Di balik rumah yang hangat, semua orang memakai topeng paling rapi
Bagi dunia luar, Haseena adalah remaja berprestasi kebanggaan Abah. Namun di balik tawanya, Haseena menderita gangguan kecemasan dan terpaksa meminum obat penenang secara sembunyi-sembunyi selama lima tahun lalu.
Haseena mengira hanya dia yang punya rahasia. Sampai suatu malam, dia menemukan botol obat misterius di saku jaket abangnya, melihat kode lampu senter berkedip tiga kali di kegelapan sawah belakang rumah, dan kakak perempuannya yang bersikeras ingin pergi jauh
"Kini, Haseena terjebak dalam sandiwara sempurnanya. Berpura-pura menjadi gadis ceria untuk menutupi paranoia, sambil diam-diam mengumpulkan kepingan teka-teki yang mungkin akan menghancurkan hidupnya selamanya. Haseena harus memilih: tetap menjadi 'Ahli Ngeles' yang dicintai publik, atau membuka kotak Pandora tentang hilangnya sang kakak—meskipun itu berarti ia harus kehilangan segalanya, termasuk pria yang baru saja ia percayai."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sifanursiami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kursi kosong
Acara perpisahan berlangsung dengan khidmat.
Satu per satu penampilan ditampilkan di atas panggung. Tepuk tangan bergema memenuhi aula setiap kali nama seorang siswa dipanggil untuk menerima kenang-kenangan dari sekolah. Di sudut ruangan, Haseena dan Aretha kembali menjalankan tugas mereka sebagai dokumentator. Sesekali Haseena mengangkat kamera, mengabadikan senyum, pelukan, dan air mata bahagia yang memenuhi ruangan.
Lensa kameranya menangkap begitu banyak momen.
Seorang ayah yang memeluk putrinya dengan bangga.
Seorang ibu yang sibuk membetulkan toga anaknya sebelum difoto.
Seorang adik kecil yang berlari membawa buket bunga untuk kakaknya.
Semua terlihat begitu hangat.
Begitu utuh.
Tanpa sadar, jemari Haseena menggenggam kamera sedikit lebih erat.
Ia mencoba tetap fokus, tetapi pandangannya berkali-kali kabur.
"Haseena."
Suara Aretha membuyarkan lamunannya.
"Hm?"
"Fokus."
Haseena tersenyum kecil lalu mengangguk.
"Iya."
Ia kembali mengangkat kamera. Kali ini pandangannya justru berhenti pada deretan kursi tamu di barisan depan.
Rayyan datang.
Lelaki itu tetap memaksakan diri hadir meski wajahnya masih terlihat pucat. Ia duduk sendirian di ujung barisan, mengenakan kemeja putih sederhana yang sudah beberapa kali dipakai untuk acara penting keluarga.
Di sebelahnya...
Ada satu kursi kosong.
Kursi yang semestinya ditempati Syafa.
Dulu, setiap acara sekolah, Syafa selalu duduk di sana. Ia akan melambaikan tangan setiap kali Haseena menoleh dari kejauhan, lalu tersenyum bangga seolah putri bungsunya adalah anak paling hebat di dunia.
Kini...
Yang tersisa hanya kursi kosong.
Haseena buru-buru mengalihkan pandangan sebelum air matanya benar-benar jatuh.
Acara akhirnya mencapai penghujung.
Seluruh siswa diminta berdiri di halaman sekolah sambil memegang balon yang sejak pagi telah dipersiapkan panitia.
Di setiap balon tergantung selembar kertas kecil berisi mimpi dan harapan yang mereka tulis sendiri.
Haseena menatap balon berwarna putih di tangannya.
Di dalam kertas itu hanya ada satu kalimat.
> "Aku ingin keluargaku utuh kembali."
Ia tahu.
Harapan itu mustahil.
Ibu tidak akan pernah kembali.
Namun hati manusia sering kali lebih keras kepala daripada logika.
"Teman-teman..."
