Serafina Olivia mencintai Ravin Haryaka Arthadipa sejak ia berusia 17 tahun. Pria yang setahun lebih tua darinya itu, merupakan anak dari rekan bisnis sang papa. Tumbuh dan besar di lingkungan yang sama, membuat Sera semakin menyukai Ravin. Hingga suatu hari, rencana perjodohan dua keluarga pun terdengar. Tanpa berpikir dua kali, Sera pun menerima perjodohan itu demi bisa hidup bersama pria pujaan hatinya. Bahagia hanya terasa di awal cerita. Semuanya berubah, saat rahasia hati Ravin terungkap. Pria itu tidak pernah mencintai Sera. Hatinya hanya untuk wanita lain. Di tengah lelah menanti cinta Ravin yang tak kunjung berlabuh padanya. Sera pun di hadapkan pada dua pilihan. Bertahan dalam ketidakpastian dan sakit hati. Atau pergi untuk membebaskan hati dengan cinta yang baru.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Five Vee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12. Permintaan Maaf Ravin.
Sore harinya, Ravin pun memutuskan untuk pulang setelah Rania mendesak untuk kembali pada Sera secepatnya.
Rania juga meyakinkan kalau dirinya akan baik - baik saja di apartemen meski sendiri.
Dalam perjalanan pulang, Ravin tak lupa membeli hadiah untuk Sera. Sebuah kalung berlian dan buket bunga mawar merah muda.
Sera pasti akan menyukainya.
Saat tiba di rumah, Ravin tak melihat keberadaan sang istri.
“Bi, Sera dimana?” Tanya Ravin pada bi Sari.
“Baru pulang kantor juga, tuan. Non Sera masih di kamar.” Ucap asisten rumah tangga itu.
Ravin menganggukkan kepalanya. Ia kemudian bergegas pergi ke kamar utama untuk menemui sang istri.
Bi Sari kemudian pergi ke dapur. Ia tak langsung bekerja. Namun mengirim pesan pada mama Safina, untuk mengatakan kalau Ravin sudah pulang.
Di lantai dua.
Ravin melihat pintu kamar tidak tertutup dengan rapat. Ia pun mendorongnya pelan.
“Kak Ravin.” Ucap Sera yang sedang duduk di pinggir ranjang. Gadis itu sedikit terkejut melihat kedatangan sang suami.
Ravin melangkah mendekat. Ia mengulurkan buket bunga mawar merah muda dan kantong berisi kotak perhiasan itu pada sang istri.
“Maaf, karena telah membuat kamu kecewa, Sera.” Ucap Ravin.
Ia menyadari betul jika tindakannya telah salah. Namun, Ravin juga tidak bisa mengakhirinya.
Sera menerima pemberian sang suami. Memeluk buket bunga itu sejenak sembari menghirup aromanya.
“Tidak apa - apa, kak. Urusan di Bogor lebih penting. Kita masih bisa merayakan hari jadi di bulan berikutnya.” Ucap gadis itu.
Meski ia meragukan alasan sang suami, namun Sera tidak ingin langsung menuduhnya.
Ravin menatap Sera cukup lama. Hatinya merasa tercubit karena telah membohongi gadis itu.
‘Maafkan aku, Sera.’ Ucap Ravin sekali lagi, namun dalam hatinya.
“Bagaimana kalau kita makan malam di luar?” Ajak pria itu.
“Sekarang?” Tanya Sera.
Ravin mengangguk. “Pakai hadiah yang aku berikan.” Ucapnya kemudian.
Sera menatap ke arah kantong kertas di tangannya. Ada logo sebuah toko perhiasan ternama.
“Baiklah. Aku akan bersiap sekarang.” Gadis itu pun berlari menuju ruang ganti.
Sera menggunakan gaun berwarna biru muda dengan bahu yang terbuka lebar, agar kalung pemberian sang suami terlihat dengan jelas di lehernya.
“Kamu menyukai kalungnya?” Tanya Ravin saat mereka dalam perjalanan menuju sebuah restoran bintang lima.
Pria itu juga terlihat tampan dengan memakai setelan jas yang senada dengan sang istri. Warna biru muda.
“Suka. Terima kasih, kak. Sayang sekali aku tidak menyiapkan apapun.” Ucap gadis itu.
“Aku tidak membutuhkan apapun, Ra. Asalkan kamu mau memaafkan aku karena tidak bisa pulang kemarin.” Ucap sang suami.
Sera menipiskan bibirnya. Kemudian mengangguk pelan. Ia tidak mau lagi membahas kejadian kemarin.
Entah kemana perginya Ravin? Sera juga tidak ingin mengetahuinya. Ia tidak mau merasa kecewa.
Sera ingin egois. Menikmati kebahagiaan yang mungkin terasa semu.
Mobil Ravin tiba di pelataran parkir restoran bintang lima itu. Ia turun lebih dulu, kemudian membukakan pintu untuk sang istri.
Mereka masuk ke dalam restoran, dengan Sera yang merangkul lengan sang suami.
Ravin telah memesan meja dengan hiasan bunga mawar dan lilin agar terkesan romantis.
“Kakak yang memesan semua ini?” Tanya Sera tak percaya.
Sepertinya, pria itu benar - benar ingin menebus malam yang terlewati kemarin.
