NovelToon NovelToon
Kepincut Cinta Di Mas-mas Jawa

Kepincut Cinta Di Mas-mas Jawa

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Beda Usia / Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:719
Nilai: 5
Nama Author: Diah Nation29

Up di jam yang sama 12.00 WIB


Martha Giorgiana, gadis asal London yang hobi traveling, memutuskan menjelajahi Indonesia. Setibanya di Bali, di tengah kekagumannya pada keindahan pulau tersebut, ia tak sengaja menabrak seorang pemuda misterius berbusana adat Jawa.

Kejadian canggung itu kian berkesan saat sang pemuda menunduk sopan dan berujar lembut, "Luput kulo nggeh, mbak." Suara dan tatapan teduh itu sukses membuat Martha tertegun sesaat. Pertemuan tak terduga ini menjadi awal mula perjalanan penuh warna, di mana pesona budaya lokal perlahan-lahan mencuri hatinya dan menuntunnya pada kisah cinta yang tak pernah ia duga sebelumnya.

Saksikan kisah Cinta mereka yang beda negara, beda agama, beda adat!!! semoga kalian suka🥰

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gema Suara di Tengah Riuhnya Ubud

Matahari telah sepenuhnya tenggelam di balik punggung bukit Campuhan, meninggalkan sisa-sisa jingga tipis yang perlahan-lahan lebur ke dalam kelambu malam. Namun, bagi Martha, sisa bayangan sore itu masih berputar di kepalanya seperti kepingan film rusak yang diputar berulang-ulang. Di dalam kamar homestay bernuansa kayu tradisional yang ia sewa, Martha duduk bersila di atas kasur dengan laptop yang menyala di pangkuannya. Layar dokumen kosong itu sudah terbuka selama setengah jam, tetapi kursornya belum juga berkedip mengetik satu huruf pun.

Biasanya, jemari Martha akan dengan lancar menari di atas papan tik, merangkai deskripsi puitis tentang aroma kopi lokal, tekstur ukiran kayu pura, atau ramahnya senyum warga Bali. Namun malam ini, pikirannya justru membajak semua fokusnya pada satu frasa asing yang terus bergeming di benaknya: "Luput kulo nggeh, Mbak."

"Adnan Bagas Setiawan," bisik Martha pelan di dalam kamar yang sunyi, mencoba melafalkan nama yang baru saja ia ketahui dari pemilik homestay, Bu Wayan, setengah jam lalu saat ia turun untuk memesan teh camomile.

Flashback singkat sore tadi.

"Oh, anak muda yang pakai beskap tadi? Itu namanya Adnan, Nak Adnan Bagas Setiawan," jawab Bu Wayan sambil tersenyum ramah, menyuguhkan secangkir teh jahe hangat. "Dia bukan orang Bali asli. Aslinya dari Solo, Jawa Tengah. Tapi sudah beberapa bulan ini tinggal di Ubud untuk mengurus pameran kerajinan ukir kayu tradisional dan riset budaya."

"Adnan..." Martha mengulang nama itu di lidahnya. Ada kesan klasik, kokoh, sekaligus misterius yang melekat erat pada nama tersebut.

"Dia anak yang baik, sopan sekali, dan sangat menghormati tradisi," tambah Bu Wayan lagi, menerawang keluar jendela. "Jarang anak muda zaman sekarang yang masih betah mengenakan busana adat lengkap hanya untuk berjalan-jalan sore atau sekadar mendokumentasikan ketenangan desa. Katanya, merawat tradisi adalah cara kita menghormati leluhur."

Ingatan itu membuat Martha menghela napas panjang. Ia menutup laptopnya, lalu bangkit berjalan menuju jendela kamar yang terbuka lebar. Angin malam Ubud berembus membawa kesejukan khas pegunungan, berpadu dengan suara jangkrik dan kodok sawah yang bersahut-sahutan menciptakan simfoni alam yang menenangkan. Martha menatap langit malam yang bersih dari polusi cahaya kota besar; bintang-bintang berkelip terang, seolah mengawasi bumi.

Sebagai seorang wanita mandiri yang terbiasa hidup serba cepat di London—di mana hubungan antarmanusia sering kali diukur dari seberapa efisien waktu yang dihabiskan—keberadaan pria seperti Adnan terasa seperti sebuah anomali. Di dunianya, orang-orang terbiasa berkejaran dengan tenggat waktu, karier, dan validasi digital. Tidak ada lagi ruang untuk keheningan yang bermakna, apalagi kesopanan setulus yang ia lihat di mata pemuda Jawa itu sore tadi.

Hari-hari berikutnya di Bali berjalan dengan ritme yang perlahan mengubah cara pandang Martha. Ia tidak lagi terburu-buru menyelesaikan daftar tempat wisata di buku catatannya. Ada dorongan tak kasat mata yang membuatnya kerap kembali ke sekitar kawasan pura tempat ia pertama kali tak sengaja menabrak Adnan. Bukan karena ia sengaja ingin mencari pemuda itu—begitu akalnya mencoba meyakinkan diri—tetapi karena suasana di sana mendadak terasa jauh lebih hidup dan memikat.

Hingga semesta seolah mengamini diam-diam keinginan bawah sadarnya.

Tepat hari keempat sejak insiden sore itu, Martha sedang duduk di sebuah balai-balai gazebo kecil di tepi galeri seni milik seorang seniman lokal, asyik mengamati proses pembuatan patung kayu suci. Di meja kecil di depannya tersaji segelas es kelapa muda dan buku sketsa bersampul kulit.

"Pahatannya harus mengikuti arah serat kayu, Mbak Martha. Kalau dipaksa melawan, hasilnya bukan hanya patah, tapi juga kehilangan jiwa aslinya."

