Revan (30), pimpinan tentara elit yang lima tahun tak pulang, mendapat misi mengintai kelompok pemberontak di hutan desa kelahirannya. Selama ini, Revan terlalu sibuk bertugas hingga tidak sempat memikirkan cinta, sang ibu khawatir dan ingin menjodohkan nya.
Di sisi lain, Nara ...bidan ASN cantik yang jago bela diri,pindah tugas ke desa tersebut. Karna menghindar dari beberapa laki laki yang selalu mendekatimya ,maraknya kasus KDRT dan perselingkuhan membuat ia trauma hingga tak percaya cinta dan enggan menikah.
Takdir mempertemukan mereka di gerbong kereta api. Demi menghindari desakan nikah ibunya via telepon, Revan nekat mengambil diam diam gambar dengan wanita di sampingnya yang sedang tertidur,agar sang ibu tenang, Ia tak menyadari bahwa wanita tersebut adalah Nara, bidan baru yang siap mengubah jalan hidup dan misinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eka sundari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 7 suasana mencekam
Di atas motor trail yang melaju membelah malam, Revan memutar gas pelan. Angin perkampungan menusuk kulit, namun ketegangan di antara mereka jauh lebih dingin.
"Mbak Nara sendiri... kenapa belum menikah?" tanya Revan balik, suaranya sedikit meninggi menembus deru mesin.
"Saya masih fokus karier, Pak," jawab Nara singkat dan lugas, tak ingin memberi celah.
Revan terkekeh tipis, nada bass-nya bergetar di celah lehernya yang hangat. "Sama. Saya juga begitu, Mbak."
Nara mendengkus pelan, mencoba memecah kecanggungan.
"Tapi Bapak kan sudah tiga puluh tahun. Kasihan Ibu, dari tadi kelihatan sekali ingin punya menantu."
"Kalau begitu... kalau Mbak Nara setuju, besok kita langsung daftar pernikahan,"
sahut Revan santai, namun kalimat itu terlontar seperti tantangan tanpa ragu.
Seketika, Nara menarik kedua tangannya dari pinggang Revan. Tubuhnya menegak kaku.
"Gak lucu, Pak Revan!" tegas Nara dengan nada menekan yang dingin.
Revan tidak membalas lagi, hanya mempererat pegangannya pada stang motor hingga rombongan akhirnya tiba di pelataran Polindes. Bangunan kayu beraroma cat baru itu berdiri agak menyendiri.
------
Namun, saat Revan mematikan mesin motor, matanya seketika terbelalak hebat. Rahangnya mengeras kaku. Tatapan elangnya terkunci pada gulita di balik Polindes—sebuah bukit rimbun yang menghitam di bawah langit malam.
Itu bukit target penyerapan intelijen pasukannya. Jalur rawan ancaman penyusupan yang sedang dalam pemantauan ketat tim elitnya.
Nafas Revan memburu. Ia meloncat turun dari motor, melangkah lebar dan cepat menghampiri Pak Kades yang baru saja menurunkan koper Nara bersama Ujang.
"Pak! Ini tidak salah meletakkan Polindes di sini?!" celetuk Revan, suaranya meninggi dengan nada emosi yang tak lagi bisa ia sembunyikan. Matanya menatap liar ke sekeliling area yang terisolasi itu.
"Ini jauh dari tetangga! Terlalu rawan untuk seorang perempuan sendirian!"
Pak Kades mengusap tengkuknya, agak terkejut melihat reaksi keras Revan. "Kemarin sempat mau dibuat di RT 02, Van... Tapi warga di RT 07 dan 08 kejauhan, kadang suka terlambat penanganan medisnya. Jadi kemarin hasil rapat warga, di sinilah tempat yang paling cocok, pas di tengah-tengah."
"Tapi belakangnya ini hutan lepas, Pak!"
potong Revan dengan nada menekan, dadanya naik turun menahan cemas yang membakar. Sebagai seorang perwira, insting tempurnya menyalakan tanda bahaya besar.
" tenang saja, Van..." Pak Kades menunjuk ke arah simpang jalan.
"Di situ kan ada pos ronda. Jadi insyaAllah Bu Bidan aman."
"Pos ronda kosong begitu mana bisa menjamin, Pak!" gertak Revan pelan namun sarat ancaman, membuat Ujang dan Pak Kades terdiam kaku.
" jam ronda kan bentar lagi van, jam 9.00 .ini baru jam 8.00" ...pak kades menenangkan.
