Siang hari, aku cuma Maxy — pegawai biasa yang diam-diam mencintaimu.
Malam tiba, aku berubah jadi Roxy — sosok percaya diri yang berani berdiri di hadapanmu.
Kamu tersenyum pada Roxy, tapi tak pernah tahu kalau dia itu aku.
Sampai kapan aku harus menyembunyikan siapa diriku?
Dan nanti… saat kamu akhirnya memilih, siapa yang akan kamu pilih?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kenzy Elbarra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Ruang kantor sudah mulai riuh, suara ketikan keyboard bersahutan dengan dering telepon dan obrolan rekan kerja yang bersiap untuk istirahat siang. Maxy menatap layar komputernya, tapi matanya tidak benar-benar membaca teks di sana. Pikiran masih tertahan pada pesan Shella tadi pagi — ajakan makan siang bersama.
Sudah lama mereka rekan kerja, tapi ini baru kali kedua Shella mengajaknya makan secara khusus. Dan kemarin, saat ia masih berwujud Roxy, mereka berbicara soal hal-hal yang tidak pernah dibahas di ruang kerja. Batas antara dua identitasnya mulai terasa semakin tipis.
"Maxy?"
Suara Shella terdengar dari dekat meja kerjanya. Ia mendongak cepat.
"Ya, iya?" jawabnya sedikit terburu-buru, lalu membersihkan tenggorokan pelan. "Mau berangkat sekarang?"
"Kalau kamu udah selesai, boleh," jawab Shella sambil tersenyum lembut. "Aku cuma nggak mau kamu nunggu lama atau sebaliknya."
Maxy mengangguk, merapikan berkas di meja sekenanya lalu berdiri. "Udah selesai kok. Yuk."
Mereka berjalan berdampingan menuju kantin di lantai bawah. Beberapa rekan kerja melirik sekilas, ada yang menyapa, ada yang sekadar lewat. Shella menyapa semua orang dengan ramah yang sama, tapi saat berbicara dengan Maxy, nada suaranya sedikit lebih lembut — atau mungkin itu cuma perasaannya saja?
"Kamu biasa makan di mana kalau nggak di kantin?" tanya Shella saat mereka sudah duduk di meja sudut yang sama seperti kemarin.
"Kadang bawa bekal, kadang cari yang deket pintu keluar. Yang penting murah dan cepet," jawab Maxy sambil memandang daftar menu yang tertulis di papan tulis di dinding.
Shella menatapnya sejenak, lalu mengangguk pelan. "Kamu selalu gitu ya? Pilih yang paling simpel, paling nggak ribet. Padahal kamu kan bisa minta yang lebih baik. Kamu kerja keras di sini, lho."
"Kerja keras itu kewajiban, bukan alasan buat minta perlakuan khusus," jawabnya pelan.
Shella diam sejenak, menatap matanya lebih lama dari biasanya.
DING!
Kedekatan dengan Shella naik.
Sekarang: 21% (+1%)
Sumber: Penilaian karakter dan pandangan hidup yang selaras.
Maxy menahan diri agar tidak menunjukkan reaksi apa pun di wajahnya. Cuma naik 1% — kecil, tapi artinya setiap kata yang diucapkan punya bobot. Angka ini harus tumbuh perlahan, seperti menanam pohon, bukan memaksa mekar dalam semalam.
"Mungkin juga," ucap Shella pelan, lalu menyendok sedikit nasi di piringnya. "Tapi kadang aku pengen kamu lebih menghargai diri sendiri, Maxy. Bukan cuma buat orang lain."
Kalimat itu sederhana, tapi menyentuh tempat yang tepat.
Maxy menunduk, menatap piringnya. "Aku cukup menghargai diri sendiri. Cuma... standarku mungkin beda sama orang lain."
"Standar kamu apa?" tanyanya lembut, matanya menunggu jawaban dengan tulus.
"Yang penting bisa jaga diri, bisa bantu orang yang butuh, dan hidup tenang tanpa merepotkan orang lain," jawabnya jujur. "Sederhana saja kok."
Shella tersenyum tipis, ada kekaguman samar di matanya. "Itu bukan cuma sederhana, Maxy. Itu justru hal yang susah dilakukan orang zaman sekarang. Banyak yang pengen kelihatan hebat di mata orang lain, padahal sama dirinya sendiri nggak jujur."
DING!
Kedekatan dengan Shella naik.
Sekarang: 22% (+1%)
Sumber: Kesamaan nilai dan pandangan hidup.
Mereka mengobrol sepanjang makan siang, topiknya ringan — soal cuaca, proyek yang akan datang, kebiasaan makan, tempat tinggal.
Tidak ada yang mendalam seperti saat ia jadi Roxy, tapi kehadirannya terasa nyaman. Shella tidak menuntut jawaban berat, tidak mendesak, cuma ingin tahu siapa dia sedikit demi sedikit.
Saat mereka kembali ke lantai kantor, Shella berhenti sejenak di dekat meja kerjanya.
"Makasih ya, Maxy. Makan siang ini... tenang banget. Beda sama kalau makan sama tim yang lain, yang selalu bahas kerjaan terus."
Maxy tersenyum tulus. "Sama-sama. Kalau mau lagi, kabarin aja."
Shella mengangguk, senyumnya melebar sebelum ia berjalan menuju mejanya sendiri.
Maxy duduk kembali di kursinya, merasakan dadanya yang terasa lebih ringan dari biasanya. Angkanya naik pelan, tapi arahnya benar — ke depan, bukan ke samping atau mundur.
Sore harinya, Aku menyelesaikan laporan yang tertunda.
