Seorang Pemuda Pengangguran Terdesak pinjol ia pun nekat menjadi Dukun Palsu/Gadungan karena menemukan beberapa barang kuno lalu muncul ide menjadi Dukun..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Al-Ashar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gelombang Surat dari Ujung Negeri
Instruksi Mamat membakar semangat di seluruh penjuru tanah air. Dalam kurun waktu kurang dari lima hari, sebuah aksi kebudayaan dan hukum yang tak pernah terbayangkan sebelumnya terjadi secara masif. Dari pelosok Mamasa di Sulawesi Barat, pesisir Kei di Maluku, hutan Meratus di Kalimantan, hingga lorong-lorong pasar tradisional di Jawa Tengah dan Jawa Timur, ribuan koperasi bergerak serentak.
Tidak ada bentrok fisik, tidak ada pembakaran ban di jalan raya. Yang ada adalah rombongan perwakilan petani, nelayan, dan perajin lokal yang melangkah dengan pakaian adat serta seragam kerja harian mereka menuju kantor pos dan perwakilan daerah setempat.
Mereka mengirimkan amplop-amplop tebal berlogo koperasi mandiri masing-masing yang ditujukan langsung kepada setiap anggota DPR RI di Senayan. Di dalam amplop tersebut tersaji laporan keuangan yang diaudit transparan, daftar nama kepala keluarga yang terbebas dari jerat utang rentenir, serta sampel produk unggulan: bungkus kopi Arabika Mamasa, botol minyak VCO Kei, kemasan madu hutan Meratus, hingga beras organik Kalisari.
Di gedung parlemen Senayan, Jakarta, pemandangan luar biasa terjadi selama tiga hari berturut-turut. Ruang Sekretariat Jenderal DPR meluap oleh ribuan kotak paket dan surat yang menumpuk hingga setinggi dada manusia.
Para anggota dewan yang tadinya menyusun Rencana Undang-Undang Pengawasan Lembaga Kemitraan secara sembunyi-sembunyi kini terdesak oleh perhatian media nasional. Liputan siaran langsung televisi berita memperlihatkan bagaimana lembaran-lembaran laporan dari Brajamukti Center membuktikan efisiensi pengelolaan modal kerakyatan yang jauh lebih bersih dibandingkan program-program bantuan sosial berbiaya triliunan milik pemerintah yang sering kali bocor di tengah jalan.
Opini publik nasional berbalik seratus persen. Para oknum politisi dan kartel pangan yang berada di balik draf aturan tersebut tak lagi memiliki ruang untuk bersembunyi.
Puncak dari konfrontasi regulasi tersebut terjadi pada Sidang Dengar Pendapat Umum (RDPU) Komisi VI DPR RI. Mamat diundang secara resmi untuk memberikan keterangan pakar dan pandangan dari pihak lembaga pendampingan masyarakat.
Hari itu, ruang sidang komisi dipenuhi oleh puluhan wartawan, pengamat ekonomi, serta anggota dewan dari berbagai fraksi. Di barisan paling depan, Mamat duduk dengan tenang di balik meja pembicara. Di sisinya, Darto memegang berkas induk hasil audit yayasan, dan Bowo mengapit dari sebelah kanan dengan wajah tegap dan waspada.
Ketua Komisi memukul palu sidang, menandai dimulainya sesi dengar pendapat.
seorang anggota dewan dari fraksi pendukung draf aturan baru berdiri, mencoba melontarkan pertanyaan tajam dengan nada menggurui.
"Pak Eko Prasetyo," seru anggota dewan tersebut seraya membetulkan pin emas di jasnya. "Negara ini adalah negara hukum. Penghimpunan dan penyaluran dana dalam bentuk apa pun harus tunduk pada kontrol ketat lembaga perbankan dan kementerian terkait. Bagaimana Anda menjamin bahwa Lumbung Modal Mandiri milik yayasan Anda tidak akan disalahgunakan untuk kepentingan politik atau penipuan skala besar di masa depan?"
Mamat tidak langsung menjawab. Ia merapikan mikrofon di hadapannya, menatap lurus ke arah pimpinan sidang dan seluruh anggota dewan yang hadir.
"Bapak Anggota Dewan yang hormati," buka Mamat dengan suara bernada dalam, jernih, dan sangat teratur. "Saya setuju bahwa negara harus hadir menjaga keamanan dana rakyat. Tapi mari kita tanyakan satu hal mendasar: siapakah yang paling berhak mengawasi uang rakyat?"