Nara yang berdiri di dekat pintu Polindes terpaku, menatap punggung tegap Revan yang gemetar hebat menahan amarah dan kecemasan yang membuncah. ia melihat sang komandan elit kehilangan kendali .
-----
"Ada apa sih, Bang?" Nisa heran, mengamati raut wajah abangnya yang mendadak berubah sangat tegang.
Bu Sumi yang baru saja meletakkan rantang berisi bekal di atas meja kayu Polindes ikut menatap putranya dengan dahi berkerut. Beliau bisa membaca raut cemas yang begitu pekat di wajah anak bujangnya.
Tanpa membalas pertanyaan adiknya, Revan mengabaikan rasa canggung dan melangkah lebar menuju area belakang bangunan. Langkah kakinya yang mantap terhenti di depan pintu belakang Polindes. Matanya meneliti kait kayu sederhana yang menjadi satu-satunya pengunci pintu tersebut. Pintu papan tipis ini bahkan belum dipasangi grendel besi yang layak.
"Ini sangat berbahaya... serius," gumam Revan parau, rahangnya mengatup rapat.
Bu Sumi yang menyusul ke belakang memegang lengan Revan. "Kenapa, Bang? Ada apa sebenarnya?"
Revan menetralkan napasnya yang memburu, berusaha keras meredam nada paniknya di depan sang ibu. "Nggak apa-apa, Bu... Ibu masuk saja dulu, temani Mbak Nara siap-siap di dalam."
Setelah ibu dan adiknya kembali ke area depan, Revan perlahan melangkah keluar menembus kegelapan pelataran belakang. Suasana di sekitar hilir bukit itu begitu hening—sebuah keheningan yang mencekam dan sarat ancaman bagi insting seorang prajurit elit. Angin malam berembus dingin, menyapu dedaunan pepohonan rimbun yang menghitam di lereng bukit target operasinya.
Revan berdiri mematung dalam posisi siaga penuh. Matanya yang tajam bak burung elang memindai setiap sudut semak belukar, mewaspadai segala kemungkinan buruk yang bisa mengintai dari balik kegelapan.
"Revan...?"
Suara lembut yang memanggil namanya seketika membuyarkan lamunan penuh kewaspadaan Revan.
Revan berbalik cepat. Di ambang pintu belakang yang remang, Nara berdiri menatapnya. Ketegangan yang tadi melingkupi wajah sang bidan kini berganti dengan raut keheranan dan rasa ingin tahu yang mendalam.
"Ada apa...?" sambung Nara pelan, melangkah satu ceruk mendekati Revan. Matanya menatap lurus ke dalam manik mata sang komandan. "Kamu kelihatan cemas sekali."
"Tidak apa-apa, Nara..." Revan memotong dengan suara lirih namun dalam, menatap manik mata Nara dengan ketulusan yang tak bisa disembunyikan. "Malam ini, biar Nisa, Ibu, dan saya yang menemanimu di sini."
Nara tertegun, menahan napas di ambang pintu belakang yang remang. Belum sempat ia membalas, Revan sudah memutar tubuhnya kembali ke arah teras depan tempat Pak Kades dan Ujang berdiri.
Langkah kaki Revan yang tegas membelah keheningan malam. Nada suaranya mendadak berubah keras dan berwibawa khas seorang komandan di medan tempur.
"Pak Kades," panggil Revan tegas, tatapannya menghujam lurus.
"Tolong besok ganti pintu belakang ini dengan pintu besi. Begitu juga dengan teralis jendela dan kamar depan. Siapkan semua bahannya, biar saya sendiri yang mengerjakannya."
Pak Kades tersentak, terkesima oleh aura ketegasan Revan yang tak tertahankan. Ia mengangguk mantap tanpa ragu.
"Baik, Nak Revan. Besok pagi langsung Bapak siapkan bahannya."
Revan menyilangkan kedua tangannya di dada, matanya masih memancarkan kilat kewaspadaan. "Lalu kalau malam... siapa yang menemani Bu Bidan di sini?"
"Ada kader desa dan dua orang perawat laki-laki, Van," jelas Pak Kades menenangkan.
"Perawat laki-lakinya nanti bergantian jaga piket malam di Polindes ini."
Mendengar penjelasan itu, ketegangan di rahang Revan sedikit mengendur, meski matanya tetap sesekali melirik ke arah bukit gelap di belakang bangunan.