Jam menunjukkan pukul empat sore saat ponselnya bergetar pelan di bawah meja. Pesan masuk dari Shella.
"Roxy, maaf ganggu. Kalau nanti malam kamu ada waktu, aku ke restoran lagi. Ada hal yang aku pikirin dari kemarin. Nggak harus lama kok, kalau sibuk nggak apa-apa."
Maxy menatap layar lama sekali. Ia dipanggil sebagai Roxy, tapi yang membaca pesan ini adalah Maxy. Dan di dalam dirinya, keduanya adalah orang yang sama.
Ia mengetik balasan pelan-pelan.
"Aku usahakan datang. Jam berapa?"
"Jam delapan boleh? Aku nunggu di sana."
"Oke. Sampai ketemu."
Ia meletakkan ponsel, menatap jam di dinding. Masih empat jam lagi. Waktu yang cukup untuk menyelesaikan sisa pekerjaan, pulang ke rumah, berganti wujud, dan bersiap untuk mendengarkan — sebagai Roxy.
Jam tepat pukul lima sore, ia merapikan meja dan berjalan keluar. Di parkiran, mobil tua menyala setelah beberapa kali putaran kunci. Ia menyetir memutar dulu, memastikan tidak ada yang mengikuti, sebelum menuju rumah mewahnya.
Sesampainya di sana, ia masuk ke kamar utama, berdiri di depan cermin sambil menunggu jarum jam menunjuk angka enam.
DING!
FASE BERGANTI
Mode malam dimulai.
Penampilan dioptimalkan.
Akses dana sistem tersedia.
Kedekatan saat ini: 22%.
Ia berubah menjadi Roxy. Wajah lebih tegas, tatapan lebih dalam, postur lebih mantap. Ia mengenakan kemeja berwarna gelap yang terlihat elegan tapi tidak berlebihan, sepatu kulit yang mengkilap namun tidak berisik saat melangkah.
Di garasi, mobil mewahnya siap. Ia menyetir menuju restoran dengan tenang. Saat tiba, Shella sudah duduk di meja yang sama seperti sebelumnya, menatap ke luar jendela dengan pandangan yang agak melamun. Saat melihatnya masuk, ia tersenyum lega.
"Kamu datang," ucapnya lembut saat Roxy duduk di hadapannya.
"Kamu minta ditemani, saya datang," jawab Roxy tenang. "Ada yang berat dipikirin?"
Shella menghela napas pelan, menatap kedua tangannya yang bertaut di atas meja. "Bukan masalah kantor kali ini. Lebih ke... diri sendiri dan pilihan yang saya ambil."
"Coba ceritain," ucapnya lembut, memberi ruang tanpa mendesak.
Shella bercerita — tentang pertimbangan untuk menerima promosi jabatan yang berarti harus pindah ke kota lain, meninggalkan semua yang ia kenal selama bertahun-tahun. Tentang ketakutan kalau pilihannya salah, atau kalau ia menyesal karena terlalu ambisius. Tentang keraguan apakah ada orang yang akan menunggunya kalau ia pergi, atau semuanya akan berubah.
Roxy mendengarkan sepenuhnya, tidak memotong, tidak buru-buru memberi solusi. Sesekali mengajukan pertanyaan yang membantu ia melihat masalah dari sudut lain, bukan memaksakan pandangan.
"Kamu nggak perlu jawab sekarang," ucap Roxy saat ia selesai berbicara. "Pilihan penting butuh waktu. Yang penting kamu tahu kenapa kamu milih, bukan cuma milih karena orang lain bilang itu yang terbaik."
Shella menatapnya lama, matanya terlihat lebih tenang.
DING!
Kedekatan dengan Shella naik.
Sekarang: 23% (+1%)
Sumber: Dukungan emosional dan kepercayaan yang diperdalam.
"Makasih, Roxy. Kamu selalu bikin aku ngerasa keputusan saya milik saya sendiri, bukan milik orang lain," ucapnya tulus.
"Bicara sama kamu bikin saya ngerasa... saya cukup."
"Kamu memang cukup, Shella. Bukan karena saya bilang, tapi karena kamu sendiri yang tahu itu," jawabnya lembut.
Mereka mengobrol sampai jam setengah sepuluh malam. Topik akhirnya meluas ke hal-hal yang lebih ringan — film, musik, tempat yang ingin dikunjungi. Tawa Shella terdengar lebih sering, lebih lepas.
Saat berpisah di depan mobil Shella, ia berhenti sejenak sebelum masuk.
"Besok... kalau kamu ada waktu, boleh kita ketemu lagi? Bukan buat curhat kok, cuma makan bareng aja. Sebagai teman," ucapnya dengan sedikit ragu di matanya.
"Aku akan usahakan," jawab Roxy tulus. "Beri tahu saya jam berapa."
Shella tersenyum, lalu masuk ke mobil dan melaju pergi. Roxy berdiri sejenak di tempat parkir, menatap mobilnya yang menjauh.
DING!
Kedekatan dengan Shella naik.
Sekarang: 24% (+1%)
Sumber: Keinginan untuk menjaga hubungan persahabatan.
Roxy masuk ke mobil, menyetir pulang perlahan. 24% — masih sangat jauh dari 100%. Tapi setiap persen yang bertambah adalah bukti bahwa arahnya benar. Yang penting jangan terburu-buru. Biarkan waktu yang membuktikan siapa dia sebenarnya, dan apakah Shella bisa menerima kedua sisi dirinya sekaligus.
Besok pagi ia kembali jadi Maxy. Dan pertanyaannya tetap sama: apakah pertumbuhan ini akan terasa juga saat ia bukan sosok yang tampil sempurna? Atau justru di situlah letak ujian sebenarnya?