Mamat mengangkat satu bundel laporan keuangan sederhana bersampul kain tenun dari mejanya.
"Di Brajamukti, tidak ada satu rupiah pun uang warga yang disimpan atas nama pribadi saya, Darto, atau yayasan di Bali," tegas Mamat. "Seluruh dana simpanan dan pinjaman modal diputar di dalam rekening koperasi warga itu sendiri, diaudit oleh akuntan publik independen, dan dipertanggungjawabkan dalam Rapat Anggota Tahunan yang terbuka untuk setiap kepala keluarga di desa."
Mamat menoleh ke arah anggota dewan yang melontarkan pertanyaan tadi.
"Mengapa warga desa mau mempercayakan keringat mereka pada sistem ini?" lanjut Mamat penuh wibawa. "Karena selama puluhan tahun, ketika mereka mendatangi bank-bank resmi milik negara atau swasta, mereka ditolak karena tidak punya sertifikat tanah untuk agunan. Ketika mereka terbebas dari bank, mereka dimangsa oleh rentenir dan pinjaman daring ilegal. Brajamukti hadir bukan untuk mengambil alih peran negara, melainkan mengisi kekosongan nurani yang ditinggalkan oleh sistem perbankan yang terlalu kaku untuk rakyat kecil."
Suara tepuk tangan membahana dari balkon penonton sidang yang dihadiri oleh para alumni akademi dan perwakilan petani!
Ketua Komisi mengangguk-angguk setuju, sementara anggota dewan yang bertanya tadi perlahan meluruhkan punggungnya ke sandaran kursi, tak sanggup lagi mendebat argumen berbasis fakta riil yang dipaparkan Mamat.
Hasil RDPU hari itu berujung pada keputusan pembatalan pasal-pasal krusial yang mengancam kedaulatan koperasi. Gerakan pendampingan rakyat justru mendapatkan pengakuan resmi sebagai pilar strategis kemandirian ekonomi nasional!
Setelah memenangkan pertarungan regulasi di Jakarta, fokus Mamat kembali tertuju pada program jangka panjang ekspansi empat Kampus Regional Akademi Pendamping Rakyat.
Tiga bulan kemudian, sebuah helikopter sewaan mendarat di pelataran rumput luas di daerah Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua. Di lokasi inilah Kampus Regional keempat sekaligus penutup untuk wilayah Indonesia Timur resmi berdiri di atas lahan hibah dari masyarakat adat lokal.
Mamat, Darto, dan Bowo melangkah turun dari helikopter, disambut oleh tarian adat Ondoafi (ketua adat) setempat yang mengenakan hiasan bulu cenderawasih dan ukiran kayu tradisional.
Ondoafi Jayapura, Ondoafi Yobee, merangkul Mamat erat-erat, mengalungkan noken (tas rajut khas Papua) yang berisi daun sagu dan ukiran kayu kecil di leher Mamat.
"Selamat datang di tanah Papua, Adik Eko," kata Ondoafi Yobee dengan suara berat dan hangat. "Anak-anak muda kami di sini punya tanah yang luas, laut yang kaya, tapi selama ini kami bingung bagaimana mengolahnya agar tidak dikuasai oleh orang asing. Anak-anak dari Akademi yang datang dua bulan lalu sudah mulai mengajari pemuda kami cara mengolah sagu dan pinang secara modern."
Mamat membalas pelukan tokoh adat tersebut dengan penuh ketakziman.
"Terima kasih banyak, Ondoafi," ucap Mamat tulus. "Kampus Akademi di Jayapura ini tidak dibangun untuk mengajari orang Papua cara menjadi orang kota. Kampus ini dibangun agar pemuda Papua bisa menjadi tuan di tanah mereka sendiri, mengelola kekayaan alam Papua dengan kejujuran dan kecerdasan mereka sendiri."
Sore harinya, acara peletakan batu pertama pembangunan gedung Kampus Regional Papua dilaksanakan diiringi oleh tabuhan tifa dan nyanyian syukur warga.
Di tengah suasana kegembiraan tersebut, Mamat berjalan bersama Darto dan Bowo menuju tepi Danau Sentani yang tenang. Permukaan air danau memantulkan pendaran warna jingga kemerahan dari langit sore Papua yang teramat indah.
Darto menyandarkan tubuhnya di batang pohon kelapa seraya memandangi riak air danau.
"Mat..." panggil Darto pelan, matanya menerawang jauh. "Empat kampus regional di Jawa, Sumatra, Sulawesi, dan Papua sudah berdiri resmi. Puluhan ribu pendamping sudah disebar ke puluhan ribu desa. Rasa-rasanya, tugas utama kita yang dulu dirancang di atas meja kayu Umalas sudah tuntas."
