"masukkan kartu penyegelnya sekarang, atau kita akan mati di tempat ini!,
saat satu persatu siswa lenyap misterius dan hanya memisahkan debu hitam, itsuki ikawasi dan teman temannya terjebak oleh siluman pemangsa manusia, situasi menjadi gila ketika sahabat mereka berbalik menyerang di bawah sihir hitam!
dipojokkan oleh amukan api dari raja siluman pemangsa manusia dan penyanderaan di atas kawah lava gunung valerius, itsuki terpaksa meledakkan rahasia terbesarnya: kebangkitan murni kekuatan 7 elemen.
berhasilkah mereka menyegel monster legendaris tersebut, ataukah ini awal dari perang dimensi yang jauh lebih besar? .
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NABILA_08.p, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7: Kebangkitan Sang penguasa Inti Makma
Atmosfer di sekitar kaki gunung Ambarawa terasa begitu mencekik, asap sulfur terbalik membumbung tinggi, mengaburkan mata dan sisa bau anyir darah yang menyengat hidung.
Di tengah keputusan yang merayap, jeritan Kaguya yang sayup-sayup terdengar di balik cengkeraman kegelapan memicu sesuatu yang beralih di dalam tubuh Itsuki.
Tanpa memedulikan seluruh rasa sakit yang menemukan seluruh persendiannya, Itsuki melesat maju. Gerakannya tidak lagi teratur atau taktis; itu adalah serangan yang di dorong dari kepanikan mutlak dan insting murni untuk melindungi.
Ia menyerang sang raja makhluk secara membabi buta, pedang lamanya berayun berkali-kali, menciptakan percikan api saat bersentuhan dengan kulit keras milik penguasa kegelapan itu.
Namun naas, takdir tidak berpihak pada keberanian yang sekarat. Kondisi pisik Itsuki sudah terlalu lemah. Energinya terkuras habis, dan luka-luka akibat pertempuran sebelumnya telah menggerogoti kecepatannya.
Sang raja makhluk hanya perlu satu kibasan tangan yang dilapisi energi hitam pekat untuk mematahkan serangan tersebut, hantaman keras mendarat telak di dada Itsuki.
Bunyi retakan tulang terdengar mengerikan, disusul dengan tubuh Itsuki yang terhempas jauh ke tanah berbatu. Pemuda itu terkapar, darah segar mengalir dari sudut bibirnya, sebelum akhirnya pandangannya menggelap dan ia kehilangan kesadaran sepenuhnya.
Melihat pandangan mengerikan itu, Roy dan Hinata yang sedang memapah tubuh Kaguya yang tergeletak histeris. Suara mereka bergetar hebat, memecah kesunyian yang mencekam.
Air mata Hinata berbaur dengan debu vulkanik di pipinya, sementara Roy mengepalkan tangannya hingga berdarah. Merutuki ketidak berdaya mereka sendiri,
Namun, takdir berkata lain dan berjalan lebih kejam dari pada yang bisa mereka bayangkan. Sang raja makhluk melangkah maju dengan angkuh, setiap langkahnya meninggalkan. jejak Angus di tanah. Ia berhenti di tepat Itsuki yang tidak berdaya, lalu menunduk dengan tatapan penuh kehinaan.
"Dasar manusia lemah"! Geram makhluk itu dengan parau yang menggema seperti gatur di dalam gua vulkanik.
Tanpa bekas kasihan sedikitpun, ia menjambak rambut Itsuki, mengangkat tubuh yang terlukis lemah itu, dan menyeretnya ke tepian tebing kawah.
Dalam satu sentakan kuat, ia melemparkan Itsuki kedalam kawah lava gunung Ambarawa yang mendidih dan bergejolak kuat.
Hanya dalam hitungan detik, tubuh Itsuki hancur, meleleh tak tersisa. Di telan bulat-bulat oleh cairan magma pijar yang membara.
Tangisan Roy dan Hinata pun pecah, tak terkalahkan. Dada mereka sesak oleh duka yang teramat mendalam, sahabat dekat mereka, sosok yang selalu menjadi pilar pelindung. Kini telah musnah di dalam ke abadi an lava vulkanik.