“Hmm. Semoga kamu menyukainya.” Ucap Ravin sembari menarik sebuah kursi untuk sang istri.
Sera mengangguk pelan, kemudian menempati kursi itu. Ravin pun duduk di sebelahnya.
.
.
.
Dari sudut ruangan, suara piano mengalun pelan. ‘Comptine d’un autre été’ - ringan di awal, kemudian biola masuk menyusul, membawa nada ragu yang bergetar halus. Terlalu indah untuk menjadi jujur.
Pelayan datang, menuang anggur putih ke dalam gelas kristal. Dentingnya beradu dengan gesekan biola yang seakan ikut memohon maaf.
“Kakak sengaja memesan meja di pojok ya?” Sera tersenyum, tangannya mengelus mata berlian di lehernya. Dingin. Mahal. Sama seperti cara Ravin meminta maaf malam ini.
“Hmm. Supaya tidak ada yang menganggu kita.” Ravin menyandarkan punggung, senyumnya lega. Misinya berjalan lancar, Sera sepertinya tidak mencurigainya.
Sera menunduk, memotong steak di piringnya. Untuk beberapa menit, hanya ada suara pisau dan garpu beradu di atas piring dan musik yang membungkus mereka.
“Kemarin... di Bogor, apa masalahnya sudah selesai?” tanya Sera pelan, tanpa menatap Ravin. Nadanya datar. Seolah basa-basi.
Jantung Ravin seolah berhenti sedetik. Alunan biola itu naik ke nada tinggi, dan tajam.
Ia mengira Sera tidak akan lagi membahasnya.
Pria itu pun memaksakan senyumnya. “Sudah, Ra. Hanya kecelakaan kerja kecil. Dan sudah teratasi.” Jawabnya cepat. Bahkan terlalu cepat. “Kamu tidak perlu khawatir, Ra.”
Sera mengangguk. Ia mengunyah makanannya perlahan. Alunan piano jatuh satu nada.
“Bagus kalau begitu.” Ucapnya, lalu meneguk anggur putihnya. Tenggorokan Sera kering. Bukan karena steaknya asin. Namun karena ia semakin meragukan jawaban sang suami.
Ravin menghela napas yang tak terdengar. Lolos. Sera percaya. Atau setidaknya... aktingnya meyakinkan.
Hidangan penutup datang. Tiramisu dengan lilin kecil menyala di atasnya. Musik berhenti sejenak.
Ravin menggenggam tangan Sera di atas meja. Kulitnya hangat. Terlalu hangat untuk pria yang semalam menggenggam tangan wanita lain.
“Maaf ya, Ra. Aku janji tidak akan membuat kamu menunggu lagi.” Bisiknya, matanya menatap lurus ke dalam mata Sera.
Alunan Biola kembali masuk, membawakan nada akhir yang manis. Sempurna. Seakan menutup semua luka.
Sera membalas genggaman itu. Senyumnya terkembang. Tulus. Atau setidaknya... terlihat tulus.
“Aku maafkan, Kak.” Jawabnya lembut. “Asalkan Kakak janji, mulai sekarang kakak tidak lupa memberikan kabar lebih cepat sama aku.”
“Janji.” Ravin mengecup punggung tangan istrinya.
Lilin di meja mulai meleleh, menetes seperti waktu yang mereka buang kemarin. Musik mencapai nada terakhirnya. Terdengar indah di telinga, namun terasa pahit di hati.
Seperti janji yang baru Ravin ucapkan.
Tanpa mereka sadari, di sudut lain restoran bintang lima itu, ada seorang pria yang terus memperhatikan interaksi Ravin dan Sera.
“Kamu pikir bisa berbahagia lebih lama bersama sesuatu yang bukan seharusnya menjadi milik kamu, adikku sayang? Tunggu waktunya tiba. Kamu dan ibumu akan menangis darah seperti yang aku alami.”
Pria itu yang memakai setelan hitam, dan kacamata bening itu pun menyeringai tajam.
Sera berdiri saat makan malam selesai. Ia merapikan gaunnya, membiarkan cahaya lampu restoran memantul di berlian kalung pemberian suaminya.
Mereka berjalan keluar, Sera masih merangkul lengan Ravin. Dari luar, pasangan itu terlihat sempurna.
Tapi saat Ravin membuka pintu mobil untuk Sera, ponselnya yang tergeletak di dashboard bergetar.
Layar menyala. Nama di atas notifikasi terlihat. “Rania”
Sera yang hendak masuk mobil, matanya menangkap layar itu sekilas. Senyumnya masih terpasang. Tangannya tetap menggenggam pintu mobil.
Ravin buru-buru meraih ponselnya, mematikan layar.
“Siapa, Kak?” tanya Sera pelan. Senyumnya belum hilang.
Ravin seketika menjadi gugup. “Pesan tidak penting dari operator nomor ponsel.”
Sera mengangguk. Kemudian masuk ke dalam mobil tanpa sepatah kata. Memasang sabuk pengamannya sendiri. Lalu menatap lurus ke depan.
Saat mobil melaju , jemari Sera tanpa sadar mengelus berlian di lehernya lagi. Kali ini bukan karena bangga.
Tapi karena ia baru sadar... harga dari sebuah permintaan maaf, ternyata semahal ini.
---