Bowo ikut mengangguk, menyunggingkan senyum lega yang dalam. "Iya, Mat. Dulu kita cuma bertiga, lari ketakutan dari pinjol dan warga kampung. Sekarang di belakang kita ada ribuan anak muda jujur yang siap melanjutkan gerakan ini tanpa perlu kita suruh-suruh lagi."
Mamat tersenyum teduh, memandangi bayangan langit senja di permukaan Danau Sentani.
"Gerakan ini memang tidak boleh tergantung pada Mamat, Darto, atau Bowo," kata Mamat halus. "Sistem ini dibangun agar ketika kita bertiga sudah tua dan tiada, api kejujuran dan kemandirian ini akan tetap menyala di hati setiap anak muda Indonesia."
Satu tahun berlalu sejak peresmian Kampus Regional Papua. Gerakan Brajamukti kini berjalan secara mandiri lewat koordinasi kuat para alumni senior dan dewan pengawas etika di seluruh wilayah Indonesia.
Mamat memutuskan untuk melepaskan sebagian besar jabatan strukturalnya di yayasan pusat, menyerahkan tampuk kepemimpinan operasional sehari-hari kepada Rian, Anisa, dan tim eksekutif alumni akademi yang telah teruji dalam berbagai ujian lapangan.
Mamat, Darto, dan Bowo memilih untuk kembali dan menetap di Bali, menikmati masa-masa pengabdian mereka dengan cara yang lebih tenang di Brajamukti Center Umalas.
Suatu sore yang sejuk, Mamat duduk di teras belakang villa Umalas, mengamati sekelompok peserta akademi angkatan baru yang sedang belajar metode wawancara empati di halaman bawah.
Darto melangkah mendekat membawa dua cangkir kopi hitam panas dan meletakkannya di atas meja bundar.
"Mat," sapa Darto santai. "Ada kiriman laporan dari Kalisari. Koperasi desa kita di sana baru saja membagikan Sisa Hasil Usaha (SHU) rekor tertinggi sepanjang sejarah desa. Pak RT Sugino sama Pak Bintoro titip salam, mereka bilang warung Bu Siami sekarang sudah punya tiga cabang di kecamatan."
Mamat tertawa renyah—sebuah tawa lepas yang sangat jernih tanpa ada beban atau kepalsuan lagi di dalamnya.
"Alhamdulillah..." bisik Mamat tulus. "Kalisari sudah benar-benar mandiri. Tidak ada lagi yang ingat Mamat si dukun gadungan, mereka cuma tahu Kalisari adalah desa perajin dan petani yang jujur."
Bowo berjalan masuk membawa sebuah nampan berisi kudapan pisang goreng hangat, lalu ikut bergabung duduk di kursi kayu.
"Jadi, Guru Mamatya..." kata Bowo menggoda seraya terkekeh. "Setelah seluruh pulau terjangkau dan ribuan desa sudah punya pendamping, rencana hidupmu selanjutnya apa lagi?"
Mamat menyesap kopi panasnya perlahan, merasakan rasa pahit dan manis yang menyatu sempurna di lidahnya—persis seperti perjalanan hidup yang telah dilaluinya.
Ia memandangi hamparan sawah hijau Umalas dan Samudra Hindia di kejauhan.
"Rencanaku sederhana, Wo, To..." jawab Mamat pelan seraya menatap dua sahabat karib sehidup-sematinya. "Tetap menjadi manusia biasa. Tetap menyeduh kopi bersama kalian, tetap mendengarkan keluh kesah orang-orang yang datang meminta petunjuk, dan memastikan bahwa kita bertiga tidak akan pernah melupakan rasa bersyukur atas kesempatan kedua yang diberikan Tuhan dalam hidup ini."
Darto dan Bowo tersenyum lebar, mengangkat cangkir kopi mereka di udara.
Tiga pemuda yang pernah terperosok ke dalam lubang kegelapan dan kebohongan di lorong-lorong jalanan Jawa itu kini duduk bersama sebagai manusia yang utuh, damai, dan paripurna.
Jejak perjalanan Mamat sang motivator dan dukun gadungan telah selesai diubahnya menjadi sebuah mahakarya pengabdian yang suci—sebuah cerita tentang keberanian jiwa untuk berhenti menipu, mengakui kesalahan, dan melangkah di jalan kejujuran demi menerangi masa depan Nusantara sepanjang masa.