Suara ketua OSIS terdengar melalui pengeras suara.
"Hitungan ketiga, kita lepaskan balonnya bersama-sama sebagai simbol bahwa hari ini kita melepaskan masa putih abu-abu dan mulai mengejar cita-cita masing-masing."
"Satu..."
Haseena menatap langit.
"Dua..."
Angin bertiup pelan, menggoyangkan balon di tangannya.
"Tiga!"
Puluhan balon melayang bersamaan, memenuhi langit pagi.
Semua orang bersorak.
Beberapa menangis.
Sebagian lagi saling berpelukan.
Hanya Haseena yang masih berdiri diam.
Matanya mengikuti balon putih miliknya yang perlahan terbang semakin tinggi.
"Kalau memang doa bisa terbang bersama balon..." batinnya lirih. "...tolong sampaikan rinduku pada Ibu."
Tanpa ia sadari, Rayyan yang berdiri tidak jauh di belakangnya ikut menengadah ke langit.
Dalam hati, lelaki itu memanjatkan doa yang berbeda.
"Ya Allah... jangan biarkan aku kehilangan satu anak lagi."
Sore harinya, setelah seluruh rangkaian acara selesai, Haseena tiba di rumah dengan tubuh yang terasa sangat lelah.
Rumah kembali sunyi.
Rayyan sudah lebih dulu beristirahat di kamarnya.
Sedangkan kamar Zafran...
Masih tertutup rapat.
Haseena masuk ke kamarnya sendiri. Ia membuka laci meja belajar, lalu mengeluarkan buku harian berwarna ungu yang mulai penuh dengan tulisan.
Ia membuka halaman baru.
Perlahan, tinta hitam mulai memenuhi kertas.
> Hari ini aku melihat begitu banyak keluarga yang datang dengan senyum lengkap.
Aku senang untuk mereka. Sungguh.
Tapi... hari ini adalah pertama kalinya aku merasa iri.
Dulu aku selalu bersyukur dilahirkan di keluarga sederhana. Kami memang tidak punya banyak harta, tetapi kami selalu punya alasan untuk pulang.
Sekarang... rumah itu masih ada. Orang-orangnya masih ada. Tapi rasanya tidak lagi sama.
Maafkan aku, Ya Allah.
Aku tahu semua yang terjadi adalah takdir terbaik-Mu.
Aku tahu Ibu sudah tenang di sisi-Mu.
Aku tahu Kak Husna mungkin masih menunggu untuk ditemukan.
Aku juga tahu Abang sedang berperang dengan dirinya sendiri.
Tapi... maafkan aku kalau hari ini aku belum benar-benar ikhlas.
Aku masih menangis diam-diam.
Aku masih berharap bangun tidur dan mendengar suara Ibu memanggil namaku dari dapur.
Aku masih berharap pintu rumah terbuka... lalu Kak Husna masuk sambil tersenyum seperti tidak pernah terjadi apa-apa.
Maafkan aku...
Karena di proses belajarku menerima kehilangan... aku masih sering mengeluh.
— Haseena.
Haseena menutup buku itu perlahan.
Ia mematikan lampu meja, lalu berjalan menuju jendela.
Langit malam tampak cerah.
Di halaman rumah, pohon mangga bergoyang pelan tertiup angin.
Saat hendak menutup tirai...
Pandangan Haseena berhenti.
Di balik pagar rumah...
Seseorang sedang berdiri.
Siluetnya samar.
Terlalu jauh untuk dikenali.
Namun orang itu tidak bergerak sedikit pun.
Hanya menatap lurus ke arah rumah mereka.
Jantung Haseena berdetak lebih cepat.
Ia mengucek matanya.
Ketika kembali melihat ke arah yang sama...
Sosok itu telah menghilang.
Yang tersisa hanyalah jalanan kosong yang diterangi lampu jalan.
Haseena menelan ludah.
Entah kenapa...
Perasaannya mengatakan...
Malam itu bukan hanya dirinya yang sedang merindukan seseorang.