Melihat musuh utamanya telah lenyap, sang raja makhluk mengalihkan pandangan ke Roy dan Hinata, ia memberikan isyarat kepada bawahannya. Seketika itu juga, dari balik kegelapan dinding gua yang ber celah-celah batu.
Seluruh pasukan monster buas mulai bergerak maju, makhluk-makhluk kelaparan itu mengelilingi Roy, Hinata dan Kaguya membentuk lingkaran maut yang semangkin menyempit.
Mereka menyeringai, memperlihatkan taring-taring yang tajam dan siap mencabik-cabik daging manusia yang tersisa. Di atas altar batu, sang raja makhluk tertawa terbahak-bahak .merayakan kemenangannya atas ras manusia.
Namun, cangkokan itu tak bertahan lama. Tepat di situasi berada dalam titik paling kritis, di mana cakar monster pertama hampir menyentuh kulit hinata, alam tiba-tiba bersaksi.
Gunung Ambarawa berguncang dengan kekuatan yang belum pernah terjadi sebelumnya.Gempa tektonik melanda seluruh kawasan tersebut, meruntuhkan bebatuan kaki gunung dan menghancurkan dinding-dinding gua seketika.
Guncangan itu begitu dahsyat sampai membuat para monster panik dan merangkak panik. Tanpa di duga, kawah yang tadinya bergejolak tenang kini meledak. Lava panas menyembur ke langit-langit gua, memuntahkan seluruh cairan pijarnya dengan kecepatan luar biasa.
Terjadilah hujan lava yang pekat dan mematikan, dalam hitungan detik, ratusan monster yang mengapung seketika tewas terpanggang, hancur menjadi abu sebelum sempat mengeluarkan suara jeritan.
Keheningan mencekam sempat kembali beberapa detik, sebelum akhirnya sebuah letusan magma yang jauh lebih Dahyat meledak ke atas. Menembus langit -langit gua menciptakan pilar api raksasa yang membumbung tinggi.
Suhu di ruangan itu Meningkat drastis, memaksa raja makhluk itu mundur beberapa langkah karena rasa panas yang menyengat kulit tebalnya.
Dari balik api pusaran kobaran tersebut, sesosok figur bangkit perlahan-lahan berdiri tegak, seluruh luka di tubuhnya telah lenyap, diganti dengan gumpalan energi merah menyala yang mengalir di bawah kulitnya.
Itu Itsuki ia tidak mati, alih-alih binasa, ia justru terlahir kembali dari inti bumi dan berhasil membangkitkan energi elemen yang tertidur kekuatan purba yang di kenal sebagai magma core Sovereign.
Itsuki tidak kembali seorang diri, dari dalam lava yang mendidih, seekor naga lava yang tersusun dari bebatuan magma keras keluar memecah keheningan.
Naga itu meraung dahsyat, sebuah ruangan yang menghancurkan Sisa-sisa reruntuhan gua yang mengintimidasi siapapun yang mendengarnya. Makhluk mistis itu melesat turun mendekati Itsuki, berpusat mengelilinginya sebelum memusatkan bertransportasi menjadi sebilah pedang pusaka besar berornamen besar di genggaman tangan Itsuki.
Bilah pedang itu membara dengan api hitam dan merah, memancarkan aura tekanan yang sangat berat.
Dengan tatapan mata yang kini berubah menjadi merah menyala dan sedingin es,Itsuki mengarahkan ujung pedangnya tepat ke wajah sang raja makhluk. Rasa takut pertama kalinya merayap di wajah sang raja makhluk tersebut.
Seluruh kesombongannya runtuh sekejap melihat aura dewa Kematian yang di pancarkan Itsuki. Kini di atas panggung batu yang di kelilingi oleh lava yang mengalir, pertarungan satu lawan satu yaitu sang raja makhluk melawan Itsuki baru saja di mulai, takdir dunia kini berada di ujung pedang Itsuki.
Itsuki turun dari bebatuan , melesat maju menuju sang raja makhluk, dengan dingin iya mengangkat pedangnya dan membebaskan- nya bertubuh-tubi hingga membuat Atmosfer di dalam perut gunung Ambarawa.
(Bersambung)