Sebuah suara bariton yang lembut dan tenang tiba-tiba memecah lamunannya.

Martha terperanjat kecil, mendongakkan kepala dengan cepat. Di hadapannya, berdiri Adnan Bagas Setiawan. Hari ini ia tidak mengenakan beskap hitam formal seperti saat pertama kali mereka bertemu. Ia mengenakan kemeja linen putih berkerah longgar dengan lengan yang digulung sampai siku, serta celana bahan katun hitam sederhana. Rambut hitamnya tersisir rapi, dan di lehernya tersampir selembar kain tenun lurik khas Jawa. Tatapan mata itu tetap sama—teduh, dalam, dan memancarkan ketenangan absolut.

Untuk sesaat, lidah Martha kembali kelu. Jantungnya berdetak dua kali lebih cepat dari normal. Di tengah hiruk-pikuk turis asing yang lalu-lalang di galeri, kehadiran Adnan seolah menciptakan ruang hampa tersendiri di sekeliling mereka.

"Oh... hai," sapa Martha akhirnya, suaranya sedikit tercekat. Ia buru-buru merapikan buku sketsanya. "Kau... ingat aku?"

Adnan tersenyum tipis. Senyuman itu bukan senyuman basa-basi sosial, melainkan senyuman hangat yang mencapai sudut matanya. Ia menarik kursi kayu di seberang Martha dengan santun sebelum duduk.

"Mboten mungkin kesupen, Mbak," jawab Adnan dengan suara rendah yang merdu, menggunakan bahasa ibunya sebelum ia sadar dan meralatnya, "Ah, maksud saya... mustahil melupakan seseorang yang hampir membuat kamera mahal Anda melompat bebas ke lumpur sawah beberapa hari lalu."

Bahasa Inggris Adnan ternyata sangat fasih, beraksen British halus yang nyaris tanpa cela—sebuah kejutan kecil yang membuat Martha tertegun untuk kedua kalinya. Ada kontras yang menarik antara penampilannya yang sangat kental dengan budaya Jawa tradisional dan cara bicaranya yang mencerminkan keterpelajaran global.

"Aku Martha," ucap Martha memperkenalkan diri secara resmi sambil mengulurkan tangan kanannya, mencoba menutupi kegugupannya.

Adnan menyambut uluran tangan itu. Sentuhan kulit mereka begitu singkat, hanya bersalaman sekilas sesuai etika ketimuran, namun sisa kehangatan dari telapak tangan Adnan seolah membekas di kulit Martha.

"Adnan," ucap pria itu membalas, genggamannya lepas dengan sopan. "Adnan Bagas Setiawan. Senang bisa berjumpa lagi dengan Anda dalam keadaan yang jauh lebih tenang, Mbak Martha dari London."

Martha sedikit memiringkan kepalanya, matanya menyipit penuh selidik bercampur geli. "Kau tahu aku dari London? Dari mana?"

Adnan menunjuk sekilas tas kanvas Martha yang tergeletak di kursi sebelah, di mana gantungan kunci bergambar Big Ben dan bendera Union Jack menggantung mencolok. Selain itu, ada name tag persuratkabatan pers pariwisata yang menyembul dari saku tas.

"Pengamatan sederhana," jawab Adnan tenang, lalu tertawa kecil—sebuah tawa renyah yang membuat garis-garis di sekitar matanya semakin mempertegas ketampanannya. "Dan lagi, cara Anda memegang kamera tadi sore... sangat khas seorang jurnalis perjalanan independen yang sedang mencari jiwa sebuah tempat, bukan sekadar latar belakang foto Instagram."

Pujian terselubung itu membuat pipi putih Martha tanpa sadar merona hangat. Selama bertahun-tahun berkeliling dunia, banyak pria berusaha merayunya dengan pujian fisik yang klise. Namun, cara Adnan memujinya terasa begitu elegan, jujur, dan menyentuh esensi terdalam dari profesinya.

"Terima kasih," bisik Martha tulus, menunduk sejenak menatap gelas kelapa mudanya sebelum kembali menatap mata Adnan lekat-lekat. "Dan... maafkan aku soal hari itu. Aku benar-benar ceroboh."

"Kesalahan kecil yang membawa berkah pertemuan," balas Adnan lembut, kalimatnya meluncur begitu saja tanpa terdengar dibuat-buat.

Di bawah naungan atap joglo galeri seni Ubud itu, diiringi deru angin sore yang membawa aroma kayu mahoni dan dupa, percakapan demi percakapan mulai mengalir di antara mereka. Sebuah awal dari perjalanan lambat yang perlahan-lahan merajut dua jiwa dari belahan bumi yang sangat berbeda—mengikis sekat jarak, keyakinan, dan tradisi yang kelak akan menguji seberapa kuat cinta mampu bertahan di atas segalanya.

1
Widia Wati
MasyaAllah
baru bab awal ,ceritanya udah penuh dgn kata2 bijak n keren...mbak autor 👍
kebetulan kita tetangga kabupaten
saya dari jombang ,tp sudah menetap di samarinda
🐯♠ ᵣₕүₜₕₘ.ₒ𝐟.ᵣₐᵢₙ 👌🍬: makasih kak🥰🥰...wahh tetangga ya saya berasal dari desa sebalor tapi merantau di Malaysia.. semangat kak🥰
total 1 replies
🐯♠ ᵣₕүₜₕₘ.ₒ𝐟.ᵣₐᵢₙ 👌🍬
Kalau suka tinggalin jejak🥰

author nulisnya menggunakan adat jawa juga karena author berasal dari Jawa Timur, Kabupaten Tulungagung.


Salam paseduluran rek❤️❤️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!