itu singkat sekali, tetapi cukup untuk memberi petunjuk arah serangan.

“𝘒𝘦𝘵𝘦𝘮𝘶,” gumam 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 di sela napasnya.

Ia mengubah cara bergerak. Tidak lagi mundur lurus setiap kali diserang, tetapi bergeser menyamping.

Ketika BETA itu menerkam lagi, 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 memakai bagian belakang sebuah kendaraan sebagai penghalang.

BRAK!

Tubuh Brindle Prowler menghantam sisi kendaraan.

Tidak cukup untuk melukainya secara serius, tetapi cukup untuk memperlambatnya.

𝘚𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨!

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 maju.

Ia mengalirkan sedikit Mana ke Gauntlet kanannya. Garis tipis di permukaan logam memancarkan cahaya redup.

“𝘏𝘢𝘢𝘩!”

BUK!

Pukulannya menghantam rusuk BETA itu.

Brindle Prowler meraung dan mundur.

Untuk pertama kalinya, 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 berhasil memaksanya menjauh.

Namun, keberhasilan kecil itu membuatnya terlalu percaya diri. Ia langsung menyusul dengan pukulan kiri.

Brindle Prowler sudah berputar. Cakar depannya menyambar.

SRAK!

Pelindung lengan 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 tergores, dan ujung cakar mengenai kulit yang tidak tertutup sempurna.

“𝘈𝘬𝘩—!”

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 melompat mundur. Darah mulai merembes dari lengannya.

𝘉𝘰𝘥𝘰𝘩. 𝘉𝘢𝘳𝘶 𝘴𝘢𝘵𝘶 𝘱𝘶𝘬𝘶𝘭𝘢𝘯 𝘮𝘢𝘴𝘶𝘬, 𝘢𝘬𝘶 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘳𝘢𝘬𝘢𝘩.

Ia melirik luka itu. Tidak terlalu dalam. Namun perihnya membuat gerakan tangan kirinya sedikit kaku.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 tidak tahu sudah berapa lama pertarungan berlangsung. Yang jelas, tubuhnya semakin sulit diajak bekerja sama.

Lutut kanannya nyeri. Bahu kirinya mulai kehilangan tenaga. Bahkan mempertahankan guard kini butuh usaha lebih besar.

Pengeras suara kembali berbunyi.

“𝘗𝘦𝘴𝘦𝘳𝘵𝘢 𝙀𝙧𝙫𝙖𝙣 𝙉𝙤𝙞𝙧, 𝘵𝘪𝘮 𝘮𝘦𝘥𝘪𝘴 𝘴𝘦𝘥𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘯𝘵𝘢𝘶 𝘬𝘰𝘯𝘥𝘪𝘴𝘪 𝘈𝘯𝘥𝘢. 𝘑𝘪𝘬𝘢 𝘮𝘦𝘳𝘢𝘴𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘴𝘢𝘯𝘨𝘨𝘶𝘱 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘯𝘫𝘶𝘵𝘬𝘢𝘯, 𝘴𝘦𝘨𝘦𝘳𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘪𝘯𝘺𝘢𝘭 𝘮𝘶𝘯𝘥𝘶𝘳.”

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 melirik salah satu kamera pengawas.

Ia tahu keselamatannya tidak diabaikan. Tim medis dan Hunter pengawas masih bersiaga.

Tetapi begitu mereka turun tangan, kesempatannya menyelesaikan ujian juga ikut berakhir.

𝘔𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨 𝘤𝘶𝘬𝘶𝘱 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘥𝘪 𝘴𝘪𝘯𝘪.

Pikiran itu muncul tepat ketika Brindle Prowler kembali menggeram.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 mengepalkan tangan.

Sudah bertahun-tahun ia ingin menjadi Hunter. Ia membayangkan suatu hari punya penghasilan yang cukup untuk membantu orang-orang di panti asuhan.

Tidak perlu lagi menghitung setiap pengeluaran sampai ke receh terakhir.

Tidak perlu lagi melihat kebutuhan panti ditunda hanya karena uangnya belum cukup.

Tetapi sekarang, setelah akhirnya mendapat kesempatan mengikuti seleksi, ia justru kewalahan menghadapi BETA tingkat terendah.

𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 benar.

Kekuatan fisik bukan segalanya. Dalam pertarungan sungguhan, pengalaman dan pengambilan keputusan jauh lebih menentukan daripada yang pernah ia bayangkan.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 melirik darah di lengannya.

𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘵𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘪𝘯𝘪 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘬𝘶𝘢𝘵 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘵 𝘨𝘶𝘢𝘳𝘥, 𝘢𝘬𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘩𝘦𝘯𝘵𝘪. 𝘐𝘵𝘶 𝘣𝘢𝘵𝘢𝘴𝘯𝘺𝘢.

