NovelToon NovelToon
MATI RASA DI PELUKANMU

MATI RASA DI PELUKANMU

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Saga B.T.

Bagi Aisyah, pernikahan dengan Ayden seharusnya menjadi pelabuhan terakhir setelah badai panjang dalam hidupnya. Pria itu tampak seperti sosok pelindung yang sempurna—mapan, penuh perhatian, dan mencintainya tanpa syarat. Namun, di balik tatapan hangat dan sentuhan lembut Ayden, tersimpan sebuah rahasia gelap yang perlahan-lahan meremukkan kewarasan Aisyah.

Semua runtuh pada malam ketika Aisyah menemukan kebenaran yang mengerikan: pernikahannya bukan dibangun atas dasar cinta, melainkan sebuah rencana balas dendam yang dingin. Ayden sengaja mendekatinya untuk menghancurkan keluarganya, menggunakan Aisyah sebagai bidak catur dalam permainan kebencian masa lalu.

Terperangkap dalam cinta yang penuh kepalsuan dan dikhianati oleh orang yang paling ia percaya, jiwa Aisyah perlahan mati rasa. Ia tidak lagi mengenal air mata ataupun amarah; yang tersisa hanya kehampaan yang mencekam. Di sisi lain, Ayden yang tadinya berniat menuntaskan dendam justru mendapati dirinya tersiksa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saga B.T., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14. "Tahap Dua"

"Bertahun-tahun, Bu Aisyah!" potong Ratih tegas. "Saya yang merawat Den Ayden setelah orang tuanya meninggal. Saya melihat sendiri bagaimana Den Ayden tumbuh menjadi pria yang dingin, tanpa hati, dan hanya dihidupi oleh rasa benci. Setiap hari di kamar kerjanya, beliau hanya menatap foto keluarga Anda dan menyusun rencana."

Aisyah teringat foto tua dengan wajah yang dirobek di bawah karpet. 'Wajah yang dirobek itu... adalah wajah Papaku!' batin Aisyah histeris.

"Kenapa Ayden mendekatiku?" cecar Aisyah dengan mata meneteskan air mata deras. "Kenapa dia harus bersikap begitu manis? Kenapa dia menyeduhkan kopi untukku setiap pagi, memelukku, dan mengucap janji nikah di bawah langit senja kalau dia membenciku?!"

"Karena itu adalah panggung eksekusinya, Bu Aisyah!" ujar Ratih memotong ucapan Aisyah dengan tatapan ngeri. "Den Ayden tahu bahwa membunuh Anda secara fisik tidak akan memberikan kepuasan atas dendamnya. Beliau ingin menghancurkan jiwa Anda! Beliau membuat Anda jatuh cinta setengah mati, membuat Anda merasa menemukan rumah dan rasa aman... agar ketika saatnya tiba, beliau bisa merenggut semuanya.

Kata-kata Ratih merobek sisa-sisa ilusi kehangatan yang selama ini dipelihara Aisyah. Seluruh potongan teka-teki yang menghantuinya selama bertahun-tahun kini menyatu dengan begitu sempurna dan mengerikan.

Perhatian berlebihan Ayden... cengkeraman posesif di tulang rusuknya... dokumen forensik Dinantara Utama berlabel 'Tahap Satu Selesai'... telepon misterius dari kontak 'F' tentang 'Tahap Dua'... dan senyuman beracun dari balik kaca taman.

"Tahap dua..." bisik Aisyah, mengingat pesan singkat di ponsel Ayden pada pukul dua pagi lalu. "Bu Ratih... apa yang dimaksud dengan 'Tahap Dua'?"

Ratih tersentak kaget saat Aisyah menyebutkan istilah tersebut. Wajah wanita tua itu mendadak berubah pucat pasi, matanya membelalak ketakutan.

"A-Anda tahu tentang Tahap Dua?" gagap Ratih gemetar.

"Aku membaca pesan singkat di ponsel Ayden kemarin malam!" desak Aisyah, memegang erat kedua lengan Ratih. "Seseorang bernama 'F' menelepon Ayden jam dua pagi dan bilang 'Tahap Dua harus segera dieksekusi'! Apa itu Tahap Dua, Bu Ratih?!"

Ratih menelan ludahnya yang terasa kaku, napasnya memburu panik. "Tahap Satu adalah memisahkan Anda dari dunia luar dan mengikat Anda dalam pernikahan hukum. Dan Tahap Dua..." Ratih mendekatkan bisikannya ke telinga Aisyah, "...adalah pengalihan seluruh sisa aset hak waris milik almarhum Papa Anda yang baru saja cair minggu ini atas nama Anda! Den Ayden telah memalsukan dokumen kuasa hukum. Begitu Anda menandatangani berkas-berkas pengalihan aset yang disiapkannya, seluruh sisa harta keluarga Rahardja akan berpindah tangan sepenuhnya ke atas nama perusahaan Ayden!"

"Dan setelah aset itu berpindah tangan... apa yang akan dia lakukan padaku?" tanya Aisyah dengan suara pecah, tenggorokannya terasa kaku.