Namun ia masih bisa berdiri. Pandangannya masih jelas.

Dan setelah beberapa kali bertukar serangan, ia akhirnya mulai memahami lawannya.

𝘚𝘦𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘪𝘵𝘶, 𝘴𝘢𝘵𝘶 𝘬𝘢𝘭𝘪 𝘭𝘢𝘨𝘪. 𝘒𝘢𝘭𝘪 𝘪𝘯𝘪 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳.

Brindle Prowler bergerak mendekat.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 sengaja mundur ke arah celah antara sebuah kendaraan dan dinding beton.

Ruang di sana lebih sempit. Makhluk itu tidak akan bisa berputar seleluasa tadi. Namun, ruang gerak 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 juga ikut berkurang.

Sebuah pertaruhan.

Grrrr!

BETA itu mempercepat langkah.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 bertahan di posisinya.

𝘚𝘢𝘵𝘶... 𝘥𝘶𝘢...

Makhluk itu merendahkan bahu kanan.

𝘚𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨!

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 bergeser ke kiri.

WUS!

Brindle Prowler menerkam melewati sisinya. Namun, kaki belakangnya mendadak menyapu.

DUK!

Hantaman itu mengenai paha 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻.

“𝘈𝘨𝘩!”

Ia tersandung dan hampir jatuh.

𝘒𝘢𝘬𝘪 𝘣𝘦𝘭𝘢𝘬𝘢𝘯𝘨𝘯𝘺𝘢. 𝘋𝘪𝘢 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘯𝘥𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘭𝘦𝘸𝘢𝘵.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 memaksa kaki kirinya menahan tubuh. Ia berhasil tetap berdiri, tetapi lutut kanannya semakin nyeri.

Brindle Prowler kembali menghadapnya.

Kali ini makhluk itu tidak langsung menyerang. Ia berjalan perlahan, seolah menunggu 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 membuat kesalahan berikutnya.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 menyeka darah dari bibirnya.

𝘔𝘦𝘯𝘨𝘩𝘪𝘯𝘥𝘢𝘳 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘤𝘶𝘬𝘶𝘱. 𝘈𝘬𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘯𝘵𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘥𝘪𝘢 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨.

Ia melirik celah di antara kendaraan dan dinding beton.

Tadi ia berdiri terlalu dekat dengan mulut celah. Ruangnya masih cukup bagi makhluk itu untuk memutar badan dan mengayunkan kaki belakang.

Kalau ia masuk lebih dalam, BETA itu hanya punya satu jalur: lurus. Tidak ada ruang untuk berbelok, apalagi menendang.

Namun, untuk memancing serangan seperti itu, 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 harus berdiri tepat di jalurnya.

Satu kesalahan saja—

Ia mungkin tidak sempat menghindar.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 menarik napas, lalu melangkah mundur, lebih dalam ke celah itu.

Bahu kirinya sakit ketika ia mengangkat tangan. Namun Gauntlet kanannya masih bisa digerakkan dengan baik.

Suara 𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 kembali terngiang di kepalanya.

𝘒𝘦𝘬𝘶𝘢𝘵𝘢𝘯 𝘵𝘢𝘯𝘱𝘢 𝘵𝘦𝘬𝘯𝘪𝘬 𝘤𝘶𝘮𝘢 𝘵𝘦𝘯𝘢𝘨𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘰𝘤𝘰𝘳.

Jadi, jangan buang satu pukulan pun sebelum celahnya benar-benar terbuka.

Brindle Prowler mengeluarkan geraman keras, lalu merendahkan tubuh.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 memperhatikan bahunya. Kaki belakangnya. Arah kepalanya. Posisi cakarnya.

Untuk pertama kalinya sejak ujian dimulai, ia tidak lagi sekadar berusaha lolos dari serangan.

Ia sedang menunggu kesempatan membalas.

GRAAAAAH!

Brindle Prowler menerjang.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 menurunkan pusat gravitasinya. Kaki kirinya siap bergeser menyamping. Gauntlet kiri terangkat melindungi wajah, sementara Gauntlet kanan ditarik perlahan ke belakang.

Tidak ada Aura.

Tidak ada teknik luar biasa.

Hanya pukulan sederhana yang sudah ia ulang ratusan kali bersama 𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻.

Dan sebuah kesempatan yang mungkin tidak akan datang dua kali.

𝘚𝘦𝘬𝘢𝘭𝘪 𝘭𝘢𝘨𝘪.

Kali ini, 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 tidak berniat membiarkan pukulannya meleset.

---

1
Renjana
keren👍
mangat nulisnya
mampir juga di karyaku yah😊
ラマSkuy
nice 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!