"Beliau akan membuang Anda ke tempat paling hina, Bu Aisyah!" picit Ratih dengan linangan air mata. "Beliau akan memastikan Anda hidup dalam kemiskinan dan kehampaan total, persis seperti yang dirasakan orang tuanya dulu! Beliau ingin melihat putri dari musuh utamanya hancur berkeping-keping tanpa punya siapapun untuk dimintai pertolongan!"

Dunia di sekitar Aisyah serasa runtuh seketika. Sangkar emas ini bukan sekadar tempat mengurung, melainkan panggung pembantaian bagi jiwanya. Pria yang disayanginya, pria yang mengecup keningnya setiap pagi dan berjanji menjadi perisainya, adalah sesosok predator yang telah merancang kehancurannya dengan sangat rapi.

Bzzzt... Bzzzt...

Tiba-tiba, lampu indikator merah pada kamera pengawas CCTV di sudut plafon ruang tamu berkedip cepat dua kali. Di saat yang sama, pendar cahaya dari layar ponsel milik Ratih di dalam tas kainnya menyala terang.

Ratih dengan panik merogoh tasnya dan melihat layar ponselnya. Sebuah pesan singkat masuk dari nomor tak dikenal.

’RATIH, PERGI DARI PENTHOUSE SEKARANG! F DENGAN TIM KEAMANAN AYDEN SEDANG MENUJU KE SANA DARI KANTOR!’

"Astaga..." jerit Ratih histeris tanpa suara, langsung berdiri dari sofa dengan tubuh gemetar hebat. "Mereka... mereka tahu saya ada di sini! Kamera pengawas di penthouse ini terhubung langsung ke ponsel Den Ayden atau anak buahnya!"

Aisyah ikut berdiri, rasa panik luar biasa turut menyambar dirinya. "Bu Ratih, tunggu!"

"Saya harus pergi sekarang, Bu Aisyah!" ujar Ratih panik, merapikan selendangnya dengan tangan kaku. "Jika Den Ayden tahu saya membocorkan hal ini pada Anda, hidup saya dan keluarga saya tidak akan selamat!"

"Bu Ratih, tolong saya... saya harus bagaimana?!" picit Aisyah, mencengkeram tangan Ratih dengan mata berkaca-kaca.

Ratih menatap Aisyah dengan rasa iba yang teramat sangat. Ia memegang kedua pipi Aisyah, berbisik cepat di depan wajah wanita muda yang pucat itu.

"Dengar baik-baik, Bu Aisyah," tekan Ratih, matanya memancarkan keseriusan mutlak. "Jangan pernah tunjukkan pada Den Ayden bahwa Anda sudah tahu rahasia ini! Berpura-puralah tetap menjadi istri yang patuh sampai Anda menemukan celah untuk lari! Cari dokumen kuasa hukum Tahap Dua itu di ruang kerjanya dan musnahkan sebelum Den Ayden memaksa Anda menandatanganinya!"

"Tapi Ayden mengunci ruang kerjanya..."

"Kunci cadangannya ada di dalam laci meja nakas sebelah kiri tempat tidur utama!" potong Ratih cepat. "Malam ini... sebelum Den Ayden mengeksekusi rencana itu, Anda harus keluar dari sangkar ini!"

Ratih membalikkan badan dan berlari cepat menuju pintu utama penthouse. Tanpa menunggu Bi Sumi yang baru keluar membawa nampan teh dari arah dapur, Ratih menekan tombol elevator dan menghilang di balik pintu besi tebal yang menutup rapat.

"Bu Aisyah? Ada apa ini? Kenapa wanita itu lari terburu-buru?" tanya Bi Sumi cemas seraya meletakkan cangkir teh yang bergoyang di atas nampan.

Aisyah berdiri mematung di tengah ruang tamu yang megah dan dingin. Udara sejuk dari pendingin ruangan terasa menusuk hingga ke sumsum tulangnya.

Ia memandangi cincin pernikahan platina bermata berlian yang melingkar kaku di jari manis tangan kirinya. Cincin yang dulu dianggapnya sebagai lambang perlindungan dan rumah, kini terasa tak ubahnya belenggu besi yang membakar kulitnya.

***

Malam telah larut ketika denting halus elevator pribadi berbunyi di lorong penthouse. Suasana ruang tamu utama terasa begitu sunyi, dingin, dan menekan. Lampu kristal di plafon dibiarkan redup, menyisakan pendar temaram yang melemparkan bayangan-bayangan panjang di atas lantai marmer.

Aisyah duduk tegak di tengah sofa besar, jemarinya meremas kain roknya sendiri hingga buku-buku jarinya memutih. Setiap detik sejak kepergian Ratih siang tadi terasa bagai siksaan membakar yang menggerogoti kewarasannya.

Langkah kaki yang teratur dan mantap terdengar mendekat. Ayden melangkah masuk, melonggarkan ikatan dasinya dengan satu tangan sementara jas hitamnya tersampir santai di lengan yang lain. Wajah tampan itu tampak lelah, namun tetap memancarkan pesona berwibawa yang selama beberapa bulan ini berhasil menyihir Aisyah.

"Aisyah? Kenapa belum tidur, Sayang?" suara Ayden memecah keheningan, terdengar begitu hangat dan penuh perhatian seperti biasa. Ia berjalan mendekat, bersiap mendaratkan kecupan rutin di kening istrinya. "Kenapa duduk di kegelapan begini?"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!